
Saat Daniel keluar dari kamar mandi Daniel terkejut melihat seorang laki-laki berpakaian serba hitam, mengenakan topi dan penutup wajah sedang memegang jarum suntik. Sepertinya dia hendak menyuntiknya di selang infus milik Rara.
Tubuh Daniel menegang dan ingin menghajar laki-laki itu.
"Hei kamu siapa!! Apa yang ingin kamu lakukan pada isteriku!!!
Laki-laki itu terkejut dan segera berlari keluar dari kamar ruang inap Rara. Daniel mengejarnya sampai keluar dari rumah sakit.
"Hei mau kemana kamu!!!" Teriak Daniel yang terus mengejar laki-laki itu. Daniel tidak tahu siapa laki-laki itu. Hampir saja nyawa isterinya dalam bahaya. Mengingat isterinya, Daniel segera berbalik kembali ke rumah sakit. Dia tidak boleh meninggalkan isterinya sendirian. Itu sangat berbahaya.
Daniel masuk ke dalam ruang inap Rara. Dia mengecek isterinya takut terjadi sesuatu pada tubuhnya. Jantung Daniel hampir saja lepas mengingat bagaimana cara laki-laki tadi ingin menyuntik selang infus isterinya.
Kaki Daniel tidak sengaja menginjak jarum suntik yang ada di bawah ranjang pasien Rara. Rupanya pelaku tadi tidak sengaja menjatuhkannya karena terkejut. Daniel memungutnya dan memanggil dokter.
"Tolong periksa cairan apa dalam suntikan itu. Tadi ada seseorang yang ingin mencelakai isteri saya." Ucap Daniel dengan tegas.
Dokter itu memberikan jarum suntik tadi pada perawat yang bersamanya. Mereka melakukan seperti yang Daniel minta.
Sekitar 1 jam menunggu akhirnya dokter tersebut datang. Lalu menjelaskan cairan apa yang terkandung dalam jarum suntik tersebut.
"Bagaimana hasilnya dok?" Daniel penasaran ingin segera mengetahui cairan apa itu yang ingin mencelakai isterinya.
"Beruntung cairan ini batal di suntik ke tubuh isteri anda. Kalau tidak maka itu sangat berbahaya dan nyawa isteri anda dalam bahaya." Kata dokter.
"Memangnya itu apa dok?" Tanya Daniel lagi.
"Ini adalah cairan racun polonium. Setetes saja cairan ini masuk ke dalam tubuh manusia akan melumpuhkan semua organ penting dalam tubuh dan dalam hitungan hari akan meninggal dunia. Racun ini sering di gunakan oleh orang-orang sekelas mafia mungkin. Karena racun ni bergerak lambat tapi sangat mematikan. Dan sekarang belum ada penawar untuk racun ini."
Mata Daniel terbelalak begitu dia mendengarkan semua penjelasan dokter, rahang Daniel mengeras. Dia mengepalkan tangannya. Siapa yang sudah berani ingin menghilangkan nyawa isterinya. Wajah Daniel memerah menahan amarahnya. Dia tidak akan tinggal diam. Dia kan menyelidiki hal ini.
"Kalau begitu saya permisi." Kata dokter pamit pada Daniel.
"Iya. Terima kasih dokter." Ujar Daniel mempersilahkan dokter tersebut.
.
.
.
Daniel mendengar ada pergerakan dari ranjang pasien. Dia melihat Rara berusaha untuk bangun. Daniel menghampirinya lalu membantu isterinya duduk.
"Kamu membutuhkan sesuatu?" Tanya Daniel dengan lembut pada isterinya.
"Aku ingin ke kamar kecil." Jawab Rara.
__ADS_1
Daniel membantu Rara turun dari tempat tidur dan menuntunnya ke kamar kecil.
Sekembalinya dari kamar kecil, Rara kembali duduk di tepi tempat tidur.
"Kenapa tidak baring?"
"Kepalaku pusing kalau berbaring terus."
"Kamu lapar?" Tanya Daniel sambil merapikan rambut Rara yang berantakan dan menguncirnya.
"Tidak. Aku ingin makan buah." Kata Rara.
"Baiklah. Tunggu sebentar aku akan menyiapkan nya untuk mu." Lalu Daniel beranjak dari sana. Mengambil buah yang ada di atas meja, mencucinya dan mengupasnya. Lalu memotongnya dan memberikan pada isterinya.
"Makanlah." Kata Daniel sambil menyodorkan piring berisi buah pada Rara.
"Terima kasih." Ucap Rara.
"Kapan aku bisa pulang. Aku sudah bosan di sini." Kata Rara sambil cemberut.
"Tunggu apa kata dokter dulu. Aku juga ingin kamu cepat pulang biar kita bisa olahraga terus." Ucap Daniel sambil tersenyum nakal menggoda Rara.
"Dasar mesum." Kata Rara mencibir Daniel.
"Bunda, kapan pulang. Ade sama abang kangen bunda."
"Sampai dokter bilang bunda boleh pulang." Kata Rara. Dia mencium si kembar dengan gemas.
"Daniel, kenapa ada bodyguard di depan kamar Rara." Tanya Papi Daniel heran.
Karena sewaktu datang mereka sempat di larang masuk. Tapi setelah mengatakan kalau mereka orang tua Daniel dan juga anak Daniel, baru lah mereka di ijinkan masuk. Sesuai perintah Daniel.
"Daniel sengaja menaruh penjaga disana. Supaya Rara aman sewaktu Daniel tinggal." Kata Daniel.
"Apa tadi terjadi sesuatu?" Tanya papi Daniel.
"Ahh tidak ada Pi. Daniel hanya ingin Rara aman saja." Ujar Daniel. Dia tidak ingin menceritakan yang sebenarnya. Karena dia tidak ingin orang tuanya ikut kuatir.
Daniel lalu mendudukkan dirinya di sofa di samping papi nya. Sedangkan mami Daniel bersama si kembar berbincang dengan Rara.
"Katakan pada papi apa yang terjadi?" Papi Daniel yakin ada yang tidak beres karena Daniel sampai menempatkan bodyguard di depan kamar inap menantunya.
Daniel menghela nafasnya lalu setengah berbisik pada papinya. Karena dia tidak ingin mami nya atau juga Rara mengetahui hal ini.
"Tadi ada yang ingin menyuntik racun ke selang infus Rara ketika Daniel tinggal ke kamar mandi. Untung saja Daniel cepat keluar. Kalau tidak Daniel tidak tahu apa yang akan terjadi sama Rara." Ucap Daniel sambil mengusap wajahnya.
__ADS_1
"APA??" Papi Daniel sangat terkejut mendengar ada orang yang ingin mencelakai menantunya.
"Ada apa Pi?" Tanya mami Daniel yang menoleh ke belakang karena mendengar suara suaminya yang setengah berteriak.
"Oh tidak pa-pa. Papi hanya ada pembicaraan serius dengan Daniel." Kata Tuan Arnold.
"Gak usah teriak Pi. Ini rumah sakit." Peringat mami Daniel.
"Iya iya." Kata papi Daniel sambil mengibaskan tangannya pada isterinya supaya jangan memperdulikan mereka.
"Siapa orang itu?" Tanya papi Daniel penuh selidik.
"Daniel masih menyelidikinya. Tadi Daniel kehilangan jejaknya saat mengejar pelaku." Kata Daniel.
"Daniel juga sudah menyiapkan penjaga di rumah untuk mami dan papi juga si kembar. Tadi Daniel juga memerintahkan mereka untuk menjaga kalian saat dalam perjalanan. Jadi papi jangan kuatir." Lanjut Daniel.
"Baiklah. Papi percaya sama kamu. Kamu juga jaga diri." Ucap papi Daniel.
Tuan Arnold lalu menyandarkan dirinya di sandaran sofa sambil memperhatikan interaksi isterinya, dengan menantunya dan juga si kembar.
Tuan Arnold bersyukur memiliki Rara sebagai menantunya. Bukan keputusan yang salah ketika dia mengambil tindakan untuk menyelamatkan Rara dan si kembar dulu. Rara memang wanita yang tepat untuk putranya. Tapi Tuan Arnold malah menjadi gelisah siapa orang yang ingin mencelakai menantu kesayangannya ini. Dia akan meminta detektif kepercayaannya untuk menyelidiki kasus ini.
***
"Sial!!" Umpat seseorang dengan menghancurkan barang apa saja yang ada di dekatnya.
"Gue gak akan biarin lo berbahagia dengan keluarga lo." Dia menggenggam erat pistol yang ada di tangannya. Di sangat geram karena rencananya lagi-lagi gagal.
"Dasar sial!!!"
"Padahal tadi adalah kesempatan emas buat gue melenyapkan nyawa Rara. Sekarang akan lebih sulit karena Daniel pasti tidak akan membiarkan Rara sendiri lagi."
"Aaaarrggghhhh." Dia mengacak-ngacak rambutnya menendang botol minuman yang sudah kosong di dekat kakinya. Bunyi pecahan botol terdengar nyaring dalam ruangan itu.
"Cukup kesabaran gue selama ini sama lo. Sekarang gue gak tahan lagi." Dia memainkan ujung jarinya di atas meja dengan seringaian licik.
"Rara, kali ini lo boleh selamat. Tapi lain kali gue pastiin lo gak akan selamat dari tangan gue." Suara tawanya menggema di dalam ruangan sunyi itu. Sorot matanya tajam sarat dengan kebencian.
🌼🌼🌼🌼🌼
Hai semua pembaca setia karya Lidya😊
Jangan lupa like, vote, komen, dan juga rate 5 ya🙏😉
Salam
__ADS_1