BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 30


__ADS_3

" Aidan Kim?"


" Kamu Aidan Kim putra Kim Do Hyun?"


" Ddd..dari mana tante tahu nama appa ku?"


Wanita itu memegang kedua pipiku kemudian matanya berkaca-kaca memandangiku.


" Ttt.. Tante kenapa?"


" Aidan putraku."


Wanita ini menghambur ke dalam pelukanku. Aku sangat terkejut dengan apa yang di lakukan ibunya Rama, tapi lebih membuatku terkejut lagi mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan wanita ini sebelum memelukku. Apakah wanita ini benar-benar mengatakan bahwa aku putranya?


Wanita ini mengeratkan pelukannya padaku. Mengusap-usap rambut dan punggungku. Badannya bergetar, isakan terdengar darinya sementara aku hanya terdiam dengan kedua tangan mengambang di udara.


" Aidan? Ini eomma nak." Ucapnya terisak.


Meski tadi sudah mendengarnya tapi mendengar untuk kedua kalinya malah membuatku tidak percaya. Ada gelenyar aneh di dalam hati. Pelan-pelan tanganku turun untuk membalas pelukan wanita yang mengaku eomma ini.


" Aidan? Eomma sangat merindukanmu dan juga Jonathan. Maafin eomma sayang."


Perlahan air mata keluar membasahi pipi. Aku sampai menyembunyikan wajahku diantara bahu dan leher eomma.


" Eomma..." Aku hanya mampu menyebut eomma tanpa ada sepatah kata yang lain.


" Hem? Putra kecil eomma sudah dewasa sekarang, bahkan eomma sampai tidak bisa mengenali putra eomma sendiri. Kamu tumbuh menjadi pria yang sempurna sayang. Maafin eomma yang sudah tega meninggalkan kalian."


Aku tidak mampu menjawab apapun perkataan eomma. Aku hanya semakin erat memeluknya, melepaskan kerinduanku pada sosok eomma yang bahkan tidak bisa kuingat rasanya.


" Aidan? Tante?"


Suara Cinta tiba-tiba mengejutkan kami berdua. Aku dan eomma sama-sama melepaskan pelukan kami.


" Kalian.. Kenapa berpelukan?" Tanya Cinta terlihat bingung. Dia diam berdiri di tempatnya.


Aku menoleh ke arahnya dengan air mata yang masih menggenang.


" Kamu kenapa nangis Aidan? Tante juga. Ada apa dengan kalian berdua?" Cinta nampak bingung dengan keadaan kami.


" Cinta.. Mamanya Rama... Dia.. Dia eommaku." Ucapku terbata-bata.


Cinta membulatkan matanya seakan tidak percaya. Aku paham karena aku pun masih belum percaya bahwa eommanya Rama adalah juga eommaku. Bagaimana bisa?


" Eom.. Eomma kamu? Tante Liana? Maksudnya gimana?" Tanya Cinta yang sangat terlihat jelas kebingungan di matanya.


" Tante? Ini maksudnya gimana?" Tanya Cinta lagi pada eomma.


" Iya Cinta, Aidan adalah putra tante. Putra kandung tante." Ucap eomma sambil memegang tanganku. Aku menoleh padanya.


" Aku juga baru tahu hari ini Cinta, jadi... Aku minta waktu untuk bicara sama eomma dulu ya?" Ucapku meminta ijin pada Cinta.


" Eomma siapa? "


Tiba-tiba Rama muncul dari belakang. Dia menarik lengan eomma yang memegang tanganku.


" Aidan siapanya mama?" Tanya Rama pada eomma dengan nada yang kurang bersahabat.


" Rama?" Kulihat eomma terkejut melihat kedatangan Rama.


" Rama? Aidan adalah anak kandung..."


" Rama adalah satu-satunya anak mama." Potong Rama yang membuat eomma terkejut.


" Rama tapi Aidan ini....."


" Siapapun dia, mama udah memilih meninggalkannya dan menjadi mama untuk Rama. Jadi mama udah engga punya hak lagi ngakuin dia sebagai anak." Ujar Rama yang membuat kami semua terkejut.


" Maksud loe apa Rama?" Tanyaku agak kesal.


" Maksud gue loe jangan pernah berharap bisa menjadi anak nyokap gue."


" Tapi gue memang anaknya." Jawabku tak terima.

__ADS_1


" Loe tuh cuma anak yang di buang."


" RAMA JAGA BICARAMU!" Eomma menegur keras Rama.


" Jadi mama bela dia?"


" Bb..bukan gitu Rama, mama.."


" AH UDAH LAH."


Rama pergi meninggalkan apartemen Cinta.


" Sebentar ya nak." Eomma bersiap mengejar Rama tapi aku dengan sigap menahan lengannya.


Eomma menoleh ke arahku. Aku memberikan pandangan memohon agar eomma tidak pergi mengejar Rama.


" Eomma?" Mataku mulai berkaca-kaca.


" Jangan pergi." Ucapku memohon.


Mata eomma ikut berkaca-kaca, aku yakin eomma akan memilih tinggal sesuai permintaanku tapi.... tapi tiba-tiba saja eomma menepis pelan tanganku di lengannya.


" Maafin eomma Aidan."


Eomma langsung pergi meninggalkanku. Buliran bening yang tadi hanya menggenang di pelupuk mata kini pelan-pelan terjatuh. Aku hanya bisa melihat punggung eomma yang tak lama menghilang.


Aku kembali di tinggalkan. Meski aku tidak ingat bagaimana eomma meninggalkan kami dulu tapi sungguh ini sangat membuatku sakit.


Aku sekuat tenaga menahan rasa sesak di dada. Aku menunduk dan beberapa tetes air mata jatuh tanpa bisa di cegah.


Cinta menghampiriku kemudian menepuk-nepuk lembut bahuku. Aku menoleh ke arahnya kemudian dia merengkuhku dalam pelukannya tanpa bertanya apapun.


"Kenapa Cinta? Kenapa eomma ninggalin aku lagi?" Aku menangis di pelukan Cinta sementara Cinta menepuk-nepuk punggung untuk menenangkanku tanpa bicara sepatah katapun. Aku tahu Cinta tidak mengerti apa yang terjadi. Dia hanya berusaha sebisa mungkin untuk membuatku tenang.


Setelah tenang aku duduk di sofa sambil terus menunduk sementara Cinta masih setia menunggu di sampingku. Tak berapa lama Cinta beranjak dan kembali dengan segelas air di tangannya.


" Minum dulu Aidan." Ucapnya sambil menyodorkan segelas minuman itu. Aku segera mengambilnya dan meneguknya sedikit.


" Udah bisa ceritain sama aku apa yang terjadi?" Tanya Cinta lembut padaku.


" Bukan aku engga mau, aku juga engga ngerti apa yang sebenarnya terjadi. Saat itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti bahwa eomma meninggalkan aku, Jona hyung dan appa. Dan sekarang aku bisa merasakan bagaimana perasaan hyung dan appa saat eomma meninggalkan kami."


" Jadi tante Liana emang bener eomma kamu?" Tanya Cinta hati-hati.


" Aku juga engga yakin. Aku engga terlalu ingat wajah eomma. Aku mengenalinya pun karena hyung memaksaku untuk menyimpan foto terakhir eomma yang kami miliki sebelum semuanya di buang appa."


Aku menghela napas kasar.


" Tapi memang lebih baik aku tidak bertemu dengan wanita itu. Bahkan sudah di depan matanya pun wanita itu masih memilih meninggalkanku untuk anaknya yang lain. Padahal aku juga anaknya yang sudah lebih dari 20 tahun tidak bertemu."


Aku mengungkapkan rasa marahku pada eomma yang kembali ku sebut dengan panggilan wanita itu.


Cinta mengelus lembut pundakku tanpa merespon. Aku menoleh padanya kemudian memaksa menarik senyum kecil.


" Makasih untuk engga ngomentarin apa- apa." Ucapku dan Cinta pun membalas dengan tersenyum.


Aku melihat jam tangan dan tak terasa jam sudah melewati tengah malam bahkan hari pun sudah berganti.


" Aku kayanya udah harus pulang." pamitku pada Cinta kemudian berdiri. Cinta memegangi tanganku, mencegahku untuk pergi.


" Jangan pulang Aidan, menginaplah." Ucap Cinta.


Aku otomatis mengernyitkan dahi merasa bingung dengan ajakan menginap dari Cinta.


" Hei kenapa tiba-tiba minta aku menginap?"


Cinta berdiri kemudian memeluk pinggangku.


" Jangan pulang dalam suasana hati yang seperti ini. Aku khawatir. Stay di sini aja. Kamu bisa pulang besok, ah nanti siang aja maksudnya."


Aku malah jadi mengulum senyum dengan perlakuan Cinta.


" Tadi aja aku minta nginep engga boleh, sekarang mau pulang malah di tahan."

__ADS_1


Cinta menengadahkan kepalanya tanpa melepas rangkulannya.


" Ya bukan gitu, aku khawatir kalau kamu pulang...."


CUP.


" Arrasseo. Aku stay di sini demi pacarku yang cantik ini."


Aku mengecupnya sekilas karena gemas kemudian membalas pelukan Cinta. Sekejap aku melupakan emosiku pada eomma.


Cinta terlihat terkejut kemudian mencubit kecil pinggangku.


" Ih iseng banget kecup-kecup."


" Aaa..aww.. Sakit... "


Aku meringis menahan cubitan Cinta. Dia melepaskan pelukannya setelah itu dia berjalan ke arah dapur.


" Kamu mau kemana?" Tanyaku pada Cinta yang kemudian membuka kabinet dapur dan mengambil sebungkus ramyeon dan panci kecil.


" Aku laper." Ucapnya yang kemudian menatap ke arahku.


" Ramyeon meokgo gallae?" Tanya Cinta.


Aku terkejut dengan pertanyaan Cinta. Aku langsung berjalan menghampirinya yang tengah menuang air ke dalam panci. Aku memeluknya dari belakang dan Cinta terkejut.


" Aidan apa sih? Lepasin, aku mau masak ramyeon."


Bukannya melepaskan pelukanku, aku malah melepaskan panci dari tangan Cinta. Ku letakkan sembarang panci itu. Ku eratkan pelukanku padanya kemudian wajahku kubenamkan di ceruk lehernya.


" Aidan lepasin. Kamu ngapain sih? geli tahu."


" Kamu bukan engga tahu apa arti ramyeon meokgo gallae kan sayang?" Tanyaku padanya tanpa memindahkan posisi wajahku dari lehernya.


" Ya....  Aku nanya kamu mau makan ramyeon apa engga? Bener kan nanyanya gitu?"


" Kamu tahu arti lain dari ajakan itu kan?" Tanyaku lebih kepada mendesah di telinganya. Aku menyusuri setiap inci telinga dan leher sebelah kanannya.


" Aidan geli, lepasin." Protes Cinta yang tak kuhiraukan.


Kubalikkan tubuhnya kemudian ku cium lembut bibirnya. Awalnya Cinta menolak. Dia terus mendorongku tapi aku kemudian menahan wajahnya dengan kedua tanganku. Ku lepaskan sebentar untuk menatapnya.


" Kamu milikku Cinta." Ucapku kemudian kembali menciumnya. Kali ini Cinta menyambut ciumanku. Dia bahkan terkesan lebih dominan kali ini. Dia melumati bibirku sampai aku hampir kehabisan napas. Di lepaskannya sebentar saat menyadari aku kehabisan napas.


" Kamu liar banget baby." Ucapku.


" Bukankah kamu bilang aku milikmu?" Tanya Cinta yang membuatku tersenyum nakal. Otakku sudah sangat kotor. Apakah Cinta menginginkan bercinta denganku?


Aku menggendong tubuh Cinta ke atas meja. Ku dekatkan wajahku dengan wajahnya, matanya terpejam. Aku mengartikan bahwa Cinta menyetujui apa yang akan ku lakukan padanya.


Kucoba mencium sekilas lehernya untuk memastikan dan Cinta langsung menengadahkan kepalanya memberikan akses padaku.


Merasa mendapat lampu hijau, kembali ku ciumi lehernya dan bergerak ke bawah. Ku buka kancing kemejanya satu persatu hingga terbuka seluruhnya. Ku buka kemejanya dan kulemparkan sembarang.


Saat ini Cinta hanya memakai tanktop dengan tali kecil yang menurutku jadi terlihat seksi. Ku kecup pundak telanjangnya kemudian bergerak ke tengah dan berhenti tepat di tengah-tengah dadanya. Kutarik wajahku dari sana kemudian kembali menatap wajahnya yang memerah. Mungkinkah dia menahan nafsu?


Aku terdiam sambil memandanginya. Aku berpikir sekilas kemudian melepas jaketku dan memakaikannya pada tubuh Cinta. Merasakan hal itu dia membuka matanya dan menatapku penuh tanda tanya.


Aku tersenyum manis padanya.


" Kamu terlalu berharga untuk ku rusak sayang."


Cinta menarik senyum paksa. Mungkin dia malu dengan kata-kataku.


Aku menariknya dalam pelukanku.


" Kamu cantik sayang. Bohong kalau aku bilang engga bernafsu sama kamu. Tapi aku mau kita melakukannya setelah kamu benar-benar yakin sama aku. Atau aku ingin kita melakukannya setelah menikah saja." Ucapku lembut padanya.


Cinta mengeratkan pelukannya padaku.


" Makasih Aidan. Aku cinta sama kamu."


Mendengarnya mengatakan cinta membuat hatiku berbunga-bunga.

__ADS_1


" Aku juga cinta sama kamu." Jawabku semakin mengeratkan pelukanku padanya.


...___bersambung___...


__ADS_2