Boss Ku, Ayah Anakku

Boss Ku, Ayah Anakku
Bell's Boutique


__ADS_3

Syukur lah kalau Rara selamat. Kalau lo butuh bantuan gue, gue akan dengan senang hati membantu lo." Kata David.


"Terima kasih bro." Ucap Daniel dengan senyumnya.


Ardi lebih banyak diam mendengarkan perbincangan kedua sahabatnya. Sepertinya ada yang di sedang dia pikirkan.


David dan Daniel juga sedang memperhatikan Ardi tanpa dia sadari. David menyenggol lengan Ardi sehingga membuatnya tersadar dari pikirannya sendiri.


"Lo lagi mikirin apa sih? Dari tadi gue liat diam aja." Kata David.


"Ah bukan apa-apa." Elak Ardi.


"Gimana kabar Clara sekarang? Kandungannya baik-baik saja kan?" Tanya Daniel.


"Clara dan kandungannya baik-baik saja. Hanya saja gue kadang bangun tengah malam." Ucap Ardi.


"Ngapain lo bangun tengah malam? Jangan bilang lo gempur Rara tengah malam." Ujar David terkekeh.


"Gilak lo. Mana tega gue gempur dia lagi hamil juga. Kasian gue lihatnya." Ujar Ardi.


"Terus ngapain lo bangun tengah malam."


"Clara suka ngidam yang aneh-aneh. Mana yang di minta susah banget dapetnya. Dan anehnya lagi mintanya tengah malam." Ujar Ardi sambil menggelengkan kepalanya.


"Lo bersyukur menikmati masa ngidam isteri lo. Lah gue malah sedih rasanya karena waktu Rara hamil gue gak ada di samping dia. Gue sendiri juga gak tahu kalau dia hamil." Kata Daniel.


"Terus sekarang lo sama Rara lagi program nambah anak lagi gak?" Tanya David.


"Untuk saat ini kami gak mikirin anak dulu. Lagian sudah ada si kembar juga. Kami pengen nikmati waktu berduaan dulu." Ucap Daniel sambil tersenyum.


Daniel tidak ingin sahabatnya tahu tentang kondisi isterinya yang sebenarnya. Bagi Daniel cukup dia dan orang tuanya saja yang mengetahui kondisi isterinya. Dan Daniel juga berharap semoga saja papi nya tidak cerita pada Ardi tentang penyakit isterinya saat bertemu di rumah sakit tempo hari.


"Ah jadi pengen nikah juga rasanya gue." Kata David karena merasa di antara mereka bertiga saat ini, hanya dia yang belum menikah.


"Ya udah lamar cepat Jane. Biar lo tahu gimana enaknya menikah. Terus ngurusin isteri hamil dan ngidam aneh-aneh." Kata Ardi terkekeh.


"Gue sama Jane masih mikirin bisnis dulu sekarang. Buat modal nikah." Ucap David.


"Oh iya bicara tentang Jane, gimana kabar bisnis restauran kalian?" Tanya Daniel.


"Masih tahap awal. Untuk sementara gue yang masih ngawasin. Kalau sudah masuk tahap finishing, Jane yang akan terjun langsung. Semua koki nanti di datangkan langsung dari luar." Kata David menjelaskan sambil menyesap kopinya.


"Ngomong-ngomong kalian dapat kabar tentang Eric?" Tiba-tiba saja pertanyaan Ardi membuat keduanya terperangah.


"Kenapa? Apa pertanyaan gue salah?" Tanya Ardi heran karena mendapat respon demikian dari Daniel dan David.


"Gak. Gue justru kaget aja lo tiba-tiba nanyain Eric. Tapi bener juga kata lo, sampai hari ini kita sama sekali gak dapat info apapun tentang Eric. Sudah hampir 4 bulan." Kata David.

__ADS_1


"Gue yakin dia pasti baik-baik saja. Dan gue harap dia segera ketemu seseorang yang tepat untuknya." Ucap Daniel.


Ardi menundukkan kepalanya lalu menghembuskan nafasnya pelan. David menempuk pundak Ardi.


"Lo gak pa-pa?" Tanya David.


"Gue gak pa-pa. Hanya saja gue dan Clara sangat merasa bersalah padanya." Ucap Ardi memelas.


"Sudahlah semua sudah berlalu. Kejadian apapun yang kita alami semua pasti atas kehendak dan seijin-Nya. Kita sebagai umatNya hanya mampu menerima. Semua sudah takdir." Kata Daniel.


***


Laura, Naira dan Rosa saat ini sedang berada di salon langganan mereka. Hari ini mereka janjian untuk melakukan perawatan tubuh bersama. Tentu saja minus Asti.


"Gimana kabar Asti ya?" Tanya Laura


"Entah lah. Gue gak ngurus." Jawab Rosa cuek.


"Gue gak habis pikir Asti bisa punya pikiran seperti itu. Dia lebih mengerikan dari jaman kita sekolah dulu." Kata Naira dengan mimik muka sedikit takut.


"Gue juga gak nyangka hanya karena seorang Daniel Asti akan berbuat nekat. Seandainya Daniel dan Rara cuma pacaran doang sih mungkin gue gak ambil pusing. Tapi ini kan sudah lain. Mereka suami isteri dan juga sudah punya anak." Kata Rosa dengan sedikit geram mengingat kelakuan Asti yang sangat nekat.


"Hooh bener. Asti gak mikir apa gimana nasib si kembar kalau ayah sama ibunya sampai berpisah gara-gara dia." Ucap Laura.


"Gak akan gue biarin hal itu terjadi." Ucap Rosa mantap.


Tangan Naira membolak balik majalah fashion di tangannya. Mimik wajahnya terkadang lucu dengan bola mata membulat, ketika dia melihat sesuatu yang menarik hatinya.


"Bagus-bagus banget model nya." Kata Naira gemas.


"Apaan?" Kata Laura yang sedang menikmati pijatan di tubuhnya.


"Ini model pakaiannya bagus-bagus. Gue jadi pengen beli." Ucap Naira dengan mata berbinar.


"Ya udah beli sono." Kata Laura.


"Masalahnya gue mau beli caranya gimana? Gak di Indo kali." Kata Naira mengerucutkan bibirnya.


"Gak di Indo gimana? Kalau dari luar lewat online. Lo tinggal cari aja alamat resmi kantor nya, atau cari email nya, gampang kan?" Ucap Rosa.


"Bener juga." Naira lalu membaca dengan teliti kata demi kata di majalah fashion yang dia maksud dengan sangat antusias.


"Bell's Boutique?" Lirih Naira pelan.


"Rosa, lo pernah dengar tentang Bell's Boutique?" Tanya Naira


"Gak. Cari di google kalau perlu infonya." Jawab Rosa.

__ADS_1


Naira mengambil ponselnya lalu mengetik sesuatu di situs pencarian Google. Tapi dahi nya kemudian berkerut.


"Bella Cintia? Gue kaya familiar nama ini. Apa mungkin Bella si tomboy? Ah pasti gak mungkin. Mana mungkin dia bisa jadi designer apalagi secantik ini." Gumam Naira.


"Lo kenapa? Dari tadi ngomong sendiri." Tanya Laura yang aneh melihat Naira dengan mulutnya yang gak berhenti komat kamit kaya baca mantera.


"Lo coba lihat ini. Bener gak sih?" Naira lalu mendekati Laura dan menunjukkan ponselnya pada Laura.


"Gue kek kenal perempuan ini. Tapi dimana?" Laura berusaha mengingat wajah perempuan yang ada di Google tersebut.


"Bener kan. Lo aja kek kenal. Gue juga ngerasa gitu." Ucap Naira.


"Lihat apan sih? Coba sini gue lihat juga " Rosa jadi ikut penasaran.


Laura memberikan ponsel Naira untuk Rosa. Awalnya Rosa biasa saja melihat foto itu hingga akhirnya dia terpekik kemudian duduk. Membuat kain panjang yang menutupi tubuhnya sedikit melorot. Dengan cekatan mbak yang memijat Rosa tadi membantu agar kain itu menutupi tubuh Rosa.


"WHAT??" Pekik Rosa.


"Lo kenapa?" Tanya Laura dan Naira yang terkejut dengan teriakan Rosa.


"Lo gak sadar perempuan ini siapa?" tanya Rosa dengan melototkan matanya.


"Emang dia siapa?" Tanya Naira yang sejak tadi juga mempertanyakan wajah familiar perempuan di foto itu.


"Ini Bella Cintia ogeb." Kata Rosa.


"Iya gue tau nama designer terkenal itu Bella Cintia. Tapi–"


"Jangan bilang itu Bella si tomboy!" Pekik Laura. Rosa mengangguk.


"Oh My God!!! Dia seorang designer terkenal." Laura hampir tidak mempercayainya. Begitu juga dengan Naira.


"Tapi sayangnya dia gak tinggal di Indo. Ajaibnya lagi dia gak tetap tinggal cuma di satu negara." Kata Rosa membacakan informasi yang di dapat dari Google.


"Woaaaaaa dia sangat hebat. Gak nyangka teman satu angkatan kita sekarang terkenal di seluruh dunia." Laura menggelengkan kepalanya masih tidak percaya dengan fakta yang dapat hari ini.


.


.


.


Usai dari salon, mereka bertiga sempat mampir di restauran yang ada di mall untuk makan. Hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karena sudah kelelahan.


Rosa duduk di bagian belakang supaya bisa bebas menggerakkan tubuhnya. Sedang Laura duduk di samping Naira yang mengemudi.


Pada saat mobil Naira melintasi kawasan perkantoran, mata Rosa sempat menangkap 2 orang yang sedang berbicara di tepi jalan. Beruntungnya mobil yang di kemudikan Naira berkecepatan sedang. Sehingga dengan jelas Rosa bisa melihat kedua orang itu.

__ADS_1


"Sedang apa Asti di daerah seperti ini? Dan kenapa Asti bisa berbicara dengannya? Bukankah mereka tidak akrab? Ada apa ini?"


__ADS_2