
Rara menoleh ke belakang saat mendengar pintu terbuka. Daniel masuk dengan langkah gontai. Rara memicingkan matanya saat melihat wajah Daniel yang tidak bisa terbaca.
Meletakan jas, dan kunci mobilnya di atas meja. Melonggarkan dasinya, membuka kancing lengan kemeja dan menggulungnya sebatas siku, Daniel mendudukkan dirinya di sebelah Rara dan meletakan kepalanya di pundak Rara.
"Anak-anak sudah tidur?" Tanya Daniel.
"Sudah. Apa ada masalah?"
Rara mengangkat tangan kanannya dan membelai lembut wajah Daniel yang ada di pundaknya. Daniel menyentuh tangan Rara dan mengecupnya.
"Eric pergi." Lirih Daniel.
Rara menegakkan tubuhnya dan menatap Daniel. Bisa Rara lihat ada kesedihan di raut wajah Daniel.
"Kamu gak papa kan?"
Daniel menggelengkan kepalanya tapi matanya berkaca-kaca. Rara memeluk Daniel mengelus punggungnya lembut. Karena Rara merasa ada sesuatu yang basah dan bergetar di pundaknya. Daniel menangis. Rara tahu bagaimana kuatnya persahabatan mereka. Jadi Rara bisa mengerti perasaan Daniel saat ini. Perasaan kehilangan.
"Aku yakin kamu pasti kuat. Berikan Eric waktu untuk sendiri dulu. Di manapun dia saat ini, yakin lah bahwa semuanya baik-baik saja."
"Makasih sayang." Ujar Daniel.
"Kamu sudah makan?"
Daniel menggelengkan kepalanya. "Belum. Tapi aku gak lapar."
"Aku akan buat makanan untuk mu." Rara beranjak dari duduknya tapi Daniel menahannya.
"Aku gak lapar." Ucap Daniel.
"Kamu harus tetap makan. Kalau kamu sakit, siapa yang akan menjaga ku dan anak-anak."
Kalau sudah menyangkut Rara dan si kembar, Daniel tidak akan mampu menolak. "Baiklah. Aku mandi dulu." Rara mengangguk dan segera menuju dapur.
Sejak Rara di vonis menderita CML beberapa waktu lalu, Daniel memutuskan untuk tinggal bersama Rara dan si kembar. Dia tidak mau mengambil resiko di saat dia tidak ada bersama mereka. Selesai mandi dia menuju kamar si kembar.
Dia menatap mereka dengan takjub. Dia sungguh tidak menyangka bahwa Tuhan memberikan si kembar sebagai harta yang sangat berharga dan terbaik dalam hidupnya. Sebelum keluar kamar dia memberikan kecupan selamat malam untuk si kembar.
Daniel menuruni tangga dan menghampiri Rara di dapur. Dia memeluk Rara dari belakang dan mengecup pundak Rara yang terbuka. Rara merasa tubuhnya meremang.
"Dan, geli tahu gak." Ucap Rara.
"Aku ingin sekali menerkam kamu di sini." Bisik Daniel.
Rara membalik tubuhnya hingga dia terkurung dalam pelukan Daniel. Rara mengecup Daniel sekilas. Tapi di tahan Daniel sehingga kecupan itu berubah menjadi ciuman yang dalam. Lalu Daniel melepaskan ciumannya dan mengusap lembut bibir Rara yang basah karena saliva mereka.
"Rasanya aku sudah gak tahan Ra." Tatapan Daniel terlihat penuh gairah dan memohon. Rara bisa melihatnya.
"Aku juga ingin. Tapi gak sekarang sebelum kita sah. Kalau sudah sah, terserah kamu mau lakukan apapun padaku." Rara tersenyum lembut.
Daniel menunduk dan mendesah. "Baiklah sayang. Akan ku tahan." Daniel mengecup kening Rara.
"Sekarang makanlah. Semua sudah ku siapkan."
"Temani aku." Rara mengangguk setuju.
Usai makan malam, Daniel dan Rara masuk ke kamar untuk beristirahat. Rara membaringkan tubuhnya di susul Daniel yang juga berbaring di sampingnya. Seperti biasa, Daniel merengkuh Rara dalam pelukannya.
"Kamu sudah minum obat?"
"Sudah."
"Jangan pernah lewatkan waktu minum obat. Ingat pesan dokter faktor untuk sembuh buat kamu lebih besar." Daniel mengingatkan kekasihnya.
"Iya aku tahu."
"Tadi mami telepon, katanya besok kamu fitting baju pernikahan kita. Mau aku temani?"
"Gak usah. Biar aku sama mami saja. Nanti kamu bosan nunggu." Ucap Rara.
__ADS_1
"Baiklah. Sebaiknya kita tidur. Selamat malam sayang." Ucap Daniel dan memberikan kecupan selamat malam di puncak kepala Rara.
"Selamat malam." Ucap Rara juga sambil membenamkan wajahnya semakin dalam di dada Daniel.
***
"Pagi Jagoan ayah." Daniel menyapa putranya saat melihat Rio turun dari tangga.
"Pagi ayah." Rio mengecup pipi ayah nya.
"Ade mana?"
"Masih di kamar sama bunda."
"Memang kita mau kemana hari ini yah?" Tanya Rio heran karena pagi-pagi sekali ayahnya membangunkannya dan menyuruhnya mandi.
"Ikut ayah ke kantor." Ujar Daniel tersenyum sambil mengelus kepala putranya.
"Ayaaaahhh." Ria berteriak dan menghambur ke dalam pelukan Daniel.
"Wanginya ayah suka." Ujar Daniel dan mengecup seluruh wajah Ria.
"Ayah iiihhh..Dandanan ade jadi rusak." Ria menjauhkan muka ayahnya. Daniel hanya terkekeh.
Rara datang menghampiri mereka dan Daniel bangkit berdiri. "Ayo kita pergi sekarang." Ajak Daniel sambil menggendong Ria. Sedangkan Rara menggandeng tangan putranya.
.
.
.
Sejak keluar dari mobil, Daniel, Rara, dan si kembar menjadi pusat perhatian seluruh karyawan yang ada di sana. Mereka memandang dengan takjub satu keluarga yang sangat bahagia dan harmonis.
Apalagi melihat si kembar yang begitu menggemaskan. Cantik dan tampan. Tidak kalah dengan pesona kedua orang tua mereka.
"Itu karena putri ayah sangat cantik." Ucap Daniel sambil mencolek hidung Ria.
"Benarkah?" Tanya Ria sambil matanya berbinar-binar karena senang.
"Astaga anaknya Pak Daniel dan Bu Rara cakep semua." Ucap salah satu karyawan.
"Iya. Lihat yang cowok dia sangat tampan seperti Pak Daniel."
"Dulu Bu Rara sama Pak Daniel waktu bikin si kembar ngadon nya gimana ya koq bisa hasilnya sempurna gitu."
"Iya ya. Pasti Pak Daniel hebat banget di ranjangnya sampai dapat anak cakep semua."
"Dasar otak mesum lo."
Rara dan Daniel yang sempat mendengar perkataan dari para karyawannya hanya saling pandang dan menahan tawa.
Daniel menurunkan Ria saat sudah di dalam ruangannya.
"Apa ini kantor ayah?" Tanya Ria dengan semangat. Karena ruangannya begitu besar dan ini pertama kalinya Ria berada di tempat seperti ini.
"Iya sayang. Ade sama abang bisa main di sini asal tidak mengganggu ayah sama bunda kerja." Ujar Daniel.
"Abang boleh main komputer yah?" Tanya Rio.
"Tentu saja boleh. Apapun untuk jagoan ayah."
"Asik. Terima kasih ayah." Ucap Rio dengan sangat senang.
Tidak lama Rara datang dengan membawa berbagai macam cemilan dan minuman untuk si kembar.
"Ingat kalau sampah makanannya harus di buang di tempat sampah." Ujar Rara mengingatkan.
"Iya bunda." Jawab si kembar bersamaan.
__ADS_1
Si kembar asik dengan dunianya, sedangkan Daniel dan Rara juga fokus pada pekerjaannya.
Terdengar ketukan dan pintu terbuka. Ria mengalihkan atensinya ke arah pintu. Dia melonjak kegirangan saat tahu siapa yang datang.
"Omaaaaa" Teriak Ria dan berlari memeluk oma nya. Nyonya Maria mencium cucu kesayangannya.
"Cucu oma yang cantik kenapa ada di sini?" Tanya Maria heran.
"Ade juga gak tau oma. Tanya ayah saja."
Jawab Ria sambil menarik satu tangan oma nya untuk di sofa.
"Sengaja Daniel ajak Mi biar mereka tahu perusahaan kita dari sekarang." Ujar Daniel yang datang menghampiri mami nya dan mengecup pipi mami nya.
"Mami mau ajak Rara fitting baju. Kalau kamu gampang nyarinya." Kata mami Daniel.
"Mau Daniel antar mi?" Tawar Daniel.
"Gak usah. Sudah ada mang Didin yang ngantar." Tolak Nyonya Maria.
"Rara sudah siap Mi." Ujar Rara yang sudah berdiri di samping calon ibu mertuanya.
"Ade mau ikut?" Tawar oma nya.
"Iya ade ikut." Ucap Ria dengan semangat.
"Abang?"
"Gak. Abang tinggal sama ayah aja." Rio menolak tawaran oma nya.
"Baiklah kami berangkat dulu. Bunda tinggal ya." Rara pamit dan mencium sekilas bibir Daniel dan mengecup pipi putranya.
"Hati-hati sayang." Ujar Daniel yang mengantar tiga perempuan kesayangannya sampai depan pintu ruang kerjanya.
.
.
.
Cukup lama Rara mencoba puluhan gaun dan kebaya untuk dia gunakan pada hari ijab kabul dan resepsi pernikahan nanti. Pilihannya jatuh pada kebaya berwarna kuning gading yang sangat pas dengan kulitnya yang putih. Sedang untuk gaunnya dia memilih yang sedikit agak terbuka di bagian bahunya dengan warna peach.
Setelah di bungkus dan melakukan pembayaran, mereka akhirnya memilih pulang. Tapi sebelum itu mereka singgah di sebuah restoran untuk memesan makanan dan di bawa pulang ke kantor, agar bisa makan siang bersama.
Suara ketukan kembali terdengar di ruangan Daniel.
"Masuk." Ucap Daniel tanpa melihat siapa yang datang. Karena dia pikir yang datang pasti sekretarisnya. Tapi perkiraan Daniel salah. Yang datang justru orang yang sangat tidak Daniel sukai.
"Hai Daniel."
"Asti? Ngapain lo ke sini? Kayak gak ada kerjaan lain." Daniel sangat tidak menyangka wanita menyebalkan ini selalu saja datang mengganggu.
"Gue ke sini mau ajak lo makan siang." Ucap Asti dengan manja.
Asti masih tidak menyadari kehadiran Rio yang ada di sana sedang memperhatikannya dari balik komputer dengan tatapan tidak suka.
"Sorry. Gu–" Ucap Daniel terpotong karena pintu ruangannya kembali terbuka.
"Ayaaaahhh." Ade berlari memeluk Daniel dan bergelayut manja dalam gendongan Daniel.
"Aa–aayah????"
🌼🌼🌼🌼🌼
Si Asti sepertinya minta di lempar ke planet pluto. suka banget ganggu babang Daniel😪
yang nungguin cerita mas Eric sabar ya.. sudah ada dalam draf. tunggu tanggal mainnya😁
Like, vote dan komennya kencengin ya😊
__ADS_1