
Cinta kurasakan sangat aktif memimpin adegan ciuman kami, dia melumati bibirku dan memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Lidahnya menyapu seluruh bagian dalam mulutku. Begitu kutemukan lidahnya, aku langsung saja mengait lidahku dengannya. Entah sejak kapan Cinta menjadi mahir dalam berciuman?
Suasana erotis ini jujur saja membuatku terangsang. Melihat Cinta yang mendudukiku, juga ciuman kami yang panas membuat sesuatu di dalam celanaku menjadi tegang. Tak terasa akupun terdorong untuk menyentuh dadanya.
Saat tanganku sudah berada di dadanya, Cinta melepaskan pagutannya dan mundur dengan cepat. Dia terkejut, entah karena tindakanku atau dia telah tersadar bahwa dia sudah berciuman panas denganku? Aku sontak protes atas perlakuannya yang menghentikan aksi kami saat aku sudah dipenuhi nafsu. Aku memandanginya dengan intens yang kemudian entah bagaimana Cinta mengambil tasnya yang terjatuh di lantai kemudian berlari kabur.
" Cinta?" Panggilku berusaha menahannya agar tidak pergi. Sayangnya kakiku tersandung kaki meja yang ada tak jauh dariku.
Aku terhenti karena rasa sakit yang lumayan nyut-nyutan akibat hantukan dengan kaki meja tadi. Saat kulanjutkan mengejar Cinta, dia sudah tidak terlihat.
...***...
Ke esokan harinya aku masuk kerja agak terlambat. Hal pertama yang kulakukan adalah mencari Cinta. Semalam terpikirkan olehku bahwa aku harus minta maaf karena terlalu berani dengannya. Semalaman semua pesanku pada Cinta sama sekali tidak diresponnya sampai aku merasa frustasi sendiri dengan keadaan itu. Akhirnya aku tidak bisa tidur sampai subuh alhasil aku terlambat ke kantor.
Ku buka pintu ruangan dan tidak kudapati Cinta di dalam. Kutanyakan pada rekan yang lain tentang keberadaan Cinta.
" Ada yang lihat Cinta?"
Semua orang di ruangan melihat ke arahku kemudian tak lama sebelum mereka sempat menjawab, Cinta keluar dari ruangan timjangnim dan berjalan ke arahku. Cinta sempat terpaku sejenak saat bertatapan denganku namun dia langsung melanjutkan perjalanannya ke arahku dengan ekspresi dingin khasnya.
Cinta melewatiku begitu saja dan aku langsung mengekorinya masuk ke dalam. Cinta duduk di meja kerjanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Aku menghampirinya dan berdiri di seberang meja.
" Cinta? Semalam kenapa..."
" Loe kenapa telat?" Potongnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer. Tangannya pun sibuk mengetik di papan keyboard.
" Gue engga bisa tidur karena loe engga bales pesan gue."
" Di meja loe udah ada kerjaan baru. Silakan di kerjakan dan lain kali jangan sampai telat datang ke kantor." Ujarnya sambil menunjuk meja kerjaku tapi pandangannya sama sekali tidak mau beralih kepadaku. Nadanya pun datar bahkan terkesan dingin.
" Cinta? Tentang ciuman semalem...."
Cinta menghela napas kemudian menatapku tajam.
" Aidan? Tolong pisahkan hal pribadi dengan pekerjaan. "
" Tapi loe sendiri..."
" Oke. Untuk kemarin gue emang salah. Gue harap hal seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi di antara kita. Dan mulai sekarang tolong selain hubungan profesional kerja, loe jangan ada di sekitar gue. Gue engga pengen terlibat apa-apa sama loe."
Setelah mengatakan itu Cinta mengambil sebuah dokumen dan meninggalkanku di ruangan.
Aku tertegun dengan perlakuannya tadi sampai tidak bisa merespon satupun perkataan Cinta.
Aku menghela napas kecewa setelah tersadar, akhirnya aku kembali ke meja kerjaku dengan lemas untuk mengerjakan pekerjaan yang tadi Cinta bilang.
Baru membuka satu lembar berkas saja aku sudah malas. Kututup kembali dan kubantingkan ke meja berkas-berkas itu.
" Ah rasanya ngebosenin banget. Perasaan kemarin masih biasa-biasa aja. Gue jadi kangen sama studio musik."
Aku mengambil ponsel dan mulai melihat-lihat galeri.
Ting.
Bunyi satu pesan masuk di ponsel. Kulihat nama Jona hyung yang ada di layar. Ku buka pesan itu.
* Aidan? Tebak gue dimana?"
Aku langsung membelalakkan mata melihat foto yang di kirimkan Jona hyung. Aku langsung menekan tombol panggil untuk menelponnya.
" Yeoboseyo? "
" Hyung? Loe di Korea?"
" Iya. Ya seperti foto yang loe lihat, gue ada di sini sekarang."
" Aaa Ppeongchijima (* aaa jangan bohong ). Gue baru berangkat dari rumah loh. Emang loe kapan sampainya?"
" Baru banget."
__ADS_1
" Sama noona?"
" Iya lah masa gue sendiri."
" Kenapa loe engga bilang sih? Gue kan bisa jemput ke bandara."
" Engga usah, kan loe kerja. Lagian kata Jessica, dia pengen buat kejutan. Nanti siang gue sama Jessi ke kantor appa. Kita makan siang bareng sama appa. Ajakin cewe loe yang kemarin loe omongin. Jessi pengen kenal katanya."
Ah mampus bagaimana aku harus menjelaskannya yah? Mana nanti ada appa pula. Duh mana Cinta sepertinya tidak bisa di ajak bicara hari ini lagi.
" Oy?"
" Ah, iya iya, tapi lihat dulu ya cewe gue bisa apa engga soalnya dia orangnya sibuk banget."
" Harus bisa dong Aidan. Bilang calon kakak iparnya mau kenalan."
Terakhir kudengar suara Jessica yang bicara. Ah aku rasanya rindu sekali dengannya. Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana nanti jika bertemu, apakah aku masih akan terpesona dengan Jessica? Kuharap aku bisa segera melupakannya karena saat ini Jessica benar-benar sudah menjadi milik Jonathan.
" Aidan?" Panggilnya lagi di ujung telepon sana.
" Ah iya noona, nanti gue usahain dia dateng yah? "
" Kalau dia engga dateng berarti loe bohong bilang udah punya pacar padahal sebenernya belum."
" Hahaha, iya iya nanti gue bawa beneran cewe gue. Dia cantik banget loh. Noona pasti kalah cantik sama dia. Jangan minder nanti yah?"
" Heiii plis yah siapa sih yang bisa nyaingin kecantikan seorang Jessica?"
" Huuuu PD banget jadi orang. Udah dulu yah, gue masih ada kerjaan. Sampai ketemu nanti siang. Bye."
Setelah kututup panggilan telepon dengan Jona hyung dan Jessica, aku langsung buru-buru menelpon Cinta.
" Eoh?"
Ya elah baru mengangkat telepon saja sudah jutek seperti ini.
" Cinta? Loe di mana?"
" Di lobby."
" Gue lagi on the way ke humas."
Sumpah ini anak kenapa sih? Jutek sekali sejak pagi tadi. Kira-kira bisa minta tolong dia apa tidak yah? Mati aku kalau sampai Cinta tidak mau membantuku.
" Oke gue tunggu."
Akhirnya ku akhiri panggilan. Sebenarnya bukan aku sih tapi Cinta yang duluan mematikan sambungan telepon kami. Aku jadi merasa takut sendiri untuk minta tolong padanya.
Tak berapa lama Cinta masuk ke ruangan. Dengan santainya dia duduk di kursi kerjanya kemudian bertanya.
" Ada apa?" Tanyanya datar sambil sibuk mengurusi kerjaannya.
Aku yang ditanya malah merasa gugup dan khawatir. Jantungku berdegup dengan sangat kencang.
" Aidan?" Panggilnya sekali lagi karena aku tak kunjung menjawab saat dia bertanya.
" Eoh? ( tersadar ) Oh itu, gue mau minta tolong tapi gue harap loe engga marah dan bersedia bantu gue. Gue mohon." Ucapku sambil menempelkan kedua telapak tanganku sebagai tanda permohonan.
Cinta akhirnya menatapku setelah dari tadi terlihat sangat cuek.
" Minta tolong apa? Selain pekerjaan gue..."
" Justru ini bukan pekerjaan." Potongku cepat karena aku tahu Cinta akan menolaknya jika bukan masalah pekerjaan.
" Bukan pekerjaan? Terus?"
" Gini gue..."
" Kalau pura-pura jadi pacar loe, gue menolak. Untuk masalah kemarin yang pura-pura di depan staff humas gue akan mengakhiri ini, anggap aja kita udah putus." Potongnya yang seperti paham apa yang akan ku katakan.
Aku menghela napas kecewa.
" Please Cinta, ini hidup mati gue."
__ADS_1
Cinta kulihat mengernyitkan dahi.
" Emang loe mau minta tolong apa?" Tanyanya ragu.
" Gue minta tolong pura-pura jadi pacar gue di depan Jessica, abang gue dan appa."
" HAH? ( terkejut ) Ddd... Di depan sajangnim? Engga engga engga gue engga mau."
Cinta langsung menolak mentah-mentah. Aku langsung berdiri dari kursi dan menghampirinya.
" Please Cinta please tolongin gue."
" Engga engga engga."
" Ayolah Cinta please."
Aku bahkan berlutut di depannya sambil memohon.
" Loe ngapain berlutut gitu?" Tanya Cinta risih dengan sikapku yang memohon padanya.
" Tolongin gue Cinta. Loe sendiri kan yang bilang kalau loe bakal bantuin gue sebisa loe buat move on dari Jessica. Dan ini gue lagi minta tolong."
" Iya sih tapi gue engga mau pura-pura jadi pacar loe apalagi di depan Sajangnim."
" Kalau engga mau pura-pura jadi pacar, jadi pacar beneran aja kalau gitu " Candaku di sela-sela permohonan.
" Hei hei hei engga gitu juga konsepnya."
" Hehe maaf maaf. Ayolah Cinta, gue mohon. Gue juga engga mau bikin khawatir hyung dan noona gue kalau gue ketahuan bohong sama mereka. Gue takut mereka khawatir gue belum bisa move on dari noona."
" Loe emang belum bisa move on dari dia kan?"
" Iya sih tapi kan setidaknya gue bisa pura-pura supaya minimal abang gue engga khawatir kalau istrinya bisa sewaktu-waktu gue rebut kaya dulu."
" Jadi loe dulu ngerebut pacar abang loe?"
" Ish bukan itu. Masalahnya rumit. Intinya gue engga sebejat itu kok. Ayolah tolongin gue please. Katanya loe mau bantu gue."
" Ya tapi engga gini juga Aidan. Mungkin di depan hyung sama noona loe gue masih mau bantuin loe tapi kalau di depan sajangnim? Ya kali kita baru kenal berapa hari terus kita jadian? Lagian nanti pasti Sajangnim bakal marah karena bukannya mentorin loe, gue malah macarin loe."
" Kan kemarin loe udah denger, bokap gue engga akan ikut canpur siapapun cewe gue asal dia perempuan baik-baik dan bukan milik siapa-siapa."
" Loe yakin banget gue bukan milik siapa-siapa."
Aku langsung terdiam.
" Loe.. Loe belum punya pacar kan?" Tanyaku ragu.
Jujur saja aku tidak pernah memikirkan ini sebelumnya. Benar juga, Cinta ini kan cantik, karirnya bagus, pasti dia udah punya pacar kan? Tapi...
" Ah loe jangan bohong deh. Kalau loe punya pacar mana mungkin kita ciuman berkali....."
Stttt. Cinta menutup mulutku dengan telapak tangannya.
" Jangan sebut-sebut hal itu."
Aku memegang dan menurunkan tangannya dari mulutku.
" Iya maaf cantik, eh Cinta maksudnya. Ayolah please. Masalah appa, gue janji gue yang bakal urusin itu deh. Loe engga perlu khawatir."
" ENGGA." Tegasnya.
Aku menunduk sambil memanyunkan bibir. Aku akhirnya berdiri dengan lemas. Tiba-tiba saja terpikirkan sesuatu olehku. Ku edarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
" Ngomong-ngomong ruang kontrol cctv di mana?" Tanyaku.
Cinta mengernyitkan dahi mungkin dia bingung kenapa aku tiba-tiba bertanya perihal cctv padahal sebelumnya aku sedang memohon agar dia mau berpura-pura jadi pacarku.
" Dimana?" Tanyaku sekali lagi.
" Di lantai satu. Loe kenapa...."
Tidak mendengarkan perkataan Cinta, aku langsung saja pergi mencari ruang kontrol cctv.
__ADS_1
...___ bersambung ___...
...Kira-kira Aidan mau ngapain yah ke ruang kontrol CCTV? Komen di kolom komentar ya.......