BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 18


__ADS_3

" Cinta? Loe mau ikut gue makan siang engga?" Ajakku ketika jam makan siang sudah tiba.


" No. Gue lagi ngebut ngerjain kerjaan." Tolaknya.


" Kerjaan mah nanti aja dulu sih. Makan dulu ayo, udah jam makan siang juga." Ajakku sekali lagi.


" Engga Aidan. Loe jalan sendiri aja, nanti pulangnya beliin gue kimbab aja."


" Oh gitu, ya udah. Gue pergi dulu ya?" Pamitku.


...***...


Aku berjalan menyusuri jalanan di sekitar kantor mencari tempat makan yang enak. Sudah terbiasa makan bersama Cinta atau kadang memakai layanan pesan antar menjadikanku kebingungan untuk menentukan apa yang ingin kumakan. Tapi perut sudah berdemo sejak tadi minta segera di isi.


Akhirnya kuputuskan saja memasuki salah satu tempat makan yang ada di hadapanku. Kulihat disitu ada menu kimbab. Kuputuskan masuk ke sini karena ku pikir biar nanti bisa sekalian pesan untuk Cinta.


Konsep rumah makan yang kumasuki ini lebih tradisional di banding yang lain yang sudah terlihat modern. Itu salah satu yang menarikku masuk ke sini.


Aku menggeser pintu kayu dan kudapati banyak juga pelanggan di dalam. Kulihat ada satu meja kosong dan aku langsung duduk di situ.


Bibi pemilik rumah makan mendekatiku dan menanyakan pesanan. Setelah mencatat pesananku tak lupa pula dengan pesanan Cinta satu set kimbab untuk di bungkus, akhirnya bibi itu meninggalkanku dan memintaku untuk menunggu pesanan.


Tak berapa lama aku sibuk dengan ponselku. Aku mengusili Cinta dengan mengirim banyak pesan teks.


" Ahjumma? Tidak ada bangku kosong untuk satu orang?"


Ku dengar suara teriakan seorang wanita mencari bangku kosong.


" Maaf, apa anda sendirian?"


Seseorang sudah berdiri di seberang mejaku. Aku langsung meletakkan ponselku dan menoleh padanya.


" Ah iya." Jawabku.


" Bolehkah saya... Eoh? Kak Aidan?"


Seseorang itu tiba-tiba saja mengenaliku tapi aku masih belum mengenali siapa dia meskipun aku sudah mengamatinya dengan seksama. Yang jelas dia memanggilku Kak Aidan, ini sudah pasti orang Indonesia.


" Nuguseyo?" Tanyaku dalam bahasa korea meskipun aku tahu dia memanggilku Kak Aidan.


" Aku Renata kak adiknya Kak Reyhan." Ucapnya memperkenalkan diri. Dan dia menggunakan bahasa Indonesia.


" Reyhan temen kuliah Kak Aidan. Yang kakak sering ke rumahnya loh." Sambung wanita itu lagi.


" Aahhh iya Renata yang pakai kacamata itu kan?"


Akhirnya aku mengingat wanita itu tapi sekarang dia benar-benar berbeda dari wanita yang ada dalam bayanganku.


" He'em, akhirnya Kak Aidan inget aku juga. Aku boleh duduk di sini engga?"


" Oh boleh dong. Lagian engga ada tempat lain juga kan?" Ucapku mempersilahkan.


" Ahjumma, saya pesan yang sama dengan dia yah?" Teriak Renata memesan makanan pada bibi pemilik rumah makan.


" Baik nona."


Setelah Renata memesan dia langsung duduk dan meletekkan kedua siku tangannya di meja. Dia menopang dagunya dengan kedua tangan sambil memperhatikanku intens. Aku jadi risih dengan kelakuannya. Seingatku dia dulu anaknya pemalu dan penampilannya terlihat cupu bahkan aku sering menggodanya karena dia jarang bergaul. Maksud hati sih supaya dia bisa bersosialisasi lebih karena menurut Reyhan, adiknya memang kurang gaul dan tidak punya banyak teman. Dia jarang keluar rumah bahkan setiap aku datang ke tempat Reyhan, dia pasti selalu ada di rumah padahal aku hampir setiap hari menyambangi rumahnya dalam sebulan saat mengerjakan tugas kelompok pada saat itu.


Tapi lihat penampilannya saat ini, begitu modis bahkan seperti orang korea asli sampai aku pun tadi sempat tidak mengenalinya.


" Wae? Kenapa ngelihatin gue kaya gitu?" Tanyaku karena risih dengan Renata yang terpaku melihatku.


" Kak Aidan bukannya sosok AK yang misterius itu kan? Yang belum lama ini membongkar identitasnya?" Tanyanya.


" Iya. Emang kenapa?"


" Kenapa Kakak ada di Korea? Beritanya memang sosok AK menghilang dari dunia entertain sih. Berarti sosok AK menghilang karena pindah ke korea?" Tanyanya lagi.


" Ya loe sendiri kenapa ada di sini?" Tanyaku tidak berniat menjawab pertanyaannya.


" Hehe, aku kerja di sini kak."


" Oh iya? Dimana?" Tanyaku.


" Di firma hukum Kak, gedungnya ada di seberang STAR FOOD." Jawabnya.


" Lah gue kerja di Star food." Jawabku.


" Oh ya? Wah kita bakal sering ketemu dong Kak."


" Ya bisa jadi." Jawabku pendek.


" Aku bisa minta nomor telepon Kak Aidan engga?"


Akhirnya aku dan Renata bertukar nomor telepon. Tak berapa lama makanan pesanan kami datang dan kami pun langsung memakannya. Lebih tepatnya aku sih karena memang aku sudah tidak bisa lagi menahan lapar.

__ADS_1


" Kak?" Panggil Rena di sela-sela makan.


" Eoh?" Jawabku sambil membuka pesan dari Cinta kemudian membalasnya. Aku selalu senyum senyum sendiri karena balasan Cinta yang sering berupa omelan.


" Kok kak Aidan bisa engga berubah gitu sih? Padahal udah berapa tahun kita engga ketemu." Ujar Renata.


" Engga berubah gimana? Perasaan gue ya kaya gini, semakin menua." Jawabku kurang fokus karena aku lebih fokus pada pesan dari Cinta.


" Ya kakak kaya engga bertambah tua, makin ganteng malah."


" Ah masa sih? Loe juga lebih cantik sekarang. Syukur deh ternyata loe sekarang bisa memperbaiki penampilan." Jawabku sekenanya bahkan tanpa melihat Rena.


" Aku dari dulu suka sama Kak Aidan loh."


" Gue juga dulu seneng sama loe."


" Kak Aidan ngerti engga sih maksudnya? Asyik sama hp terus." Renata seperti kesal karena aku seperti tak menghiraukan keberadaannya.


Aku yang sadar dengan keadaan langsung meletakkan ponselku kemudian menatapnya.


" Iya maaf. Jadi maksudnya gimana?" Tanyaku.


" Ah udah deh engga jadi." Ucap Renata sebal.


" Dih ngambek."


" Engga kok siapa yang ngambek?"


" Oh iya btw Reyhan dimana sekarang?" Tanyaku mengalihkan perhatian Renata.


" Dia kerja di Indo." Jawabnya agak ketus.


" Jadi loe di sini sendiri?" Tanyaku.


Renata hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Kring... Kring...


Ponselku berbunyi, kulihat layar ada nama Cinta tertera. Renata sempat melihat ke arah ponselku dan aku segera mengambil ponsel dan menjawabnya.


" Iya sayang kenapa? Udah laper yah?"


" Iya iya maaf, bentar lagi juga otw kantor kok."


" He'em. Oke"


Akhirnya kututup panggilan dari Cinta. Kulihat Renata menatapku dengan tatapan menyelidik.


" Pacarnya kak?" Tanyanya.


" Hehe temen kerja."


" Kok panggilnya sayang?"


Aku mengusap rambut belakangku karena malu.


" Hehe. Gue suka sama dia. Oh iya Rena? Gue jalan dulu yah? Kerjaan masih banyak banget soalnya." Pamitku padanya kemudian membayar makanan pada bibi pemilik rumah makan. Aku membayarkan sekalian dengan milik Renata.


Aku menepuk pundak Renata sekali lagi untuk pamit.


" Gue duluan ya."


" Nanti sore aku ke Star Food boleh engga kak?" Teriaknya.


Aku tidak terlalu mendengarnya karena melihat pesan masuk dari Cinta. Aku hanya mengacungkan jempol padanya kemudian pergi.


...***...


" Hai cantik?"


Kepalaku kusembulkan dari balik pintu sementara badanku masih ada di luar. Kulihat Cinta masih fokus dengan pekerjaannya.


Merasa tidak direspon akhirnya aku masuk ke ruangan sambil menenteng kimbab pesanan Cinta. Kuletakkan kimbab itu di mejanya.


" Ah kamcagiya." Cinta terkejut begitu aku meletakkan kimbab pesanannya di meja. Jadi tadi aku menyapanya dia tidak dengar.


" Loe ngagetin gue aja." Ujarnya lagi.


" Gue udah nyapa dari tadi juga, loe nya aja yang engga denger." Ucapku kemudian mengambil lagi kimbab di mejanya kemudian membawanya ke meja di depan sofa.


" Ayo buruan makan dulu." Ucapku sambil membuka bungkusan yang ku bawa.


" Sebentar lagi, ini dikit lagi kelar."


Akhirnya aku mengambil sumpit dan mematahkannya jadi dua. Kuambil satu potong kimbab dan kutadah dengan tangan agar tidak terjatuh. Aku berjalan ke arah Cinta dan menyuapinya kimbab itu.

__ADS_1


" Ayo aaa." Perintahku.


" Engga perlu di suapin Aidan."


" Udah buruan, tangan gue pegel." Ucapku yang kemudian di turuti Cinta.


Cinta memakan suapanku.


" Udah di bilang eng..ga usah di suap..pin ju..ga." Ucapnya dengan mulut penuh.


" Kalau makan jangan sambil ngomong."


Cinta menuruti perkataanku dan mengunyah habis kimbab tadi kemudian menelannya.


" Ah enak juga. Beli di mana?"


" Entahlah gue tadi asal masuk aja soalnya bingung dan udah laper banget. Gue cuma lihat ada menu kimbab jadi gue masuk kesitu aja." Jawabku.


" Jessi eonni ngajakin gue ketemu lagi. Kenapa sih dia terobsesi banget ketemu sama gue?" Tanyanya padaku.


" Ya mana gue tahu. Lagian loe kan selalu engga bisa pas di ajak ketemuan jadi mungkin emang ada yang pengen di omongin sama noona ke loe." Jawabku.


" Dia katanya mau ke kantor nanti sore. Kok gue malah gugup yah?"


" Gugup kenapa? Karena loe mau ketemu calon kakak ipar? Atau karena loe mau ketemu mantan dari pacar loe?" Godaku.


" Hish." Ujarnya memukulku dengan penggaris.


" Aww. Perasaan semua cewe di sekitar gue bar-bar semua." Aku meringis sambil memegangi kepalaku yang tadi di pukul Cinta.


" Lagian loe sendiri yang suka banget godain gue. Loe sendiri yang cari masalah kan?" Cinta beralasan.


" Iya deh iya, laki-laki emang selalu salah."


" Itu loe tahu."


" Udah buruan itu kimbabnya di abisin."


" Iya tuan muda." Ucapnya kemudian berdiri dan beranjak ke sofa untuk makan sementara aku kembali ke meja kerjaku.


Setelah makan, aku dan Cinta sama-sama sibuk mengerjakan proyek baru. Ditambah minggu depan syuting iklan dengan BTS sudah akan dimulai. Aku dan Cinta pasti akan sibuk mondar mandir.


Tak terasa waktu cepat berlalu. Kulihat jam hampir menunjukkan waktunya untuk pulang kantor.


Kring... Kring...


Kudengar ponsel Cinta berbunyi dan dia mengangkatnya. Aku memperhatikan setiap gerak geriknya. Aku juga penasaran siapa yang menelponnya di jam pulang kantor seperti ini? Bukan pacarnya kan? Ah pasti bukan sih, kan pacarnya aku, yaaa walaupun pacar bohongan. Tapi aku yakin dia memang belum punya pacar. Eh tapi tidak menutup kemungkinan kan kalau ada pria yang menyukainya?


" Ya eonni?"


Aku menghela napas lega saat dia mengucapkan kata eonni, setidaknya orang itu perempuan. Oh iya tadi Cinta bilang noona mau ke kantor nemuin dia. Mungkin saja orang yang menelponnya adalah noona.


" Ah oke. Saya kesitu yah?"


Cinta menutup teleponnya.


" Siapa?" Tanyaku kepo.


" Noona loe tersayang." Jawabnya seperti menyindir kemudian dia membereskan tasnya dan mematikan komputer.


" Loe mau kemana?"


" Jalan sama noona loe. Gue kan udah bilang dari tadi."


" Gue ikut ya?" Pintaku kemudian ikut membereskan meja dan mematikan laptop.


" Tanya sama noona loe dulu lah. Gue cuma di ajak jadi engga etis kalau gue ngajak orang juga."


" Elah, nanti gue yang bilang." Ujarku dengan cepat menyelesaikan beberesku kemudian berjalan menyangking tas dan menyejajari Cinta.


Kami berjalan bersama turun ke lobby.


" Cinta? Aidan?" Panggil Jessica saat kita keluar dari lift dan menuju ruang tunggu lobby. Aku mengangkat tangan membalas sapaan Jessi, begitu juga dengan Cinta yang menyapa sambil membungkuk bahkan ketika jarak kami masih jauh dengan Jessi. Sopan sekali memang pacarku ini. Kami berdua mempercepat langkah menghampiri Jessica.


" Kak Aidan?"


Suara seseorang ku dengar memanggilku. Aku sontak menoleh ke belakang mencari sumber suara. Kulihat Renata berlari dari arah pintu masuk gedung dan mendekatiku.


" Renata?" Panggilku dengan suara pelan.


Tiba-tiba saja Renata menghambur ke pelukanku. Dia memeluk erat tubuhku dan menyandarkan kepalanya di dadaku. Aku begitu terkejut dengan pelukannya yang tiba-tiba ini, terlebih kulihat Cinta sedang melihat ke arahku.


...Gawat. Apa yang harus kulakukan sekarang?...


...___ bersambung___...

__ADS_1


__ADS_2