
Aku dan Cinta berjalan kaki menuju tempat yang Jona hyung bilang. Ternyata lokasinya tidak jauh dari gedung STAR FOOD. Aku sesekali menoleh ke arah Cinta dan mendapati wajahnya sangat gugup. Aku berpikir untuk menggenggam tangannya supaya Cinta merasa lebih rileks. Pelan-pelan ku ulurkan tanganku untuk mengambil tangannya tapi saat tanganku hampir menyentuhnya, Cinta malah menarik tangan kemudian menunjuk suatu tempat.
" Resto itu kan?" Tunjuknya padaku karena memang aku belum paham area di sini.
Aku malu sendiri dan segera menarik tanganku kemudian menggaruk bagian tengkukku yang tidak gatal.
" Ah sepertinya iya." Ucapku sambil tertawa salting.
Cinta tiba-tiba menghentikan langkahnya dan itu membuatku melakukan hal yang sama.
" Wae?" Tanyaku.
Cinta kembali memegangi dadanya.
" Gue gugup Aidan. Loe batalin aja deh, bilang aja pacar loe engga bisa dateng." Ucap Cinta yang membuatku terkejut apalagi dia terlihat bersiap kabur.
" Hei hei hei. Jangan gitu dong! Loe mau kemana?" Cegahku memegangi tangannya.
" Balik ke kantor."
" Loe jangan bercanda dong Cinta. Kita udah di depan resto."
Kring...kring...
Ponselku berdering, kuambil ponselku dari saku dan mengangkatnya sementara tanganku yang lainnya memegangi Cinta supaya tidak kabur.
" Eoh noona?"
" Gue udah lihat loe, kenapa engga masuk?"
" Iya ini udah mau masuk. Tunggu sebentar ya."
Ku tutup telepon dan kembali berbicara dengan Cinta.
" Please Cinta, loe jangan gini. Jessica udah lihat kita. Loe engga bisa mundur gini dong." Mohonku pada Cinta sambil memelas.
" Gue gugup dan takut Aidan. Apalagi nanti ada Sajangnim."
" Gue kan udah bilang, masalah sama appa nanti gue yang akan selesaiin. Pokonya loe tinggal bilang iya aja sama semua yang akan gue katakan di sana." Ucapku meyakinkannya.
Cinta masih terlihat berpikir.
" Loe engga lupa kan gue punya rekaman ciuman kita?" Akhirnya ku gunakan lagi kartu ancamanku padanya.
Cinta menoleh tajam padaku.
" Dasar tukang ngancem."
Aku meringis mendengar omelannya.
" Hehe.. Makanya kalau engga mau di ancem, loe nya jangan macem-macem dong sayang." Ucapku sambil bercanda.
" Sayang sayang pala loe tuh."
Aku tertawa melihat respon Cinta yang mengomel. Menggemaskan sekali wanitaku ini. Ah menyebut wanitaku pun rasanya sudah terbiasa, memang Cinta benar-benar seperti sudah menjadi milikku.
" Ayo!" Ucapku menggandeng tangannya tapi tanganku langsung dihempaskan kasar oleh Cinta.
" Engga usah gandengan gini." Kulihat Cinta risih.
" Kalau engga gandengan nanti engga meyakinkan." Jawabku beralasan.
Cinta menoleh tajam padaku dan itu cukup membuatku takut.
" Iya iya engga perlu gandengan."
Akhirnya kami berdua masuk ke resto.
" Aidan? Di sini." Kulihat Jessica memanggilku dan melambaikan tangannya.
Aku sempat tertegun karena melihat wajah wanita yang masih kusukai sampai saat ini. Aku tersenyum namun bukan senyum lepas. Ternyata melihatnya lagi masih mempengaruhi suasana hatiku. Jessica memang selalu terlihat cantik di mataku, aku tidak ingin sampai perasaanku bersemi lagi padanya. Aku meyakinkan diri bahwa dia sekarang adalah noona ku.
Entah Cinta memperhatikanku atau bagaimana, tapi saat ini dia menyentuh lenganku dan hal itu membuatku menoleh padanya. Cinta tersenyum padaku. Dan melihat senyumannya membuatku tersadar bahwa aku saat ini tengah menggandeng seorang wanita yang bisa kuanggap sebagai wanitaku. Paling tidak aku harus menghargai perasaannya meski Cinta hanya sebatas pacar pura-pura saja.
Aku membalas senyumannya dan kali ini aku memberanikan diri melangkah menghampiri Jessica dan Jona hyung dengan menggandeng tangan Cinta.
Cinta membungkukkan badannya begitu sampai di hadapan mereka sementara aku memeluk Jona hyung dan Jessica bergantian.
" Ya oraenmaniya (*lama tidak bertemu) Aidan? Jal jinnae? (*apa kabar?)" Jona hyung memelukku kemudian menepuk-nepuk punggung.
" Haha gue baik hyung." Jawabku membalas pelukannya sebentar kemudian melepaskannya dan beralih kepada Jessica.
" Gue kangen banget sama loe Aidan." Ujarnya menghambur ke pelukanku. Aku tertegun sejenak dan sempat kulirik Cinta yang memasang ekspresi yang cukup membingungkan untukku. Yang jelas aku menangkap ketidaksukaan dari raut wajah Cinta.
Melihat ekspresi Cinta entah kenapa membuatku merasa bersalah membalas pelukan dari Jessica. Mungkinkah aku sedang menjaga perasaannya?
" Ah noona, gue engga kangen padahal loh."
" Huh loe tuh." Ucap Jessica sambil memukul kepalaku.
" Aww sakit. Loe kebiasaan banget sih mukul kepala gue. Malu dong gue diperlakuin gini di depan cewe gue." Ucapku yang membuat Jessica meminta maaf.
" Eh iya iya maaf. Maafin aku ya.. Eh siapa namanya?" Tanya Jessica pada Cinta.
Cinta tersenyum lalu memperkenalkan diri.
" Nama saya Cinta, eonni."
" Eoh, kenalin aku Jessica, noona nya Aidan dan ini suamiku Jonathan."
Cinta dan Jessica saling berjabat tangan, begitu pula dengan Jona hyung.
" Aidan engga bikin kamu repot kan Cinta?" Tanya Jessica jelas sekali kalau dia menggodaku.
" Engga kok eonni." Jawab Cinta sepertinya dia gugup.
" Engga lah. Mana ada seorang Aidan ngerepotin sih? " Jawabku tak terima.
" Ngomong-ngomong appa dimana hyung?" Tanyaku karena tidak melihat Appa padahal tadi bilangnya akan makan bersama appa juga.
" Oh Appa lagi on the way ke sini, tadi ada tamu soalnya."
" Oohh." Jawabku pendek.
" Ngomong-ngomong cewe gue cantik kan? Noona mah engga ada apa-apanya." Godaku yang sebenarnya pada Jessica tapi Cinta malah menoleh cepat padaku dengan tatapan tajamnya.
" Wae? Loe emang cantik sayang." Ucapku pada Cinta yang membuat Jessica dan Jona hyung jadi meledekku.
" Ciee yang lagi bucin." Ledek Jessica padaku.
__ADS_1
Aku mengulum senyum. Meskipun tujuan awalku bercanda seperti ini untuk meyakinkan mereka bahwa aku benar-benar sudah move on dari Jessica tapi tetap saja candaanku tadi malah membuatku salting sendiri. Ku lihat Cinta merasa risih dengan keadaan ini.
Aku spontan meraih tangan Cinta yang berada di atas pahanya. Aku menoleh padanya dan mengisyaratkan bahwa aku hanya bercanda dan kamu tidak perlu khawatir.
" Aidan? Jessi? Jona?" Sebuah suara memanggil kami dan kami semua langsung menoleh ke sumber suara.
Ternyata Appa sudah datang dan menghampiri kami.
" Loh Cinta? Kamu di sini?" Appa terkejut melihat Cinta yang bergabung dengan kami.
Cinta menyapa hormat dengan membungkukkan badan.
" Ne, annyeonghasimnika Sajangnim."
" Cinta ini pacarnya Aidan appa. Memang Aidan belum bilang sama appa?" Jawab Jona hyung mewakiliku.
" Pacar kamu Cinta?" Tanya Appa padaku dengan raut wajah terkejut.
Aku mengusap tengkukku sambil tersenyum malu.
" Iya appa. Cewe yang kemarin Aidan ceritain ya Cinta."
Cinta pun ikut tersenyum tak nyaman.
" Emang Appa kenal sama Cinta?" Tanya Jona hyung lagi.
" Ya kenal dong, Cinta adalah salah satu karyawan terbaik appa dan dia juga appa mintain tolong buat mentorin Aidan di perusahaan." Jawab Appa yang kemudian duduk dan di ikuti oleh kami semua.
" Duduklah!" Perintah Appa.
" Wah parah nih Aidan, seniornya di pacarin juga." Jessica kembali meledekku.
" Hei hei jangan gitu dong. Gue suka banget sama dia loh. Cinta gue bersemi lagi setelah dulu sempat di tinggalin sama dia ke Korea." Ucapku.
" Jadi kalian sudah saling kenal sebelumnya?" Tanya appa.
" Udah appa, dulu kita satu universitas di UI, tapi beda fakultas."
" Kok kemarin waktu appa kenalin, kayanya kalian belum saling kenal?" Tanya appa yang membuatku harus berimprovisasi.
" Oh itu. Itu karena Cinta berubah jadi lebih cantik. Ya tentunya dulu juga cantik, kalau engga mana mungkin Aidan suka. Hehe." Ujarku sambil melihat ke arah Cinta.
Cinta terlihat tersenyum salah tingkah, dia memasukkan anak rambutnya ke belakang telinga.
" Oh gitu, tapi kemarin kenapa kamu engga bilang kalau wanita itu adalah Cinta? Lagipula kamu juga bilangnya kamu di tolak kan?" Cecar appa.
Aku malah jadi salting sendiri.
" Iya sih sebenernya Aidan di tolakin mulu dari kemarin. Ini juga Cinta baru nerima Aidan hari ini, itupun karena Aidan minta di kasih kesempatan hehehe."
" Wah berarti hari ini loe yang traktir makannya dong Aidan. Pajak jadian lah. Hahaha." Ujar Jessica.
" Iya siap." Jawabku.
" Cinta? Kenapa kamu mau sama Aidan?" Tanya appa tiba-tiba yang membuat Cinta bingung dan khawatir.
" Appa? Kenapa nanyanya kaya gitu?" Ucapku mengambil alih bagian Cinta untuk menjawab. Bukankah tadi aku sudah berjanji akan menghandle semuanya mengenai appa?
" Loh emang kenapa?" Protes Appa padaku.
" Kan kemarin Appa udah janji engga akan mempermasalahkan siapapun pilihan Aidan." Jawabku.
" Kan appa cuma nanya bukan mempermasalahkan. Appa senang dan setuju kamu jadian sama Cinta tapi boleh dong kalau appa tanya kenapa Cinta mau sama kamu? "
" Ah itu. Saya hanya memberikan kesempatan untuk Aidan membuktikan kata-katanya, Sajangnim." Jawab Cinta gugup.
" Jangan panggil Sajangnim dong, panggil Appa saja kalau bukan dalam konteks kerja." Ucap appa yang membuat Cinta tersenyum kaku.
" Ah mana bisa seperti itu sajangnim." Jawab Cinta.
" Kenapa tidak bisa? Kamu kan calon menantu saya nantinya."
Deg.
Ucapan Appa membuatku terkejut kemudian mengulum senyum saking senangnya. Hah? Senang? Kok senang? Apa aku memang berharap hal itu terjadi yah? Batinku.
Kulirik Cinta pun terkejut kemudian tersenyum paksa sambil duduk tidak nyaman.
" Loe kenapa senyum-senyum gitu Aidan?" Tanya Jona hyung.
" Kesenengan loe, appa bilang dia calon mantu?" Sambungnya lagi.
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal sambil tertawa salting.
" Hehehe. Loe bikin gue malu hyung."
" Kalau gitu kita nikah aja yuk Cinta?" Spontanku mengajak menikah Cinta.
Cinta menoleh padaku terkejut. Dia pasti akan mencak-mencak jika saja bukan di depan keluargaku.
" Woaaaa, Aidaaaan jinjja. Loe ngajak nikah kaya begini caranya?" Ledek Jessica padaku.
" Tuh Cinta sampai terkejut begitu." Sambung appa.
" Emang parah loe bikin jantungan anak orang." Jona hyung ikut menimpali.
" Bercanda sayang." Ucapku pada Cinta yang kulihat menundukkan kepala sambil mencubit pahaku di bawah meja. Aku meringis menahan sakit tapi tidak terlalu kentara. Yang terlihat hanya seperti aku tersenyum dengan menunjukkan gigi.
" Uuwww gue geli lihatnya Aidan. Loe bucin banget sih." Jessica kembali meledekku.
" Hahaha, betul itu Jessica. Appa juga engga nyangka punya anak seperti begini modelannya. Maafin anak Appa ya Cinta." Sambung appa.
" Ne, gwaenchanseumnida sajangnim." Jawab Cinta.
" Appa sayang bukan sajangnim." Ujar appa memperbaiki panggilan Cinta padanya.
" Ah ne, appa." Ralat Cinta ragu-ragu.
Pelayan mengantarkan makanannya ke meja kami dan akhirnya kami semua berhenti bercanda dan mulai makan.
Setelah kurang lebih setengah makanan kami habis tanpa adanya obrolan, akhirnya Jona hyung membuka pembicaraan.
" Appa? Jona ke sini mau ngabarin kalau sebentar lagi appa akan jadi harabeoji."
Meski sudah diberitahu sebelumnya tapi mendengarnya sekali lagi tetap saja rasanya seperti di khianati. Rasa sakitnya persis saat Jessica mengkhianatiku dengan berhubungan intim dengan hyung dihotel pada hari penentuan tanggal pernikahanku dengan Jessi.
Membayangkan bukan aku yang menjadi ayah dari bayi yang ada di rahim Jessica membuat hatiku nyelekit. Aku tahu ini salah, seharusnya aku sudah mengikhlaskan semuanya karena aku sudah memutuskan untuk melepas Jessica untuk hyung tapi bukankah kita tidak bisa menyalahkan perasaan? Kita kan tidak bisa mengontrol perasaan kita untuk sesuai dengan yang kita mau.
Kulihat Appa terkejut bahkan sampai meletakkan garpu dan pisau makannya di meja.
__ADS_1
" Kamu serius Jona? Appa akan jadi harabeoji? Jessica sedang mengandung cucuku?" Tanya appa excited.
" Iya Appa, doain semuanya lancar sampai baby Kim lahir ya." Ujar Jessica.
" Pasti dong, Appa pasti selalu doain kalian semua apalagi untuk calon cucu Appa." Jawab Appa.
" Kalian juga secepatnya menikah saja supaya appa juga bisa dapat cucu dari kalian berdua." Ujar appa padaku dan Cinta.
Mendengar itu tentu saja aku terkejut, kulirik Cinta pun sama terkejutnya.
" Ah appa nih enteng banget ngomong gitu. Aidan sama Cinta kan jadi shock dengernya." Protesku.
" Loh kenapa? Bukannya kalian saling mencintai? Apa salahnya cepat menikah."
" Ya.. Ya engga gitu juga appa. Yang tergila-gila kan baru Aidan aja, Cinta kan belum. Tapi kalau Cintanya bersedia, Aidan pasti akan segera nikahin dia sih. hehe."
Cinta menatapku tajam. Mungkin setelah ini dia akan kapok membantuku. Tapi aku tidak khawatir sama sekali karena setelah hari ini meskipun Cinta menolak jadi pacar bohonganku, dia tetap tidak akan pernah lari dariku mengingat aku sudah mengenalkannya pada appa. Ah pintar sekali kamu Aidan, menjebak Cinta dalam situasi seperti ini. Hehehe.
" Huu jangan mau Cinta kalau Aidan cara ngelamarnya kaya gini." Ucap Jessica.
" Apa sih loe noona sirik aja." Protesku.
" Udah sih kasian itu Cintanya di godain terus. Maafin Appa ya Cinta, appa cuma bercanda." Ucap appa karena melihat Cinta yang sudah terlihat merasa sangat tidak nyaman dengan situasi ini.
" Ah ne ap-pa." Ucap Cinta terbata.
" Oh iya appa, Jessica boleh minta ijin ajakin Cinta jalan engga besok? Maksud Jessi, Jessi minta cuti untuk Cinta satu hari." Ucap Jessica tiba-tiba.
Kami semua sontak menoleh ke arah Jessica.
" Kenapa loe mau ajak cewe gue noona?" Tanyaku.
" Ya emang kenapa? Dia kan nanti jadi adik ipar gue. Gue pengen lebih deket aja sama Cinta. Kamu mau kan Cinta?" Jawab Jessi kemudian bertanya langsung pada Cinta.
Aku menggelengkan kepala pelan pada Cinta mengisyaratkan agar Cinta segera menolaknya saja.
" Bagaimana ya eonni? Saya sih mau saja tapi saat ini saya sedang memegang proyek besar dengan BTS jadi sepertinya dalam waktu dekat tidak bisa cuti."
Ah wanitaku ini memang pintar dan cepat tanggap. Aku mengedipkan sebelah mataku dan memberikan jempol pada Cinta di bawah meja.
" Oh gitu, tapi bisa kan kalau setelah kerja kamu ke rumah untuk makan malam? Atau gimana kalau weekend ini saja kita jalan bareng?" Tanya Jessica masih terus berusaha.
" Emang loe lama di Korea apa?" Potongku.
" Ya elah baru juga sampai. Ya sebulanan kali di sini." Jawab Jessi.
" Sebulan? Lama amat." Jawabku.
" Isshh.. Oppa ( memanggil dengan nada manja ) Aidan nih kaya engga suka banget kita di sini lama." Ucap Jessica pada Jona hyung manja yang membuatku gemas.
Ah kenapa juga Jessi harus berekspresi seperti itu sih? Aku jadi merindukan Jessica yang dulu.
Hei Aidan sadar sadar. Dia noona kamu sekarang.
" Ya bukan gitu noona. Elah gitu aja ngadu." Protesku.
" Sudah sudah kalian berdua kaya tom and jerry saja tidak bisa akur." Appa menengahi kami.
" Maafin Jessi appa."
Kulihat Jona hyung malah menahan tawa.
" Loe kenapa malah ketawa hyung?" Tanyaku.
" Eh iya. Kenapa kamu ketawa sayang?" Jessica mengikutiku bertanya.
" Engga ( sambil menahan tawa ) Kamu engga takut apa berantem terus sama Aidan nanti baby kita malah mirip Aidan?" Ucap Jona hyung.
Jokes Jona hyung yang seperti ini padaku membuatku bersyukur bahwa dia saat ini pasti sudah menganggap interaksiku dan Jessica hanya sebatas kakak adik.
" Hei helooo hyung, loe harusnya bangga kalau baby kim nanti mirip gue. Secara gue ganteng, multi talent ya kan? Ya kan Cinta?"
Ku akhiri jawabanku dengan bertanya pada Cinta agar dia tidak merasa tersisih di antara keluargaku.
Cinta hanya tersenyum tanpa menjawab.
" Oh iya habis ini gue sama Jessi mau jalan-jalan. Loe mau ikut engga? Appa gue ajakin katanya hari ini engga bisa." Ajak Jona hyung padaku.
" Wah kalau gitu gue juga engga bisa, hari ini kita ada kerjaan yang deadline besok kan sayang?" Tanyaku pada Cinta. Entah kenapa aku jadi terbiasa memanggil dia dengan panggilan sayang?
Cinta menoleh sekilas sambil memasang ekspresi protes tapi akhirnya dia tetap menjawab juga.
" Iya maaf oppa, eonni. Kerjaan kita akhir-akhir ini memang di deadline cepat."
" Ah bukan hanya cepat sayang. Mumpung di sini ada sajangnim, aku ingin protes. Kenapa kerjaan yang dikasih ke Aidan selalu deadlinenya satu hari setelah di berikan? Perasaan kerjaan Aidan dulu engga pernah begitu. Jujur saja meskipun Aidan kompeten tapi kalau lembur tiap hari juga engga akan sanggup. Pantes aja sayangku ini jadi karyawan teladan, Aidan engga bisa bayangin sebanyak apa lemburnya di STAR FOOD selama ini. Bagaimana ini sajangnim?" Protesku panjang pada appa.
Appa jadi salah tingkah sendiri.
" Lah kan appa engga pernah suruh karyawan appa lembur. Kalaupun iya appa pastikan mereka mendapat gaji lembur yang layak. Tanyakan sama Cinta kalau kamu tidak percaya!" Jawab appa tak terima.
" Ne sajangnim. Itulah kenapa saya betah bekerja untuk STAR FOOD." Jawab Cinta.
" Tuh kamu dengar kan?" Bangga Appa karena Cinta membelanya.
" Kok kamu bela appa sih sayang? Kan aku lagi bela kamu."
Entah sejak kapan "gue elo" menjadi " aku kamu" dalam panggilan kami.
" Ya udah yah appa ada meeting sebentar lagi. Appa jalan duluan. Jessica jaga kandungan kamu yah? Jona juga jagain Jessi dan calon cucu appa baik-baik."
" Ne, appa." Jessi dan Jona hyung mengiyakan bersamaan.
" Kalian juga, Cinta, Aidan, appa jalan duluan."
" Ne, sajangnim. Eh appa. Annyeonghi gaseyo. " Ralat Cinta kemudian berdiri dan membungkukkan badan.
" Ne, appa." Jawabku juga setelah sebelumnya menahan tawa karena Cinta selalu salah sebut appa menjadi sajangnim kemudian meralatnya. Aku cukup kagum juga dengan manner Cinta. Dia sangat sopan menurutku. Entahlah dia memang sopan atau karena appa adalah sajangnimnya.
Aku melihat jam tangan kemudian teringat pekerjaan yang masih menumpuk di kantor sementara waktu makan siang sudah hampir habis.
" Oke lah kalau gitu Aidan sama Cinta juga pamit hyung, noona. Kita banyak kerjaan yang di deadline besok." Ucapku.
" Oke deh. Nanti malem kalau bisa Cinta ke rumah ya makan malem sama-sama." Jessica masih berusaha mengajak Cinta.
" Iya noona bawel. Tapi engga janji soalnya kita banyak banget kerjaan. Iya kan Cinta?"
Cinta mengiyakan pertanyaanku.
" Ne, eonni. Kita emang lagi banyak sekali pekerjaan yang deadlinenya minggu-minggu ini. Jadi saya minta maaf banget bukannya saya engga mau nurutin permintaan eonni tapi memang keadaannya belum bisa." Ucap Cinta.
__ADS_1
Akhirnya setelah banyak berdebat, aku dan Cinta kembali ke kantor. MISSION COMPLETE.
...____ Bersambung____...