BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 35


__ADS_3

Aku terbangun tiba-tiba. Kuraba nakas untuk mencari ponsel. Kulihat masih pukul 2.30 dini hari. Ku letakkan kembali ponsel tapi kemudian tenggorokanku terasa kering. Aku langsung bangun dan duduk di tepian ranjang. Aku terkejut saat mencari sendal di bawah, kakiku mengenai sesuatu. Aku langsung menarik naik kakiku ke atas. Kulihat di bawah seseorang sedang meringkuk di lantai. Dan tambah terkejut lagi ketika tahu bahwa orang itu adalah Cinta, kekasihku.


Aku langsung turun ke bawah membangunkannya.


" Cinta? " Panggilku sambil menepuk lembut tubuhnya.


" Hemm." Cinta menjawab malas dan mencoba membuka matanya.


" Sayang? Kamu kenapa tidur di sini?"


Pelan-pelan Cinta bangun dan duduk.


" Kamu kenapa tidur di bawah?" Tanyaku lagi saat Cinta sudah sepenuhnya sadar.


" Appa suruh aku tidur di kamar kamu. Ya kali kita tidur bareng kan? Appa aneh sih."


Aku mengulum senyum mendengar jawabannya.


" Kalau appa suruh kamu tidur di kamar ini berarti kamu harus tidur di tempat tidur yang sama sama aku."


" Itu sih mau kamu." Jawabnya.


Aku langsung tertawa geli mendengar jawaban Cinta.


" Ya mau dong. Kamu tuh kaya baru kali ini aja satu ranjang sama aku. Semalem kita juga kan tidur di ranjang yang sama dan tidak terjadi apa-apa."


" Bukan tidak terjadi tapi hampir terjadi kan?"


" Hahaha. Iya baru hampir. Kalau mau di jadiin sekarang ayo." Godaku padanya.


" Ish." Cinta mencebik.


" Udah naik ke atas aja. Aku janji kita engga ngapa-ngapain selain tidur."


" Janji ya?" Cinta bertanya sekali lagi untuk meyakinkan diri.


" Iya sayang janji." Ucapku mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan.


Cinta pun pindah ke tempat tidurku kemudian berbaring menyamping.


" Terus kamu mau kemana?" Tanyanya padaku.


" Aku mau ambil minum. Kamu mau?"


Cinta menggelengkan kepalanya.


" Kamu lapar engga? Aku lupa kita belum makan malam kan?"


" Aku engga laper sih."


" Tapikan kamu belum makan sayang. Mmmm ( berpikir sejenak ) Ramyeon meokgo gallae?" Godaku sambil mengulum senyum.


Cinta langsung melotot ke arahku.


" Kamu ngeledek?"


" Eh siapa yang ngeledek? Aku cuma tawarin kamu ramyeon kok. Kamu juga pernah nanya kaya gini kan ke aku?" Kilahku sambil menahan tawa.


" Udah sana ah, aku ngantuk." Ucap Cinta menutupi wajahnya dengan bantal kemudian memiringkan badannya ke arah sebaliknya. Dia memunggungiku kesal. Aku bukannya khawatir malah tersenyum geli dengan tingkahnya.


Sekitar lima menit berlalu, aku kembali ke kamar. Ku bawakan satu botol air untuk jaga-jaga barangkali Cinta juga ingin minum. Ku rebahkan diriku di belakang Cinta, di sisi tersempit dari ranjang.


" Kamu kenapa rebahannya di belakang sih? Kan di depanku bisa." Ucap Cinta kesal tapi tetap menggeser tubuhnya memberikanku ruang untuk berbaring. Kupeluk tubuhnya dari belakang.


" Apa sih? Kan tadi janji cuma tidur aja." Protes Cinta sambil menghempaskan tanganku yang melingkar di perutnya.


" Kan ini cuma peluk. Emangnya tidur sambil meluk bukan tidur namanya?" Ucapku beralasan.


" Ish kamu tuh bisa aja jawabnya. Nanti kalau appa buka pintu gimana?" Tanyanya.


" Ya engga mungkin lah sayang. Kan appa sendiri yang suruh kamu tidur sama aku kan? Kan?" Ucapku kemudian kembali melingkarkan tanganku di tubuhnya, malah sekarang kutambah lagi dengan menciumi lembut ceruk lehernya.


Cinta menepis tanganku kemudian menggulingkan tubuhnya ke sisi yang kosong dari tempat tidur. Dia menjauhiku dan menghadapkan tubuhnya ke arahku.


" Stop di situ!" Ujarnya yang melihatku berusaha mengikutinya.


Aku memanyunkan bibir kesal dengan perintahnya tapi tetap ku turuti juga untuk tetap diam.


" Aidan?" Panggilnya setelah beberapa lama kita hanya berdiam diri dalam kesunyian.


" Eoh?"


" Kira-kira kamu akan memaafkan eomma engga?"


" Aku engga mau bahas tentang eomma, Cinta." Tolakku.


" Tapi kasian appa, Aidan."

__ADS_1


Aku diam saja tidak ingin merespon perkataan Cinta.


" Cinta? Boleh aku tanya?"


Cinta menganggukkan kepalanya.


" Tanya aja."


" Apa Rama adalah anak kandung tante Liana?"


Tiba-tiba saja pertanyaan itu terlintas di benakku. Mengingat aku dan Rama tidak berbeda jauh umurnya, bahkan bisa di bilang seumuran. Bukankah seharusnya Rama bukan anak kandung eomma? Karena eomma meninggalkanku di saat usiaku sudah enam tahun.


" Aku engga tahu. Aku kenal Rama juga pas udah SMA. Dan aku cuma kenal ibunya aja yaitu Tante Liana. Itupun karena beliau sering berinteraksi dengan Rama. Ayahnya aku engga pernah ketemu, yang jelas Rama adalah putra dari keluarga konglomerat. Ayahnya memiliki perusahaan tambang." Jabarnya panjang lebar.


" Emang kenapa kamu tanya kaya gitu?" Sambung Cinta.


" Engga. Aku cuma penasaran aja."


" Kalau gitu kenapa engga kamu tanyakan langsung aja sama eomma?"


Aku menggelengkan kepala cepat tanda tidak menyetujui saran Cinta.


" Wae?"


" Geunnyang."


Aku terdiam sambil memandangi wajah Cinta. Ku ulurkan tanganku untuk memegangi pipinya. Ku usap lembut dan ku susuri setengah wajahnya. Ku masukkan anak rambutnya ke belakang telinga.


" Kita tidur aja ya." Ucapku kemudian menarik selimut untuk kami berdua. Aku sengaja bergeser mendekat agar tidak terjadi tragedi tarik-tarikan selimut nantinya.


...***...


Ke esokan harinya aku terbangun karena suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Sebetulnya tidak terlalu keras hanya karena terbiasa sunyi jadi suara air pun terdengar begitu kencang.


Aku sampai lupa kalau Cinta semalam menginap di kamar ini. Tapi bukankah ini masih terlalu pagi? Kenapa Cinta sudah bangun?


Aku bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Sebelum aku mengetuk pintu kamar mandi, Cinta sudah membuka pintu itu. Aku terkejut melihat Cinta yang berdiri di depanku hanya menggunakan bathrobe. Cintapun sama terkejutnya denganku. Dia bahkan langsung menutup kembali pintu kamar mandi.


" Aidan tolong ambilin baju aku yang semalam." Teriaknya dari dalam kamar mandi.


" Dimana?"


" Ah matta aku lupa baju aku basah di dalam sini. Terus aku harus pake baju apa dong?"


" Ya engga usah pakai baju aja." Jawabku asal sambil mengulum senyum.


" Gapapa lah bagi-bagi dikit sama aku. Pemanasan sebelum nikah sayang."


" SEMBARANGAN BANGET SIH." Teriaknya dari dalam.


" Iya maaf, becanda sayang. Ya udah tunggu di situ, aku pinjemin baju sama noona."


Tak lama aku kembali dengan baju Jessica ditangan dan langsung memberikannya pada Cinta.


Cinta keluar dari kamar mandi menggunakan pakaian yang ku bawa tadi. Dia terlihat sangat cantik sampai aku tidak berkedip melihatnya.


" Kamu kenapa lihatin aku kaya gitu sih?" Tanyanya.


" Ah engga. Untung aja kalian berdua sama-sama pendek jadi bajunya bisa pas di badan." Ujarku beralasan.


" Hish pendek-pendek juga kamu jatuh cinta setengah mati sama aku." Ucapnya kemudian merapikan barang-barangnya di kamarku. Aku tersenyum geli mendengar jawabannya.


" Anterin aku pulang ya abis ini." Pintanya padaku.


" Wae? Kenapa pulang? Aku kan masih kangen." Ucapku manja.


" Ih geli loh Aidan. Jangan sok manja gitu deh."


Aku memanyunkan bibir kecewa dengan balasan Cinta.


Kami pun akhirnya turun ke bawah setelah Cinta selesai membereskan barang-barangnya.


" Aidan? Appa kemana yah?" Tanya Jessica begitu aku dan Cinta sampai di bawah.


" Lah kenapa nanya gue? Gue aja tadi turun cuma minjemin baju loe buat Cinta. Mana gue tahu appa di mana."


Jona hyung datang dari arah ruang kerja appa.


" Gimana sayang? Appa ada?" Tanya Jessica pada Jona hyung.


Jona hyung menggelengkan kepalanya.


" Kamu udah coba hubungin appa?"


" Udah tapi ponselnya mati."


" Tadi sempet nanya sama ahjumma ( ART rumah ) katanya appa pergi bawa mobil semalem." Sambung Jona hyung.

__ADS_1


Kami semua mulai khawatir mendengar perkataan Jona hyung.


" Apa gara-gara gue appa pergi hyung?" Tanyaku mulai gelisah.


" Ini bukan salah siapa-siapa Aidan. Positif thinking aja mungkin appa lagi menenangkan diri." Ucap Jona hyung menenangkanku.


" Ngomong-ngomong kalian rapi kaya gini mau kemana?" Sambungnya lagi.


" Gue mau anterin Cinta pulang dulu. Semalem appa yang suruh Cinta nginep di kamar gue." Jawabku tak sadar terlalu jujur.


Jessica mengulum senyum setelah mendengar jawabanku.


" Loe kenapa nahan senyum gitu noona?" Tanyaku karena merasa aneh padanya.


" Jangan-jangan calon keponakan loe ini ( menunjuk perutnya ) engga lama setelah lahir bakal langsung dapet sepupu." Ucap Jessica.


Aku merasa bingung dengan pernyataan Jessica. Kulihat Jona hyung menyikut pelan istrinya itu.


" Sayang apa sih kamu ngomongnya gitu?" Ucap Jona hyung. Tapi aku masih belum mengerti arah pembicaraannya.


" Engga gitu kok eonni. Cinta engga ngapa-ngapain sama Aidan. Itu juga appa yang suruh Cinta tidur di kamar Aidan. Walaupun menurut Cinta aneh tapi Cinta kan engga bisa nolak appa." Jawab Cinta yang langsung membuat otakku nyambung dengan pembicaraan.


" YAK NOONA. Parah loe mikirnya jauh banget. Udah di bilang gue tidur sama Cinta bukan berarti ngapa-ngapain. Kalaupun gue mau, Cinta nya pasti bakal pukul gue abis-abisan. Padahal gue ganteng gini masih aja di tolak." Jawabku.


Cinta mencubit pinggangku.


" Aww.. Sakit sayang.. Suka banget nyubit sih."


Cinta melotot ke arahku.


" Udah udah kalian berdua ribut terus kerjaannya."


Selagi kami ber empat bercanda. Suara mobil terdengar dari luar. Kami semua menoleh ke depan barangkali itu suara mobil appa.


Tak lama appa muncul sambil tersenyum senang.


" Good morning anak-anak appa semua." Ucapnya menghampiri kami dengan senyum yang mengembang.


Kami semua heran melihat ekspresi appa yang di luar perkiraan kami.


" Seperti ini hasil dari menenangkan diri hyung?" Tanyaku pada Jona hyung yang menatap appa sama herannya.


Memang aneh sih melihat appa berekspresi bahagia begini padahal kami semua mengkhawatirkannya.


" Entahlah." Jawab Jona hyung sekenanya.


" Appa dari mana aja sih? Kami semua nyariin appa tahu." Ucap Jessica yang pertama kali menyambut pelukan appa. Yang kedua Jona hyung dan selanjutnya appa ingin memelukku tapi di urungkannya karena melihat ekspresiku yang datar. Beliau beralih memeluk Cinta dan melewatiku begitu saja.


" Appa habis melewati malam yang indah." Ucap appa yang membuat kami terheran-heran. Dan tak lama ekspresi appa berubah serius.


" Appa membawa seseorang ke sini. Appa harap kalian bisa menerimanya. Terutama Aidan."


" Kenapa terutama Aidan?" Tanyaku penasaran.


Appa berjalan kembali ke pintu kemudian terlihat mengajak masuk seseorang di luar.


Tak lama orang yang di maksud appa pun masuk ke dalam. Aku tercengang saat sosok eomma muncul dari balik pintu itu.


" Eomma?" Jona hyung langsung menyambut kehadiran eomma. Begitu pula dengan Jessica dan Cinta.


Namun lain hal nya denganku. Aku justru menatap tak suka dengan kehadiran eomma. Sungguh aku belum ingin bertemu dengan wanita ini.


Mereka semua bergantian memeluk eomma. Lebih tepatnya Jessica dan Jona hyung saja. Sementara Cinta hanya membungkuk memberi salam.


Lalu aku? Aku hanya terdiam di tempat dengan menatap tajam ke arah mereka.


Cinta seperti mengerti dengan perasaanku, dia meraih telapak tanganku dan menggenggamnya erat, memberikan kekuatan untukku. Aku menoleh sekilas ke arahnya dan dia hanya tersenyum kecil. Jika tidak ada Cinta mungkin aku akan langsung pergi meninggalkan mereka yang terkesan tidak memahami perasaanku. Terlebih dengan appa. Bisa-bisanya appa membawa eomma ke hadapanku padahal tahu aku membenci eomma sekarang. Dan lebih membuatku kesal saat appa datang membawa eomma dengan senyumnya yang mengembang. Tidakkah appa tahu perasaanku sekarang?


Appa menoleh ke arahku seperti menyadari apa yang kupikirkan sejak tadi.


" Maafin appa Aidan. Tapi alangkah lebih baik kalau kita menyelesaikan masalahnya langsung dengan eomma. Lagipula eomma sangat merindukan kamu Aidan." Ucap appa.


Aku menoleh kesal pada appa.


" Appa harusnya tahu Aidan masih belum bisa nerima keadaan ini tapi kenapa appa buru-buru bawa wanita ini ke sini?" Ucapku dengan nada kecewa pada appa.


" Tapi ini demi kebaikan kita semua Aidan. Kita engga mungkin renggang karena masalah ini kan? Appa juga ingin anak-anak appa tidak membenci eommanya. Selain merasa bersalah pada kalian, appa juga merasa bersalah pada eomma."


Aku mengalihkan tatapan tajamku pada eomma. Meski aku sangat ingin memaafkan eomma. Meski aku juga sangat merindukannya tapi saat melihat wajahnya dan mengingat kejadian malam itu, seketika rasa kesalku muncul.


Aku langsung menarik tangan Cinta dan pergi meninggalkan rumah.


" Ayo Cinta, katanya kamu mau pulang." Ucapku dingin tanpa menoleh pada semua orang yang ada di situ.


" AIDAN!" appa berteriak tapi tak kuhiraukan dan samar terdengar suara eomma mencegah appa.


" Do Hyun-a, hajima. Biarin Aidan tenang dulu." Begitulah kira-kira suara eomma yang kudengar sebelum aku keluar dari rumah untuk pergi bersama Cinta ke apartemennya.

__ADS_1


...___ bersambung___...


__ADS_2