Boss Ku, Ayah Anakku

Boss Ku, Ayah Anakku
Pabrik dan Produksi


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, saat Daniel dan Rara sampai di rumah utama. Mereka baru saja pulang menghadiri pernikahan Ardi dan Clara yang di gelar di sebuah hotel mewah. Rencananya setelah Clara melahirkan, Ardi dan Clara akan memilih tinggal di luar negeri bersama anak mereka.


Rara meletakkan tasnya di atas meja lalu keluar dari kamar. Dia mengecek si kembar yang tidur di sebelah kamar mereka. Tadi mereka di titipkan dengan oma dan opa mereka. Setelah memberikan kecupan selamat malam pada keduanya, Rara memperbaiki selimut mereka dan keluar dari kamar si kembar.


Saat memasuki kamar, Daniel baru saja keluar dari kamar mandi.


"Sayang, kamu dari mana?" Tanya Daniel sambil menggosok-gosok rambutnya dengan handuk.


"Dari kamar si kembar." Rara lalu duduk di tepi tempat duduk.


"Kamu lelah?" Rara mengangguk pelan.


"Bersihkan diri dulu, setelah itu kita tidur." Ucap Daniel dengan lembut. Rara menuruti perintah Daniel.


Selesai membersihkan dirinya, Rara membaringkan dirinya di samping Daniel.


"Aku gak nyangka kalau Ardi menikahi Clara. Padahal kita tahu Eric dan Clara yang pacaran." Ucap Rara sambil menatap langit-langit kamar.


Daniel memiringkan tubuhnya dan menatap lekat wajah Rara. "Itu lah mungkin yang di namakan jodoh. Bahkan yang sangat mengejutkan malah sahabat sendiri yang jadi jodohnya." Ucap Daniel.


"Apa kabar Eric sekarang ya?" Gumam Daniel.


"Jadi dia gak hubungin kalian selama ini?" Tanya Rara penasaran.


Daniel menggelengkan kepalanya "Gak. Bahkan nomornya saja sudah di ganti. Aku harap dia baik-baik saja dan bisa mendapatkan jodoh yang terbaik."


"Iya kita doakan saja." Rara mengiyakan perkataan Daniel dan memeluk Daniel. Satu kecupan selamat malam mendarat di puncak kepala Rara dan Daniel membalas pelukan Rara.


***


"Apa kalian sudah memesan cincin pernikahan?" Tanya papi Daniel sambil menikmati sarapannya.


"Rencananya hari ini kami akan kesana Pi." Jawab Daniel.


"Acara ijab kabul akan di adakan tertutup dari media. Hanya pada saat resepsi nanti media di perbolehkan meliput." Lanjut Papi Daniel lagi.


"Daniel dan Rara mengikuti mana yang terbaik dari mami dan papi saja." Daniel menghargai keputusan papi nya. Sedangkan mami nya dan Rara hanya mendengarkan saja pembicaraan mereka.


"Ayah. Ade boleh ikut ke kantor lagi hari ini?" Tanya Ria penuh harap.


"Ade hari ini di rumah saja sama abang, temani oma dan opa ya. Hari ini pekerjaan ayah dan bunda sangat banyak." Daniel memberikan pengertian untuk putrinya sambil tersenyum.


"Pulang dari kantor bunda belikan es krim kesukaan ade sama abang." Ucap Rara.


"Yeeaayy es krim." Sorak Ria kegirangan.


"Berisik." Ucap Rio yang duduk disebelah adiknya.


"Awas ya abang minta es krim nanti. Semuanya buat ade gak mau bagi-bagi." Ria melipat tangannya di dada dan memalingkan wajahnya dari Rio.


"Biarin. Abang bisa minta dari oma sama opa. Wleeee." Rio menjulurkan lidahnya mengejek Ria. Terdengar lah bunyi tangis dari Ria.


"Huuaaa abang jahat." Tangis Ria sambil menunjuk Rio. Sementara Rio justru tertawa senang melihat adiknya menangis karena ulahnya.


"Abang seneng banget ganggu ade ya" Rara menggelengkan kepalanya sambil mengusap air mata Ria.

__ADS_1


"Lebih baik abang ikut opa kasih makan ikan saja di belakang." Ajak Tuan Arnold lalu menarik tangan mungil Rio untuk mengikutinya ke teras belakang.


"Setelah menikah mami rasa kalian harus menambah anak 2 atau 3 lagi biar rumah ini semakin ramai." Ujar mami Daniel sambil tertawa.


Mata Rara terbelalak mendengar ucapan calon ibu mertuanya. Sedangkan Daniel memberi kode setuju pada Rara.


"Akan Daniel siapkan pabriknya Mi biar sanggup memproduksi seperti yang mami mau." Ujar Daniel menimpali ucapan maminya sambil mengedipkan matanya ke arah Rara.


"Pabrik apa? Produksi apa?" Rara memukul lengan Daniel karena kesal dengan ucapan Daniel.


"Kamu pikir gampang apa." Rara mendengus kesal.


"Kan cuma tinggal buat sayang." Ujar Daniel menggoda.


"Gak bakal ada malam pertama." Rara langsung beranjak dari meja makan lalu masuk ke kamar untuk mengambil tasnya.


"Sayang koq gitu sih." Daniel menyusul Rara ke kamar dan tak di hiraukan oleh Rara.


.


.


.


Sampai di kantor muka Rara masih cemberut. Daniel hanya mengulum senyumnya dari tadi. Dia ingin sekali mencubit pipi Rara dengan gemas, tapi dia urungkan. Akan sulit urusannya kalau Rara tambah marah dan mengamuk.


"Sayang kamu sudah minum obat?" Tanya Daniel.


"Hemm." Jawab Rara malas.


"Apaan sih?" Rara menepis tangan Daniel.


Sebuah ketukan terdengar di pintu masuk. Daniel menoleh dan melihat David yang masuk.


"Yaelah pagi-pagi sudah main mesra-mesraan di kantor. Gak cukup di rumah apa?" Sindir David.


Rara mendorong Daniel menjauh dari nya dan beranjak menuju pantry.


"Ganggu aja lo. Mau ngapain kesini?." Tanya Daniel.


David menepuk jidatnya dan ingin sekali rasanya mencubit ginjal Daniel karena melupakan sesuatu.


"Ya udah gue pulang kalau gitu. Kerjasama kita batal." Ucap David. Bukannya pulang David malah mendudukkan dirinya di sofa.


"Kerjasama apa?" Tanya Daniel heran. Tapi seketika dia menepuk jidatnya.


"Astaga gue lupa bro! Maaf..maaf.. hehehe." Daniel menghampiri David sambil nyengir kuda.


"Gara-gara noh. Kalau sudah marah susah di bujuknya." Ujar Daniel menunjuk Rara dengan dagunya. Rara mendelik menatap tajam Daniel. Daniel hanya membalas dengan flying kiss pada Rara.


"Dasar bucin." Ujar David menggedikkan bahunya seolah dia terkesan jijik dengan kelakuan sahabatnya.


"Sayang, materi rapat sudah di siapin?" Tanya Daniel.


"Bukannya itu tugas Nita." Elak Rara.

__ADS_1


"Ya tapi kan kamu juga nanti hadir Rapat sayang."


"Tugas ku cuma menyusun jadwal kamu rapat, ketemu klien, nemenin kamu rapat, ngurusin semua keperluan kamu dari A sampai Z. Urusan rapat itu tugas Nita." Ucap Rara.


"Yang di urusin dari A sampai Z tadi termasuk urusan ranjang gak Ra?" David ikut menimpali sambil tertawa.


"Dasar mesum lo." Daniel menendang kaki David.


Rara hanya tersenyum mendengar ucapan David. Memang sahabat kekasihnya ini benar-benar somplak. Bicaranya gak di filter, pikir Rara.


.


.


.


Daniel, Rara, dan David berjalan beriringan menuju ruang rapat. Di susul oleh Nita dan juga sekretaris David. Di dalam sudah menunggu direktur proyek, direktur keuangan dan juga beberapa kepala divisi.


Rapat kali membahas kerjasama perusahaan Daniel dan perusahaan David mengenai pembangunan sebuah hotel dan juga restoran. Dimana restoran tersebut juga merupakan bagian dari kerjasama David dengan perusahaan kekasihnya Jane, JF Company.


Setelah mendapatkan kesepakatan yang baik, Daniel dan David menandatangani kerjasama mereka. Lalu di akhiri dengan jabat tangan. Kemudian mereka memutuskan untuk makan siang bersama di salah satu restoran yang tidak jauh dari kantor Daniel.


Sesaat setelah mereka memesan makanan, mereka mengobrol ringan.


"Gimana kabar si kembar Ra?" Tanya David.


Dia hanya pernah bertemu sekali saat tidak sengaja melihat Rara dan si kembar di mall, di hari kedatangan Rara dari Australia waktu itu.


"Mereka baik. Sekarang mereka lagi di rumah om dan opa nya." Jawab Rara.


"Syukurlah. Gue pengen banget ketemu mereka." Ucap David.


"Boleh. Main aja ke apartemen." Kata Rara.


Tidak jauh dari meja mereka, ada 4 pasang mata yang memperhatikan mereka.


"Seneng deh lihat Rara sama Daniel." Ucap Laura dengan mimik mukanya yang lucu.


"Hooh. Aku pengen banget ketemu si kembar. Pengen gue unyel-unyel mukanya." Naira manimpali.


Asti yang mendengar ocehan mereka mengepalkan tangannya di meja. Matanya menatap tajam pada pasangan yang sedang menikmati makan siangnya tersebut. Bahasa tubuh Asti tidak luput dari pandangan Rosa. Dia menatap tidak suka dengan tingkah laku Asti. Bukankah Asti pernah bilang kalau dia tidak akan mengganggu Daniel kalau dia tahu sudah menikah. Tapi Rosa bisa melihat gelagat aneh dari Asti.


"Namanya juga jodoh. Kita gak boleh merusak hubungan orang lain, apalagi itu teman sendiri." Sindir Rosa.


Sontak membuat Asti mengalihkan tatapan tajamnya pada Rosa. Dia memukul meja makan kasar dengan telapak tangannya lalu berdiri dan pergi dari sana.


Beberapa pengunjung juga terkejut dan mengalihkan atensi mereka ke arah meja makan Rosa. Daniel dan David juga demikian.


"Astaga jantung gue!" Ucap Laura kaget sambil mengelus sayang dadanya.


"Asti lo mau kemana?" Naira berteriak memanggil Asti.


Mendengar nama Asti, Rara mencari sumber suara. Tatapan Rara dan Asti bertemu. Bisa Rara lihat bagaimana bencinya Asti padanya melalui tatapan itu. Asti segera meninggalkan restoran dan pulang dalam keadaan marah.


"Lo tunggu saja Ra." Geram Asti.

__ADS_1


__ADS_2