
Viyo tiba di rumah dan langsung menuju kamarnya. Setelah membersihkan dirinya, Viyo rebahan dan mengambil ponselnya. Sedang asik memainkan ponselnya, Viyo mendengar bunyi ketukan di pintu kamarnya. Dia tahu kalau itu bundanya.
"Ayah sudah nunggu di bawah. Kita makan malam bersama." Ujar Rara sambil tersenyum.
"Iya bunda. Bentar Viyo nyusul."
Rara mengangguk lalu meninggalkan kamar putra bungsunya.
Daniel sudah menunggu di meja makan bersama kedua orangtuanya saat Rara menuruni tangga dan juga ikut bergabung bersama suami dan mertuanya.
"Mana cucu mami?" Mami Daniel menanyakan cucu tampannya itu. Yang selalu membuat kehebohan setiap hari di rumah.
"Masih di kamar mi. Sebentar lagi turun." Jawab Rara sopan pada mertuanya.
"Tidak terasa sekarang Viyo sudah hampir lulus SMA. Kemana Viyo akan melanjutkan kuliahnya?" Ujar papi Daniel.
"Daniel menyerahkan semuanya pada Viyo Pi. Terserah dia mau kuliah di luar atau di sini, Daniel pasti mendukung dia." Balas Daniel di sela makannya.
Papi Daniel mengiyakannya dengan mengangguk kecil. "Itulah yang juga papi lakukan padamu dulu. Papi tidak pernah memaksa kamu dengan pilihan papi. Dari pendidikan sampai dengan pasangan hidupmu. Karena bagi papi, kami selaku orangtua tidak boleh memaksa kehendak kami pada anak, tapi kami hanya boleh mendukung apapun keinginan anak. Asalkan hal itu adalah hal yang positif dan baik untuk masa depan kelak." Ujar Papi Daniel dengan panjang lebar.
Tidak lama Viyo datang dan duduk di sebelah opa nya. Terlihat dari wajahnya, Tuan Arnold yakin ada sesuatu yang sedang terjadi pada cucu bungsunya ini.
"Apa kabar kamu jagoan opa hari ini?" Tanya papi Daniel sambil menepuk pundak cucunya pelan.
"Baik opa." Jawab Viyo lesu.
"Benarkah? Tapi sepertinya tidak demikian yang opa lihat. Ada apa? Apa ada yang seseorang yang sudah menyakiti cucu opa?"
"Tidak opa. Viyo baik-baik saja. Viyo hanya lelah saja hari ini opa." Jawab Viyo sopan pada opa nya.
"Kalau begitu mari kita makan." Ajak Tuan Arnold pada keluarganya.
Keluarga Daniel memang keluarga yang hangat dan harmonis. Sebisa mungkin mereka akan selalu saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Karena itu yang memang Tuan Arnold Mahendra tanamkan pada keluarganya. Ketika ada masalah, akan di cari solusi dan diselesaikan dengan bijak.
"Viyo sudah memikirkan akan kuliah dimana?" Tanya Daniel pada Viyo sambil memperhatikan putra bungsunya yang sedang menyuap makanannya.
"Viyo kuliah di sini aja yah. Biar Viyo gak jauh dari ayah dan bunda. Oma opa juga." Kata Viyo sambil tersenyum.
Selain karena tidak ingin berjauhan dari keluarganya, Viyo memilih tetap kuliah di Indonesia karena dia tahu Via akan kuliah keperawatan di Indonesia. Dan Viyo akan mengambil jurusan yang sama dengan Via di bidang kesehatan. Dia tidak mau berjauhan dari Via. Dia akan tetap mengejar dan juga menantikan Via. Dia akan menjaga Via dengan caranya.
Walaupun dia sudah berbohong pada Via dengan mengatakan sudah memiliki pacar. Itu dia lakukan untuk membuktikan bahwa apa yang dia rasakan selama ini, itu juga yang dirasakan Via. Mereka saling mencintai. Tapi ego Via yang tidak mau mengakuinya. Karena itulah Viyo akan tetap sabar menunggu hingga Via sadar dan mengakui sendiri kalau dia juga mencintai Via.
__ADS_1
"Ayah, bunda, Viyo ingin mengambil jurusan kedokteran saja. Boleh?" Tanya Viyo sopan pada orangtuanya.
"Tentu saja boleh. Bunda sangat senang kalau Viyo kuliah disini. Iya kan sayang?" Ujar Rara pada suaminya dengan girang.
"Iya sayang. Kita akan senang kalau si bungsu memilih kuliah disini. Jadi kita gak kesepian." Ujar Daniel tersenyum lembut pada Rara sambil menggenggam tangannya.
"Terima kasih Ayah, bunda." Kata Viyo senang.
***
Viyo baru saja keluar dari mobil dan memasuki bandara. Hari ini dia akan menjemput abang nya. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Terakhir kali 2 tahun yang lalu saat Viyo libur sekolah. Dia memilih untuk menghabiskan liburannya di London bersama Rio.
Banyak pasang mata yang melihat ke arah Rio saat dia berjalan memasuki bandara. Dia tampil casual, celana jeans ripped di padukan dengan kaos hitam di lapisi dengan baju hem kotak-kotak.
Tubuhnya yang tinggi dan kulitnya yang putih, melengkapi wajah tampannya. Membuat penampilan nya layaknya seorang idol atau artis.
Viyo berjalan dengan cueknya di ruang tunggu kedatangan. Masih ada waktu 20 menit lagi dia menunggu pesawat landing. Sambil menunggu Viyo memainkan ponselnya. Karena terlalu asik dengan ponselnya, Viyo sampai tidak menyadari ada seseorang yang sedang berdiri di depannya.
"Ekheeemm"
Viyo masih tidak sadar dengan sapaan tersebut. Dia masih fokus pada ponselnya.
"Ekheeemm..ekheeeeemm"
"Eeehh, abang." Kata Viyo dengan cengengesan sambil nyengir kuda.
"Dasar emang kamu ya de. Yooo kita pulang. Abang sudah capek banget kelamaan di pesawat." Rio mengajak adiknya untuk segera pulang ke rumah.
Viyo membantu Rio membawa bawaannya sambil berangkulan. Dia sangat senang karena Rio sudah menyelesaikan kuliahnya dan memutuskan untuk membantu ayahnya bekerja di perusahaan. Sementara kakaknya Ria memilih untuk tinggal di korea dan merintis karirnya untuk menjadi produser musik.
"Gimana kabar ayah dan bunda, juga oma dan opa?" Tanya Rio sambil menyetir.
"Mereka semua baik-baik saja bang. Dan pastinya semua merindukan abang dan juga kak Ria." Ujar Viyo
Rio menghentikan mobilnya di sebuah toko kue. "Abang beli kue dulu." Ujar Rio dan menyuruh Viyo menunggu di mobil saja. Viyo menurut saja pada abangnya karena dia juga malas untuk keluar.
Saat Rio keluar dari toko kue, dia tidak sengaja menabrak seseorang yang ingin masuk ke dalam toko. Untungnya kue yang di bawa Rio tidak sampai jatuh.
"Maaf. Aku tidak sengaja." Kata gadis itu. Karena asik dengan ponselnya membuatnya tidak menyadari ada orang di depannya.
"Aku yang harusnya minta maaf karena tidak melihat ada yang mau masuk tadi." Ucap Rio
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu aku permisi." Ujar Rio tadi lalu segera pergi dari sana.
"Koq lama sih bang." Kata Viyo saat Rio sudah menyalakan mesin mobil.
"Tadi abang gak sengaja nabrak orang di depan pintu." Ujar Rio menjelaskan.
"Cewek atau cowok?" Tanya Viyo
"Apaan?" Tanya Rio bingung dengan pertanyaan adiknya.
"Yang di tabrak abang tadi cowok atau cewek?" Ujar Viyo sambil memutar bola matanya malas karena Rio tidak paham maksudnya.
"Owh. Tadi cewek."
"Cantik?"
"Lumayan."
"Koq lumayan sih bang."
"Ya emang gitu mau gimana lagi." Kata Rio sambil tertawa dan mengacak rambut adiknya gemas.
"Gimana kabar kamu mengejar cinta Via? Berhasil?" Tanya Rio.
Dia sampai heran dengan adik bungsunya ini yang begitu gigih dari jaman SD sampai sekarang dia hampir lulus SMA, mengejar satu cewek yang bahkan sudah tidak terhitung menolaknya.
"Ya masih sama bang. Tapi sekarang Viyo memutuskan untuk berhenti."
"Kenapa?"
"Viyo udah capek."
"Terus mau cari yang lain? Sia-sia dong perjuangan kamu selama ini kalo nyerah." Walaupun Rio fokus nyetir, tapi Rio masih sempat menoleh pada adiknya. Bisa dia lihat rasa lelah dan putus asa di wajah Viyo.
"Gak gitu bang. Viyo pengen dia yang ngejar Viyo mulai dari sekarang. Viyo tau dia juga punya perasaan yang sama dengan Viyo, tapi dia gak bakalan ngaku kalau caranya Viyo paksa. Jadi akan lebih baik Viyo mulai dari sekarang pura-pura jauhin dia dan gak peduli lagi." Ujar Viyo memberi alasan yang menurut Rio sangat masuk akal dan tidak buruk untuk di coba.
"Kalo itu yang kamu mau abang pasti dukung. Tapi kalo memang sudah gak bakal bisa juga, mending kamu lepas. Jangan buang waktu kamu lebih banyak lagi. Tapi kalo kamu yakin itu akan berhasil, yakinlah semua pasti akan terjadi seperti yang kamu. Karena suatu keberhasilan itu butuh proses." Ucap Rio untuk memberikan semangat pada adiknya.
"Makasih bang."
🌼🌼🌼🌼🌼
__ADS_1
Hai semua jangan lupa mampir dan tinggalin jejak dengan like dan komen di novel terbaru ku BELLARIC.
Enjoy reading guys😊