BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 28


__ADS_3

Pagi buta aku sudah terbangun. Aku menggeliat kemudian mengulum senyum saat mengingat kejadian semalam. Benarkah aku sudah resmi berpacaran dengan Cinta?


" Ahhhhhh.. Beneran engga sih ini?" Aku mencubit pipiku dan terasa sakit. Berarti ini bukan mimpi. Cinta memang nyata sudah menjadi milikku.


Aku mengguling gulingkan badan di tempat tidur. Kujelajahi seluruh sisi tempat tidur bahkan aku kemudian berdiri dan melompat-lompat seperti anak kecil.


Ku nyalakan tv karena bingung harus berbuat apa. Kulihat jam ternyata sekarang baru pukul 5 pagi. Masih terlalu pagi untuk bersiap ke kantor. Ah rasanya aku sudah tidak sabar bertemu dengan Cinta.


Aku mengambil ponsel, mengecek barangkali ada pesan dari Cinta. Ku buka ponsel ternyata ada beberapa pesan masuk semalam yang ternyata dari Renata.


* Kak Aidan udah tidur?


* Kak? Aku baper sama ciuman kita kemarin waktu Kak Aidan mabuk.


" MWO? Ciuman apaan?" Ujarku terkejut membaca pesan dari Renata bahkan aku sampai melempar ponselku ke kasur.


Aku mengambil ponselku lagi dan kembali membaca pesan Renata dan memang tidak ada yang berubah dari pesan itu. Aku memang tidak salah membaca. Tapi kenapa isinya seperti itu? Kapan aku berciuman dengan Renata?


Kubaca pesan selanjutnya yang belum sempat terbuka.


* Aku tahu kak Aidan mabuk saat itu, tapi aku engga bisa nolak ciuman kakak. Aku suka sama Kak Aidan.


* Aku udah suka kak Aidan sejak dulu. Aku mengubah penampilan dan kepribadianku sejujurnya juga karena jawaban kak Aidan tentang tipe ideal kakak yang orangnya supel dan pandai bergaul.


* Aku juga udah mikirin ini sebelum kirim pesan sama kak Aidan. Setelah denger ocehan kak Aidan saat mabuk kemarin yang bilang bahwa kakak dan kak Cinta cuma pacaran bohongan dan kak Aidan di tolak saat menyatakan perasaan kakak sama kak Cinta. Bisa engga kak Aidan kasih aku kesempatan untuk kita dekat? Lebih dari sekedar kakak adik. Aku cinta sama Kak Aidan.


" IGE MWOYA? (*APAAN INI?)" Aku menganga saking terkejutnya dengan semua pesan dari Renata.


" Belum juga sehari gue sama Cinta jadian tapi udah dapet cobaan kaya gini. Gue harus jelasin gimana sama Cinta?" monologku dengan resah. Aku bahkan tidak ingat dengan ciuman yang dikatakan oleh Renata.


...***...


Aku berangkat ke kantor masih dengan gelisah. Jujur saja aku takut jika Renata datang menemuiku untuk mempertanyakan ciuman yang bahkan aku tidak ingat. Apalagi jika Cinta sampai tahu. Bisa mati aku. Aku tidak ingin kehilangan Cinta yang bahkan baru saja kumiliki.


Sejak dari parkiran aku sudah mulai khawatir. Aku sengaja tidak langsung naik ke lantai 4 melainkan berjalan ke lobby. Aku memperhatikan situasi dengan was-was barangkali Renata tiba-tiba datang dari luar gedung. Syukurlah ternyata tidak ada tanda-tanda wanita itu datang ke sini. Bukannya aku ingin menjadi pecundang dengan tidak bertanggung jawab atas apa yang kulakukan tapi aku bahkan tidak ingat melakukan hal itu pada Renata. Lagipula aku juga tidak ingin sampai melukai hati wanita yang sangat ku cintai, Cinta Maharani.


Aku segera menemui noona resepsionis dan berpesan padanya.


" Noona?" Panggilku.


" Ah ne Aidan-ssi? Waeyo?" Tanyanya heran karena aku selalu menyapu pandangan ke segala arah selagi berbicara dengannya.


" Kalau ada yang cari saya, tolong katakan saya tidak ada di kantor yah? Bilang saja saya tugas di luar."


" Perempuan atau laki-laki yang cari?" Tanya noona resepsionis.


" Siapapun." Jawabku.


Noona resepsionis tampak bingung, dia mengernyitkan dahinya. Aku tersenyum pada noona resepsionis itu.


" Tolong yah noona." Ujarku memohon sambil mengatupkan kedua tanganku di depan.


" Ah ne. Arasseoyo." Balas noona itu sambil tersenyum kaku.


" Thank you noona. Saya duluan ke atas yah."


Aku langsung meninggalkan noona resepsionis dan segera naik ke lantai 4 tempat dimana divisi humas berada.


Aku masuk ke ruang kerja dan ku dapati kekasihku sudah ada di dalam. Dia menoleh sambil tersenyum.


" Joeun achim." Sapanya manis sekali.


" Ne, Joeun achim chagiya." Aku menghampirinya dan berdiri di dekatnya sambil merentangkan kedua tangan bermaksud supaya Cinta memelukku.


" Ya mwohae?" Ujar Cinta sambil mengulum senyum, aku tahu dia menggodaku.


" Hei kamu engga mau sambut mas pacar yang ganteng ini nih?" Tanyaku gemas.


Cinta menggelengkan kepalanya.


" Oke fine. " Aku mengangkat tubuh Cinta agar berdiri. Kemudian kami saling berhadapan.


" Yakin engga mau peluk aku?" Tanyaku sekali lagi sambil menatap wajahnya.


" Engga." Jawabnya tegas.


Cup.


Aku langsung saja mengecup bibirnya karena gemas.


" Ih apa sih main kecup-kecup gitu aja." protes Cinta atas perbuatanku.


" Ya lagian di suruh peluk aja jual mahal." Jawabku sambil memanyunkan bibir.


" Siapa yang jual mahal?" Ujarnya sambil memegang kedua pipiku kemudian berjinjit. Tanpa aba-aba dia mengecup bibirku. Bukan mengecup tapi lebih dari itu. Cinta langsung memagut bibir atas dan bawahku bergantian. Dan saat aku ingin membalasnya, Cinta malah melepaskan pagutannya.


" Aku engga jual mahal kan?" Ucapnya seperti mempermainkanku. Dia kemudian membelakangiku dan bersiap kembali ke tempat duduknya. Sebelum Cinta kembali duduk aku menarik dan merengkuhnya dari belakang.


" Aidan lepasin ih, ini di kantor nanti ada yang masuk." Protes Cinta padaku.


Aku bukannya melepaskannya malah menaruh daguku di bahu Cinta.


" Kamu yang mancing-mancing juga." Ucapku yang kemudian mengendus-endus belakang telinganya.


" Aidan geli tahu." Ucap Cinta menyingkirkan wajahku dengan tangannya tapi aku selalu kembali lagi ke belakang telinganya bahkan saat ini aku menciumi rambutnya.


" Rambut kamu wangi." Ucapku.


Cinta masih mencoba membebaskan diri sedangkan aku malah semakin mengeratkan pelukan.


" Aidan?" 


Seseorang membuka pintu mengejutkanku dan Cinta.


" Wooooo. My eyes." Pekik orang itu kembali menutup pintu.


Aku langsung melepaskan pelukanku dan menoleh ke pintu.


" Siapa?" Teriakku.


" Appa." Jawabnya dari luar.


Cinta menutup mulutnya yang menganga karena terkejut. Cinta kemudian memukul lenganku.


" Aww sakit sayang." Pekikku.


" Sstttt. Jangan kenceng-kenceng. Lagian kamu tuh udah di bilangin nanti ada yang masuk juga." Omelnya padaku tanpa mengeraskan suaranya.


" Ya gapapa sih, itu kan cuman Appa." Jawabku.


" Justru karena itu appa, aku kan jadi malu." Ujarnya manyun dan kembali memukulku.


" Aw. Jangan mukul dong." Protesku.


" Kalian udah selesai belum mesra-mesraannya?" Tanya Appa dari luar. Untung saja appa memakai bahasa Indonesia jadi teman-teman staff humas yang lain tidak mengerti apa yang di katakan appa.


Cinta menyingkirkanku dan berjalan untuk membuka pintu.


" Sajangnim, masuklah." Ujar Cinta di ikuti tatapan julid beberapa staff humas yang sudah datang.


Appa masuk ke dalam ruangan kemudian duduk di sofa tanpa menunggu di persilahkan lebih dulu.

__ADS_1


" Maafin appa ya sayang, appa ganggu kalian lagi mesra-mesraan yah?" Ucap appa pada Cinta.


Wajah Cinta kulihat memerah.


" Appa ngapain sih ngomong gitu? Cintanya jadi malu tahu. Dia bahkan sampai pukul Aidan loh tadi." Ucapku menegur appa.


" Ih kamu tukang ngadu." Protes Cinta padaku.


" Biarin wlee." Aku membalas menggoda Cinta.


" Ya lagian kalian masih pagi udah peluk-pelukan gitu." Ujar appa sambil mengulum senyum melihat tingkah anak dan calon anak mantunya.


" Iya tuh appa, Aidan pagi-pagi udah main peluk-peluk Cinta gitu aja." Ujar Cinta kembali ngadu.


" Ya kamu lebih parah pagi-pagi udah main cium aku. Mana bernafsu banget lagi." Godaku.


" Hei engga yah. Bohong appa. Cinta engga bernafsu kok." Elak Cinta.


" Tuh kan appa, Cinta engga ngelak kalau dia emang cium Aidan kan?"


" Issshh.. " Cinta melemparkan bantal sofa di sebelah appa padaku.


" Tuh appa, calon mantu appa galak banget sama Aidan loh." Aduku pada appa yang membuat Cinta mengurungkan niat melempariku dengan bantal lagi.


" Hei kalian. Kalian lagi pamer kemesraan di depan appa?" Tegur appa.


Aku dan Cinta terdiam dan menoleh pada appa.


" Appa ini single loh, kalian tega-teganya ngomongin peluk cium di depan appa." Sambung appa memprotes kelakuan kami.


" Hehe. Maaf appa." Ucapku.


Kulihat Cinta terdiam kemudian membungkuk meminta maaf pada appa. Mungkin Cinta merasa tidak enak pada appa.


" Mianhada appa." ucap Cinta.


" Hei sayang. Appa bercanda. Appa seneng kok lihat kalian saling mesra gini. Appa jadi engga sabar melihat kalian segera menikah. "


" Menikah?" Tanyaku.


" Iya lah menikah. Kenapa? Jangan bilang kamu engga mau nikahin Cinta yah?"


" Ih siapa bilang? Main nuduh aja. Sekarang juga kalau Cintanya mau, Aidan siap nikahin." Ujarku.


" Ya engga gitu juga konsepnya Aidan." Appa ikut memukulku memakai bantal sofa yang ada di belakangnya.


" Ish kenapa sih Aidan selalu jadi sasaran pukul? Engga noona, Cinta sekarang appa pula." Protesku.


" Ya karena tingkahmu bikin orang pengen mukul." Jawab appa.


" Oh iya ngomong-ngomong apakah Cinta sudah siap menikah?" Tanya appa tiba-tiba pada Cinta.


" Eoh?" Cinta terkejut mendengar pertanyaan appa. Dia menggaruk-garuk tengkuknya bingung.


" YAK APPA? Harusnya Aidan yang nanya bukan appa." protesku keras.


" Lah kan appa mewakili kamu." Appa menjawab tak kalah sengit.


" Aidan mau ngelamar sendiri bukan di lamarin sama appa. Jangan di jawab sekarang sayang. Jawabnya kalau aku aja yang nanya." Ujarku pada Cinta.


" Ya ampun appa salah mulu sih. Oh iya appa sampai lupa. Itu kenapa Renata ada di bawah yah?"


Aku terkejut mendengar pertanyaan appa. Aku langsung menoleh pada Cinta yang fokus dengan apa yang barusan appa katakan.


Melihat respon Cinta seperti itu, aku ketakutan sendiri. Aku menoleh pada appa bermaksud memberikan kode agar tidak melanjutkan ceritanya. Tapi yang di tatap ternyata tidak melihatku.


" Terus kenapa resepsionis bilang kalau kamu engga ada? Makanya appa ke sini mau ngecek keberadaan kamu. Ternyata kamu ada." Ucap appa yang setelah selesai bercerita baru menoleh ke arahku.


Ah sudah terlambat. Aku geregetan sendiri dengan appa. Aku sampai meringis menahan kesal pada appa.


" Unjuk gigi apa sih? Engga kok." Jawabku berusaha terlihat santai dan tersenyum manis pada Cinta.


" Terus Renatanya masih di bawah appa?" Tiba-tiba Cinta bertanya pada appa.


Ah mumpung Cinta sedang beralih pada appa dan mumpung appa juga masih melihatku, aku mengerjap-ngerjapkan mata cepat. Kugeser bola mata ke arah Cinta. Tanganku melambai kecil di pangkuan. Semoga Appa mengerti jika aku memintanya untuk merahasiakan segala sesuatu mengenai Renata.


" Entahlah appa engga tahu. Ngomong-ngomong kamu kenapa sih Aidan?"


Aaarrrggghhh. Appa nih gimana sih?


" Kenapa Aidan? Kamu nyembunyiin apa dari aku?" Cinta tiba-tiba saja bertanya padaku yang langsung membuatku gugup.


" Eng. engga, engga kok. Nyembunyiin apa sih?" Tanyaku pura-pura santai tapi malah terlihat kegugupanku.


" Kamu jangan bohong deh Aidan." Cecar Cinta.


" Wah appa kalau gini engga ikut-ikutan deh. Appa pergi dulu ya?" Ucap appa yang kemudian berjalan pergi meninggalkan kami.


Lah lah kok gini sih? Kenapa appa sudah melempar api tapi tidak mematikannya? Malah memberikan kepadaku kobaran api itu. Aku melirik kesal pada appa sampai appa berjalan melewatiku.


" Kenapa Aidan? Kamu ada apa-apa sama Renata?" Tanya Cinta padaku dingin.


" Kalau ada apa-apa antara Aidan sama Renata, kamu pukul aja Aidannya, Cinta." Ucap appa sebelum menghilang di balik pintu.


Ah appa kenapa sih malah memperkeruh suasana?


" Jawab jujur sama aku Aidan. Ada apa?" Cinta terus mencecarku.


" Tapi janji kamu engga...."


Kring.. Kring...


Suara telepon dari meja kerja Cinta memotong ucapanku. Cinta berdiri kemudian melangkah ke meja kerjanya.


" Obrolan kita belum selesai yah?" Ucapnya seperti mengancam padaku.


" Yeoboseyo?"


" Eoh. Sampaikan padaku saja."


" Oke. Nanti di sampaikan."


Cinta menutup telepon kemudian memandangku dengan pandangan marah.


" Ada apa?" Tanyaku penasaran.


" Renata masih nungguin di bawah. Ada sesuatu yang mau kamu jelasin dulu sebelum aku turun buat temuin dia?"


Jantungku berdegup kencang sekali. Rasanya seperti sedang di sidang. Aku menunduk merasa bersalah tapi tidak berani mengatakan apapun.


" Kamu yakin engga akan menyesal Aidan?" Suara Cinta mengintimidasi.


Aku tak kunjung menjawab pertanyaan Cinta.


" Oke. Aku akan tanya sendiri dengan..."


" Aku sama Renata udah berciuman." Jujurku cepat saat melihat Cinta bersiap menemui Renata. Kupikir lebih baik Cinta tahu dari mulutku daripada dari orang lain kan?


" MWO?"


" Tapi aku sama sekali engga inget apa-apa. Aku berani sumpah Cinta. Aku engga tahu kalau aku sama Renata udah berciuman. Dia bilang itu dilakuin pas aku mabuk. Sumpah demi Tuhan sayang. " Jawabku sampai membawa nama Tuhan dalam sumpahku.

__ADS_1


Cinta kembali menelpon.


" Eonni? Bisa tolong antarkan Renata ke ruangan saya saja? Bilang Aidan menunggu di ruangan."


Setelah mengatakan itu Cinta menutup teleponnya.


" Kamu kenapa panggil Renata ke sini?" Tanyaku khawatir.


" Kita selesaikan saja semuanya Aidan. Jadi aku engga menebak-nebak apakah kamu bohong atau engga." Jawab Cinta santai.


Tak berapa lama terdengar ketukan pintu.


Tok.. Tok.. Tok..


" Masuk." Ujar Cinta dengan nada yang menunjukkan wibawanya.


" Cinta-ssi, saya mengantar nona Renata."


" Suruh masuk eonni. Makasih ya." Ucap Cinta pada noona resepsionis.


Sementara Cinta terlihat santai, aku malah semakin gelisah. Terlebih saat melihat wajah Renata, aku semakin merasa tidak karuan.


" Saya kembali ke bawah Cinta-ssi." Pamit noona respsionis.


" Ne, eonni."


Setelah pintu ruangan di tutup, Cinta mempersilahkan Renata untuk duduk di sofa.


" Duduklah." Ujarnya pada Renata.


" Kamu juga duduk sayang." Ucap Cinta dengan nada yang manis.


Aku jadi bingung sendiri padahal beberapa saat yang lalu Cinta sepertinya marah padaku.


Cinta duduk di dekat Renata dan memiringkan tubuhnya ke arah Rena.


" Sini sayang duduk." Ujarnya menepuk tempat di sebelahnya namun masih dengan nada yang manis.


Aku mengikuti perintahnya saja tanpa banyak bertanya.


" Jadi untuk tujuan apa kamu datang menemui pacarku?" Tanya Cinta pada Renata.


Aku sampai menoleh padanya bahkan aku sangat terkejut ketika tanganku di ambil dan genggamnya. Di letakkannya tangan kami di paha Cinta.


" Hanya pacar bohongan kan?" Jawab Rena ketus.


" Kata siapa? Kita udah resmi berpacaran kok. Iya kan sayang?" Cinta menoleh ke arahku dan aku hanya tersenyum kaku kemudian menganggukkan kepala.


" Beneran kak? Tapi kita kan kemarin..."


" Ciuman waktu Aidan mabuk maksudnya?" Potong Cinta.


Aku sepertinya mengerti apa yang dilakukan Cinta. Dia sedang menunjukkan pada Renata bahwa aku adalah miliknya. Aku ingin tersenyum tapi kurasa ini terlalu dini. Aku juga belum yakin dengan pemikiranku barusan. Terlebih aku disini adalah terdakwanya.


" Iya. Kurasa aku juga sudah bilang sama kak Cinta." Jawab Renata.


" Bukannya gue juga udah bilang kalau Aidan mabuk dia memang selalu cium gue dan bilang mencintai gue? Gue rasa loe lupa atau memang sengaja tidak ingin tahu tentang itu?"


" Tapi pada saat itu kak Aidan cium aku dan sebut namaku bukan nama kak Cinta." Jawab Renata sengit.


Berada di antara dua wanita yang sedang memperebutkanku bukanlah sebuah kebanggaan bagiku. Yang ada aku tambah pusing.


" Memang ada bukti Aidan cium kamu? Aidannya aja engga inget." Cinta terlihat tidak mau kalah.


" Tapi aku engga bohong, kita emang berciuman."


" Seperti apa?" Tanya Cinta.


Cup.


Cinta mengejutkanku dengan mengecup bibirku sekilas di depan Renata.


" Kecupan seperti ini?"


Kulihat Renata terkejut dengan perlakuan Cinta padaku.


" Atau ciuman seperti ini?"


Cinta melumati bibirku di depan Renata sampai Rena memalingkan wajahnya dari kami.


Mataku membulat sempurna karena kelakuan Cinta.


Cinta melepaskan pagutannya saat Rena memalingkan wajah.


Aku mengulum senyum setelahnya. Aku merasa bangga bahwa Cinta sekarang sedang mempertahankanku sekaligus membuat Renata mundur. Ah wanitaku ini sungguh luar biasa.


" Yang seperti apa tipe ciumannya?" Tanya Cinta pada Renata.


Renata menoleh tajam pada Cinta. Ah kenapa aku rasa peperangan baru saja akan dimulai yah?


" Apa aku harus mempraktekkannya dengan Kak Aidan?" Tanya Renata bangkit kemudian mendekatiku.


Aku reflek mundur karena takut dengan apa yang akan di lakukan Renata terhadapku. Bukankah aku terlihat seperti orang bodoh sekarang? Aku bahkan tidak bisa membela diri di depan Renata dan juga Cinta. Masa iya aku harus menerima saja perlakuan dua wanita yang sama-sama sedang marah denganku?


" STOP YAH." Bentakku untuk menghentikan aksi konyol mereka berdua.


" Kalian pikir gue apa di jadiin bahan praktek kalian? Gue engga keberatan dengan Cinta karena gue emang pacarnya. Dia berhak cium gue tapi loe Rena, gue rasa loe jangan keterlaluan." Ujarku akhirnya mengeluarkan pendapat.


" Tapi kakak juga keterlaluan udah cium aku saat mabuk."


" Oke gue minta maaf untuk itu meskipun gue sama sekali engga mengingat apapun tentang semua yang loe bilang. Tapi pada saat itu loe berusaha menolak gue atau engga?"


Renata diam saja tidak menjawab pertanyaanku.


" Aku rasa engga karena aku juga lihat dia sama sekali engga nolak saat kamu mengendus lehernya." Ucap Cinta yang langsung membuatku shock. Aku menoleh cepat pada Cinta.


" Kka.. Kkamu lihat apa?" Tanyaku gugup.


" Iya aku lihat kamu lagi menciumi leher Renata. Kenapa? Kamu kaget? Merasa bersalah?" Ucap Cinta enteng sedangkan aku malah benar jadi merasa bersalah.


" Jadi Renata? Sepertinya loe salah paham sama Aidan. Gue udah bilang kan Aidan itu milik gue. Dan kedepannya gue akan menikahi dia. Jadi gue harap loe engga deketin cowo gue lagi." Ucap Cinta dengan nada yang sudah lebih lembut dari yang tadi.


" Sorry Rena. Tapi sejak awal gue emang anggep loe sebagai adik gue dan engga pernah lebih dari itu. Gue juga minta maaf atas ciuman yang engga bisa gue inget itu. Yang jelas gue minta maaf atas perlakuan buruk gue sama loe pada saat mabuk kemarin. Dan benar sekarang Cinta udah resmi jadi pacar gue, dan gue bahagia sama dia. Gue harap loe engga mengharapkan gue lagi. Loe bisa dapetin orang yang lebih baik dari gue dan juga mencintai loe." Jelasku menyambung omongan Cinta.


Mata Rena berkaca-kaca, dia segera mengelap air matanya cepat setelah salah satunya jatuh ke pipi. Aku tidak tega sebenarnya tapi bukankah ini yang terbaik?


Setelah Renata pergi, Cinta kembali duduk di sofa. Aku ikut duduk di sampingnya.


" Kok manyun?" Tanyaku.


" Aku kaya tadi bukan berarti engga marah." Ucap Cinta.


" Iya aku minta maaf sayang. Aku juga berterima kasih kamu udah belain aku di depan Rena. Ya walaupun aku kaget juga kamu tiba-tiba cium aku tanpa persiapan. Tahu gitu aku tadi bales ciuman kamu. hehe." Candaku untuk membuat suasana lebih rileks.


" Hisshh." Cinta memukulkan bantal sofa padaku.


" Nanti malem kita ngedate, mau?" Ajakku berharap suasana hati Cinta membaik.


Dia menganggukkan kepalanya tanda setuju. Akupun mencium jemari tangannya kemudian menarik kepala Cinta ke bahuku. Ku kecup sekilas dahinya.


" Saranghae Cinta. Manhi."

__ADS_1


...___ bersambung___...


...Semoga cerita hari ini masih seru yah buat kalian. Makasih untuk yang masih stay sampai sekarang. Jangan lupa untuk selalu vote ya?...


__ADS_2