
Viyo di dampingi oleh kedua orang tuanya saat pengumuman kelulusan. Seperti sebelumnya Daniel akan menyampaikan kata sambutan bagi siswa siswi dalam acara tersebut.
Vialandra Cantika berada diurutan pertama sebagai siswi dengan nilai paling tertinggi dan berhak untuk mendapatkan beasiswa pendidikan untuk jenjang S1 nya. Sedangkan Viyo berada di urutan kedua.
Saat nama Via di sebut, tangan Viyo di senggol oleh bunda nya. "Jadi dia yang namanya Via? Cantik seperti namanya. Bunda suka." Ucap Rara sambil menyunggingkan senyum pada putra bungsunya.
"Iya bunda dia yang namanya Via." Balas Viyo dengan suara sedikit rendah.
"Jangan lepaskan. Ayah juga menyukainya." Bisik Daniel di telinga Viyo.
"Ayah gak usah kuatir, Viyo pastikan dia akan jadi menantu ayah kelak." Viyo juga balas berbisik di telinga ayahnya.
"Itu baru putra ayah." Ucap Daniel bangga dan menjabat tangan putranya sambil tersenyum.
Via menghentikan langkahnya ketika ingin meninggalkan sekolah saat dia mendengar namanya di panggil seseorang.
"Via." Via berbalik ke belakang dan melihat Rara bunda Viyo melambai padanya memberi isyarat agar menghampirinya.
"Iya tante?" Tanya Via sopan saat dia datang menghampiri Rara.
"Selamat ya atas kelulusannya." Ucap Rara tulus sambil tersenyum.
"Makasih tante." Ujar Via dengan canggung.
"Kamu mau kemana?"
"Mau pulang tante."
"Kamu pulangnya bareng tante ya." Ujar Rara.
"Via bisa pulang sendiri tante naik taksi."
"Gak. Untuk hari ini tante akan memaksa kamu untuk pulang bareng tante." Ucap Rara lalu menggandeng Via dengan lembut.
Banyak pasang mata yang melihat kejadian it dengan iri. Karena banyak yang juga menginginkan berada di posisi Via sekarang.
Dengan canggung Via mengikuti Rara yang berjalan di sampingnya. Rara membuka pintu belakang dan meminta Via masuk. Viyo terkejut karena Via duduk di sebelahnya. Begitu juga dengan Via. Suasana canggung tercipta di antara mereka berdua.
Rara dan Daniel saling melempar senyum melihat interaksi keduanya. Daniel dan Rara memang sengaja mengajak keduanya untuk makan bersama untuk merayakan kelulusan mereka.
Tiba di sebuah restauran, Rara merangkul Via untuk jalan bersama. Sedangkan Viyo jalan di depan bersama Daniel. Mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung. Tapi mereka tidak mempedulikannya.
Via ingin duduk di sebelah Rara tapi malah Rara menyuruh Viyo bertukar tempat dengannya. Sehingga Viyo dan Via duduk bersebelahan.
"Via mau pesan apa?" Tanya Daniel
"Samakan saja om. Via gak masalah." Ucap Via dengan sopan.
"Kalau gitu Viyo pesanan kamu samakan sama Via ya." Ujar Daniel sambil mengedipkan matanya sebelah pada putranya.
"Iya ayah." Balas Rio sambil menyunggingkan senyum.
__ADS_1
"Oh iya om lupa. Selamat ya atas kelulusan kamu. Mau lanjut kemana?"
"Via mau ngambil jurusan keperawatan om."
"Pantas Viyo mau ambil jurusan kedokteran. Ternyata ada udang di balik bakwan." Batin Daniel sambil tersenyum.
"Wah bagus itu. Jadi kalau ada apa-apa sama om dan tante, bisa panggil Via buat merawat kami." Daniel melemparkan senyumnya pada Via.
"I-iya om." Kata Via dengan gugup.
Via meremas tangannya sendiri yang berada di bawah meja. Dia sangat gugup saat ini. Bagaimana tidak, jika saat ini dia bersama dengan orang tua Viyo. Dan hal itu tidak luput dari pandangan Viyo.
Tanpa ijin Viyo menggenggam sebelah tangan kanan Via dengan tangan kirinya, dan meletakkan tautan tangan mereka di atas pahanya. Dia tahu kalau Via gugup. Karena itu dia memberi ketenangan buat Via.
Apa yang dilakukan Viyo membuat Via menolehkan wajahnya padanya. Tapi Viyo pura-pura tidak mengetahuinya. Tangannya tetap menggenggam tangan Via walaupun Via berusaha untuk menariknya.
Tidak bisa di pungkiri, baik Via maupun Viyo sama-sama merasakan debaran jantung yang cepat kala tangan mereka saling bertautan. Tubuh Via terasa panas dingin. Untung saja dalam keadaan duduk. Kalau tidak mungkin Via sudah tak sadarkan diri.
"Orang tua Via kerja dimana?" Tanya Rara tanpa membuat Via tersinggung.
"Papah sudah gak ada. Kalau mamah seorang guru." Ucap Via sambil
menundukkan kepalanya.
"Maafkan tante. Tante gak tau." Ujar Rara dengan penuh simpatik. Karena dia tahu bagaimana rasanya kehilangan orang tua.
"Gak pa-pa tante." Balas Via dengan sopan.
Usai makan siang, Daniel mengantar Via sampai ke rumahnya.
"Om, tante, viyo, terima kasih untuk makan siang dan juga tumpangannya." Ucap Via sopan lalu kemudian keluar dari mobil.
.
.
.
"Waaahhhh selamat cucu opa sudah lulus." Ujar Tuan Arnold dan memeluk cucunya sambil memberikan tepukan lembut di bahunya.
"Makasih opa." Viyo membalas pelukan opa nya.
"Selamat ya Viyo."
"Makasih oma." Viyo memeluk oma nya dan mencium pipinya.
"Sekarang kamu semakin dewasa. Opa yakin kamu pasti punya masa depan yang hebat." Ucap Opa nya
"Makasih opa dukungannya untuk Viyo." Ucap Viyo tulus.
"Kapan kamu akan melakukan pendaftaran kuliah kamu?" Tanya Daniel pada putranya.
__ADS_1
"Ayah aja ya yang urus untuk Viyo?" Ujar Viyo sambil cengengesan.
"Hemmm dasar ya kamu. Tahu gak bunda kenapa Viyo mau ambil kedokteran?"
"Memangnya kenapa ayah?" Tanya Rara pada suaminya.
"Karena pujaan hati jagoan kita ini kuliah keperawatan. Jadi Viyo kita yang ganteng ini sengaja ngambil bidang kesehatan yang sama tapi beda jurusan." Kata Daniel sambil tersenyum nakal pada putranya. Dan di tanggapi Viyo dengan cengiran.
"Begitu ya. Tapi jujur, bunda suka sama Via. Kalau Viyo memang jodohnya pasti gak akan kemana sayang." Rara memberi Semangat pada putra bungsunya.
"Ayah juga menyukainya. Selain cerdas dia juga anak yang sangat sopan. Ingat keluarga kita gak membutuhkan menantu kaya. Tapi dia punya kepribadian yang baik dan sopan. Juga yang pasti sangat menyayangi keluarga. Seperti bunda." Ucap Daniel lalu merangkul Rara dan memberi kecupan di puncak kepalanya.
"Viyo pastikan kalau Viyo akan penuhi keinginan ayah dan bunda." Ucap Viyo dengan mantap.
"Sekali-kali ajak dia kesini. Kenalkan pada oma dan opa." Kata Tuan Arnold ikut menimpali pembicaraan anak dan cucu nya.
"Kalau sudah waktunya Viyo akan ajak dia kesini opa." Balas Viyo sambil tersenyum lebar.
***
Daniel dan Rara sedang menikmati minuman mereka di balkon kamar. Sambil bersandar di dada suaminya, Rara memandangi senja yang terlihat sangat cantik di upuk cakrawala.
"Anak-anak sekarang sudah dewasa semua. Ternyata umur ku sudah tidak muda lagi." Ucap Rara.
Daniel memeluk bahu isterinya sambil memainkan ujung rambut Rara yang terurai.
"Kamu akan selalu cantik di mataku dari dulu, sekarang sampai kapan pun. Dan cinta ku padamu gak akan pernah berubah sampai maut memisahkan kita." Ucap Daniel dan mengecup puncak kepala Rara.
"Makasih karena sudah mau bertahan untuk ku. Makasih karena memberikan kebahagiaan untukku dan anak-anak. Aku mencintaimu sampai akhir hayatku." Ucap Rara dengan tulus.
"Aku juga mencintaimu. Dan keinginanku adalah menghabiskan sisa hidupku hanya bersamamu." Daniel memeluk hangat Rara dan berkali-kali memberikan ciuman di puncak kepalanya.
Sore itu mereka lewati dengan pelukan kehangatan dan penuh cinta. Daniel beruntung memiliki Rara sebagai isteri dan ibu dari ketiga anaknya. Sedangkan Rara beruntung memiliki Daniel sebagai suami yang begitu mencintai dirinya dan juga ketiga anaknya. Mereka bersyukur atas cinta kasih yang Tuhan hadirkan di tengah-tengah keluarga mereka, untuk saling mencintai dan menyayangi satu sama lain.
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Akhirnya selesai juga novel ini. Lidya mohon maaf jika di dalam penulisan Novel ini banyak kesalahan, alur cerita yang kurang memuaskan dan kata-kata yang mungkin tanpa sengaja menyinggung hati readers sekalian.
Terima kasih ya buat kalian semua yang sudah setia membaca karya ku ini.
Terima kasih atas semua dukungan kalian untuk novel ini๐
Jangan lupa baca karya terbaru ku BELLARIC ya.
Mas Eric menunggu disana๐
Kalau suka boleh klik profil Lidya dan ikuti ya๐
Sampai ketemu lagi ya readers ku tersayang di BOSS KU AYAH ANAKKU Season 2, cerita khusus buat abang Rio.
Lidya juga sedang mempersiapkan cerita untuk kakak Ria dan juga adik Viyo.
__ADS_1
Bye bye..semoga kita selalu dalam keadaan sehat dan dalam lindunganNya.