
Riko menarik kursi dengan kasar lalu duduk tepat di hadapan Asti dengan muka yang masam.
"Kenapa lo datang dengan muka kayak gitu." Tanya Asti heran.
"Lo gak sadar lo udah buat salah?" Tanya Riko dengan kesal.
"Ya kalo lo gak bilang mana gue tau." Jawab Asti dengan mengangkat kedua bahunya cuek tanpa rasa bersalah.
Ingin sekali rasanya Riko menenggelamkan Asti sekarang ke sungai, andai saja Riko tidak mengingat bahwa wanita di depannya ini adalah kakak sepupunya. Di samping itu Riko juga membutuhkan Asti untuk melancarkan aksi balas dendamnya pada Daniel.
Ibu Asti adalah kakak dari ayah Riko. Mereka memang tidak terlalu dekat tapi juga tidak bisa di katakan jauh. Artinya mereka tidak akrab. Karena memang sifat Asti dan Riko hampir sama, sama-sama cuek dan dingin. Tapi apabila menginginkan sesuatu mereka harus mendapatkannya. Tapi sifat Asti akan berbeda saat dia bertemu dengan Daniel. Maka yang keluar adalah sifat yang paling tidak Daniel sukai. Mengejar dirinya. Asti rela di anggap perempuan tidak benar hanya demi mengejar cinta Daniel.
Tawaran Riko untuk mendapatkan Daniel sangat menggiurkan baginya. Dia juga tidak menyangka jika Riko bekerja sebagai asisten pribadi Daniel. Sungguh kebetulan yang luar biasa. Dia sangat beruntung memiliki adik sepupu yang cerdas dan licik seperti Riko.
"Kan gue udah bilang jangan hubungin gue kalau gue lagi di kantor" Ucap Riko sedikit membentak Asti.
Asti dan Riko saat ini berada di sebuah restauran. Gara-gara Asti yang menghubunginya pagi tadi sempat membuat Riko berang. Hingga membuat janji temu dengan Asti.
"Salah lo kenapa gak balas chat gue." Ucap Asti yang tidak mau dirinya di salahkan.
"Kalau gue gak balas berarti gue lagi sibuk. Hampir aja kita ketahuan tau gak lo." Ucap Riko kesal.
"Terus rencana lo apa sekarang?" Tanya Asti
"Kita gak bisa gegabah. Bodyguard Daniel dimana-mana. Sedikit sulit buat gue gerak." Kata Riko sambil menyesap minumannya.
"Lo punya rencana apa?" Tanya Riko penasaran dengan keinginan Asti yang begitu menginginkan Daniel.
"Lo tau sendiri yang gue mau siapa. Gue cuma mau Daniel ada di sisi gue. Dan penghalangnya cuma satu. Perempuan miskin itu." Ujar Asti dengan berapi-api.
"Berarti cuma satu caranya, singkirkan penghalangnya." Ucap Riko mantap. Membuat Asti menyeringai licik.
"Gue yakin lo punya rencana bagus untuk ini. Tapi gue minta jangan sakiti Daniel." Ujar Asti dengan tegas.
"Gue gak yakin. Karena lo tau sendiri tujuan gue apa." Kata Riko sambil memainkan jarinya di pinggir gelas minumannya.
"Gue gak mau tau. Awas aja lo kalau sampai Daniel terluka!" Ancam Asti kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan Riko sendiri.
"Kita lihat saja nanti." Ucap Riko dengan menyunggingkan senyum liciknya.
.
__ADS_1
.
.
Sepulang dari pertemuannya dengan Asti tadi, Riko langsung ke apartemennya. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa. Dengan tatapan mata yang penuh dengan amarah dan kebencian, pikiran Riko mengingat seseorang dalam pikirannya.
"Daniel, lo akan membayar semuanya. Gue tau isteri lo sedang dalam keadaan sakit kanker. Itu akan lebih memudahkan gue untuk menyingkirkannya." Ucap Riko.
Dia mengambil ponselnya dan membuka galeri foto. Tampak lah foto seorang gadis dengan senyum yang sangat menawan. Bahkan di foto itu tidak terlihat sama sekali ada luka di sorot matanya. Tanpa Riko sadari air mata nya menetes. Dia mengusap pipinya kasar.
"Gue akan balas dendam buat lo."
***
Rara sibuk di dapur di bantu oleh para pelayan. Hari ini adalah ulang tahun Daniel. Jadi dia akan memasak spesial untuk suaminya. Masih ada 2 jam lagi sebelum suaminya pulang. Sambil memasak, Rara juga membuat kue ulang tahun untuk Daniel.
"Apa ada yang masih kurang?" Tanya Ibu mertuanya yang ternyata sudah ada di dapur.
"Cukup semua mi. Sedikit lagi semuanya akan selesai." Ucap Rara dengan semangat.
"Ingat sayang kamu gak boleh capek." Ujar ibu mertuanya mengingatkan Rara dengan kondisinya.
"Gak mi. Ini gak membuat Rara lelah. Tapi malah membuat Rara senang." Kata Rara sambil tersenyum.
Rara tersipu malu sambil terus melanjutkan pekerjaannya.
"Mami akan melihat si kembar dengan opa mereka." Kata mami Daniel dan kemudian berjalan ke taman belakang dimana suaminya dan kedua cucunya berada.
.
.
.
Daniel datang dengan menggendong Ria dan menghampiri Rara yang masih ada di dapur menunggu kuenya matang. Daniel mencium puncak kepala isterinya.
"Bikin apa? Masakannya banyak sekali." Tanya Daniel yang heran dengan berbagai masakan yang sudah tertata rapi di atas meja makan.
"Mandi lah dulu. Nanti akan aku siapkan pakaian ganti." Kata Rara.
Daniel pun menuruti perkataan isterinya. Setelah menurunkan Ria dari gendongannya, Daniel menaiki tangga menuju kamarnya. Kue ulang tahun sudah matang dan juga sudah di hias Rara. Kini saatnya dia mandi.
__ADS_1
Saat masuk kamar Daniel baru saja selesai mandi. Lalu Rara menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Kemudian Rara juga mandi. Karena sudah merasa gerah dan bau masakan lengket di baju dan tubuhnya.
"Segarnya." Kata Rara saat keluar dari kamar mandi.
"Aku pikir kamu sudah di bawah dengan anak-anak." Kata Rara yang melihat suaminya masih ada di dalam kamar dan bersandar di sandaran tempat tidur.
"Aku nunggu kamu biar bareng ke bawah." Ujar Daniel sambil membaca buku di tangannya.
Setelah berpakaian dan berdandan simple, Rara mendekati Daniel dan duduk di tepi ranjang. Rara menarik buku dari tangan Daniel. Terang saja membuat Daniel keheranan dengan tingkah isterinya yang tidak seperti biasanya.
"Sayang, buku ku mau di apakan?" Mata Daniel mengikuti kemana arah tangan Rara membawa bukunya yang kemudian
berakhir dengan lemparan lembut di atas sofa.
Semakin mendekati Daniel dan tiba-tiba mencium bibir Daniel sekilas. Daniel terkejut dengan tingkah Rara barusan.
"Sayang kamu sudah minum obat kan?" Tanya Daniel sedikit bercanda karena tidak biasanya isterinya bertingkah seperti ini.
Rara lalu mengecup punggung tangan Daniel, beralih ke pipi Daniel dan membisikkan sesuatu di telinga Daniel.
"Happy Birthday my lovely husband Daniel Mahendra."
Setelah mengucapkannya Rara lalu mencium lembut bibir suaminya. Tentu saja kesempatan itu tidak akan Daniel sia-siakan. Dia menahan tengkuk isterinya agar ciuman mereka semakin dalam.
"Terima kasih sayang. Aku bahkan melupakan hari ini." Ucap Daniel dan memeluk erat isterinya lalu mencium puncak kepala Rara.
"Kita turun. Anak-anak pasti sudah menunggu." Ujar Rara. Daniel bangkit dari tempat tidur kemudian berjalan keluar kamar mengikuti Rara yang sudah lebih dulu keluar kamar.
Benar saja, si kembar dan orang tua Daniel sudah menunggu di meja makan.
"Ayah sama bunda lama sekali. Ade kan sudah lapar." Ucap Ria kesal sambil mengerucutkan bibirnya. Berbeda dengan Rio yang duduk tenang di samping opa nya.
Daniel mengecup si kembar dengan gemas. "Ayah nunggu bunda selesai mandi tadi." Kata Daniel.
Mereka kini semua sudah duduk siap menikmati semua hidangan yang Rara masak sore tadi. Sebelumnya Daniel sudah meniup lilin dan memotong kue atas permintaan si kembar dan juga menyanyikan lagu ulang tahun.
Saat semuanya sedang menikmati makan malamnya, Rara Memotong kue ulang tahun dan membaginya untuk semua pelayan yang ada di rumah dan juga untuk bodyguard yang menjaga rumah mereka.
Bahkan Rara juga menyuruh mereka untuk makan bersama. Jadilah suasana rumah menjada ramai.
Nyonya Maria begitu bahagia memiliki menantu yang baik hati dan perhatian pada orang lain. Andai bukan Rara yang menjadi menantunya, Nyonya Maria tidak yakin orang itu akan memiliki hati sebaik menantunya Rara sekarang.
__ADS_1
"Semoga kebahagiaan selalu melingkupi kehidupan rumah tangga putraku. Amin." Doa Nyonya Maria dalam hatinya.