Boss Ku, Ayah Anakku

Boss Ku, Ayah Anakku
Jodoh ku dari Tuhan


__ADS_3

Mami Daniel terkejut melihat Daniel yang panik sambil menggendong Rara.


"Rara kenapa sayang." Mami Daniel ikut panik.


"Susul Daniel ke Rumah Sakit mi." Ujar Daniel bergegas membawa Rara.


Sampai di mobil, Daniel membaringkan Rara di kursi belakang di atas pahanya. Daniel memerintahkan supirnya untuk segera berangkat ke Rumah Sakit.


Mami Daniel dengan tergopoh-gopoh menghampiri suaminya.


"Pi, kita harus segera ke rumah sakit. Rara tadi tidak sadarkan diri." Ucap mami Daniel panik.


Papi Daniel mendengar menantu kesayangannya sakit, memanggil kedua cucunya untuk membersihkan diri segera. Agar ikut mereka ke rumah sakit.


.


.


.


Daniel mondar mandir di depan ruang pemeriksaan. Dia ingin masuk tapi tidak di perbolehkan. Keadaan Rara masih sama seperti tadi belum sadar. Dia berdoa dalam hatinya agar isterinya selamat. Terlihat bagaimana gusarnya hati Daniel saat ini. Dia takut sesuatu terjadi pada isterinya.


"Bagaimana Rara?" Papi Daniel tiba-tiba saja sudah ada di belakangnya.


"Masih di dalam di periksa Pi." Jawab Daniel.


"Yakin lah menantu papi tidak apa-apa." Papi Daniel menepuk pundak putranya pelan. Memberikan ketenangan.


"Ayah, bunda kenapa hiks.." si kembar sama-sama menangis karena cemas dengan keadaan bundanya.


Daniel mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi kedua anaknya. Dia memeluk keduanya dan membelai lembut kepala mereka. Daniel mengecup pipi mereka.


"Bunda tidak pa-pa. Dokter sedang memeriksa bunda agar segera sembuh." Daniel mengusap pipi abang dan ade yang basah karena air mata. Lalu Daniel


memangku keduanya dan menenangkan.


Mami Daniel yang ingin mengambil Ria dari pangkuan Daniel, menggelengkan kepalanya tidak mau.


"Biar saja mi. Daniel gak pa-pa koq." Ucap Daniel pada mami nya.


"Apa kamu gak capek si kembar di pangku bareng gitu?" Kata mami Daniel agak kasian melihat Daniel yang kesusahan duduk karena memangku si kembar.


"Gak pa-pa mi. Biar mereka gak nangis lagi." Ujar Daniel lagi.

__ADS_1


Mami Daniel pun hanya menggangguk. Daripada dia melihat cucunya menangis lagi, jadi dia biarkan saja dengan Daniel keduanya.


Papi Daniel berdiri di depan pintu. Dia juga tidak tenang dari tadi. Sudah setengah jam lebih dokter di dalam belum keluar-keluar. Papi Daniel tahu penyakit yang di derita Rara. Karena itulah dia sangat kuatir dengan keadaan menantunya.


"Kenapa lama sekali sih." Ucap mami Daniel dengan gelisah. Sekali-sekali mengintip dari kaca yang tertutup gorden setengahnya.


"Mami duduk saja." Kata Daniel.


"Iya mami duduk saja." Ujar Papi Daniel menimpali.


Hampir 1 jam dokter yang mereka tunggu akhirnya keluar. Daniel mendudukkan si kembar di bangku dan menghampiri dokter yang memeriksa Rara.


"Bagaimana kondisi isteri saya dok?" Tanya Daniel dengan sangat kuatir.


"Untuk saat ini isteri bapak harus di rawat inap dulu. Ada beberapa hal yang ingin kami pastikan. Tadi kami sudah mengambil sampel darahnya. Besok sudah bisa kita ketahui hasilnya." Kata dokter menjelaskan.


"Tapi isteri saya gak pa-pa kan dok?" Daniel tidak tenang dan masih menuntut kepastian kondisi Rara.


"Kondisinya sekarang sudah membaik. Tapi seperti saya bilang tadi harus di rawat inap dulu." Ucap dokter dengan tersenyum.


"Baiklah terima kasih kalau begitu dok." Kata Daniel.


Dokter pun meninggalkan Daniel dan keluarganya. Sementara perawat yang bertugas sedang bersiap untuk memindahkan Rara ke ruang VVIP, sesuai dengan permintaan Daniel.


Keduanya menggelengkan kepala secara bersamaan. "Ade sama abang mau di sini sama bunda." Kata Rio.


"Gimana kalau nanti malam abang dan ade kesini lagi. Untuk sekarang biar ayah yang akan jaga bunda." Kata Daniel dengan lembut.


"Baiklah ayah." Ucap Rio.


"Nanti supir yang akan membawa pakaian ganti untuk kamu. Mami sama papi titip Rara." Ujar Tuan Arnold pada putranya.


Kemudian kedua orang tua Daniel meninggalkan rumah sakit bersama kedua cucu mereka.


.


.


.


Rara kini sudah berada di ruang inap. Daniel dengan setia menemani Rara di sampingnya.


"Aku tadi kenapa Dan? Kenapa bisa berada di sini?" Tanya Rara. Padahal seingatnya dia tidur di rumah.

__ADS_1


"Tadi badan kamu demam sampai menggigil terus pingsan. Makanya aku bawa ke sini." Kata Daniel menjelaskan.


"Apa kamu rasa ada yang sakit?" Rara menggelengkan kepalanya.


"Anak-anak mana?" Tanya Rara.


"Tadi sudah pulang sama mami dan papi. Kamu tidak usah kuatir. Mereka baik-baik saja." Daniel mengusap lembut kepala Rara gara dia merasa lebih tenang.


"Kamu gak capek Dan ngurus aku kayak gini?"


"Kamu ini ngomong apa sih sayang. Untuk apa aku capek mengurus isteri ku. Apapun yang terjadi sama kamu itu adalah tanggung jawab ku. Dan tugas ku adalah memastikan kamu selalu baik-baik saja." Ucap Daniel sambil menggenggam tangan Rara.


"Makasih ya karena kamu mau menjadikan ku pendamping hidup kamu. Aku sangat beruntung mendapatkan suami seperti kamu." Air mata Rara menetes dari sudut matanya karena terharu.


Daniel melihat air mata itu dan mengusapnya lembut. "Aku yang justru sangat beruntung mendapatkan seorang isteri dan wanita hebat seperti kamu. Walau di tukar dengan apapun di dunia ini, aku akan tetap memilih dan mempertahankan kamu di sisiku." Kata Daniel yang membuat air mata Rara mengalir deras.


"Hey sayang kenapa kamu jadi mewek gini?" Daniel jadi kuatir karena Rara tangis Rara.


"Aku gak tahu apa yang terjadi sekarang andai saja kita tidak bertemu lagi waktu itu. Ternyata Tuhan gak mau aku sendirian mengalami ini semua. Aku pasti bingung gimana nasib si kembar andai saja gak ada kamu atau mami dan papi." Isak tangis Rara semakin menjadi.


"Kamu adalah jodoh ku dari Tuhan. Karena itu sejauh manapun kamu mau menghindari ku, kita pasti akan tetap bertemu. Tuhan tahu kalau aku sangat mencintai kamu. Dan juga Tuhan gak mau kalau si kembar pisah dari aku ayah nya. Tuhan juga gak mau kamu mengurus si kembar sendirian tanpa diriku. Jadi, jangan pikirkan hal lain. Pikirkan saja bahwa aku hanya mencintai kamu." Daniel memberikan kecupan di punggung tangan Rara yang dia genggam.


"Aku juga mencintai mu." Ucap Rara disela tangisnya.


"Istirahatlah. Kamu gak boleh banyak pikiran sayang." Rara menggangguk dan Daniel mencium kening Rara.


Setelah memastikan Rara tidur, Daniel beranjak dari ranjang pasien Rara dan berbaring di sofa yang ada di dalam ruang inap Rara. Karena ini adalah ruang VVIP jadi semua tersedia dengan lengkap. Daniel mengistirahatkan tubuh sejenak.


30 menit kemudian Daniel bangun. Dia mengecek Rara yang ternyata masih tidur. Suhu badan Rara juga sudah normal. Daniel mengambil ponselnya dan menghubungi Nita sekretarisnya. Dia memberitahukan kalau dia tidak bisa ke kantor dalam beberapa hari ini karena isterinya sedang di rawat di rumah sakit. Daniel mempercayakan semua urusan kantor pada Nita. Dan dia juga meminta Nita mencarikan asisten pribadi laki-laki untuk menggantikan posisi Rara, sesuai keinginan isterinya.


Dia tidak mau mengecewakan Rara. Karena dia sangat mencintainya. Melukai Rara sama saja artinya dia melukai dirinya sendiri. Karena Rara adalah hidupnya. Tentu saja dia tidak akan membiarkan hidupnya sakit. Rara dan si kembar adalah segalanya bagi Daniel.


Seusai menelepon, Daniel keluar kamar sebentar untuk ke kantin rumah sakit. Dia ingin membeli makanan dan minuman. Dia merasa lapar. Sebelum keluar kamar, Daniel memastikan Rara aman untuk di tinggal.


Kurang lebih 20 menit Daniel sudah kembali ke ruang inap Rara. Rupanya obat yang di berikan dokter membuat tidur Rara sangat nyenyak.


Daniel meletakkan makanan yang dia beli tadi di atas meja. Dia masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya.


Saat Daniel keluar dari kamar mandi Daniel terkejut melihat seorang laki-laki berpakaian serba hitam, mengenakan topi dan penutup wajah sedang memegang jarum suntik. Sepertinya dia hendak menyuntiknya di selang infus milik Rara.


Tubuh Daniel menegang dan ingin menghajar laki-laki itu.


"Hei kamu siapa!! Apa yang ingin kamu lakukan pada isteriku!!!

__ADS_1


__ADS_2