BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 17


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu. Hatiku sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Jessica sebagai noonaku. Kurasa aku sudah mulai bisa berdamai dengan takdir. Dan akhir-akhir ini hari-hariku malah di isi oleh ocehan Cinta. Seseorang yang ku kenal dingin pada awalnya tapi saat ini menjadi orang yang paling sering bicara, lebih tepatnya mengomel. Ada saja yang membuat dia marah. Tapi herannya semua omelan itu pasti hanya tentangku saja sementara pada orang lain Cinta cenderung lebih sabar.


Seperti saat ini Cinta datang ke kantor, masuk ke ruangan kemudian langsung membanting tasnya di mejaku. Aku sampai terlonjak karenanya.


" Kali ini apa lagi sih cantik?" Tanyaku yang sudah paham dengan kebiasaan barunya menggebrak mejaku di pagi hari sejak pertemuan dengan keluargaku lebih dari seminggu yang lalu itu.


" Gue stress sama semua keluarga loe Aidan, mereka semua bener-bener nganggep gue beneran cewe loe. Aargghhh." Keluhnya sambil mengacak-acak rambut frustasi kemudian berjalan ke sofa dan menjatuhkan dirinya di sofa dengan kasar.


" Bagus dong berarti akting kita berhasil." Ucapku santai sambil melihat wajahnya yang cemberut. Aku langsung menarik senyum setiap kali melihatnya. Aku yakin aku memang benar-benar sudah jatuh hati pada Cinta. Bahkan saat ini nama Jessica sudah tidak berarti apa-apa lagi di hatiku. Namanya sudah terganti oleh Cinta.


Sejak Cinta sering mengomel padaku, hari-hariku sudah di penuhi oleh dia dan sejak itu pula perlahan nama Jessica tergeser dan tergantikan oleh Cinta. Tapi aku masih belum bisa mengakui pada Cinta bahwa aku sudah mulai menyukainya. Aku tidak melakukannya karena kulihat Cinta tidak menaruh perasaan apa-apa padaku. Biarlah menjadi pacar pura-pura nya saja yang penting dia selalu ada di sampingku. Syukur-syukur dia terjebak dan terpaksa menikah denganku kan? Hahahaha otak iblisku parah sekali.


Ah bukan begitu sih seharusnya, lebih tepatnya mudah-mudahan dengan dia yang selalu ada di dekatku akan menumbuhkan juga rasa sukanya padaku. Ah tapi aku cukup trauma dengan hubungan sepihak. Apalagi di sini aku menjadi orang yang menyukainya duluan.


" Kita bilang putus aja deh, gue udah engga mau bantuin loe lagi." Ujarnya.


Aku langsung kaget mendengar pernyataannya.


" Eh eh eh jangan. Jangan bilang putus-putus gitu. Sembarangan loe." Omelku padanya.


" Loh emang kenapa? Gue punya hak dong mengakhiri perjanjian ini? Gue rasa gue udah cukup bantuin loe. Jadi loe harus hapus video itu sesegera mungkin." Protesnya.


" Engga. Engga akan. Gue masih butuh loe jadi pacar gue. Perjanjiannya juga kan sampai hyung dan noona gue balik ke Indonesia."


" Tapikan itu masih lama Aidan. Gue udah engga sanggup. Bayangin aja deh tiap hari noona yang loe puja-puja itu engga pernah absen chat gue. Belum lagi kadang video call, dia bilang sepertinya dia ngidam pengen lihat wajah gue. Belum sajangnim yang sering manggil gue ke ruangan cuman buat ngobrol santai dengan calon mantu katanya. Engga loe, engga bokap loe dan semua keluarga loe semuanya random banget dan gue stress dengan kalian semua." Curhatnya dengan cepat seperti rapper.


Kadang aku merasa heran sendiri dengan Cinta yang aslinya cool kemudian berubah menjadi cewe yang cerewet parah gini. Tapi entah kenapa aku malah suka kalau Cinta mengomel panjang lebar. Seperti ada hiburan tersendiri dan aku kecanduan dengannya.


" Sabar sayang."


Cinta menoleh cepat ke arahku kemudian melemparkan bantal sofa ke mukaku dengan kasar. Untung saja aku sigap menangkapnya.


" Sayang, sayang. Loe juga bikin gue tambah stress tahu engga. Jangan panggil gue dengan sebutan sayang sayang lagi deh. Gue risih."


" Terus apa dong? Chagiya? Cantik? Baby?" Godaku.

__ADS_1


" Ah tau ah, males banget gue ngomong sama loe." Ucapnya kemudian bangkit dan berjalan ke meja kerjanya.


Dia membuka komputernya dan terlihat memutar tombol scroll pada mouse. Aku setia menjadi pengamatnya. Kulihat ekspresinya masih kesal.


" Sayang? Loe udah selesai bikin desain yang kemarin belum?" Tanyanya yang membuatku terkejut. Apakah dia tidak sadar sudah memanggil sayang padaku?


Aku bukannya menjawab malah senyum senyum sendiri.


" Loe bukannya jawab malah senyam senyum gitu sih." Protesnya.


" Coba sekali lagi panggil gue sayang!" Godaku.


" Apa sih engga jelas bang... nget."


Cinta menjeda kalimatnya, mungkin dia sudah sadar bahwa tadi dia memanggilku dengan sebutan sayang.


" Coba panggil gue sayang sekali lagi, gue pengen rekam. Sumpah gue ngerasa terbang di panggil sayang sama mba pacar yang suka ngomel ini."


" Apa sih loe? Itu gue cuma salah ngomong aja. Gue juga engga sadar. " Elaknya dengan salah tingkah.


" Biasanya kalau ngucap sesuatu secara engga sadar sih karena hal itu yang lagi di pikirin. Loe jangan-jangan beneran sayang sama gue yah? Hayo loe ngaku. Kita jadian beneran aja yuk." Ucapku menggodanya padahal itulah yang sebenarnya ada dalam pikiranku. Aku memang benar-benar menginginkan Cinta menjadi pacarku sekarang.


" Gue sedih nih di tolakin mulu." Ujarku berpura-pura padahal aslinya hatiku patah beneran.


" Udah deh engga usah banyak drama. Buruan mana kerjaan loe, gue mau cek dan langsung mau serahin ke Choi timjang. Biar kerjaan hari ini kelar dan gue bisa nurutin kemauan NOONA yang loe CINTAI itu." Ucapnya dengan menekankan kata noona dan cintai.


Apa maksudnya yah? Apa dia sedang menyindirku? Apa dia cemburu?


" Kok loe ngomongnya gitu? Loe nyindir gue?" Langsung kutanyakan saja semua yang terpikirkan di otakku barusan.


" Engga. Emang kenyataan kan kalau loe masih suka sama noona loe itu? Kelihatan banget kok gimana loe natap noona loe itu. Seperti penuh cinta." Ujarnya lebih mirip sewot nadanya.


Aku jadi mengulum senyum melihatnya sewot seperti itu.


" Loe cemburu?" Tanyaku.

__ADS_1


Cinta sepertinya tersadar.


" Cemburu? Sorry yah. Gue engga ada perasaan apa-apa sama loe. Lagipula loe bukan siapa-siapa gue, ngapain gue cemburu?"


" Kalau gitu jadiin gue siapa-siapa loe dong biar loe berhak cemburu." Jawabku.


" NO. THANK YOU." Ujarnya yang sekali lagi mematahkan hatiku.


" Udah mana buruan?" Pintanya sekali lagi padaku untuk segera menyerahkan hasil pekerjaanku kemarin.


" Gue udah taruh di meja dari pagi tadi sayang. Makanya jangan marah-marah mulu setiap dateng, cek dulu meja kerjanya jadi engga nanyain sesuatu yang bikin malu." Jawabku.


" Oh ya?" Katanya kemudian mengacak-acak meja kerjanya dan menemukan file dariku.


" Oh iya. Hehe sorry deh." Ucapnya sambil nyengir.


" Herrghhh ( gemas ) gue jadi pengen jadiin loe pacar beneran biar bisa cium."


" HEY APA LOE BILANG?"


" Pengen jadiin pacar beneran. " Jawabku.


" Yang selanjutnya?"


" Biar bisa cium. Hehe"


" Dasar mesum." Umpatnya sambil melempariku remasan kertas. Aku langsung menghindar.


" Makanya loe cari pacar beneran aja sana biar bisa loe cium-cium. Biar gue bisa lepas dari perjanjian sialan ini." Ujarnya.


" Tapi gue maunya loe yang jadi pacar gue gimana?" Sekali lagi aku menyatakan cinta.


" Tapi gue engga mau." Tolaknya lagi dengan tegas.


Gila sih memang. Sudah tidak terhitung lagi aku memintanya menjadi pacarku dan sebanyak itu pula aku di tolaknya. Mau sedih tapi tidak bisa. Seolah-olah aku menikmati memperjuangkan wanita ini. Waah daebak Aidaaann pemikiranmu luar biasa sekali.

__ADS_1


...___bersambung____...


...Ada yang mau bantuin Aidan buat dapetin Cinta? Komen yukkk ...


__ADS_2