
Sinar mentari menyeruak masuk ke dalam kamar. Rara masih betah memejamkan matanya. Begitu pula dengan Daniel. Percintaan panas mereka semalam cukup melelahkan keduanya. Apalagi Daniel yang sudah lama memendam hasratnya selama ini terbayarkan di malam pertama mereka.
Rara membuka matanya. Terpampang lah dada bidang Daniel di depan matanya, yang kini sudah resmi menjadi suaminya.
Rara mengecup dada suaminya dengan lembut, tapi ciuman itu justru membuat tubuh Daniel meremang membuat gairahnya muncul kembali.
"Apa kamu menginginkannya lagi pagi ini sayang?" Ucap Daniel menggoda Rara sambil mempererat pelukannya.
"Enggak. Bibir ku tidak sengaja tadi menyentuh dada kamu." Elak Rara.
Daniel terkekeh lalu mencium puncak kepala Rara. "Tapi bagaimana kalau aku menginginkannya lagi?"
"Gak. Semalam kamu hampir tidak berhenti meminta terus. Kamu mau bikin aku gak bisa jalan." Ujar Rara lalu mendongak melihat mata suaminya yang masih terpejam.
Daniel membuka matanya kala menyadari kalau Rara tengah menatapnya. Dia lalu menunduk dan mencium bibir Rara lalu berbisik di telinganya.
"Aku ingin olahraga pagi ini bersamamu agar aku semakin sehat dan tampan."
"Olahraga pagi apa?" Tanya Rara dengan dahi berkerut.
Daniel tersenyum penuh arti dan menyatukan bibirnya dan Rara. "Seperti ini."
Lalu kemudian Daniel mencium Rara lebih dalam lagi. Semakin lama ciuman mereka semakin panas. Membuat kamar itu hanya di penuhi dengan bunyi kecapan dan desahan panas dari keduanya. Pergumulan panas semalam terulang lagi. Hingga keduanya saling berpelukan setelah merasakan nikmatnya olahraga mereka pagi ini.
Daniel mengecup kening Rara dan menyeka keringat Rara. "Terima kasih sayang. Aku sangat mencintaimu."
.
.
.
Pagi ini Rara sibuk di dapur membuat sarapan untuk suaminya, si kembar dan juga mertuanya. Rara sudah memutuskan untuk resign dari kantor seperti yang Daniel minta.
Rara menyadari bahwa keputusannya tidak bisa dia ambil lagi sendiri. Tapi sudah Daniel sebagai suaminya yang memiliki hak untuk membuat keputusan dalam hidupnya. Dia sangat mencintai Daniel. Jadi dia yakin semua keputusan yang Daniel ambil pasti yang terbaik untuk mereka.
Rara menata makanan untuk sarapan mereka pagi ini di atas meja. Nasi goreng ayam adalah makanan favorit si kembar.
"Pagi sayang." Ucap Daniel lalu mengecup puncak kepala Rara.
"Pagi. Anak-anak mana?" Tanya Rara yang heran karena Daniel sendirian yang datang ke meja makan tanpa si kembar.
"Mereka sedang bersama mami dan papi di teras belakang. Sebentar lagi juga kesini." Ujar Daniel lalu duduk di balik meja makan.
"Kamu mau sarapan apa? Nasi goreng atau roti dan kopi saja?" Tanya Rara dengan keduanya tangannya yang menengadah menunggu jawaban Daniel.
__ADS_1
"Aku roti sama kopi saja."
"Baiklah." Dengan cekatan Rara membuat hot cappucino kesukaan suaminya dan juga roti dengan selai coklat. Dia menata roti di piring dan meletakkannya di depan Daniel beserta dengan secangkir kopi yang Daniel minta.
Tak berselang lama, orang tua Daniel datang bersama si kembar.
"Pagi abang ade." Kata Rara lalu memberikan kecupan di pipi untuk keduanya. Tak lupa juga Rara mencium ayah dan ibu mertuanya sebagai sapaan selamat pagi.
Rara menyiapkan sarapan untuk mertuanya dan juga si kembar. Lalu bersama-sama menikmati sarapan.
"Kapan kalian akan berangkat honeymoon?" Tanya papi Daniel sambil menyesap tehnya.
"Minggu depan Pi. Daniel harus menyelesaikan pekerjaan dulu. Sudah kepalang tanggung kalau di tinggal." Ujar Daniel.
"Apa semua sudah di siapkan? Visa dan pasport?" Tanya mami Daniel untuk mengingatkan putranya.
"Sudah semua mi. Tenang saja sekarang ada isteri ku yang mengurusnya." Ucap Daniel sambil mengedipkan matanya menggoda Rara.
"Senangnya yang sudah punya isteri sekarang." Ledek mami Daniel.
"Iya dong mi." Ucap Daniel bangga hingga membuat Rara tersenyum malu.
"Opa, honeymoon itu apa?" Tanya Ria pada opa nya.
Tuan Daniel menoleh pada cucu perempuannya lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung harus memberikan jawaban seperti apa untuk cucunya.
"Ade, habiskan dulu makanannya ya." Ujar Rara.
"Tapi opa belum jawab pertanyaan ade." Ucap Ria cemberut sambil menatap opa nya.
"Opa juga masih makan sayang." Bujuk Rara.
"Iya ade makan." Ria meneruskan makannya walaupun dia terlihat kecewa karena opa nya tidak menjawab pertanyaannya.
Sementara papi Daniel bernafas lega karena menantunya sudah menyelamatkannya dari pertanyaan yang belum cukup umur untuk anak seusia Ria.
Setelah sarapan Daniel dan Rara kembali ke kamar. Sedangkan si kembar seperti biasa menemani opa dan oma nya berkegiatan sambil bermain.
Daniel bersandar di tempat tidur. "Sayang kemari lah." Daniel memanggil isterinya untuk ikut bergabung dengannya. Hari ini Daniel sengaja mengambil cuti setelah pernikahan mereka kemarin.
Rara pun datang menghampiri lalu ikut bersandar seperti Daniel. Daniel meraih salah satu tangan Rara dan mengecupnya.
"Kamu tahu, hal yang terindah dalam hidupku adalah kamu."
"Gombal." Rara terkekeh pelan.
__ADS_1
"Dan, apa kamu ingin punya anak lagi?" Tanya Rara sambil menatap Daniel.
"Kalau kamu tidak keberatan tentu saja aku ingin punya banyak anak dari kamu sayang." Ujar Daniel sambil mengelus puncak kepala Rara lalu menyandarkan kepala Rara di dadanya.
"Aku tidak keberatan jika kamu ingin anak lagi. Tapi kamu tahu sendiri jika saat ini aku sedang menjalani pengobatan. Aku tidak ingin karena obat itu akan mempengaruhi anak kita nantinya." Kata Rara.
Mengingat dirinya yang masih menjalani pengobatan untuk penyakit yang sedang di deritanya saat ini. Rara bersyukur jika penyakitnya bisa di atasi hanya dengan mengonsumsi obat saja. Beruntung dia tidak harus dengan kemo seperti pasien kanker lainnya. Dan dia semakin bersyukur lagi dia di kelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya, sehingga membuat dia semakin semangat untuk sembuh.
"Aku tidak menuntut kamu harus memberikanku anak sekarang. Yang paling penting untuk ku adalah kesembuhan kamu. Kalau kamu sudah sembuh total. Kita akan pikirkan lagi nanti. Lagian kita juga sudah punya si kembar." Daniel tidak ingin memaksa isterinya harus hamil setelah menikah. Karena itu akan beresiko pada kesehatan Rara dan juga janin dalam kandungannya nanti. Akan lebih baik mereka menunda dulu untuk memiliki anak lagi.
"Kamu sudah ketemu asisten untuk menggantikan ku?" Tanya Rara.
"Belum. Aku tadi sudah meminta bagian HRD untuk mencarinya." Jawab Daniel.
"Aku gak mau kalau dia perempuan." Rara tidak ingin kalau terjadi sesuatu pada rumah tangganya karena ada perempuan lain yang ingin menggoda suaminya. Apalagi jika ingat Asti. Perempuan itu sangat menakutkan pikir Rara.
"Kenapa?" Tanya Daniel pura-pura tidak tahu alasannya.
"Pokoknya kalau perempuan, aku akan balik bekerja lagi." Tegas Rara.
"Astaga isteriku takut sekali kalau suaminya yang tampan ini di goda perempuan lain." Daniel mencubit hidung Rara gemas.
"Terserah. Kalau gak menuruti keinginanku, jangan cari aku dan si kembar."
"Iya iya. Aku akan bilang ke bagian HRD atau Nita nanti cari yang laki-laki. Biar isteri ku yang cantik ini gak marah." Ujar Daniel menatap gemas isteri tercintanya.
"Sebaiknya istirahat. " Ucap Daniel lalu membantu Rara untuk berbaring dalam pelukannya.
"Aku tidak akan menerkam mu lagi pagi ini. Karena aku tahu kamu lelah. Tapi nanti malam kamu harus bersiap diri." Kata Daniel sambil terkekeh.
"Itu sama saja." Rara mencubit lengan Daniel pelan.
.
.
.
Tidur Daniel sedikit terganggu karena mendengar suara lenguhan di sampingnya. Matanya perlahan terbuka. Berusaha untuk menyesuaikan dirinya dengan keadaan. Tangannya yang memeluk Rara terasa sangat hangat.
Dia baru menyadari kalau badan Rara panas dan berkeringat. Padahal Ac di kamar suhunya sudah sangat dingin. Daniel segera bangun.
"Sayang, kenapa badan kamu panas gini?" Daniel membangunkan isterinya. Tapi yang ada tubuh Rara semakin menggigil karena demam. Bahkan pakaian yang Rara kenakan juga basah karena keringat.
Seketika Daniel panik karena tiba-tiba saja Rara tidak sadarkan diri. Dengan sigap Daniel mengangkat tubuh Rara keluar dari kamar menuju mobil.
__ADS_1
Mami Daniel terkejut melihat Daniel yang panik sambil menggendong Rara.
"Rara kenapa sayang."