Boss Ku, Ayah Anakku

Boss Ku, Ayah Anakku
Patah Hati


__ADS_3

"Aa–aayah????"


Asti terkejut saat melihat anak kecil yang memanggil Daniel dengan panggilan ayah. Apalagi Daniel juga terlihat tidak menolak. Ada apa ini? Apa benar yang di katakan sekretaris Daniel dulu kalau Daniel sudah menikah? Tidak..tidak..ini tidak mungkin, batin Asti sambil menggelengkan kepalanya. Dia juga terkejut kala melihat ada Rara dan mami Daniel.


"Selamat siang tante." Ujar Asti menyapa Mami Daniel.


"Siang. Kamu siapa?" Tanya mami Daniel penuh selidik. Nampak dari raut wajahnya dia tidak menyukai wanita di depannya ini. Pakaiannya yang dia gunakan juga seperti kurang bahan.


"Kenalkan saya Asti tante. Saya te–." Tangan Asti mengawang di udara.


Saat dia ingin bersalaman dengan mami Daniel, perkataannya terputus karena mendengar suara anak kecil lain yang muncul dari balik komputer.


"Bunda, abang lapar." Kata Rio lalu berjalan menghampiri Rara.


"Bunda??? Apa lagi ini?" Batin Asti.


Rara memeluk putranya dan mengusap lembut kepalanya. "Tunggu bunda siapin ya. Sama ayah dulu." Rara tidak mempedulikan kehadiran Asti. Dia sibuk menyiapkan makan siang untuk si kembar.


"Sayang, kamu makan juga kan?"


Daniel terkesiap dan mengerjapkan matanya seakan tak mempercayai pendengarannya saat mendengar Rara memanggilnya 'sayang'. Dia yakin ini pasti karena ada Asti, pikir Daniel. Dia tersenyum penuh arti, dan menghampiri Rara. Lalu berbisik di telinga Rara menggodanya.


"Aku mau kamu terus memanggil ku seperti tadi. Kalau gak aku akan menghukummu."


"Apaan sih." Rara tersenyum geli.


Asti yang masih berdiri tidak jauh dari meja Daniel sedari tadi tidak mempercayai penglihatannya kala menyaksikan kemesraan Daniel dan Rara terjadi di depan matanya. Terlebih lagi ada dua anak kecil di antara mereka. Sementara mami Daniel juga sepertinya senang bersama mereka. Ada apa ini, pikir Asti.


"Bisa jelaskan ada apa ini?" Asti merasa di asingkan. Seakan dia patung yang di pajang di etalase toko.


"Oh, kamu mau makan siang juga? Sini gabung saja" Tawar Rara ramah.


"Lo gak usah basa basi sama gue. Maksud lo apaan?" Asti sedikit emosi dengan perkataan mengejek Rara padanya.


"Lo yang apaan! Lo kalau sudah tidak ada kepentingan silahkan lo keluar sekarang! Lo gak lihat gue mau makan siang sama keluarga gue!" Emosi Daniel muncul saat dia mendengar Asti berkata tidak sopan pada Rara.


"Daniel, gue minta penjelasan dari lo apa maksud semua ini? Jangan bilang kalo dua bocah ini anak lo?" Asti masih menuntut penjelasan dari Daniel.


"Penjelasan apa? Emang lo siapanya gue? Lo gak lihat gue lagi sama anak-anak gue dan juga isteri gue." Jawab Daniel


"Gak..ini gak mungkin. Lo pasti bohong kan. Gak mungkin cewek miskin dan murahan ini jadi isteri lo? Gue gak percaya!!." Teriak Asti sambil menunjuk Rara, yang membuat mami Daniel berdiri dan–


Plaaakk


"Jaga ucapan kamu! Keluar kamu dari sini! Beraninya kamu bilang menantu ku wanita seperti itu!! Asal kamu tahu, Rara adalah wanita terhormat di dalam keluarga Mahendra. Dan dia adalah menantu kesayangan kami. Isteri Daniel Mahendra dan ibu dari cucu-cucuku. Sekarang kamu pergi!!"


Nyonya Maria sangat marah pada Asti. Dia tidak terima menantunya di hina demikian. Karena dia tahu Rara adalah wanita baik-baik.


Si kembar bersembunyi di belakang Rara. Mereka sedikit takut karena melihat oma mereka marah. Daniel mengajak mami nya untuk duduk kembali.

__ADS_1


"Lebih baik lo pergi sebelum gue panggil pihak keamanan." Ucap Daniel Tegas.


Asti memegang pipinya yang masih terasa panas akibat tamparan dari mami Daniel. Dia menatap tajam Rara dengan penuh rasa kebencian.


"Gue gak akan terima penghinaan ini. Lo tunggu saja pembalasan gue." Batin Asti.


Kemudian dia keluar dari ruangan Daniel sambil membanting pintu. Sontak membuat Nita terkejut dan hampir saja terjengkang.


"Dasar wanita gila." Geram Nita.


"Siapa dia? Mami tidak suka wanita seperti itu dekat kamu dan menyakiti menantu mami." Ujar Nyonya Maria masih dengan tatapan marahnya mengarah ke Daniel.


"Dia itu temen Daniel dan Rara waktu SMA dulu mi. Dari dulu dia terus ngejar Daniel." Ujar Daniel memberi penjelasan pada maminya.


"Kamu harus hati-hati. Jaga Rara dan juga si kembar baik-baik. Wanita seperti itu tidak bisa di diamkan. Jangan sampai cucu dan menantu mami terluka. Rara kamu harus selalu waspada." Mami Daniel memberi nasihat pada Rara dan Daniel.


"Iya mi." Jawab mereka berdua bersamaan.


"Sebaiknya kita makan saja. Ade abang kita lanjut makannya." Ajak Rara.


***


Setelah keluar dari kantor Daniel, Asti melajukan mobilnya seperti orang gila. Hampir saja dia mengalami kecelakaan. Setelah sampai di rumahnya, Asti masuk ke dalam kamarnya. Dia berteriak dan mengamuk. Barang-barang berhamburan di lantai.


"Aaaaaa.. Gue benci lo Rara!!" Teriakan Asti menggema di dalam kamarnya.


"Gue gak terima di hina kayak gini. Gue akan balas semua perbuatan lo!."


Asti mengalihkan pandangannya pada foto Daniel yang ada di atas meja dekat ranjangnya. Dia mengambilnya, memecahkan figuranya di lantai, lalu memungut selembar foto Daniel di sana. Dia pandangi foto itu sambil berurai air mata.


"Kurang gue apa Daniel? Kenapa sih lo gak bisa lihat gue sekali saja? Gue cinta sama lo. Rasa cinta gue buat lo gak pernah berubah dari dulu." Isak tangis pilu Asti begitu menyayat hati kalau saja ada yang mendengarnya. Dia patah hati karena Daniel selalu menolak cintanya sedari dulu.


Air matanya terus membasahi pipinya. Dia tahu bahwa dia lah yang selalu mengejar Daniel berapa kali pun mendapatkan penolakan. Dia rela membuat dirinya seperti perempuan tidak tahu malu hanya untuk mendapatkan Daniel.


Bahkan dia bersama sahabatnya berani melakukan pembullyan untuk cewek-cewek di sekolahnya yang berani mendekati atau hanya sekedar melihat Daniel dari jauh, termasuk juga Rara menjadi korbannya.


Kilatan amarahnya kembali lagi, dia meremas foto Daniel yang ada di tangannya hingga foto itu tidak berbentuk lagi.


"Daniel. Lo akan menyesal karena sudah melakukan ini ke gue. Lo akan tahu gimana rasanya kehilangan orang yang lo cintai." Ucap Asti penuh dengan dendam amarah hingga bibirnya bergetar.


***


Laura, Naira, dan Rosa sedang shopping di mall. Mereka tadi sudah berusaha menghubungi Asti, tapi ternyata ponselnya tidak aktif. Jadilah hanya mereka bertiga saja ngumpulnya.


"Cari makan yuk. Gue lapar." Ajak Naira.


"Perut aja yang lo urus." Laura menyenggol Naira yang berjalan disampingnya.


"Kalau gue pingsan gimana? Lo mau tanggung jawab?."

__ADS_1


"Ogah." Jawab Laura dan Rosa bersamaan.


"Kalau lo pingsan, gue suruh satpam yang ngurusin lo. Biar lo di cium sama satpamnya." Ucap Rosa sambil tertawa saat mendapatkan tatapan kesal dari Naira.


"Dasar tega lo." Naira memberengut kesal.


Akhirnya mereka sampai di salah satu restoran yang ada di mall tersebut. Sambil menunggu pesanan mereka, Rosa membuka galeri foto di ponselnya. Dia tersenyum melihat foto itu.


"Lo liat apaan sih? Senyam senyum sendiri kayak orang gila tau." Ujar Laura yang penasaran juga ingin melihat yang di lihat Rosa.


"Lo bakal gak percaya kalau gue ceritain ini. Awalnya gue juga gak percaya. Tapi pas lihat muka anaknya, semua duplikat muka bokapnya." Ucap Rosa semangat.


"Anak siapa? Bokap siapa sih?" Naira juga ikut penasaran.


"Nih gue kasih lihat. Lo perhatiin itu bocah dua. Terus lo pikir-pikir itu bocah mukanya mirip siapa?" Rosa lalu memperlihat foto 2 bocah yang ada di dalam galeri ponselnya. Rosa dengan sengaja memotret kedua bocah kembar itu karena mereka begitu menggemaskan.


Dahi Naira dan Laura berkerut. Mereka berpikir keras mirip muka siapa. Berkali- kali memperbesar foto tersebut di layar ponsel, tetap saja mereka tidak menemukan jawabannya.


"Nyerah gue." Ujar Naira sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Gue juga nyerah." Laura pun ikut mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Aah dasar payah lo berdua. Anak yang cowo itu lebih kelihatan mukanya mirip siapa." Cebik Rosa.


"Ya udah kasih tahu aja anak siapa. Kan beres."


"Hooh."


Ingin sekali Rosa menimpuk kepala kedua sahabatnya ini pakai botol saus di depannya. Padahal sangat jelas sekali kalau itu duplikat muka Daniel.


"Bocah dua ini anaknya Daniel sama Rara." Ujar Rosa.


"APA???" Laura dan Naira membulatkan mata mereka.


Sontak Rosa membekap mulut mereka dengan kedua tangannya dan melototkan matanya. Mereka menjadi pusat perhatian karena teriakan Laura dan Naira.


"Lo tahu darimana itu anaknya Daniel sama Rara?" Laura memelankan suaranya setelah Rosa melepaskan bekapan tangannya dari mulut Laura.


"Ya dari mereka lah. Gue gak sengaja ketemu mereka pas gue lagi nemenin ponakan gue main di timezone. Mereka lagi nungguin anak mereka juga lagi main di situ. Mereka kembar." Rosa memberikan penjelasan untuk mereka.


"Daebak! Gue beneran gak nyangka kalau Rara jadi isterinya Daniel." Ujar Laura sambil memandang kembali foto si kembar.


"Tapi koq kenapa media gak kasih berita ya kalau Daniel menikah. Secara kan Daniel anak pengusaha kaya raya dan terkenal."


"Kata Daniel sih, Rara sama anak-anaknya tinggal di luar negeri. Baru setahun belakangan ini balik ke Indonesia."


"Gue salut sama Rara bisa buat Daniel jatuh cinta sama dia. Mereka juga pasangan serasi."


"Asti tahu gak ya?"

__ADS_1


"Gue harap dia sudah tahu. Biar dia gak ngejar Daniel lagi. Lagian itu sudah jadi suami orang." Ucap Rosa khawatir. Mengingat bagaimana sifat Asti yang keras kepala saat dia ingin dapat sesuatu.


__ADS_2