
"Viyoooooooo"
Anak laki-laki berusia 6 tahun itu lari dan bersembunyi di belakang bundanya ketika mendengar namanya di teriakan.
"Gak bosan-bosannya ya jahilin kakak." Rara menggelengkan kepalanya melihat bagaimana kelakuan anak bungsunya ini.
"Sssttt bunda diam jangan berisik."
Raveo Ananda Mahendra yg akrab dipanggil Viyo itu berbisik pelan pada Rara agar tidak ketahuan.
"Bunda, lihat Viyo gak?" Ria menuruni tangga mencari adik dengan nafas memburu karena kesal. Poster idol kpop kesayangan Ria semuanya tidak terlihat tampan lagi. Karena wajah mereka di hiasi Viyo dengan coretan spidol.
Rara memberi kode pada Ria dengan matanya kalau anak bungsunya itu sedang bersembunyi di belakangnya.
Viyo terlonjak kaget saat Ria melotot tajam padanya. Dengan sedikit takut Viyo meremas ujung baju Rara.
"Ganti poster kakak!! Kalo gak kamu gak akan kakak temanin main lagi." Seru Ria karena kesal pada adiknya.
"Bunda, poster idol ade di coret sama Viyo..hiks."
"Minta maaf sama kakak." Bujuk Rara pada anak bungsunya. Rara mengelus lembut rambut Viyo sambil mensejajarkan tingginya dengan Viyo.
"Viyo gak boleh lagi ganggu barang-barang milik kakak ya. Gimana kalau barang kesayangan Viyo juga di ganggu. Viyo suka gak?" Rara memberi teguran lembut pada Viyo.
Viyo menggelengkan kepalanya sambil menunduk tidak berani menatap bundanya.
"Ayo minta maaf." Bujuk Rara lagi dengan
lembut.
Dengan takut-takut Viyo mengulurkan tangan mungilnya meminta maaf pada kakaknya.
"Maafin Viyo kak" cicit Viyo.
Ria menerima uluran tangan Viyo "Awas ganggu barang kakak lagi. Bakal kakak–" ujar Ria sambil menaruh tangannya di leher seakan ingin mencekik. Membuat Viyo bergedik ngeri kalau benar itu terjadi padanya.
Sifat dan kelakuan Viyo sangat berbanding terbalik dengan kakak-kakak nya. Orang yang paling sering menjadi objek kejahilan Viyo adalah Ria. Sedang Rio, dia tidak berani. Melihat mata Rio melotot saja sudah membuat nyali Viyo ciut.
"Kejahilan apa lagi si bungsu buat hari ini?" Daniel baru saja pulang dari kantor, mengecup bibir Rara kemudian duduk di samping isterinya.
Daniel dan Rara sudah beberapa kali di panggil wali kelas Viyo karena kelakuan jahilnya di sekolah. Viyo baru kelas 1 SD tapi hampir semua anak di sekolahnya sudah banyak yang menjadi korban kejahilannya.
Tapi walaupun demikian, Viyo tergolong anak yang cerdas di sekolahnya. Wajahnya juga tampan seperti ayah dan abangnya.
Rara tertawa kecil "Poster idol punya ade di coret Viyo pake spidol."
__ADS_1
"Dulu kamu ngidamnya aneh-aneh kan. Jadinya Viyo juga gitu." Kekeh Daniel dan membuat Rara mencubit pinggang Daniel .
"Kata papi kelakuan kamu juga gitu." Rara mencibir suaminya.
"Mana ada." Daniel juga mencibir ke arah isterinya.
"Ya sudah mandi sana. Biar kita makan malam bersama."
.
.
.
Daniel dan keluarganya sedang berkumpul bersama di ruang keluarga usai makan malam sambil menonton film.
"Viyo mau susu gak?" Tawar Rio sambil menyedot susu kotak miliknya. Rio membawa 2 susu kotak di tangan satunya. Viyo menoleh pada abangnya dan menggangguk kecil.
"Kalau mau itu bilang jangan cuma ngangguk doang." Celetuk Ria sambil mendengus pada Viyo.
"Nih" Rio menyodorkan satu-satu susu kotak pada kedua adiknya.
"Makasih abang." Ucap Viyo tulus sambil tersenyum.
Rio mengacak-acak rambut Viyo "sama-sama." Kata Rio lembut.
Walaupun Viyo sering jahil padanya, tapi Ria begitu menyayangi adiknya. Dia memeluk adiknya yang sedang menyedot susu kotaknya. Begitu juga dengan Rio, dia juga sangat menyayangi kedua adiknya. Dia akan selalu menjaga mereka seperti pesan ayah dan bunda padanya.
Daniel dan Rara tersenyum melihat bagaimana ketiga anak mereka saling menyayangi satu sama lain.
"Apa kita perlu tambah lagi?" Bisik Daniel di telinga Rara. Rara mendelik pada suaminya
"Kalau kamu yang hamil aku tidak masalah."
"Masa aku yang hamil? Kan aku cuma nyemburin aja."
Sontak Rara memukul mulut suaminya pelan. "Mulutnya di jaga. Kalau anak-anak dengar gimana."
Daniel hanya nyengir kuda dan membawa Rara dalam pelukannya.
"Ayah sama bunda bisa gak sih gak usah pelukan di depan kita. Mata Viyo ternoda ini." Ujar Viyo.
Rara terperangah dengan ucapan putra bungsunya. Lekas Rara melepas pelukan Daniel dan duduk seperti biasa.
"Ganggu aja." Ujar Daniel sambil mendengus pada Viyo.
__ADS_1
Belum selesai film yang mereka tonton, ketiga anaknya sudah tertidur di sofa. Ria tertidur dengan bersandar pada pundak
Abangnya. Sedangkan Viyo tertidur dalam pelukan Ria.
"Sayang, bawa mereka ke kamar." Ujar Rara pada suaminya.
Daniel menoleh pada anak-anaknya lalu berdiri. Dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan mereka. Daniel mengangkat Viyo terlebih dulu, lalu kemudian Ria dan terakhir Rio.
Tapi Rio di bangunkan oleh Daniel. Karena tubuh Rio tidak kalah tinggi dengan ayahnya walaupun dia masih SMP.
***
"Hiks..hiks.."
Seorang anak gadis menangis di depan gurunya. Bu Rita hanya menghembuskan nafasnya kasar. Bukan kejadian satu atau dua kali tapi setiap hari selalu saja ada siswa yang mengadu kelakuan jahil Viyo padanya. Entah laki-laki atau perempuan.
"Kali ini apa lagi yang kamu buat Viyo?" Tanya Bu Rita sambil menahan sabarnya menghadapi siswanya yang satu ini.
"Habisnya Via gak mau nerima cinta Viyo sih." Ucap Viyo tanpa Rasa bersalah.
Bu Rita memijit dahinya. Bagaiman bisa anak sekecil ini tahu segala tentang cinta.
"Viyo, kamu masih kecil belum waktunya kenal cinta-cintaan." Bu Rita sungguh tak habis pikir dengan Viyo. Bisa-bisanya berpikir untuk berpacaran masih kecil juga.
"Tapi kata ayah kalau kita suka seseorang itu harus di kasih tahu. Terus kata ayah jadi laki-laki harus setia."
Bu Rita menggaruk kepalanya walaupun
tidak gatal. Dia bingung mau mengatakan apa pada anak didiknya ini. Sepertinya dia harus memanggil orangtua Viyo lagi ke sekolah.
"Sekarang Viyo kembali ke kelas ya." Bujuk bu Rita.
"Gak. Viyo nunggu jawaban Via dulu Bu."
"Via, terima cinta Viyo ya." Ucap Viyo.
"Gak. Via gak mau." Via langsung berlari meninggalkan Viyo.
Tangan Viyo di cekal Bu Rita ketika dia ingin menyusul Via.
"Mau kemana?" Tanya Bu Rita sambil menatap tajam Viyo.
"Viyo mau ngejar cinta Via bu." Kata Viyo tanpa malu.
"Masuk kelas! Atau kamu mau ibu hukum bersihkan toilet dan menyapu halaman sekolah." Ancam Bu Rita membuat Viyo mengurungkan niatnya untuk mengejar Via.
__ADS_1
Masa iya orang ganteng bersihkan toilet, gak banget. Pikir Viyo.