BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 41


__ADS_3

Aku dan ayah kembali ke rumah menjelang maghrib. Selama di perjalanan bahkan sejak ayah membicarakan mengenai lamaran itu aku sama sekali tidak bicara pada ayah. Hanya sesekali menjawab jika beliau bertanya. Itupun kujawab sesingkat mungkin.


Kalau di bilang tidak sopan. Biarlah, aku sudah terlanjur kecewa dengan ayah.


Cinta dan Ibu menyambut kami di teras rumah.


" Aidan? Ayah? Kalian dari mana aja sih? Pergi ndak ngabarin orang rumah. Mana ndak ada yang bisa dihubungin lagi." Ujar ibu begitu kami sampai di rumah.


Aku memaksakan diri tersenyum di depan ibu dan Cinta. Aku tidak ingin menunjukkan betapa hancurnya hatiku sekarang. Ayah kulihat tidak terlalu berbeda sikapnya. Masih dingin seperti pertama kali kulihat tadi pagi. Ya mungkin seperti inilah karakter ayah.


" Ayah abis ngajak makan bakso Aidan." Ucap ayah kemudian berlalu ke dalam rumah di ikuti oleh ibu.


Cinta menatapku intens. Aku tahu dia sadar aku agak berbeda karena biasanya aku selalu cerewet dan kali ini aku hanya diam saja. Terlebih di ajak makan bakso oleh ayah bukankah itu sesuatu yang patut di ceritakan? Tapi nyatanya aku hanya diam di depan Cinta.


" Ayah ngomong sesuatu yang aneh yah?" Tanya Cinta seperti mengerti apa yang terjadi.


" Engga." Jawabku singkat.


" Kok kamu diem aja?"


Aku tersenyum pada Cinta agar tidak membuatnya khawatir.


" Aku cuma cape aja sayang, tadi di ajakin muter sama ayah." Ucapku berbohong.


" Oh ya? Padahal ayah engga terlalu suka jalan kaki loh." Balas Cinta yang sepertinya ragu dengan jawabanku.


" Aidan? Cinta? Masuk ke dalam sudah maghrib." Teriak ibu dari dalam rumah yang membuatku lega karena aku tidak harus mengarang cerita lainnya demi menutupi kebohonganku barusan.


Sekitar pukul 7 malam, ibu mengetuk pintu kamarku menyuruhku untuk makan malam sedangkan Cinta kulihat sedang menata makanan di meja makan.


Kami akhirnya makan malam bersama.


" Aidan?" Panggil ibu sambil menyendokkan nasi untukku setelah sebelumnya mengambilkan untuk ayah.


" Ya bu." Jawabku mengangkat piring dengan kedua tangan sambil menundukkan kepala mengucapkan terima kasih.


" Sopan sekali kamu leh." Ucap ibu karena melihatku menunduk.


" Di Korea memang seperti itu bu." Jawab Cinta.


" Kok kamu engga ikutan?" Tanya ibu pada Cinta.


" Hehe. Biasanya sih gitu. Mumpung sekarang lagi engga di Korea gapapa kan engga ikut aturan?" Ucap Cinta beralasan.


" Hoalaaah nduk nduk kamu tuh."


Ibu langsung duduk begitu selesai mengambilkan nasi untuk Cinta dan untuk dirinya sendiri.


" Oh iya Aidan? Boleh dong ibu minta tanda tangan kamu sama foto buat ibu pamerin sama temen-temen ibu?" Ucap ibu padaku.


Aku tersenyum dan menganggukkan kepala.


" Boleh dong bu tapi saya engga pernah merasa diri saya seorang selebriti jadi tanda tangan saya mungkin engga sekeren artis-artis lain." Jawabku.


" Ndak papa ndak papa yang penting kamu tanda tangan dan foto bareng ibu disitu. Kalau perlu kita bikin video biar temen-temen ibu percaya kalau ibu punya calon mantu seorang artis dan idolanya ibu sendiri. hehe."


" Ibu norak tahu ndak?" Ayah terlihat mencibir.


" Biarin. Sirik aja ayah." Balas ibu.


Ting... Tong..


Tok.. Tok... Tok...


Terdengar suara bel dan ketukan pintu.


" Sopo toh bertamu di jam segini?" Tanya ibu yang kemudian berdiri.


" Ibu duduk aja biar Cinta aja yang buka!" Perintah ayah.


Cinta menurut dan langsung berdiri kemudian berjalan ke arah pintu rumah.


Perlahan Cinta membuka pintu dan berdirilah seorang pria di balik pintu itu.


" Cinta?" Panggil pria itu tapi kulihat Cinta tidak mengenali pria yang ada di hadapannya.


" Itu nak Fandi nduk." Teriak ayah yang membuatku menoleh pada beliau. Ayah melihat padaku sekilas kemudian membuang pandangannya ke arah pintu lagi.


" Ini aku Fandi. Kamu apa kabar? Kamu tambah cantik Cinta." Ucap Fandi sambil mengulurkan tangannya.


Aku langsung berdiri dan menghampiri Cinta kemudian menariknya ke sisiku. Kutepis tangan Cinta yang hendak menyambut uluran tangan pria itu dan menggantinya dengan tanganku yang kemudian mengambil uluran tangan pria bernama Fandi ini.


" Gue Aidan, calon suaminya Cinta." Ucapku memperkenalkan diri tanpa di minta. Aku ingin menunjukkan bahwa akulah calon suaminya bukan Fandi yang bahkan melamar tanpa sepengetahuan Cinta.


" Ayo masuk Fandi ikut gabung makan sini." Teriak ayah dari meja makan.


" Nggih yah." Jawab Fandi kemudian menghampiri ayah setelah sebelumnya melihat Cinta dengan tatapan yang tak bisa kumengerti.


Aku merangkul bahu Cinta untuk menekankan sekali lagi pada bocah itu bahwa aku adalah calon suami Cinta. Fandi menatapku dengan tatapan tajam yang langsung ku balas dengan sengit.


Akhirnya kami berlima makan malam bersama. Ayah banyak mengajak ngobrol Fandi sedangkan aku lebih banyak di tanyai oleh ibu. Seperti ada dua kubu di meja makan ini.


" Oh iya yah besok Fandi mau fitnes, ayah mau ikut ndak?" Tanya Fandi pada ayah.


" Wah boleh juga, ayah juga udah lama ndak olahraga." Jawab ayah terlihat antusias.


" Yah tapikan ada Aidan di sini kok ayah malah pergi sih?" Kulihat Cinta protes.


" Ya udah kalau gitu kita pergi bertiga aja gimana? Kamu setuju Aidan?" Tanya ayah padaku.


" Yah kok kamu gitu toh? Kita kan kedatangan calon mantu masa ayah malah pergi sama Fandi?" Ibu juga ikut protes.


" Kan ayah juga ajak Aidan bu." Jawab Ayah tak ingin di salahkan.


" Gapapa bu. Aidan bisa ikut sama ayah sama Fandi kok. Kebetulan Aidan juga suka fitnes." Jawabku yang tidak mungkin menolak ayah.


" Kalau gitu Cinta juga ikut aja deh yah." Ucap Cinta yang tiba-tiba bilang ingin ikut ke tempat fitnes. Mungkin Cinta merasa khawatir denganku karena ayah memang cenderung lebih ramah pada Fandi di banding padaku.


" Ibu juga ikut aja deh kalau gitu." Ucap Ibu yang juga meminta ikut.


" Lah iki piye toh malah melu kabeh ngene? ( Lah ini gimana kok malah ikut semua gini? ) " Ayah ku lihat protes.


" Lah emang kenapa yah? Lagian ibu juga jadi curiga kenapa ayah lagi ada tamu malah lungo ( pergi ) , najan lungone mbek Fandi tapi mesakke loh calon mantuku. ( walaupun perginya sama Fandi tapi kasian loh calon mantuku ) " Ibu tetap membelaku.


Sejujurnya aku tidak mengerti bahasa Jawa tapi yang jelas jika di lihat dari ekspresi perdebatan mereka, ibu terlihat membelaku sebagai calon menantunya.

__ADS_1


" Yowes leh, nduk mending kita jalan bertiga saja sesuk nyang malioboro. Piye?" Tanya ibu padaku dan Cinta yang terdengar agak kesal. Tapi sayangnya aku kurang mengerti pertanyaan ibu.


" Kita jalan bertiga saja besok ya nak Aidan. Ibu, Cinta sama kamu. Kita jalan ke malioboro." Ulang ibu padaku menggunakan bahasa Indonesia tanpa campuran Jawa. Ibu pasti tahu aku tidak mengerti bahasa Jawa yang di ucapkannya tadi.


Aku tersenyum bingung antara ikut ayah atau ibu.


" Setuju bu." Balas Cinta.


...***...


Ke esokan paginya aku, ibu dan Cinta sudah bersiap-siap pergi sesuai rencana semalam. Sementara ayah masih duduk diam di teras.


" Kalian mau naik apa ke malioboro?" Tanya ayah pada kami.


" Yo bisa pesan taksi online. Banyak cara kok kesana." Jawab ibu agak sinis.


" Ayah engga jadi pergi sama Fandi?" Tanya Cinta.


" Ndak sepertinya. Fandi di suruh lembur sama bosnya." Jawab ayah.


" Hahahaha kapok ayah jaga rumah aja ya kalau gitu." Ujar ibu meledek.


" Ayah ikut aja sama kita bu. Gapapa kan?" Tanyaku polos.


" Helooo cah ngguanteng? Biarin aja ayah di rumah sendirian. Karma berlaku dan langsung di bayar tunai." Ucap ibu sengit yang membuat ayah mencebik.


" Wes nduk ndang pesen taksine. ( ayo nduk cepat pesan taksinya )" perintah ibu pada Cinta.


" Engga usah bu, saya udah beli mobil. " Potongku.


" Oh gitu. Ya udah kita tunggu saja." Ucap ibu.


Beberapa saat kemudian ibu, Cinta dan ayah menyadari sesuatu.


" Eh tunggu leh. Kamu bb.. Beli mobil apa pesen taksi maksudnya?" Tanya ibu bingung yang di amini oleh Cinta dan ayah yang kulihat juga sama bingungnya.


Aku jadi merasa tak nyaman dengan tatapan mereka. Aku merasa salah tingkah sendiri. Aku menggaruk belakang kepalaku yang sama sekali tak gatal.


" Ya.. Maksudnya beli mobil. Ya beli." Aku bingung menjelaskannya.


" Maksudnya beli mobil jadi hak milik gitu?" Tanya Cinta.


" Ii.. Iya sayang. Eh Cinta." Jawabku meralat kata sayang karena takut di marahi ayah.


" Emang ada yang salah dengan beli mobil? Bukan mobil baru juga sih." Sambungku polos.


" Yo ndak salah sih. Tapi kenapa harus beli? Terus kamu beli di mana? Kamu saja ndak pergi kemana-mana semalam." Ujar Ibu.


" Iya loh Aidan. Kamu kapan belinya? Terus kenapa beli?" Cinta mengulangi pertanyaan ibu sementara ayah ikut menatapku penasaran.


" Ya.. Ya gapapa. Apa salahnya beli mobil? Aku beli dari temennya manager Lee yang ada di yogya. Sebentar lagi mobilnya juga sampai." Jawabku.


" Buat apa sih beli mobil Aidan? Kan kamu engga akan tinggal di sini." Ucap Cinta.


" Ya gapapa Cinta. Mobilnya kan bisa di tinggal buat dipake ayah sama ibu." Jawabku.


Mereka bertiga menoleh terkejut padaku.


" Maksud kamu apa Aidan?" Kali ini ayah yang bertanya.


" Tapi maaf kalau saya belinya bukan mobil baru." sambungku.


" Kenapa kamu pakai acara beliin kami mobil?" Ayah bertanya lagi dan kali ini nadanya terdengar menekan. Aku jadi merasa terintimidasi.


" Ya ga.. gapapa kan yah? Soalnya saya lihat juga di rumah ini belum ada mobil. Mmmm.. Saya salah yah? Atau saya sudah lancang?" Tanyaku agak khawatir dengan reaksi mereka.


" Hahaha ( Tertawa kaku ) Ya ndak lah nak Aidan. Ibu malah yang merasa ndak enak hati sama kamu."


" Saya seneng kok kalau ibu sama ayah juga seneng."


" Tuh yah lihat calon mantumu ini. Baru pertama datang saja sudah belikan mobil buat calon mertuanya. Tapi ayah malah ndak ada menghargainya sama mantu."


Tak lama sebuah mobil SUV Mazda CX 9 parkir di halaman rumah Cinta.


" Ah itu dia bu mobilnya. Maaf ya bu saya engga bisa beli yang baru karena mau di pakai mendadak jadi saya beli yang langsung bisa kita bawa hari ini." Ujarku.


Mereka semua berdiri takjub melihat mobil yang baru saja datang itu. Seseorang yang mengantar mobil itu memberikan kunci beserta surat-suratnya padaku kemudian orang itu langsung pamit pulang.


" Deloken yah anak mantu kita. Iku mobile uapik tenan. ( lihat anak mantu kita yah, itu mobilnya bagus banget ) " Ucap ibu yang menepuk-nepuk cepat lengan ayah tapi kedua netranya tidak terlepas sama sekali dari mobil yang ada di depan.


" Ini surat-suratnya sayang. Eh Cinta." Aku memberikan surat-surat kelengkapan mobil kepada Cinta.


" Panggil sayang juga ndak papa leh. Daripada di ralat terus-terusan." Ibu seperti paham karena aku terus saja salah memanggil Cinta dengan sebutan sayang.


" Iya ayah setuju." Ucap ayah mengangguk-anggukkan kepala yang sepertinya dilakukannya tanpa sadar tanpa melepaskan pandangannya dari mobil itu juga.


Ini kenapa suasananya malah terlihat seperti aku menyuap ibu dan ayah dengan mobil agar mereka bisa menerimaku sebagai menantunya ya? Ah apapun itu setidaknya ayah mengijinkanku memanggil Cinta dengan sebutan sayang.


" Eh tunggu-tunggu. Kalian jangan berangkat dulu." Ucap ayah berlari ke dalam.


" Jangan berani-berani kalian jalan dulu." Teriak ayah dari dalam yang membuat kami bertiga saling melempar pandangan penasaran.


Tak sampai lima menit ayah kembali lagi dengan dandanan rapi.


" Loh ayah rapi mau kemana?" Tanya Cinta.


" Ya ikut kalian lah. Enak aja ayah ndak di ajak jalan-jalan naik mobil bagus." Ucap ayah yang kemudian berjalan ke arah mobil kemudian membuka pintu belakang dan langsung duduk di dalam.


" Wong edan tenan kui ayahmu nduk.( Orang gila beneran itu loh ayahmu ) Ndak punya malu sama Aidan. Giliran nyobain mobil aja gercep. Maafin calon ayahmu ya nak Aidan." Ucap ibu meminta maaf padaku atas kelakuan ayah.


" Iya bu gapapa lagian mobil ini juga punya ibu sama ayah kok." Jawabku.


" Ya udah ayo berangkat sekarang aja!" Cinta mengajak kami dan ibu berlari menghampiri ayah sementara Cinta memegang tanganku. Aku menoleh padanya.


" Makasih Aidan, kamu udah bikin ibu sama ayahku seneng." Ucap Cinta.


Aku tersenyum padanya.


" Sama-sama cantik. Tapi maaf caranya malah terkesan jadi kaya nyogok. Hehe." Jawabku.


Cinta tersenyum manis padaku. Jujur saja senyumannya itu membuatku jadi merindukan menciumnya.


" Gimana nih sayang aku jadi pengen cium kamu?" Bisikku.


" Hish kamu tuh engga dimana-mana ngomongin cium-cium mulu."

__ADS_1


Cinta melotot ke arahku kemudian meninggalkanku ke mobil yang langsung ku ikuti. Jika saja ini bukan di rumah orang tua Cinta aku pasti sudah mengejar Cinta dan langsung menciumnya saking gemas dengan tingkah jual mahalnya itu.


Akhirnya kami berempat berangkat berjalan-jalan ke malioboro.


...***...


Kami sampai di Malioboro setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit. Aku sedikit familiar dengan suasana Malioboro. Memang aku sudah pernah ke sini saat ikut konser Jona hyung sekitar dua tahun silam.


" Ibu sama ayah mau belanja?" Tanyaku saat melihat mereka mengamati barang-barang yang di jual oleh pedagang di sepanjang jalan Malioboro ini. Terutama ibu yang beberapa kali berhenti melihat daster batik rumahan yang hampir di setiap pedagang menjualnya.


Kulihat Cinta menggelengkan kepalanya pada ayah dan ibu.


" Ah ndak kok nak Aidan. Kita kan cuma mau jalan-jalan aja." Jawab ibu sambil tertawa kaku.


Aku tersenyum dan membuka dompetku kemudian mengeluarkan 20 lembar pecahan seratus ribuan. Ku berikan pada ibu yang langsung di cegah oleh Cinta.


" Jangan Aidan. Kamu udah beliin ibu sama ayah mobil." Ucap Cinta sambil mencegah tanganku memberikan uang pada ibu.


" Loh emang kenapa?" Tanyaku.


" Udah engga usah." Ucap Cinta.


" Iya nak Aidan. Simpan saja uangnya. Ditabung saja buat modal nikah." Ucap ibu.


Aku mengulum senyum mendengar jawaban ibu.


" Gapapa bu. Saya kalau untuk menikahi Cinta sudah ada modalnya cuma tinggal nunggu restunya ayah aja." Ucapku sambil melirik pada ayah.


Yang di lirik malah membuang wajah.


" Udah ini pake aja buat ibu sama ayah belanja. Nanti kalau kurang saya tambahin lagi."


Aku memasukkan uang tadi ke dalam tas ibu.


" Ya sudah ibu terima ya leh. Makasih banyak loh ini. Ibu bersyukur punya calon mantu baiknya kebangetan. Cuma ayah yang ndak tahu bersyukur." Sindir Ibu pada ayah.


" Iya bu sama-sama." Jawabku.


" Ya sudah kalian jalan-jalan aja berdua dulu. Mungkin kalian kurang waktu untuk berduaan." Ucap ibu pengertian yang membuatku mengulum senyum.


" Apa sih ibu." Cinta merasa malu di goda ibunya.


" Kalian jangan kelamaan berduaannya. Satu jam lagi ketemu di tempat biasa kita makan ya nduk." Ucap ayah yang terdengar agak sinis dan kaku.


" Iya yah." Jawab Cinta.


" Ngasih ijin mbok yang ikhlas sih yah. Biarin mereka ngabisin waktu berdua. Ayah ini ndak ada pengertiannya sama anak muda." Omel ibu pada ayah.


" Memang ayah kurang pengertian apa lagi? Ayah sudah kasih waktu mereka berdua loh ini." Balas ayah.


" Ya sudah ayo kita belanja saja. Ibu mau beli daster, daster ibu udah banyak yang sobek." Ucap Ibu menarik ayah pergi.


" Kalian yang have fun ya." Teriak ibu pada kami.


Aku dan Cinta tersenyum melihat tingkah kedua orang tua Cinta ini. Aku membayangkan eomma dan appa kembali bersatu dan bertengkar kecil dan lucu seperti mereka.


Aku tertawa kecil bahkan sampai ayah dan ibu sudah tidak terlihat.


" Kamu kenapa ketawa sendiri gitu Aidan?" Tanya Cinta menoleh padaku.


Aku menoleh sekilas kemudian mengecup cepat bibirnya.


CUP.


" YA MICHEOSSEO? ( Kamu gila? )" Bentak Cinta padaku sambil celingak celinguk kemudian mencubit pinggangku keras.


" Aaa...awww.. Sakit sayang.. Di kecup bukannya seneng malah nyubit sih?" Protesku.


" Ini di kampung yah, jangan asal main kecup kecup gitu. Untung lagi engga banyak orang di sini." Bisiknya dengan nada menekan.


" Awas aja kalau kamu ulangin lagi." Ancam Cinta.


" Kamu di kampung galak banget sih? Pelit juga. Cuma kecup sekilas aja engga boleh." Ucapku manyun.


" Ya bukan gitu. Ini kan bukan di kota Aidan. Orang-orang di sini kan masih tabu sama hal-hal kaya gitu. Kamu harus ngerti dong."


" Iya maaf deh."


" Jangan ngambek sih, nanti ada ayah loh." Ucap Cinta yang membuatku celingukan mencari keberadaan ayah. Aku takut juga sih kalau sampai ayah tahu aku barusan mengecup bibir putrinya.


Aku dan Cinta akhirnya juga berbelanja untuk oleh-oleh eomma, appa dan teman-teman tim humas di STAR FOOD.


" Belanjaan kita ternyata lumayan banyak yah?" Ucapku pada Cinta sambil menenteng barang belanjaan yang lumayan banyak sampai membuatku repot. Untung saja aku memarkirkan mobil tak jauh dari tempat kami belanja tadi jadi kami langsung memasukkan belanjaannya ke dalam mobil.


" Kamu beneran gapapa ngabisin uang banyak banget selama di sini?" Tanya Cinta yang tak menjawab pertanyaanku sama sekali.


" Ini engga sampai abis 5 juta kok baby." Jawabku.


" Bukan tentang oleh-oleh tapi tentang mobil ini." Ucapnya kemudian berdiri di sebelahku yang sedang menutup pintu belakang mobil.


" Kan aku udah bilang kalau pacar kamu ini kaya. Bukan mau sombong sih tapi emang kenyataannya gitu gimana yah?" Candaku pada kekasihku yang cantik ini.


" Iya aku tahu tuan muda, anda banyak duitnya. Tapi bagaimana dengan sajangnim dan juga eomma?"


" Emang kenapa sama mereka?" Tanyaku tak mengerti.


" Nanti mereka menganggap keluargaku mata duitan lagi. Kamu udah ngabisin ratusan juta loh cuma buat mobil ini aja." Ucap Cinta seperti tak enak hati padaku.


" Hei pacarku yang cantik? Mereka engga akan nanya-nanya mengenai uangku. Semua yang aku kasih sama kamu, ayah sama ibu itu hasil kerjaku. Semuanya uang pribadiku. Ini buat nunjukin kalau aku serius sama kamu. Kamu engga usah mikirin masalah uang. Uangku masih banyak tenang aja. Hehe." Ucapku.


" Nak Aidan?"


Suara ayah mengejutkan kami. Tiba-tiba saja mereka sudah berdiri di belakang kami. Entah sejak kapan mereka di situ.


" Ayah?" Ucapku mengambil barang-barang yang di bawa ibu dan ayah kemudian membukakan pintu mobil untuk memasukkan barang-barang belanjaan mereka.


Ayah memandangiku dengan tatapan yang tidak bisa ku mengerti.


" Ada apa yah? Saya ada salah?" Tanyaku yang melihat ayah diam saja.


" Ndak ada leh. Nanti ayah ingin bicara serius sama semuanya ya, sebaiknya kita pulang sekarang." Ucap ayah yang membuatku khawatir. Ibu dan Cinta juga terlihat bingung dengan perubahan sikap ayah yang mendadak bereskpresi serius cenderung menyeramkan.


Apakah ayah akan bicara mengenai Fandi pada Cinta dan juga ibu?


...___ bersambung ___...

__ADS_1


__ADS_2