Boss Ku, Ayah Anakku

Boss Ku, Ayah Anakku
Om Besar


__ADS_3

Sedang apa Asti di daerah seperti ini? Dan kenapa Asti bisa berbicara dengannya? Bukankah mereka tidak akrab? Ada apa ini?" Gumam Rosa.


Bahkan Rosa sampai mau merubah cara duduk mengarah ke belakang mobil sampai dia tidak melihat mereka lagi. Lalu kembali duduk seperti semula.


"Lo kenapa Ros?" Laura sampai memalingkan wajahnya ke belakang karena dari tadi dia memperhatikan Rosa.


"Gak. Mungkin tadi gue salah lihat." Ucap Rosa masih dengan pikirannya sendiri.


"Lihat apa?" Tanya Naira ikut menimpali.


"Tadi gue kek nya lihat Asti. Tapi sama laki-laki. Gue kenal dia. Walaupun beda jauh usia nya sama kita." Kata Rosa.


"Sodara Asti kali." Kata Laura.


"Sejak kapan dia punya adik. Asti kan anak bungsu." Sanggah Rosa.


"Iya juga ya. Lupa gue."


Rosa masih bergelut dengan pikirannya. Ada hubungan apa Asti sama laki-laki tadi. Rosa sangat ingat siapa laki-laki itu. Dia adalah adik dari teman sekelas Rosa dulu. Hanya saja dia lupa siapa namanya.


Rosa menggigit-gigit jari telunjuknya. Otaknya masih berputar tentang kejadian tadi. Ada yang mencurigakan, pikir Rosa.


***


Daniel tersenyum saat ponselnya berdering. Ada video call dari putrinya.


"Halo ade. Kenapa mukanya cemberut gitu?" Tanya Daniel pada putrinya yang terlihat sangat menggemaskan karena sedang cemberut.


"Ayah hukum om besar ini." Ria masih cemberut sambil menunjuk salah satu bodyguard yang bertubuh besar pada ayahnya.


Daniel terbahak mendengar laporan putrinya. "Kenapa dengan om besar?"


"Ade sama abang mau es krim tapi om besar gak bolehin kami keluar sama oma." Ria menggembungkan pipinya karena kesal.


"Tunggu ayah pulang ya. Nanti beli es krimnya sama ayah. Putri cantik ayah gak boleh cemberut, nanti cantiknya hilang." Ucap Daniel sambil tersenyum.


"Yeaaaaayyy. Cepat pulang ayah. Ade mau sekali es krim." Kata Ria tidak sabaran.


"Iya iya. Sebentar lagi ayah pulang."


Daniel melihat jam di tangannya. Ternyata sudah waktunya pulang. Dia kemudian membereskan semuanya dan merapikannya di atas meja. Daniel melihat Riko masih bekerja di depan laptopnya.

__ADS_1


"Kamu belum pulang?" Tanya Daniel pada Riko.


"Sebentar lagi Pak. Tanggung kalau saya tinggal." Jawab Riko.


"Baiklah kalau begitu saya pulang lebih dulu. Putri saya sudah menunggu." Kata Daniel sambil tersenyum.


Riko pun berdiri di tempatnya dan menggangguk pada Daniel.


.


.


.


Baru saja Daniel sampai di depan pintu, Ria sudah berlari dan melompat ke dalam pelukan ayahnya. Daniel mencium pipi putrinya. Ria meletakkan kepalanya manja di pundak ayahnya.


Terlihat juga Rara datang bersama Rio. Daniel mengecup puncak kepala isterinya dan juga putranya. Saat melewati bodyguard yang bertubuh besar, Ria langsung melapor lagi pada ayahnya.


"Hukum dia ayah." Kata Ria sambil menjulurkan lidahnya pada bodyguard tersebut.


"Iya nanti akan ayah hukum om nya. Tapi janji ade gak boleh seperti itu lagi. Anak cantik ayah gak boleh seperti itu." Daniel mengingatkan Ria agar tidak menjulurkan lidah karena meledek orang lain.


"Iya ayah." Sahut Ria pelan.


"Assssiiikkkk." Ujar si kembar kegirangan.


Rara mengikuti Daniel ke kamar untuk menyiapkan pakaian selepas Daniel mandi nanti.


Daniel melepas semua pakaian dan masuk ke dalam kamar mandi. Rara menyiapkan pakaian untuk Daniel di atas tempat tidur. Sepasang tangan melingkar di perut Rara dengan wangi segar. Siapa lagi kalau bukan suaminya yang sudah selesai mandi.


"Cepat sekali mandinya." Kata Rara karena tidak biasanya Daniel mandi cepat.


"Kamu tahu sendiri bagaimana cerewetnya putri kita kalau ayahnya yang tampan ini lambat mandi. Dia sudah menunggu tidak sabar untuk membeli es krim." Ujar Daniel sambil terkekeh.


"Bukankah cerewetnya sama seperti dirimu." Ledek Rara pada suaminya.


Daniel mencium gemas pipi isterinya "Dan dia cantiknya seperti dirimu."


"Ayo kita pergi sekarang. Kita sekalian makan malam di luar." Ajak Daniel pada isterinya dan berjalan beriringan menuruni tangga menghampiri si kembar.


"Papi mami, kami keluar dulu. Katakan pada bi Rati tidak usah menyiapkan makanan nanti. Kami makan di luar malam ini." Pamit Daniel pada orang tuanya.

__ADS_1


30 menit kemudian, sampailah Daniel dan keluarganya di salah satu mall terbesar. Daniel mengajak keluarganya untuk makan malam lebih dulu. Banyak pasang mata yang kagum melihat bagaimana harmonisnya mereka. Siapapun yang melihat pasti bisa tahu bahwa Daniel begitu menyayangi keluarganya.


Setelah makan, Daniel menuruti keinginan si kembar untuk bermain dulu.


Daniel dan Rara menunggu tidak jauh dari si kembar bermain. Bahkan bodyguard yang Daniel sewa pun ada di sekitar mereka. Tapi Daniel meminta mereka untuk mengawasi sedikit jauh dari mereka, agar tidak ada yang curiga.


Setelah puas bermain, si kembar mendatangi kedua orang tuanya dengan keringat bercucuran. Rambut mereka basah karena keringat. Daniel dan Rara sama-sama menyeka keringat si kembar dengan tisu basah. Rara juga sudah menyiapkan baju ganti untuk mereka. Karena baju yang mereka gunakan juga basah keringat.


"Sudah puas bermainnya?" Tanya Daniel.


Si kembar mengangguk bersamaan.


"Sudah ayah." Jawab Rio.


"Baiklah kalau begitu kita pulang saja. Kasihan bunda juga mau istirahat." Kata Daniel.


"Tapi kan belum beli es krim ayah." Rengek Ria.


"Oh iya. Ayah lupa." Kata Daniel berpura-pura lupa pada putrinya.


"Ayo kita ke toko es krim setelah itu pulang ya."


"Siap ayah." Ucap si kembar.


Mereka berjalan beiringan sambil bergandengan menuju kedai es krim yang ada di mall tersebut. Ria mengangkat kedua tangannya ke atas meminta di gendong ayahnya. Daniel lalu mengangkat dan menggendong putrinya dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya menggandeng tangan Rio.


Akhirnya mereka sampai di kedai es krim. Daniel membeli semua yang menjadi kesukaan si kembar. Juga untuk stok di rumah.


Dari kejauhan ada sepasang mata yang memperhatikan Daniel dan keluarganya. Dia mengepal tangannya kuat. Aura kebencian terlihat di wajahnya.


"Untuk saat ini gue masih kasih waktu buat lo bersenang-senang dengan keluarga lo. Tapi tunggu saja waktunya, lo akan tahu gimana rasanya kehilangan orang yang lo sayang."


Kemudian dia pergi dari tempat persembunyiannya.


***


Di tempat lain , Asti sedang berada di kamarnya. Dia masih mempertimbangkan tawaran sepupunya tadi. Asti bangkit dari tempat tidurnya dan membuka laci meja riasnya.


Satu buah tiket liburan ke Paris sudah ada di tangannya. Dia ingin berlibur dulu menenangkan otaknya yang hanya di penuhi oleh Daniel, Daniel, dan Daniel.


Asti mendesah pelan.

__ADS_1


"Begitu sulitnya mendapatkan diri lo Daniel. Haruskah gue berbuat nekat agar lo bisa lihat gue."


"Gue juga pengen seperti Rara yang mendapatan cinta dan kasih sayang lo. Harusnya gue yang jadi isteri lo, bukan Rara. harusnya anak-anak itu anak lo sama gue, bukan sama Rara." Air mata Asti kembali berjatuhan di pipi mulusnya.


__ADS_2