Boss Ku, Ayah Anakku

Boss Ku, Ayah Anakku
Gunanya Sahabat


__ADS_3

Tiba-tiba saja rahang Daniel mengeras ketika membaca pesan ancaman yang di terima Rara.


From : 08571272XXXX


Gue gak akan biarin lo bahagia


"Dan, kamu kenapa?" Rara melihat Daniel begitu tegang.


"Apa pesan ini sering kamu terima?" Tanya Daniel penuh selidik.


Rara menggelengkan kepalanya "Enggak. Baru tadi ku terima."


"Aku yakin ini pasti ulah Asti." Ucap Daniel dengan penuh keyakinan.


"Kamu jangan nuduh gitu Dan. Siapa tahu bukan Asti." Rara berusaha menenangkan Daniel. Dia juga curiga kalau Asti yang mengirim pesan itu padanya. Tapi dia tidak berani asal menuduh.


"Nuduh gimana? Kamu tahu sendiri gimana sikap dia ke kamu. Aku gak akan biarin ini. Dia akan terima akibatnya." Daniel mengambil ponselnya tapi di tahan oleh Rara. Dia tahu kalau Daniel akan melakukan sesuatu pada Asti.


"Tapi kita gak boleh asal tuduh sembarangan. Kita selidiki dulu."


"Aku gak mau kamu celaka karena ulahnya!!!" Bentak Daniel.


Sontak membuat Rara terkejut. Untuk pertama kalinya Daniel membentaknya. Kedua sudut mata Rara basah. Dia sedikit mundur dari hadapan Daniel.


Daniel sadar akan perbuatannya lalu memeluk Rara.


"Sayang maafin aku. Maafin aku gak sengaja membentak kamu. Aku sangat marah saat membaca pesan itu. Kamu di ancam seseorang. Aku benar-benar takut kalau terjadi sesuatu sama kamu." Daniel mencium puncak kepala Rara berkali-kali.


Perlahan dia melepas pelukannya. Dia memandang wajah Rara yang basah dengan air mata. Daniel mengusap pipi Rara yang basah dengan jarinya.


"Kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu dan anak-anak kita, aku gak akan pernah memaafkan diriku. Artinya aku gagal menjaga kalian. Tolong mengertilah. Aku melakukan ini untuk kalian." Daniel mengecup kening Rara. Lalu membawa Rara berbaring.


"Tidurlah. Jangan pikirkan tentang hal tadi." Daniel membawa Rara dalam pelukannya. Dia membelai sayang Rara.


Dia tahu Rara marah padanya karena sudah di bentak olehnya. Diam Rara adalah masalah buat Daniel. Dia paling tidak tahan kalau Rara mendiamkannya.


Nafas Rara terdengar teratur. Daniel melonggarkan pelukannya perlahan. Dia menyelimuti Rara dan mengecup keningnya lagi. Dia mengambil ponselnya dan keluar dari kamar.


Daniel berada di ruang kerjanya papinya. Dia mencari nama seseorang di ponselnya dan menghubunginya.


"Halo Bos" Sapa orang di seberang sana.


"Gue perlu bodyguard lo buat jaga isteri gue dan anak-anak gue." Ujar Daniel.


"Siap Bos. Besok orang-orang yang Bos minta akan datang."


"Gue juga minta lo selidiki seseorang. Lo awasi pergerakannya. Dan berikan laporannya ke gue 1 jam sekali. Apabila tersedak lo jg harus lapor ke gue. Dan terakhir lo selidiki juga nomor ponsel yang sudah mengancam isteri gue. Gue akan kirim informasi lengkapnya."


"Siap Bos."


Daniel menggenggam erat ponselnya dengan kuat. Rahangnya kembali mengeras.


"Gue gak akan biarin lo nyakitin Rara dan anak-anak gue. Lo salah sudah berurusan sama gue." Mata Daniel memancarkan kilat amarahnya.


***


Di lain tempat Rosa, Laura dan Naira berencana untuk datang ke rumah Asti. Mereka hanya penasaran dengan perubahan Asti beberapa hari belakangan ini. Kalau di ajak ngumpul, alasan Asti selalu sibuk.


"Rosa, lo yakin kalau Asti ada di rumahnya?" Tanya Laura sambil membenahi riasannya di dalam mobil. Sedangkan Naira yang menyetir.

__ADS_1


"Ya kita coba aja dulu." Jawab Rosa.


"Gue heran sama Asti kenapa coba gak cari cowok lain. Kenapa harus Daniel. Suami orang lagi." Naira menggelengkan kepalanya.


Di antara mereka berempat, Naira adalah tipe orang yang termasuk lambat dalam berpikir. Tapi walaupun demikian untuk urusan peduli dengan masalah orang lain, maka dia yang akan lebih dulu bergerak.


"Gue juga suka sama Daniel. Tapi gue sadar diri siapa lah gue. Buat gue ngejar cowok itu gak ada di kamus gue." Ujar Laura dengan lantang.


Naira dan Rosa saling pandang dan menoleh ke belakang menatap Laura. Naira kembali fokus mengemudi.


"Lo beneran suka sama Daniel?" Kata Naira penasaran, yang memperhatikan Laura dari kaca spion.


"Iyalah. Gue suka sama dia sejak kita kelas 11." Jawab Laura tanpa beban.


"Tapi di sekolah lo gak pernah bersikap kayak gitu." Rosa jadi bingung karena sempat terkejut juga mengetahui kalau tidak hanya Asti tapi Laura juga menyukai Daniel.


"Kan gue tadi sudah bilang, gue bukan cewek yang suka ngejar cowo." Kata Laura dengan senyum manisnya.


"Beruntung lo Asti gak tahu. Kalau dia tahu bisa jadi lo sama nasibnya kayak yang lain." Naira bergedik ngeri saat mengingat bagaimana teganya Asti saat sekolah dulu berbuat apa saja hanya demi seorang Daniel.


"Gue akui, Daniel, Ardi, David, dan Juga Eric memang tampan. Selain tampan mereka juga kaya raya. Tapi kita juga harus tahu tempat. Bener kata Laura, jadi cewek harus bisa menghargai diri sendiri. Jangan kayak cewek gatal." Ujar Rosa.


"Berarti Asti gatal dong. Tapi kalau gatal kenapa dia gak garuk sendiri ya?" Naira dengan mode polosnya kembali bersarang di otaknya.


"Bukan gatal begitu juga kali maisaroh!"


Rosa memukul pundak Naira karena gemas. Kadang Rosa ingin sekali mengirim sahabatnya ini ke kutub utara. Biar otaknya yang terlalu polos itu bisa beku selamanya.


Sedangkan Laura tertawa terbahak sambil memegang perutnya karena tidak tahan melihat tingkah konyol sahabatnya.


"Kan gue bener. Kalau gatal ya di garuk. Ngapain di biarin." Kata Naira sewot


"Gue senang gaya lo Nai. Pertahankan!" Kata Laura menepuk pundak Naira sambil tertawa.


Naira menggangguk semangat sedangkan Rosa mendelik sebal ke arah Laura.


.


.


.


Akhirnya mereka sampai di rumah Asti. Rumah tampak sepi. Tapi beberapa pelayan bisa di lihat sedang sibuk melakukan pekerjaannya. Rosa menghampiri penjaga rumah Asti.


"Asti ada mang?" Tanya Rosa.


"Ada neng Rosa. Sebentar mamang bukain pagar." Jawab Mang Udin.


"Makasih mang." Ucap Rosa.


"Sama-sama neng."


Mobil Naira masuk ke dalam halaman rumah Asti. Naira memarkirkannya lalu tidak lama mereka bertiga keluar dari mobil.


Bunyi bel pintu membuat Asti yang sedang santai menonton televisi mengalihkan atensinya. Dia melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.


"Siapa sih ganggu gue aja." Gerutu Asti.


"Mau ngapain kalian kesini?" Tanya Asti dengan ketus lalu kembali melangkahkan kakinya menuju sofa.

__ADS_1


"Kita kangen lo Asti." Kata Naira dengan mimik mukanya yang imut.


"Tumben kalian bisa kangen sama gue." Kata Asti cuek dengan wajah datarnya.


"Lo aja yang sulit di hubungi. Kemana aja lo?" Tanya Rosa sambil memakan cemilan yang tersedia di atas meja.


"Bukan urusan lo juga." Rosa hanya mendesah pelan mendengar perkataan Asti. Tapi dia coba menenangkan diri, agar dia bisa berpikir jernih dan tidak terpancing suasana.


"Waktu kita lagi makan kemarin kenapa sih lo marah-marah? Apa karena ada Daniel sama Rara?" Tanya Laura cuek.


"Lo udah tahu ngapain tanya lagi." Asti melototkan matanya pada Laura.


"Asti denger ya. Daniel sudah punya isteri dan anak. Jadi gak seharusnya elo nguber-nguber Daniel lagi." Ucap Laura.


"Heh. Lo tahu apa tentang gue. Bagaimanapun Daniel harus tetap jadi milik gue. Dan gue gak akan biarin Rara bahagia sama Daniel." Ucap Asti terlihat emosi.


Mereka bertiga terbelalak tidak percaya dengan pendengaran mereka. Asti sudah kelewat batas, pikir mereka.


"Astagfirulah Asti!! Lo gak boleh ngambil yang bukan jadi hak lo." Rosa sedikit terpancing dengan ulah Asti.


"Diem lo!! Gue gak butuh pendapat lo. Gue cinta sama Daniel. Apapun akan gue lakukan untuk mendapatkan Daniel. Lo jangan ikut campur urusan gue!" Bentak Asti pada Rosa.


Naira dan Laura sedang berpegangan tangan. Mereka merasa suasananya sudah tidak nyaman lagi.


"Asti lo tenang dulu." Ucap Laura dengan hati-hati.


"Diem lo!!" Laura langsung memeluk Naira yang berada di sampingnya karena takut dan terkejut.


"Gue sebagai sahabat lo memberi nasehat buat lo supaya lo gak jauh melangkah. Jangan rusak harga diri lo dengan merusak rumah tangga temen lo sendiri. Daniel dan Rara saling mencintai. Harusnya lo sadar itu." Ucap Rosa sedikit bergetar karena menahan emosinya.


"Sahabat? Lo bilang lo sahabat? Kalau lo semua adalah sahabat gue, harusnya lo dukung gue buat dapetin Daniel!!!" Teriakan Asti menggema di dalam rumahnya. Membuat beberapa pelayan yang ada di sana beranjak pergi menjauh.


"Gue akan dukung lo kalau itu tidak merugikan orang lain. Gue akan dukung lo kalau itu memberikan dampak positif buat orang di sekitar lo. Gue akan menegur lo kalau lo buat kesalahan. Gue akan beri nasehat buat lo kalau lo sudah ambil jalan yang salah dan akan merugikan diri lo sendiri. Itu gunanya sahabat." Kata Rosa dengan menatap tajam Asti.


Rahangnya mengeras. Ingin rasanya Rosa menampar mulut Asti. Tapi sebisa mungkin dia menahan emosinya.


"Gue gak butuh nasehat lo!!!


"Jangan sampai lo menyesal karena ulah lo sendiri." Rosa memperingati Asti dengan mengacungkan jari telunjuk di depan wajah Asti.


"Kita pulang!!!" Ajak Rosa pada kedua sahabatnya. Naira dan Laura bergegas membuntuti Rosa sambil takut-takut melihat Rara.


Belum sampai pintu keluar, Rosa membalikkan tubuhnya. Dia menatap Asti sebentar lalu mengatakan sesuatu yang membuat Asti tambah berang.


"Gue saranin lo periksakan diri ke dokter jiwa. Gue yakin lo sedang sakit jiwa sekarang."


Setelah mengatakannya Rosa, Naira, dan Laura segera meninggalkan kediaman Asti.


"Kurang ajar lo Rosa!! Aaaaaaagghhhh!!!


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Gimana dengan Part ini bikin emosi jiwa gak?๐Ÿ˜”


Bener kata Rosa, Asti memang butuh dokter jiwa๐Ÿ˜ช๐Ÿ˜ช


Makasih buat like, vote, dan komennya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Om

__ADS_1


__ADS_2