
Daniel dan David saat ini sedang berada di cafe langganan mereka. Sejak dari kantor Eric sampai mereka saling duduk berhadapan saat ini, mereka masih diam seribu bahasa. Mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Saat David ingin membuka mulutnya selalu saja tidak jadi. Begitu juga halnya dengan Daniel. Cukup lama mereka terdiam tanpa memesan apapun. Untungnya para pelayan cafe sudah mengenal baik mereka.
"Huuuuhhhh." Daniel mendesah kasar.
"Aaaggghhh." David mengacak kasar rambut yang tertata rapi. Pikirannya kemana-mana.
Masalahnya adalah saat mereka tadi datang ke kantor Eric mereka di kejutkan bahwa yang menjadi CEO sekarang bukan lagi sahabat mereka Eric, tapi kakaknya Edo.
Flashback On
Seperti biasa Daniel dan David akan masuk ke dalam ruangan Eric tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sekretaris Eric sudah hafal dengan kelakuan mereka seperti itu. Belum sempat Erika sekretaris Eric itu memberitahukan bahwa CEO nya sudah bukan sahabat mereka lagi, Daniel dan David sudah masuk lebih dulu.
Edo yang mengetahui kalau ada yang masuk ruangannya tanpa mengetuk terlebih dahulu, memberi teguran tanpa melihat siapa yang datang.
"Biasakan masuk ketuk pintu terlebih dahulu." Ujar Edo.
Daniel dan David yang menyangka kalau itu Eric malah tertawa terbahak. Karena suaranya yang hampir sama. Sontak membuat Edo mengangkat wajahnya melihat siapa makhluk yang sudah kurang ajar masuk ruangannya tanpa sopan santun.
Ketika Daniel dan David melihat yang duduk di sana bukan Eric, seketika tawa mereka terhenti. Dan membuat mereka salah tingkah. Edo yang sudah lama mengenal mereka hanya menggelengkan kepalanya. Dia kenal betul bagaimana tabiat teman-teman adiknya itu.
"Kalian mencari Eric?" Tanya Edo sambil menatap mereka berdua bergantian.
"Ka-kak Edo. Koq bisa di sini?" Ujar David gugup.
Edo memutar bola matanya malas dan membuang nafasnya pelan.
"Kalau gue ada di sini, memang nya kenapa?"
"Eric mana kak?" Tanya Daniel penasaran.
"Kalian duduk dulu." Titah Edo.
Daniel dan David akhirnya duduk di sofa yang memang sudah di sediakan untuk tamu yang datang.
"Kalian mau minum apa?"
"Gak usah repot kak."
"Sebentar. Erika, tolong buatkan 3 hot cappucino." Perintah Edo pada sekretarisnya.
"Baik Pak." Jawab Erika.
"Jadi apa yang membuat kalian datang kemari?" Edo memandang mereka penuh selidiki pada keduanya.
Karena sesungguhnya dia sendiri tidak tahu pasti penyebab perginya Eric sehingga menyerahkan perusahaan ini padanya. Padahal dia juga sibuk menangani usahanya sendiri yaitu jual beli mobil mewah dan sport. Tapi karena sudah menjadi perintah papa nya, dia tidak bisa menolaknya.
"Kami mencari Eric kak. Sudah seminggu lebih kami tidak bisa menghubunginya." Ujar Daniel.
"Apa kami bisa tahu dia di mana kak?" Tanya David.
__ADS_1
Edo menyandarkan dirinya di sandaran sofa. "Jujur gue gak tahu ada masalah apa dengan Eric. Tiba-tiba saja bokap gue nyuruh gue gantiin posisi Eric di perusahaan. Lo tahu sendiri bokap gue seperti apa. Perkataan beliau adalah sebuah perintah. Jadi mau gak mau gue harus patuhi."
"Terus Eric sekarang ada di mana kak?"
Edo mengangkat kedua bahunya lalu mengambil minumannya.
"Untuk hal itu gue minta maaf gak bisa kasih tahu kalian. Karena gue sudah janji sama Eric untuk merahasiakannya dari kalian."
"Gue tau gimana watak adik gue. Dia akan kembali kalau dia sudah merasa nyaman dengan perasaannya. Kalau kalian berjodoh kalian pasti akan ketemu Eric lagi." Lanjut Edo.
Dia memperhatikan wajah kedua sahabat adiknya ini. Dia yakin ada sesuatu yang terjadi di antara persahabatan mereka sampai adiknya mengambil keputusan besar seperti ini.
Dia sangat mengenal betul adiknya. Baginya sahabatnya adalah saudaranya. Edo tidak mau ikut campur masalah mereka. Nanti juga dia akan tahu sendiri, pikirnya.
"Gue gak nyangka bisa jadi begini." Gumam Daniel.
"Kalau gitu kami permisi dulu kak. Maaf sudah menggangu waktunya." Edo menggangguk dan tersenyum pada mereka. Dengan langkah gontai dan lesu, Daniel dan David keluar dari ruangan Edo.
Flashback Off.
"Koq bisa jadi gini sih." Ujar David.
"Gue juga gak tau sampai kayak gini. Eric pasti kecewa banget sama kita sampai dia pergi tanpa pamit." Daniel menekuk wajahnya sedih.
"Jujur gue khawatir dengan keadaan Eric sekarang."
"Gue juga."
"Gue hubungin Ardi dulu. Dia juga harus tahu tentang ini." David menyetujui perkataan Daniel.
To: Ardi
Gue sama David nunggu lo sekarang di tempat biasa. Gak pake lama
From: Ardi
Ok
"Apa katanya?" Tanya David kala melihat Daniel meletakkan ponselnya di atas meja.
"Dia mau datang." David menggangguk pelan.
"Pesan makanan dulu gue laper." Ujar Daniel.
" Lo sama Rara kapan nikah?"
"Kalo gak ada halangan bulan depan." Jawab Daniel.
"Syukurlah akhirnya kalian nikah juga. Kasian si kembar kalo hubungan kalian gak jelas gitu." Daniel menimpuk David dengan sedotan minuman.
"Gak jelas gimana. Asal lo." Ketus Daniel.
__ADS_1
"Ya gak jelas aja tapi sudah punya anak." Elak David sambil terkekeh.
"Dasar lo." David tertawa melihat wajah kesal Daniel yang menurutnya sangat lucu.
"Sorry gue lama." Akhirnya yang mereka tunggu datang juga.
Daniel dan David mengalihkan atensi mereka pada Ardi yang baru datang.
"Gimana keadaan Clara sekarang?"
Daniel menyambut kedatangan Ardi dengan pertanyaannya tentang Clara sekedar basa basi. Sebelum masuk ke inti masalahnya.
"Clara sekarang sudah membaik. Gue gak ijinkan dia keluar. Dan gue juga udah sewa pekerja untuk bantuin dia kerja di apartemennya dia." Jawab Ardi.
"Gue boleh tanya sesuatu sama lo?" Daniel menatap Ardi penuh selidik.
"Tanya aja." Jawab Ardi santai.
"Lo suka sama Clara?"
Ardi terkesiap kala mendengar pertanyaan dari Daniel. Dia bingung harus jujur atau gimana. Karena dia takut mereka akan salah paham nantinya.
"Kenapa lo diam? Kalo lo diam itu artinya iya." Ujar David lantang.
"Iya gue suka Clara." Jawab Ardi.
"Terserah lo mau percaya atau tidak. Setelah mengetahui Clara Hamil, perhatian gue cuma tercurah buat dia dan anak gue yang ada dalam kandungannya. Setiap hari gue jenguk dia untuk memastikan kalau dia dan kandungannya baik-baik saja. Mungkin karena gue biasa setiap hari berinteraksi sama dia, membuat gue merasa kurang kalau sehari aja gue gak ketemu. Gue gak pernah ngerasain kayak gini selama ini dengan cewek yang sering dekat sama gue. Dan lo semua kenal gue seperti apa.
Kehadiran Clara melalui kehamilannya membuat gue merasa bahwa dia adalah takdir gue. Walaupun cara takdir itu sendiri membuat gue dan Clara merasa sangat bersalah pada sahabat gue." Ardi tertunduk dengan kedua tangan menahan kepalanya.
"Gue tau apa yang gue perbuat gak bisa di maafin. Tapi ini juga bukan keinginan gue bila sampai terjadi hal seperti ini. Walaupun gue di jebak, gue juga harus tanggung jawab. Asal lo tau, Clara juga merasa tertekan dengan kejadian ini. Kalian bisa bayangkan gimana perasaan Clara. Dia hamil di saat karirnya sedang menanjak naik. Dan yang membuat dia sangat tertekan adalah saat Eric mengetahui kehamilannya dengan pria lain. Bahkan dia belum sempat meminta maaf pada Eric." Wajah Ardi sangat sendu. Daniel dan David bisa melihat bagaimana rasa bersalah itu berada dalam diri Ardi.
"Sudahlah. Semua sudah terjadi. Sekarang tinggal lo jalanin semua. Gue salut lo gak lepas tanggung jawab." Ucap Daniel sambil menepuk bahu Ardi pelan.
"Lo tau kabar Eric sekarang?" Tanya David sambil menatap dalam Ardi.
Ardi hanya menggelengkan kepalanya.
"Setelah kejadian di rumah sakit beberapa waktu yang lalu, jujur gue gak tau lagi. Gue pengen datang menemui Eric lagi, tapi gue gak bisa tinggalin Clara yang juga butuh gue."
"Eric sekarang pergi jauh entah kemana." Desah David.
"Maksud lo?" Ardi terkejut tidak mengerti dengan perkataan David. Dahinya berkerut.
"Tadi pagi gue sama David ke kantornya. Tapi yang jadi pemimpin di sana bukan Eric lagi tapi kak Edo. Artinya Eric pergi meninggalkan kita tanpa pamit." Ujar Daniel menjelaskan.
Tubuh Ardi terasa lemas. Wajahnya seketika berubah menjadi lebih sendu. "Ini semua gara-gara gue."
"Gak ada yang perlu di sesali. Ini bukan salah lo ataupun Clara. Karena lo berdua korban. Hanya saja kesalahan lo berdua karena gak jujur lebih dulu sama Eric, sampai dia yang lebih dulu menangkap basah kalian." Daniel berusaha memberikan ketenangan pada Ardi agar tidak selalu di hantui rasa bersalah.
"Gue harap persahabatan kita gak rusak karena hal ini. Sekarang hanya tinggal kita bertiga. Gue gak ingin salah satu di antara kita juga ikut pergi." David mendesah kala mengatakannya.
__ADS_1
"Gue yakin suatu hari nanti dan entah kapan, kita pasti akan berkumpul kembali bersama Eric." Kata-kata Daniel membuat David dan Ardi mengaminkannya dalam hati.
"Mulai sekarang kita fokus pada kehidupan mendatang dan pekerjaan kita seperti biasanya. Apapun yang terjadi persahabatan kita tetap kokoh selamanya." Mereka bertiga saling menguatkan satu sama lain sambil menyatukan tangan kanan mereka di atas meja.