
Seperti yang di jadwalkan, hari ini Daniel akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri selama 3 hari. Rara sudah menyiapkan semua keperluan dan juga apa saja yang Daniel butuhkan selama di sana.
Daniel memeluk isterinya sangat erat. Rasanya dia berat untuk meninggalkan keluarganya. Untuk pertama kalinya Daniel akan bekerja di luar negeri.
"Sayang aku pasti sangat merindukan kamu dan juga si kembar. Rasanya aku tidak ingin pergi." Ucap Daniel sambil mencium puncak kepala isteri nya.
"Kamu kan harus bekerja buat modal abang melamar Nana." Kekeh Rara.
"Iya juga ya." Kata Daniel ikut tertawa mendengar perkataan isterinya.
"Jangan lupa minum obatnya. Hemm." Ujar Daniel mengingatkan Rara.
"Anak-anak sudah menunggu di bawah. Nanti kamu terlambat." Ucap Rara.
Daniel mengangguk pelan lalu mencium kening Rara dan juga bibirnya. Daniel dan Rara keluar kamar dan berjalan menuruni tangga. Di bawah si kembar dan orang tuanya sudah menunggu.
"Ayah lama perginya?" Rengek Ria karena tidak ingin berpisah dari ayahnya.
"Kalau pekerjaan ayah sudah selesai, ayah akan cepat pulang." Ujar Daniel lalu membawa Ria ke dalam pelukannya dan menciumnya.
"Abang, jaga ade sama bunda ya selama ayah gak ada." Kata Daniel yang juga memeluk putranya dan memberikan ciuman.
"Papi mami, Daniel titip mereka ya." Daniel menyalami dan mencium kedua pipi orang tuanya.
"Pergilah. Jangan kuatir. Semuanya baik-baik saja. Bekerja lah dengan baik." Ucap papi Daniel lalu memeluk putranya.
"Doa mami selalu menyertai kamu." Ujar mami Daniel.
"Kalau kamu perlu apa-apa pergilah bersama salah satu dari mereka (menunjuk bodyguard) Aku ke kantor dulu, setelahnya aku langsung ke bandara." Pesan Daniel pada Rara dan di iyakan oleh Rara.
Perasaan Daniel terasa sangat berat untuk meninggalkan keluarganya. Biasanya dia selalu di wakilkan oleh bawahannya. Tapi kali ini dia sendiri yang harus pergi.
.
.
.
Daniel tiba di kantor. Dia akan menyelesaikan beberapa hal sebelum dia pergi. Dia meminta semua berkas yang diperlukan agar Nita dan Riko persiapkan di atas mejanya.
__ADS_1
Daniel memeriksa setiap berkas atau dokumen yang akan dia bawa. Dan juga memastikan ketika dia tinggal tidak akan ada masalah yang timbul di kantornya.
Selama dia pergi dia menyerahkan tugas dan tanggung jawabnya pada Riko dan Nita.
"2 jam lagi anda akan take off pak." Kata Riko mengingatkan Daniel.
Daniel melihat jamnya dan mengganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Ayo kita berangkat." Daniel pun berdiri dan membawa semua dokumen dan berkas yang di perlukan dan beranjak pergi menuju bandara.
Riko mengemudikan mobil mengantar Daniel sampai bandara. Riko ingin memastikan bahwa Daniel benar-benar pergi jadi dia harus mengantarnya. Agar memudahkan menjalankan rencananya bersama Asti.
Dalam perjalanan Daniel menghubungi Rara dan si kembar kalau dia sedang menuju bandara. Semenjak berangkat dari kantornya Daniel merasa sesuatu yang kurang enak di hatinya. Tapi dia tidak tahu itu apa. Saat dia menghubungi Rara dia lega karena isterinya dalam baik-baik saja.
Tapi tetap saja Daniel merasa tidak nyaman. Dia ingin membatalkan perjalanannya tapi pertemuan ini sangat penting bagi perusahaannya. Daniel hanya berdoa semoga semuanya baik-baik saja.
***
45 menit setelah Daniel menghubunginya tadi, Rara bersiap-siap ingin keluar rumah untuk membeli keperluan pribadinya dan juga dia hari ini ada jadwal konsultasi ke dokter.
Karena Daniel ke luar negeri, jadi Rara hanya akan di temani oleh bodyguard saja. Daniel tidak akan mengijinkan tanpa ada pengawal yang bersama Rara.
"Bunda pergi dulu ya. Jangan nakal. Patuh sama oma dan opa ya." Ujar Rara pada si kembar.
"Mami papi, Rara pergi dulu mau konsultasi ke dokter sekalian nanti pulangnya mampir ke supermarket." Pamit Rara pada ayah dan ibu mertuanya.
"Hati-hati ya sayang." Ujar mami Daniel.
.
.
.
Rara senang saat berkonsultasi dengan dokter tadi, di jelaskan kalau kesehatannya sekarang semakin membaik. 8 bulan Rara sudah menjalani pengobatan seperti yang dokter sarankan. Dia berharap konsultasi selanjutnya dia sudah di nyatakan sembuh total.
Rara meminta pada sopir untuk mengantarnya ke supermarket sebelum pulang. Tiba di tempat tujuan, Rara keluar dari mobil dan meminta pengawalnya untuk tidak usah ikut. Rara tidak nyaman nanti pengunjung yang lain juga merasa tidak nyaman dengan kehadiran mereka.
Mereka bersikeras menolak permintaan Rara karena takut terjadi sesuatu, maka Daniel pasti akan memarahi mereka. Tapi Rara juga tidak kalah keras kepalanya. Sehingga mereka akhirnya menurut pada permintaan Rara.
__ADS_1
Rara masuk ke dalam supermarket, sedangkan dua orang pengawalnya menunggu di luar. Rara sibuk memilih barang-barang apa saja yang dia akan beli untuk keperluan dirinya dan juga si kembar.
***
Saat Rara membuka matanya, kepala Rara sangat pusing. Dia memejamkan matanya kembali karena rasa pusing yang di alaminya. Tubuhnya juga sangat sulit di gerakkan. Terasa seperti ada beban yang menindihnya.
Seakan kesadarannya kembali, Rara membuka lagi matanya perlahan. Penglihatannya menyesuaikan dengan keadaan sekitarnya. Betapa terkejutnya Rara jika dirinya saat ini sedang dalam keadaan terikat di sebuah kursi yang dia tidak tahu dimana. Ruangan kosong yang tidak terlalu besar.
Rara menggerakkan kaki dan tangannya berharap ikatan terlepas. Tapi justru itu malah membuatnya sakit. "Apa yang terjadi padaku? Seingatku tadi aku sedang berada di supermarket. Kenapa aku sekarang ada di sini?" Batin Rara.
Timbul ketakutan di dalam hatinya. Ketakutan akan seseorang yang akan melukainya. Bagaimana anak-anaknya tanpa dirinya? Bagaimana suaminya? Tidak, tidak, aku tidak boleh mati. Aku tidak boleh menyerah. Pikir Rara.
"Tolooooong..apa ada orang di sini? Toloooonnggg!!!" Rara berteriak dengan sekuat tenaga. Tapi tidak ada satupun orang mendengar teriaknya minta tolong.
Air mata Rara mulai mengalir deras. Dia tidak tahu dia ada di mana sekarang. Rara semakin ketakutan. Dia rindu anak-anaknya dan juga suaminya. Suara isakan mulai terdengar dalam ruangan kosong tersebut.
"Keluarkan aku dari sini!! Siapa saja tolooong aku!!!" Rara kembali berteriak meminta tolong. Hingga suaranya mulai terdengar serak.
"Tuhan tolong aku ingin keluar dari sini. Selamatkan aku ya Allah." Doa Rara dalam hatinya.
Pintu di buka dengan kasar. Menampilkan sosok perempuan yang sangat Rara kenal. Dengan senyum menyeringai dia menghampiri Rara.
"Sudah bangun tuan putri." Katanya dengan senyum jahat tersungging di kedua sudut bibirnya.
"Asti! Kenapa kamu melakukan ini? Lepaskan aku!" Rara berteriak meronta dari kursi yang mengikatnya.
"Melepaskan lo?? Hahahaa" Asti tertawa terbahak memenuhi ruangan kosong itu.
Asti mendekati Rara dan mencengkeram dagu Rara dengan kuat.
"Lo tau apa yang gue mau. Jangan mimpi gue akan lepasin lo!!." Bentak Asti masih mencengkeram dagu Rara dan memalingkan wajah Rara dengan sangat kasar.
"Gue sudah peringati lo berkali-kali jangan mendekati Daniel lagi. Tapi lo gak pernah dengar omongan gue!!!" Asti membentak Rara lagi kemudian menampar pipi Rara. Darah segar keluar dari sudut bibir Rara.
Rara hanya bisa menahan meringis kesakitan. Rara tetap berdoa dalam hati memohon perlindungan dan pertolongan Sang Pencipta padanya.
"Sudah puas?" Tanya seseorang yang tiba-tiba datang dan kini berdiri di belakang Asti.
"Kamu?" Tanya Rara dengan dengan sangat terkejut dengan orang yang sangat dia kenal.
__ADS_1
"Ya gue Riko asisten pribadi suami lo yang gue benci." Ujar Riko dengan suara menggeram.
"Apa yang kalian inginkan?"