BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 39


__ADS_3

" Cinta? Narang Gyeoronhae jullae?"


Aku melamarnya di dalam hotel tanpa persiapan apapun. Hanya sebuah cincin berlian yang kubeli bersama eomma kemarin.


Kukeluarkan cincin itu dari dalam saku celanaku dan memperlihatkannya pada Cinta.


Aku tahu urutannya salah, seharusnya kukeluarkan cincin itu baru ku ucapkan kalimat lamarannya. Tapi ternyata setelah mendengar kata perjodohan tadi semua yang ada di otakku mendadak hilang. Padahal rencanaku, aku akan melamarnya fajar esok saat matahari terbit setelah malam nanti ku utarakan maksudku untuk kembali ke Indonesia sebagai pencipta lagu misterius AK. Minimal aku tahu bagaimana respon Cinta jika aku ingin kembali pada pekerjaan lamaku. Ah sudahlah lupakan saja, semua terlanjur terjadi. Bukankah lamaran adalah bagian terpentingnya?


Cinta terkejut melihat cincin yang kuperlihatkan padanya. Dia kembali menatap mataku dan kulihat matanya berkaca-kaca.


Cinta menganggukkan kepalanya.


" Jawab aku dong Cinta jangan pakai isyarat kepala." Ucapku yang membuat Cinta tertawa dalam tangisannya.


" Maukah kamu menikah denganku Cinta Maharani?" Ulangku melamarnya.


" Jadilah istriku. Jadilah Nyonya Kim dan jadilah ibu dari anak-anakku nanti, Cinta. Aku mencintaimu."


Cinta kembali mengangguk dan kali ini dia mengatakan sesuatu sebagai jawabannya.


" Aku mau menikah denganmu Aidan."


Setelah mengatakan itu Cinta melepaskan tangannya dariku dan menghadap ke depan private pool. Aku sendiri bingung dengan sikapnya.


" AKU MAU JADI ISTRIMU AIDAN KIM. AKU MAU JADI IBU DARI ANAK-ANAKMU DAN AKU JUGA MENCINTAIMU." Teriaknya yang membuatku terkejut.


Dia menoleh ke arahku dengan senyum yang mengembang. Aku menatapnya penuh haru. Rasa bahagia benar-benar memenuhi seluruh ruang hatiku sekarang.


Aku menghampirinya dan menyematkan cincin berlian yang ku pegang di jari manisnya. Aku mencium lembut bibir Cinta sebagai pelampiasan dari rasa bahagiaku.


...***...


Malam hari aku dan Cinta menghabiskan waktu dengan membuat candle light dinner di dalam kamar hotel. Lebih tepatnya di depan private pool. Sambil menikmati hamparan laut yang terlihat dari sini, kami berdua menikmati sebotol sampanye Belle Epoque Blanc. Kami bersulang untuk hari bahagia kami ini.


" Ahhh." Aku mendesah nikmat saat selesai meneguk segelas sampanye di tanganku.


Cinta menoleh padaku.


" Senikmat itu kah sampanye nya sayang?" Tanyanya.


" Udah pernah coba belum?" Tanyaku.


Cinta menggelengkan kepalanya.


Aku menuangkan segelas sampanye itu untuknya.


" Coba aja. Ini namanya Belle Epoque Blanc. Rasanya unik kaya ada rasa krim dan vanillanya." Ujarku menjelaskan. Padahal aku juga baru kali ini memesan sampanye Belle Epoque Blanc hehehe. Aku dapat rekomendasi ini dari manager Lee, managernya Jona hyung. Katanya sampanye ini cocok untuk dinner romantis atau saat sedang melamar seseorang. Ya sudah akhirnya aku mengikuti saran manager Lee untuk memesan sampanye ini di hotel dan kebetulan pihak hotel juga menyediakannya.


Cinta mencoba meneguk minuman yang kutuangkan itu. Jujur saja aku takut jika Cinta mabuk. Pengalamanku jika dia mabuk, dia akan menjadi lebih agresif. Ah meskipun aku bernafsu dengannya tapi jujur saja aku takut dengan resiko yang nanti kuterima. Seperti bagaimana nanti respon ayahnya saat kutemui beliau dalam keadaan Cinta yang sudah ku ambil kesuciannya atau parahnya lagi jika sampai Cinta hamil di luar nikah. Ah tidak- tidak, membayangkan hal itu aku jadi teringat dengan Jona hyung yang di hajar om William karena melakukan *** pranikah dengan Jessica padahal om William bukan tipikal ayah yang kolot. Lalu bagaimana dengan ayahnya Cinta yang aku tidak tahu seperti apa karakternya? Gaul kah? Atau bahkan tipikal ayah kolot yang pikirannya masih tradisional sekali?


Syukurlah kulihat Cinta hanya minum setegukan kecil. Bahkan di gelasnya masih ada sisa sampanye.


" Gimana?" Tanyaku.


" Enak sih tapi lidahku udah kebiasaan minum soju jadi kayanya kurang cocok hehe." Jawab Cinta jujur.


" Sejujurnya aku juga baru kali ini coba. Kata manager Lee sampanye ini rekomendasi untuk dinner romantis." Jawabku.


" Siapa manager Lee?" Tanya Cinta.


" Managernya Jona hyung."


" Emang Jona oppa beneran oppa J yang terkenal di Indo itu?" Tanya Cinta seperti tidak percaya.


" He'em. Jona hyung emang oppa J. Tapi ngomong-ngomong kamu tahu juga oppa J?"tanyaku.


" Tahu lah, ibuku juga ngefans sama oppa J."


" Oh ya?" Aku terkejut dengan fakta ini. Ah berarti bisa di bilang peluangku untuk dapat restu ibunya Cinta sudah setengahnya pasti kudapatkan.


" Malahan setelah skandal oppa J ibu bilang dia jadi ngefans sama adiknya oppa J. Pencipta lagu siapa gitu aku lupa."


Aku menganga mendengar penjelasan Cinta. Dan tak lama Cinta pun berekpresi sama denganku. Dia menoleh ke arahku.


" Jadi.. Jadi kalau oppa J adalah Jona oppa berarti si pencipta lagu kesukaan ibu itu kamu dong?" Sambung Cinta yang baru menyadarinya.


Aku menganggukkan kepala dan merasa bangga dengan pilihan profesiku dulu bahkan aku sama sekali tidak menyesali semua takdirku yang lalu. Memang benar semua bisa indah pada waktunya. Meski aku dulu merasa sakit tidak bisa memiliki Jessica, wanita yang dulu sangat kucintai bahkan takdir mengharuskanku untuk membongkar identitasku sebagai pencipta lagu AK demi orang-orang yang kucintai meskipun dulu bahkan sampai saat ini aku sangat benci menjadi pusat perhatian tapi aku harus rela menjadi tameng dengan menjadikan identitas misteriusku terbongkar dan menjadi terkenal. Ternyata itu semua membawa sesuatu yang baik untuk takdirku bersama Cinta.


" Berarti aku bisa langsung di terima dong sama ibu kamu?" Tanyaku penasaran.


" He'em bisa jadi. Takdir benar-benar aneh yah menyatukan orang-orang?" Ucap Cinta.


Membicarakan mengenai profesiku, aku jadi teringat bahwa aku ingin menanyakan mengenai kepindahanku ke Indonesia lagi.


" Oh iya Cinta aku mau jujur tentang sesuatu dan minta pendapatmu tentang ini." Ucapku yang tiba-tiba berubah serius.


Cinta yang tadi sedang menyuap steak ke dalam mulutnya tiba-tiba melepas garpunya dari mulut dan mengunyah steak sangat pelan.


" Tentang apa? Kok aku tiba-tiba jadi takut kamu berubah serius gitu?" Ucap Cinta yang terlihat khawatir.


" Engga. Aku cuma pengen nanya kalau aku balik ke Indonesia dan kembali lagi jadi si mistierius AK, kira-kira kamu setuju engga?" Tanyaku takut-takut.


Cinta menatap wajahku intens dan memberikan eskspresi yang tak bisa kupahami.


" Kamu engga setuju yah?" Tanyaku.


Cinta menggelengkan kepalanya.


" Bukan. Tapi aku cuma penasaran kenapa kamu ingin kembali ke Indo? Ini bukan karena kamu masih menyimpan rasa untuk Jessi eonni kan?"


Aku terkejut dengan pertanyaan Cinta. Bagaimana dia bisa berpikiran seperti itu? Padahal sedikitpun aku tidak menyinggung tentang noona.


" Kenapa kamu mikirnya sampai kesitu? Kalau aku masih punya rasa sama noona, aku engga akan ngelamar kamu gini kan sayang?"


Cinta diam mendengar jawabanku.


" Kamu bukan engga percaya sama aku kan?" Tanyaku.


Cinta menarik senyumnya.

__ADS_1


" Aku percaya sama kamu kok Aidan. Aku kan cuma tanya." Jawabnya yang masih terdengar nada ketidakpercayaan darinya.


Aku berdiri dan menghampirinya kemudian berlutut di depannya sambil memegang kedua tangan Cinta erat.


" Aku mencintai kamu Cinta Maharani. Kalaupun ada wanita lain yang aku cintai selain kamu, orang itu cuma eomma. Cincin ini ( mengusap cincin berlian di jari Cinta ) engga bisa bikin kamu yakin sama aku, hem?" Tanyaku lembut.


" Aku percaya sama kamu kok Aidan." Jawab Cinta tapi terdengar menggantung untukku.


" Aku harus gimana kira-kira biar kamu bener-bener yakin kalau aku seserius ini sama kamu dan engga ada rasa cinta yang lain selain buat kamu? Apa kita tentuin aja tanggal keberangkatan kita ke rumah orang tua kamu eoh? Mau?" Tanyaku membujuk Cinta dengan nada yang halus.


" Terserah kamu aja. Sesiapnya kamu aja baru aku kabarin ke orang tuaku." Jawab Cinta.


" Oke. Kita tentuin dua minggu lagi aja yah? Kayanya proyek tim humas juga pas udah kelar tuh." Ucapku yang sengaja menyangkut pautkan dengan pekerjaan karena aku tahu Cinta terlalu berdedikasi dengan pekerjaannya.


" Tapi...." Ucapku yang teringat akan pembicaraan awalku tadi dengan Cinta.


" Tapi apa?"


" Masalah kembali menjadi AK menurut kamu gimana? Kamu mau engga kalau kita nikah nanti kamu ikut pindah ke Indo? Soalnya jujur aja passionku ada di dunia musik sepertinya meskipun di perusahaan aku cukup have fun ngejalaninnya."


" Engga masalah selagi aku masih di bolehin kerja, mau di Indo atau di Korea sama aja." Jawab Cinta yang membuatku bersyukur. Aku mencium kedua tangannya yang masih ku genggam erat sejak tadi.


Dan malam ini benar-benar kami habiskan secara romantis. Kita berdansa, berciuman dan melakukan hal yang biasa di lakukan pasangan pada umumnya. Catatan yah kecuali ***. Kami benar-benar tidak ingin melakukannya sebelum menikah.


...***...


Subuh ini aku menyetel alarm untuk melihat matahari terbit dari pantai jeongdongjin.


Aku membangunkan Cinta dan kami berdua pergi ke tempat di mana orang-orang biasa melihat matahari terbit.


Cukup banyak juga orang yang ingin melihat matahari terbit disini. Dan memang pemandangan ini sangat cantik. Bahkan aku belum pernah melihat matahari terbit di pantai. Biasanya aku hanya menikmati sunset saja.


" Indah banget engga sih Aidan?" Ucap Cinta mengagumi keindahan matahari terbit yang sama-sama kami nikmati.


" Indah banget sayang, apalagi lihatnya sama kamu yang cantik gini." Ucapku yang kemudian memeluknya dari belakang.


" Dih gombal sekali anda."


Aku tertawa mendengar jawaban Cinta kemudian kami melanjutkan melihat keindahan ciptaan Tuhan ini. Cinta mengangkat ponselnya untuk membuat video dan mengabadikan beberapa momen kami di pantai jeongdongjin.


Matahari sudah naik dan hari sudah semakin terang. Kulihat di ponsel jam menunjukkan pukul 7 pagi. Aku dan Cinta lanjut bermain di tepian pantai.


Sampai akhirnya perutku sudah ribut minta di isi dan akhirnya kami kembali ke hotel untuk menikmati sarapan. Lebih baik minta layanan kamar saja karena di dalam hotel pun tempatnya sudah bisa membuat suasana hati kita jadi membaik. Pemandangannya pun tak kalah cantik dengan di luar.


Ting


Sebuah pesan masuk di ponselku.


* Honey? Gimana lamarannya?


Ternyata eomma yang mengirimiku pesan.


* Berhasil dong eomma. Siapa sih yang bisa menolak pesona Aidan Kim?


* Haha narsis sekali anak eomma ini.


" Siapa yang chat?" Suara Cinta mengejutkanku.


" Eomma bilang apa?"


" Eomma tanya lamarannya gimana?" Jawabku.


" Terus kamu jawabnya?"


" Ya berhasil dong sayang. Masa aku jawab di tolak."


Kring.. Kring...


Ponsel Cinta kudengar berbunyi. Kekasihku itu beranjak mengambil ponselnya.


" Mati gue." Ucap Cinta yang membuatku jadi menoleh padanya.


" Kenapa sayang?"


" Ayah VC, mana kita lagi di hotel berdua lagi." Jawabnya terlihat gelisah.


" Ya emang kenapa?" Tanyaku bingung.


" Ayah itu engga kaya appa yang pikirannya terbuka."


" Ya kan kita engga ngapa-ngapain. Kenapa harus takut?"


" Udah deh kamu jangan muncul di depan layar pokonya yah. Jangan bersuara sedikitpun. Paham?" Ucap Cinta yang membuatku menurut saja meski masih merasa bingung.


Cinta berpindah jadi menghadapku agar hanya dia yang akan muncul di layar.


" Halo ayah?" Ucapnya yang terdengar manis.


" Cinta kamu apa kabar? Lama engga telpon ke rumah, kamu kapan mau pulang ke Indonesia? Ibu sama ayah kangen sama kamu loh nduk."


" Iya ayah secepatnya Cinta pulang yah? Soalnya Cinta lagi banyak banget kerjaan jadi belum bisa cuti."


" Itu Fandi nanyain kamu terus loh nduk."


Fandi? Siapa dia? Aku memberikan tatapan penuh tanda tanya pada Cinta yang sempat melirik ke arahku dengan senyum yang dipaksakan.


" ( tersenyum kaku ) Emang nanyain kenapa ayah?"


" Ya seperti yang ayah bilang kemarin kalau kamu tahun ini engga bawa calon suami yang sesuai kriteria ayah, ayah mau kamu nikah sama Fandi. Kelihatannya Fandi juga suka sama kamu itu loh. Hampir tiap beberapa hari sekali nak Fandi mampir ke rumah bawain macem-macem makanan."


Wah wah ini alamat ayahnya Cinta susah di taklukkan. Kriteria beliau seperti apa kira-kira? Terus si Fandi itu seganteng apa sih sampai ayahnya Cinta ingin menjodohkannya dengan pacarku?


" Jangan main jodoh-jodohan dong yah. Cinta kan bilang Cinta sudah punya orang spesial di sini."


Ah mendengar kata orang spesial membuatku salting. Berarti selama ini Cinta sudah mengatakan pada ayahnya bahwa dia sudah memiliki aku sebagai orang spesialnya. Aku jadi mengulum senyum senang.


" Orang Korea?" Suara ayahnya terdengar kurang bersahabat saat bertanya apakah orang spesial Cinta adalah orang korea?


" Campuran Korea Indo yah." Jawab Cinta lembut.

__ADS_1


" Tapi tinggal di Korea kan?"


" Sebenarnya iya. Tapi dia berencana untuk kembali ke Indonesia."


" Tapi dia serius sama kamu apa engga nduk?"


" Dia serius yah. Dia juga udah minta buat ketemu sama ayah sama ibu juga."


Mendengar percakapan Cinta dan ayahnya aku jadi deg-degan.


" Kalau gitu coba bawa aja ke rumah biar ayah yang lihat dia cocok atau engga sama kamu nduk."


Ah kenapa kata-kata ayahnya Cinta malah jadi membuatku takut yah.


" Tapi ayah jangan galak-galak yah sama dia. Anak ayah ini udah terlanjur jatuh hati sama lelaki ini loh." Ucap Cinta sambil melirikku sekilas yang membuatku benar-benar jadi salah tingkah.


" Jangan dulu jatuh hati, ayah juga belum tentu setuju sama calon kamu itu. "


Seketika jawaban ayah Cinta membuatku sadar. Ah sepertinya ayahnya akan sulit untuk di taklukkan.


" Eh ngomong-ngomong udahan dulu ya yah, Cinta lagi ada acara kantor dan sebentar lagi kumpul,Cinta siap-siap dulu ya yah?" Pamit Cinta berbohong.


" Oh ya wis nduk. Kamu hati-hati di sana. Jangan sampai bikin malu ayah sama ibumu di sini ya nduk."


" Nggih yah." Jawab Cinta dengan logat jawanya yang baru pertama kali kudengar.


Akhirnya sambungan telepon pun terputus. Aku menghampiri Cinta dan memeluknya.


" Makasih udah bilang sama ayah kalau aku adalah orang spesial kamu sayang."


" Iya. kamu kan emang orang spesialku Aidan." Jawabnya yang langsung ku kecup bibirnya.


" Ih cium-cium terus deh."


" Emang kenapa? Dari pada aku ajak kamu ngesex?"


" Hei mulai deh mesumnya." Protes Cinta.


" hehe. Maaf sayang bercanda."


Aku melepaskan pelukanku dan duduk di tepian kasur.


" Ayah kamu orangnya agak sulit di taklukkan sepertinya ya sayang?"


" Ya seperti yang kamu dengar tadi." Jawab Cinta enteng.


" Kira-kira aku akan di terima ayah engga sih? Kriteria ayah yang seperti apa? Terus Fandi itu kaya gimana orangnya sampai ayahmu langsung setuju kalau Fandi yang menikahi kamu?" Tanyaku beruntun.


" Satu satu dong tanyanya."


" Ya habisnya kepalaku ini penuh pertanyaan sih."


" Oke. Yang pertama kamu harus berusaha buat ayah suka sama kamu. Yang kedua kriteria ayah sebenarnya yang penting bertanggung jawab dan sayang sama orang tua. Yang terpenting adalah sopan. Tapi poin plus kalau kamu punya visual yang macho makanya ayah tadi agak gimana kan pas tanya apa kamu orang korea atau bukan? Dalam bayangan ayah orang Korea itu putih-putih agak kemayu. Bukan mau rasis sih tapi itu bayangan ayahku."


" Emang aku engga macho apa?" protesku.


" Ya gimana yah kadang pandangan ayah suka aneh juga sih. Buat aku sih kamu ya.. Ma..cho.." Ucap Cinta menjawab macho dengan ragu.


" Kok ragu gitu? Kayaknya aku perlu buktiin deh kalau aku ini macho."


" Bb..buktiin gimana?" Tanya Cinta terbata-bata.


" Ya... " Aku membuka kaosku dan memperlihatkan pada Cinta tubuh bagian atasku.


" YA. AIDAN MICHEOSSEO? ( kamu gila? )"


Cinta memalingkan wajahnya dariku.


" PAKAI LAGI ENGGA BAJUMU?" Teriak Cinta tanpa menoleh padaku lagi.


Aku terkekeh geli.


" Aku mau mandi sayang masa harus di pakai lagi. Lagian kamu engga mau lihat roti sobekku?" Godaku padanya.


" ENGGA MAKASIH. Ya udah buruan sana kalau mau mandi." Usir Cinta tanpa sekalipun menoleh padaku.


" Iya baby. Kamu mau ikut engga?"


" ENGGA. UDAH SANA SANA ATAU AKU..."


" Aku apa?" Tanyaku semakin menggodanya.


" Udah sana buruan ih."


Aku tertawa mendengar jawaban Cinta, aku langsung masuk ke kamar mandi.


...***...


Setelah sarapan kami memutuskan pulang ke Seoul karena besoknya harus kembali bekerja. Karena Gangwon lumayan jauh dari Seoul, Cinta mengajakku cek out lebih awal agar aku bisa beristirahat katanya.


" Aku udah cek jadwal pesawat untuk pulang ke Indonesia sesuai rencana kamu dua minggu lagi. Kamu beneran udah siap ketemu ayahku kan? Kamu udah minta ijin eomma sama appa belum?" Tanya Cinta dalam perjalanan.


" Aku udah siap sih tapi kenapa aku jadi deg-degan parah gini yah?" Jawabku.


" Udah santai aja, ayah baik kok. Engga seperti yang kamu pikirin. Yang penting kamu harus sopan aja. Dan inget jangan sampai kamu cium aku di depan ayah. Ayah itu engga kaya appa." Ucapnya mewanti-wantiku.


" Terus kita engga akan ciuman dong selama di rumah kamu?" Tanyaku khawatir tidak bisa menciumnya hahaha.


" Hei Aidan-ssi. Pikiranmu tuh ciuman ciuman mulu. Mesum banget."


" Hehe. Ya kali punya pacar cantik engga mikir cium. Lihat pundak telanjang kamu aja nafsuku naik. Hehe." Ucapku bercanda sambil memperlihatkan gigiku.


Seperti biasa respon Cinta pasti memukulku dengan tasnya. Aku tidak bisa menghindar karena aku sedang menyetir.


" Bercanda sayang. Jangan suka mukul gitu sih. KDRT tahu engga? Nanti aku laporin kamu loh."


" Laporin aja aku juga akan laporin kamu atas kasus pelecehan seksual secara verbal."


" Hei hei hei jangan marah dong calon istriku."

__ADS_1


Cinta langsung diam saat kupanggil calon istriku. Dia langsung mengalihkan pandangannya keluar jendela. Aku mengulum senyum dengan sikapnya. Aku tahu dia sedang salah tingkah.


...___ bersambung ___...


__ADS_2