
Kepulangan Rio di sambut seluruh keluarganya di rumah utama. Sejak di ambang pintu Rara tak henti-hentinya tersenyum melihat kedatangan putra sulungnya. Rara memeluk Rio dengan penuh kerinduan. Matanya berkaca-kaca karena haru dan bahagia.
"Abang sangat merindukan bunda." Rio membalas pelukan bunda nya yang hanya setinggi dadanya.
Dia tumbuh semakin tinggi sekarang bahkan lebih tinggi dari ayahnya. Semakin dewasa gagah dan juga tampan tentunya. Bisa di lihat Rio mewarisi ketampanan ayahnya.
"Apa cuma bunda yang kamu rindukan?" Ujar Daniel berpura-pura sedih pada putranya.
Rio terkekeh melihat wajah tampan ayahnya yang merajuk seperti anak kecil.
"Tentu saja abang juga sangat merindukan ayah." Rio memeluk ayah nya dan di balas Daniel dengan pelukan yang erat pada putranya.
Rio juga memeluk oma dan opanya yang sangat dia sayangi dan juga dia rindukan.
"Oma dan opa sehat?" Tanya Rio dengan lembut.
"Tentu saja kami sangat sehat. Dan kami juga akan selalu sehat sampai kami bisa menimang cicit dari mu." Ujar Tuan Arnold yang membuat Rio tersenyum kecil.
"Apa abang sudah pacar?" Tanya oma nya sambil tersenyum jahil pada cucunya.
Rio tersenyum malu-malu pada oma nya lalu menggenggam tangan oma nya lembut. "Rio belum pacar oma. Rio masih fokus dulu untuk bekerja sekarang."
"Apa abang masih mikirin Nana?" Pertanyaan Rara membuat Rio terkesiap lalu membenahi duduknya.
"Entahlah bunda. Abang kan sudah lama gak ketemu Nana. Waktu itu kan Nana masih bayi bunda. Sekarang dia seperti apa ya?" Kata Rio yang tiba-tiba saja pikirannya melayang mengingat pertemuannya 16 tahun silam. Usia Rio sekarang sudah 22 tahun.
"Dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik." Ujar Rara dengan tersenyum.
"Memangnya bunda tahu darimana dia cantik?" Tanya Rio mengernyitkan keningnya.
"Bayinya saja sudah cantik, pasti dong gedenya juga cantik. Lebih cantik malah." Ujar Rara dengan penuh keyakinan.
Sebenarnya Clara selalu intens mengirim foto Queena pada Rara. Walaupun mereka berjauhan tapi hubungan persahabatan mereka terjalin dengan baik. Usia Queena hanya berbeda 1 tahun dari Viyo. Dia baru saja masuk tingkat pertama perkuliahan di Korea Selatan.
Tanpa sepengetahuan Rio, Queena tinggal bersama Ria di sana. Padahal Queena ingin tinggal sendiri, tapi Ria memaksa karena dia bosan selama ini hanya tinggal sendiri di apartemennya. Mereka sengaja merahasiakan ini dari Rio.
Queena sendiri tidak kenal siapa Rio dan Ria. Dia hanya tahu kalau mereka adalah anak sahabat dari kedua orang tuanya. Queena juga tidak tahu kalau Rio menyukainya saat masih bayi. Bahkan sampai menangis hanya karena merindukannya.
Sangat sulit bagi Queena untuk bisa kuliah di Korea. Karena daddy nya sempat tidak mengijinkannya. Dengan usaha yang keras dan menyakinkan dari dia dan mommy nya, sehingga Ardi menyetujuinya dengan berat hati. Padahal Ardi ingin putri semata wayangnya itu tetap bersama mereka di Thailand.
"Nana siapa sih bunda?" Tanya Viyo yang bingung karena dari tadi dia mendengar nama Nana terus dia sebut. Dan baru kali ini dia mendengar nama itu.
"Dia cinta pertama abang." Celetuk Daniel yang membuat Rio tersenyum malu-malu.
Viyo terperangah dan menatap wajah abangnya yang tiba-tiba saja merona malu. Viyo tertawa terbahak karena melihat abangnya yang salah tingkah.
__ADS_1
"Demi apa coba? Hahahahaaha." Tawa Viyo tidak berhenti mengejek Rio dan
membuat keluarga yang lain ikut tertawa.
"Pantesan abang jomblo akut. Ternyata dia juga gak kalah parahnya dari Viyo hahahahaha..abang malah jatuh cinta sama cewek dari masih bayi." Ujar Rio sambil menggelengkan kepalanya tapi tetap dengan senyum jahil menghiasi wajahnya.
Rio membekap mulut Viyo agar berhenti mengejeknya. Tapi namanya Viyo itu tidak akan mempan. Malah sekarang mereka saling kejar-kejaran di dalam rumah.
Daniel, Rara, dan oma opa mereka hanya bisa tertawa melihat kelakuan mereka.
"Sepertinya, gak lama lagi aku bakalan punya mantu." Ucap Rara dengan tersenyum.
"Dan gak lama lagi aku bakal jadi kakek." Daniel ikut menimpali.
"Mami dan papi bakal jadi oma buyut dan opa buyut." Kata Papi Daniel tidak kalah juga.
Rara menoleh pada suaminya kemudian mereka tertawa bersama.
***
Rio membaringkan dirinya di kamar. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Tidak ada yang berubah di kamarnya. Bunda nya selalu merawat kamarnya seperti sebelum dia meninggalkannya.
Tiba-tiba Rio merindukan saudara kembarnya Ria. Rio mengambil ponsel yang ada di sampingnya dan mencari kontak Ria. Dia melakukan video call dengan adiknya.
"Halo de, apa kabar?" Tanya Rio.
"Iya. Siang tadi sudah di Indonesia. Gimana kerjaan kamu di sana? Kapan pulang?" Rio ingin sekali bertemu Ria. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu.
"Kerjaan ku padat bang. Kalau ada waktu abang aja ke sini ajak si bocah tengil itu." Ujar Ria sambil tertawa. Rio pun juga tertawa kalau sudah membicarakan adik bungsunya itu.
"Oke ntar abang pikirin. Abang besok sudah mulai kerja di kantor ayah."
Saat sedang asik bicara dengan adiknya, mata Rio sempat melihat seseorang yang lewat di belakang Ria.
"Kamu sama siapa di sana de?"
Ria membalikkan tubuhnya dan melihat kalau Queena sedang membuat sesuatu di dapur.
"Oh dia teman ade. Dia baru masuk kuliah. Karena ade sendiri jadi ade ajak aja dia tinggal di sini." Ujar ria menjelaskan pada abangnya.
Dia tidak mau mengatakan yang sejujurnya kalau itu adalah Nana yang di sukai abangnya. Dia sepakat dengan ayah dan bunda nya untuk merahasiakan keberadaan Queena. Bukan untuk menjodohkan tapi untuk mendekatkan keduanya nanti.
"Orang mana?" Tanya Rio penasaran.
"Orang Indo juga bang. Ayah sama bunda juga sudah tahu koq."
__ADS_1
"Syukur deh kalau ayah bunda sudah tahu. Tetap hati-hati ya de. Abang mau istirahat dulu. Miss you."
"Miss you too bang."
Setelah panggilan berakhir, Rio memutuskan untuk mandi. Setelahnya dia akan memilih tidur untuk memulihkan tenaganya.
Setelah membersihkan dirinya, dengan mengenakan celana pendek dan kaos putihnya, Rio kembali membaringkan tubuhnya. Saat dia mulai memejamkan matanya, dia teringat sesuatu.
"Nana apa kabar ya?" Gumam Rio saat mengingat perbincangan mereka tadi.
"Pasti dia cantik seperti yang bunda bilang tadi." Ucap Rio sambil menyunggingkan senyumnya. Bahkan dia juga mengingat bagaimana dia merengek dan menangis karena meminta bundanya untuk menemui Nana.
"Nana, kapan kita bisa ketemu lagi ya?" Lirih Rio lalu kemudian dia memejamkan matanya.
.
.
.
"Bang" Viyo berdiri di depan kamar Rio yang sedikit terbuka. Rio baru saja bangun tidur.
"Kenapa?" Tanya Rio pada adiknya.
"Viyo kangen Via." Ucap Viyo dengan tatapan sendu dan menundukkan wajahnya.
"Kalau kangen kenapa gak di samperin."
Viyo mendesah pelan "Kan Viyo pengen pura-pura jauhin dia."
"Sanggup? kalau gak sanggup mending samperin."
"Harus sanggup." ucap Viyo mantap.
Rio menggelengkan kepalanya dan mengacak rambut adiknya. Ketika Rio ingin ke kamar mandi, langkah Rio tertahan dan berbalik pada adiknya kala Viyo menanyakan tentang Nana padanya.
"Abang gak kangen Nana?" tanya Viyo.
Rio tersenyum tipis lalu kembali duduk di tepi tempat tidurnya.
"Abang kangen Nana. tapi abang gak tau rupa wajahnya seperti apa sekarang. karena abang ketemu dia saat masih bayi." ucap Rio.
"Kenapa abang gak tanya bunda? kan orang tua Nana sahabatan sama ayah bunda."
Perkataan Viyo ada benarnya juga. Tapi Viyo malu untuk menanyakan hal itu pada bundanya.
__ADS_1
"Sudahlah. Kalau memang jodohnya, abang pasti bertemu Nana lagi."