
5 Tahun kemudian
Viyo baru saja keluar dari kelas bersama para sahabatnya, saat dia tidak sengaja melihat gadis yang selama ini di kejarnya sejak SD itu sedang berjalan ke arahnya. Tepatnya mereka berlawanan arah.
Saat mereka berpapasan, Viyo cuek seolah tidak mengenal Via lagi. Sudah hampir sebulan ini Viyo tidak pernah menjahili Via lagi. Jangankan menjahili, menyapa pun tidak pernah lagi.
Banyak yang bertanya-tanya ada apa dengan Viyo. Bahkan para sahabatnya saja tidak tahu alasan apa di balik cuek nya Viyo pada Via.
Saat bahu mereka tidak sengaja bersentuhan, Viyo pura-pura itu tidak pernah terjadi. Tapi berbeda dengan Via. Justru jantungnya terasa berdegup tiga kali lebih cepat dari biasanya. Bahkan ini sangat aneh. Biasanya ketika dia di jahili Viyo, sentuhan fisiknya tidak pernah membuat Via aneh seperti ini.
Via membalikkan tubuhnya sambil menyentuh dada kirinya. "Ada apa dengan ku? Kenapa rasanya aneh seperti ini?" Batin Via
"Lo kok tumben gak pernah ganggu Via lagi?" Tanya Rafi saat mereka sudah berada di kantin.
"Bosan." Ucap Viyo cuek.
"Bosan di tolak maksudnya." Timpal Reno sambil cekikikan tertawa.
Viyo tiba-tiba berdiri lalu pergi dari sana tanpa bicara. Dia tidak mempedulikan teriakan para sahabatnya. Dia terus saja berjalan sampai akhirnya dia melihat seseorang yang sedang kesulitan mengambil sesuatu di atas lemari di dalam kelas.
Viyo membantu gadis itu untuk mengambilnya dengan berdiri tepat di belakangnya. Sontak membuat gadis itu terkejut. Viyo menatap gadis itu tanpa ekspresi tapi mampu membuat jantung gadis itu tidak karuan.
Ternyata apa yang di lakukan Viyo pada gadis itu terlihat oleh Via tanpa sengaja. Kalau orang salah paham maka orang akan berpikir bahwa Viyo sedang memeluk gadis itu dari belakang dan mereka sedang berciuman. Itulah yang Via lihat. Tanpa sadar sudut mata Via berair dan hatinya terasa sakit. Tanpa berlama-lama Via langsung berlari dari sana.
"Te-terima kasih." Ucap gadis itu gugup dan tersipu malu.
Viyo tidak menjawab tapi saat dia berbalik dia menyunggingkan senyum kala tahu siapa yang berada di depan kelas tadi.
"Kenapa rasanya sakit sekali." Gumam Via sambil menyentuh dadanya.
Jujur sejak Viyo tidak pernah lagi mengganggu nya, Via merasa ada yang kurang. Walaupun semua orang tahu dia orangnya dingin dan jutek. Tapi hatinya tidak bisa berbohong kalau dia merasa kehilangan Viyo sekarang. Viyo yang sejak dari SD selalu meminta dirinya untuk jadi pacarnya. Viyo yang tidak pernah bosan selalu mengikuti kemana dirinya. Viyo yang tidak pernah bosan mengirimkan pesan atau pun sengaja jahil meneleponnya.
Sejak sebulan lalu semua itu tidak ada lagi. Via rindu Viyo. Via rindu di ganggu Viyo. Via rindu pesan-pesan cinta dari Viyo. Via rindu suara Viyo menyapanya setiap hari di sekolah dengan rayuan pulau kelapanya.
__ADS_1
Via duduk sendiri di taman belakang sekolah. Sesekali dia mengusap wajahnya yang basah karena air mata. Dan air matanya akan kembali jatuh kalau dia mengingat bagaimana mesranya Viyo dengan cewek lain di kelas tadi.
Tanpa Via sadari kalau Viyo
memperhatikannya tidak jauh dari tempatnya.
"Maaf. Aku cuma pengen kamu sadar bahwa aku sunguh mencintai kamu dan aku serius sama kamu." Ucap Viyo pelan.
Dan hanya dirinya saja yang bisa mendengar apa yang di ucapkannya tadi. Kemudian Viyo pergi dari sana menuju kelasnya.
.
.
.
Karena asik bermain basket, Viyo sampai lupa waktu kalau sekarang sudah sangat sore. Bunda pasti mengkhawatirkan dirinya karena lambat pulang, pikir Viyo. Langit mendung angin kencang mulai bertiup.
Viyo bergegas mengambil tasnya dan segera menuju parkiran. Saat dia ingin keluar dari gerbang sekolah, tanpa sengaja dia melihat seseorang yang dia kenal sedang berdiri di trotoar depan sekolah.
Viyo mengetuk ngetuk ujung jarinya di kemudi sambil menatap gadis yang dia cintai itu dari dalam mobilnya. Viyo menghentikan mobilnya tepat di depan Via. Dia menurunkan kaca mobilnya dan menoleh pada Via.
"Masuk." Ucap Viyo datar.
Via terkejut karena Viyo mau menyapanya lagi walaupun tidak seperti biasanya. Via senang. Tapi mengingat kembali kejadian di kelas tadi, Via menatap Viyo dingin.
"Aku bisa pulang sendiri." Balas Via dengan wajah menunduk.
Viyo keluar dari mobil lalu membuka pintu mobil satunya. Viyo mendorong paksa Via masuk ke dalam mobilnya. Saat Viyo sudah duduk di belakang kemudi, Via berniat ingin keluar dari mobil.
"Jangan keras kepala. Jam segini sudah tidak ada taksi ataupun angkot." Ucap Viyo dingin.
Via mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil lalu memilih duduk diam. Viyo menarik kedua sudut bibirnya ke atas tipis. Sehingga Via tidak sadar kalau Viyo sebenarnya sedang tersenyum walaupun matanya tetap lurus ke depan.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang, tidak ada satupun yang bicara. Via dan Viyo sama-sama tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Hanya alunan musik saja yang menemani mereka dalam kesunyian itu.
Mobil Viyo berhenti tepat di depan rumah Via yang sederhana bercat biru. Bunga-bunga dengan berbagai jenis menghiasi halaman rumah Via. Sehingga rumah itu terlihat sangat asri dan nyaman di pandang mata.
"Makasih dan selamat." Ujar Via dengan suara pelan dan hampir tertahan di tenggorokannya.
Viyo menaikkan alisnya sebelah bingung dengan ucapan selamat dari Via.
"Selamat?? Untuk apa?" Tanya Viyo heran.
"Emm it-tu a-aku–" Via gugup untuk meneruskan perkataanya.
"Aku apa?" Tanya Viyo sambil menggeser miring sedikit duduknya untuk bisa menatap wajah Via yang tiba-tiba gagap bicara.
"Ta-tadi aku gak sengaja li-lihat kamu di kelas lagi dengan pacar kamu." Via masih menundukkan wajahnya.
Viyo menyunggingkan senyumnya "Kamu cemburu?"
"Via mengangkat wajahnya lalu mengibaskan kedua tangannya "Ga-gak..Siapa yang cemburu." Ujar Via gugup.
Viyo tertawa dalam hatinya. Ingin sekali Viyo mencubit pipi Via seperti biasanya. Via sangat menggemaskan kalau seperti ini. Viyo tahu kalau Via juga menyukai dirinya. Dan saat ini Viyo tahu kalau Via sedang cemburu. Via memang keras kepala dan tidak ingin mengakuinya.
"Syukurlah kalau kamu gak cemburu. Aku memilih dia karena dia gak membuatku terlalu lama menunggu. Karena menunggu itu adalah hal yang sangat membosankan." Ucap Viyo dingin.
Walau sebenarnya Viyo tidak tega untuk mengucapkannya. Tapi dia ingin Via sadar kalau Via juga mencintainya dirinya.
Via terkesiap mendengar ucapan Viyo. Dia sadar siapa orang yang di maksud Viyo yang sudah membuatnya menunggu lama. Jadi Viyo sudah bosan padanya, batin Via.
Hati Via sakit menerima kenyataan kalau Viyo sekarang sudah tidak ingin menunggu dirinya lagi. Viyo sudah ada pengganti dirinya. Mata Via berkaca-kaca dan saat dia memejamkan matanya air mata nya jatuh di kedua pipinya.
Via ingin membuka pintu mobil tapi di tahan Viyo. "Hapus dulu air mata kamu baru keluar. Aku gak mau di tuduh berbuat hal yang gak benar pada anak gadis orang." Ucap Viyo sambil memberikan tisu untuk Via.
Via mengambil tisu dan menghapus air mata lalu keluar dari mobil Viyo.
__ADS_1
Viyo menyandarkan tubuhnya di kursi mobil dan mendesah pelan.
"Maafin aku Via." Ucap Viyo lirih dan segera meninggalkan kediaman Via.