
Cinta mondar mandir sambil menggigiti kukunya sejak timjangnim dan beberapa staff humas menutup pintu ruangan. Aku mengamati setiap gerakan dan ekspresinya. Dia jelas terlihat gusar, dan aku bisa memakluminya karena memang aku pun merasakan hal yang sama. Bayangkan rasanya kepergok ciuman di kantor oleh rekan satu tim, kira-kira bagaimana rasanya? Malu kan? Terlebih yang mergokin bukan cuma satu tapi benar-benar satu tim. Bayangin sebesar apa malunya? Tapi yang jelas saat ini aku tidak ingin menambah pikiran dengan melakukan hal yang sama dengan Cinta.
" Cinta? Loe bisa duduk engga sih? Loe bikin gue tambah pusing aja." Akhirnya kutegur juga Cinta.
Cinta langsung menoleh tajam padaku. Bahkan saking tajamnya aku sampai menunduk karena takut.
" YAK AIDAN? INI SEMUA SALAH LOE TAHU ENGGA?" Omelnya padaku.
Aku langsung mengangkat wajahku tak terima.
" Loe engga usah main salah-salahan gitu dong."
" Ya emang ini salah loe kok. Loe ngapain maksa cium gue kaya gitu?"
" Hei hei hei. Iya gue tahu gue awalnya maksa, tapi loe juga nikmatin ciumannya kan? Jadi loe engga usah salah-salahin gue gitu. Loe juga salah."
Akhirnya Cinta tidak bisa berkutik setelah kukatakan poin pentingnya. Jelas saja, dia juga menikmati berciuman denganku tadi. Seketika aku memegangi bibirku karena teringat ciuman panas tadi. Ternyata aku bisa berciuman dengan perempuan lain selain Jessica meskipun tanpa rasa. Jangan-jangan ciumanku dulu padanya juga tanpa rasa, hanya nyaman tapi bukan cinta. Buktinya aku bisa bahkan dua kali mencium Cinta yang bahkan baru ku kenal.
" Loe ngapain megang-megang bibir gitu? Yang ada gue yang harusnya megang bibir karena bibir gue udah engga suci lagi." Cinta masih terus mengomel dan menyalahkanku atas ciuman tadi.
Aku tersadar dan menoleh ke arahnya. Aku terus memperhatikan dia dan banyak sekali pikiran yang terlintas di otakku saat ini.
" Mwol bwa? (*loe liat apa?)" Tanyanya saat aku terus melihat ke arahnya.
Aku tidak menjawabnya. Aku berdiri lalu berjalan ke arahnya. Sebenarnya bukan berniat berjalan ke arahnya, aku berniat untuk keluar ruangan menemui teman-teman humas yang tadi sudah menonton adegan ciumanku.
Cinta salah sangka, dia terus mundur saat aku berjalan ke arahnya.
" Yak Aidan? Loe mau ngapain?"
Aku tidak menjawab dan kulihat memang ekspresi Cinta ketakutan. Mungkin dia takut aku akan menciumnya lagi. Haha. Meski wajahku serius tapi dalam hatiku menertawakan Cinta. Tingkahnya membuatku gemas.
Aku berjalan melewatinya dan membuka pintu ruangan. Ku pasang muka sedingin yang ku bisa. Aku akan memakai " kartu anak sajangnim " hari ini. Ah persetan dengan kata-kataku yang kemarin yang meminta mereka tidak memperlakukanku terlalu istimewa. Hari ini aku anggap kata-kataku adalah bulshit karena ini situasi yang cukup serius menurutku.
Semua staff humas melihat ke arahku begitu aku keluar dari ruangan. Aku mulai merasakan hawa yang tidak kusukai. Menjadi pusat perhatian adalah sesuatu yang tidak kusukai. Tapi kali ini aku harus mencari perhatian mereka.
" Yedeura? (*teman-teman)" Panggilku meminta perhatian semua orang.
__ADS_1
Setelah mereka semua memusatkan perhatiannya padaku, aku langsung mengutarakan rencanaku yang sudah ku susun sejak di dalam ruangan tadi. Aku memasang wajah seserius mungkin. Aku sempat merasa grogi saat tiba-tiba saja Choi Timjang keluar dari ruangannya dan bergabung dengan staff humas yang lain.
" Ada apa ini?" Tanya Choi Timjang.
Cinta pun akhirnya ikut keluar dari ruangan. Mungkin dia pun penasaran dengan apa yang ingin kulakukan.
Aku menoleh dan berjalan mendekati Cinta. Ku genggam tangannya dan menariknya ke tengah-tengah staff humas. Cinta kebingungan karena dia sama sekali tidak tahu rencanaku. Tapi untungnya dia tidak berusaha melepaskan diri. Semua staff humas memperhatikan kami dan inilah saatnya kupakai " kartu anak sajangnim" ku.
" Semuanya? Tolong dengarkan baik-baik. Saya berdiri disini untuk membuat pengumuman. Saya ingin memberitahukan pada kalian semua bahwa Cinta adalah pacar saya."
Kalimat pertama membuat mata Cinta membulat dan menoleh protes ke arahku. Aku menatapnya dan mengedipkan mataku memberi isyarat bahwa ini adalah rencanaku. Ku eratkan juga genggaman tanganku padanya agar dia tidak perlu terlalu khawatir.
Semua orang saling memandang setelah mendengar pengakuanku.
" Jadi kalian baru pacaran? Atau sudah pacaran sejak lama?" Tanya Choi Timjang tiba-tiba yang belum sempat terpikirkan jawabannya olehku.
" Mmm, kami sudah kenal sejak di Indonesia ternyata dan memang saya yang menyukai Cinta duluan." Aku terpaksa berbohong demi menyelamatkan citraku dan juga Cinta terutama.
Mereka semua menganggukkan kepala. Entah mengerti atau formalitas saja. Aku langsung menegaskan tujuan dari rencanaku.
" Bukan itu tujuan saya berbicara di sini. Saya memberikan klarifikasi seperti ini karena saya menginginkan cerita mengenai apa yang kalian lihat tadi di ruangan antara saya dan Cinta, saya mengharapkan cerita itu tidak keluar dari divisi humas. Meskipun saya dan Cinta berpacaran, kami tetap akan menunjukkan profesionalisme kerja. Dan yang kalian lihat tadi, saya pastikan kami tidak akan melakukannya lagi pada jam kerja. Saya harap kalian bisa menjaga rahasia, karena saya adalah tipikal orang yang bisa menghancurkan orang lain saat mereka berbuat tidak menyenangkan pada saya."
" Ayo chagiya." Aku menarik tangan Cinta untuk masuk kembali ke dalam dan Cinta menurutiku tanpa protes. Syukurlah kupikir dia akan menyusahkanku di tengah-tengah klarifikasi.
Saat sudah ada dalam ruang kerja. Cinta langsung berdiri menghadapku.
" Chagiya?" Ulangnya mengikuti logatku tadi.
" Ya Michinnom Aidan? Loe kenapa bisa kepikiran klarifikasi kalau kita pacaran sih?" Protesnya.
Tapi masih untung dia protes di sini bukan pada saat klarifikasi.
" Bukannya ini yang terbaik? Gue pakai kartu gue sebagai anak sajangnim biar mereka bisa merahasiakan adegan ciuman kita tadi."
" Loe engga usah ngomong ciuman, ciuman, ciuman mulu deh. Gue risih." Ucap Cinta.
" Loe pikir gue engga risih? Ini semua awal mulanya tuh dari loe tahu."
__ADS_1
" Kok gue?" Protesnya.
" Iya lah. Coba loe engga bahas-bahas ciuman tadi pagi. Ah bukan, sekarang gue pakai kata ppoppo or kisseu? Biar gue engga sebut kata CIUMAN lagi kaya yang loe pengen."
Cinta mencebik ke arahku kemudian melemparkan bantal sofa yang ada di meja kerjanya padaku.
" Sembarangan emang kalau ngomong. Kalau loe engga curi first kiss gue juga engga bakalan panjang gini urusannya."
Aku menangkap bantal yang di lemparnya kemudian kembali ke meja kerja dan membuka laptop.
" Udah sih ngapain di bahas? Itu cuma bikin muter-muter pembahasannya. Kerjaan ini bukannya deadline besok? Ah mana gue engga bisa konsen lagi kalau perut laper gini." Keluhku kemudian menyandarkan diri di kursi, tidak jadi menyentuh pekerjaan.
Sejenak kemudian laptop kututup dan ku bawa.
" Gue mau ngerjain ini sambil makan, loe mau ikut engga?" Ajakku kemudian berjalan pergi dan berhenti tepat di depan Cinta.
" Ayo buruan kalau mau ikut. "
Cinta kulihat ragu-ragu untuk ikut denganku.
" Terserah loe sih kalau loe mau di cecer sama temen-temen yang lain. Kalau loe sama gue, gue rasa mereka sekarang bakal segan sama gue. Minimal mereka engga akan nanya kalau loe ada di deket gue." Ujarku yang langsung meninggalkannya.
Aku membuka pintu ruangan dan benar saja semuanya mengangguk segan padaku. Ah kalau kaya gini apa bedanya Aidan dan AK? Sekarang semua karakter yang aku mainkan dalam kehidupan selalu berakhir dengan menjadi pusat perhatian orang.
" Aidan tunggu."
Akhirnya Cinta memutuskan untuk mengikutiku. Dia berjalan menyejajariku tanpa menoleh pada yang lain. Ya memang sih biasanya Cinta tak pernah perduli sekitar kecuali dia di sapa duluan atau memang sudah ada rencana untuk berbicara pada seseorang, baru dia akan perduli dengan sekitar. Tapi saat ini cueknya terlihat tidak natural.
Cinta kulihat membawa berkas yang tadi lupa kubawa. Dia membuka dokumen dan berhenti tiba-tiba. Aku mau tidak mau mengikutinya berhenti. Lebih tepatnya penasaran.
" Ji Eun_ssi?" Panggilnya.
" Ne, Seonbaenim." Jawab Ji Eun yang menurutku terlihat agak ketakutan. Mungkin karena tadi pagi dia berbicara terlalu santai padaku dan saat ini aku membuat batasan pada staff yang lain. Aku menertawai perbuatanku sendiri dalam hati.
" Saya sudah kirim kamu email tentang proyek baru. Saya dengan Aidan akan menghandle desainnya. Kamu kerjakan sisanya. Deadlinenya besok sebelum makan siang." Perintah Cinta.
" Ne seonbae."
__ADS_1
Aku dan Cinta akhirnya pergi meninggalkan ruangan humas di ikuti pandangan teman-teman staff. Aku yakin mereka akan bergunjing setelah ini.
...___ bersambung ___...