BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 34


__ADS_3

Sore hari Cinta mengajakku untuk pulang. Sudah setengah hari aku dan Cinta menghabiskan waktu di Namsan Park, melepaskan segala beban pikiran di sini.


" Bisa lebih lama lagi di sini?" Tanyaku pada Cinta saat kami bersiap-siap turun.


" Appa pasti khawatir, Aidan. Lebih baik kita pulang yah?" Bujuk Cinta untuk kesekian kalinya.


Ya aku memang sudah menolak untuk pulang beberapa kali. Aku memang belum ingin bicara dengan siapa-siapa kecuali dengan Cinta. Tapi wanita kesayanganku ini malah mengajakku untuk pulang. Dan aku tidak tega jika menolaknya lagi. Akhirnya Cinta membawaku kembali ke rumah.


" Aidan?" Panggil appa yang tak kusadari keberadaannya. Beliau duduk di sofa tunggal di ruang tamu.


Aku berhenti dan menoleh malas pada appa.


" Cinta?" Panggil appa pada Cinta yang ada di belakangku.


Cinta membungkuk memberi salam pada appa.


" Aidan? Kemarilah, appa ingin bicara." Ucap appa padaku.


" Maaf appa tapi Aidan lelah."


" Sebentar saja Aidan." Ucap appa memohon.


" Kalau gitu Cinta pamit saja appa."


Cinta tiba-tiba pamit pulang dan aku menoleh cepat padanya. Cinta tersenyum ke arahku.


" Kamu pulang naik apa sayang?" Tanya appa yang mewakiliku.


" Biar Cinta cari taksi saja appa."


" Tidak. Appa tidak mengizinkannya. Kamu jangan pulang sendirian. Nanti saja tunggu Aidan atau Jona yang antar kamu. Lagipula appa juga ingin bicara denganmu. Sini ikut duduk." Ucap appa yang langsung di turuti oleh Cinta.


Tak berapa lama Jona hyung dan juga Jessica keluar dari kamar dan ikut duduk bersama kami. Sepertinya appa memang sengaja mengumpulkan kami semua.


" Pertama-tama appa ingin minta maaf sama Aidan karena appa sudah menampar kamu tadi siang. Maafin appa ya Aidan." Ucap appa menoleh ke arahku. Jujur saja tidak sekalipun aku marah dengan appa atas tamparan itu. Aku hanya tidak suka appa membela wanita yang mengaku eommaku itu.


Aku masih duduk menunduk mendengar appa bicara.


" Appa? Kalau Aidan boleh jujur Aidan engga marah dengan tamparan appa hanya saja Aidan engga suka appa membela wanita itu...."


" Aidan berhenti memanggil eomma dengan sebutan wanita itu. Dia eomma kita Aidan. " Jona Hyung menegurku.


Aku menoleh cepat pada Jona hyung. Mataku mulai berkaca-kaca tapi aku tidak bisa menjawab perkataan kakak kandungku itu. Aku hanya menatapnya tajam.


" Ekhem." Appa berdehem yang membuat pikiranku langsung buyar.


" Aidan? Appa ingin tahu kenapa kamu tidak bisa menerima kehadiran eomma?" Tanya appa yang membuat pandanganku beralih pada beliau. Tapi lagi-lagi aku tidak bisa menjawabnya.


" Aidan cuma engga suka dengan wanita itu." Ucapku tidak memberikan jawaban yang sesungguhnya.


Cinta menggenggam tanganku lembut. Dia juga mengusap-usap punggungku.


" Appa? Apa boleh Cinta saja yang bercerita mengapa Aidan seperti ini?"


Aku menoleh pada Cinta karena menawarkan diri untuk melakukan hal yang enggan kulakukan pada keluargaku.


Cinta menoleh ke arahku.


" Itu pun kalau kamu juga mengijinkan Aidan." Ucapnya lembut padaku.


Aku hanya mengangguk lemah sebagai jawaban bahwa aku memberinya ijin untuk bercerita.


" Jadi Cinta tahu tentang eommanya Aidan?" Tanya appa pada Cinta.


" Ne, appa. Tidak banyak hanya apa yang Cinta tahu saja yang akan Cinta ceritakan. Hanya tentang apa yang sudah Aidan ungkapkan pada Cinta." Jawab Cinta.


Mereka semua menganggukkan kepala mengerti.


" Jadi semalam Aidan mengantar Cinta pulang dan tak sengaja bertemu dengan tante Liana. Jadi selama ini Cinta memang mengenal Tante Liana sebagai ibu dari sahabat Cinta yaitu Rama yang belum lama pindah ke sebelah apartemen Cinta. Dan entah bagaimana saat Cinta sedang ke kamar mandi, Aidan dan tante Liana berpelukan dan saat itu juga Cinta baru tahu bahwa hubungan mereka adalah ibu dan anak. Pada saat itu Aidan memang sangat senang dengan kehadiran eomma tapi..."


" Cukup Cinta. Aku engga mau kamu lanjutin cerita yang bikin moodku rusak." Potongku atas cerita Cinta padahal aku sendiri yang memberinya ijin untuk menceritakan semuanya.


" Tapi Aidan? Kita harus selesaikan permasalahan ini."


" Sudah tidak apa-apa Cinta.  ( menghela napas berat ) Baiklah Aidan, appa tidak akan memaksa jika memang kamu tidak ingin bercerita. Appa hanya ingin kalian semua mendengar apa yang seharusnya kalian dengar dari dulu."


Kami semua menatap pada appa tapi aku sendiri kemudian merasa malas untuk tahu lebih lanjut.


" Appa? Yang udah berlalu Aidan engga mau tahu tentang hal itu lagi. Aidan lebih baik tidak ada eomma seperti hari-hari yang kita jalani selama 20 tahun lebih ini. Aidan udah bahagia dengan kehidupan kita. Aidan engga butuh seorang eomma, tante Liana atau siapapun itu."


Aku berdiri hendak beranjak meninggalkan mereka.


" Aidan duduk! " Perintah Jona hyung.


" Sangat tidak sopan meninggalkan orang tua yang belum selesai bicara Aidan." Sambung Jona hyung lagi.


Aku menoleh cepat padanya.


" Loe bisa nerima eomma gitu aja hyung?" Tanyaku menarik senyum miring.


" Kenapa engga? Kita memang merindukan eomma kan?" Ujar Jona hyung yang memang ada benarnya.


" Loe mungkin akan berpikiran sama kalau loe tahu bahwa wanita itu bahkan memilih anak kesayangannya yang lain di banding permintaan loe, anaknya yang udah 20 tahun lebih tidak bertemu." Ujarku.


" Maksud loe gimana?"


" WANITA ITU BAHKAN TIDAK BERGEMING SAAT GUE MEMOHON UNTUK TETAP DI SISI GUE HYUNG." Aku meninggikan nada suaraku.


Cinta bangkit dari duduknya dan memegang lenganku.


" Aidan? Kontrol emosi kamu." Ucapnya menenangkanku.


Air mataku luruh begitu saja.


" Aidan? Bisa dengarkan appa dulu?" Ucap appa memohon.


" Untuk apa lagi appa? Aidan engga mau bahas apapun tentang eomma."


Appa berjalan mendekatiku kemudian memelukku erat.

__ADS_1


" Maafin appa Aidan. Maaf. Karena appa kalian tidak bisa mendapatkan kasih sayang seorang eomma. Bahkan appa sangat egois untuk tidak membiarkan kalian mengenal sosok eomma." Kudengar suara appa bergetar. Aku yang tadinya memaksa melepaskan diri akhirnya terdiam setelah mendengar appa menangis.


" Maafin appa Aidan. Bahkan setelah eomma kalian kembali, appa tidak bisa membuat anak appa mencintai eommanya. Bahkan alasan eomma pergi pun karena appa yang terlalu egois pada kalian semua. Seharusnya kamu membenci appa Aidan bukan eomma kamu." Suara appa tambah bergetar.


Aku jadi menyesal setelah mendengar appa bicara. Aku diam tak bergeming dalam pelukan appa.


" Maafin appa Aidan."


Aku menahan diri untuk tidak menangis. Aku berusaha melepaskan pelukan appa padaku.


" Appa? Ini semua bukan salah appa. Aidan hanya kecewa dengan eomma yang tidak berniat meminta maaf atas kesalahannya pada kita. Justru dia membuat luka Aidan yang semula kering tersayat kembali."


" Ini memang salah appa, Aidan. Kalau saja appa tidak menutup akses kalian dengan eomma pasti tidak akan terjadi hal seperti ini. Appa menutup akses kalian bukan ingin membuat kalian membenci eomma. Appa melakukannya karena appa egois agar appa tidak mengingat lagi wanita yang appa cintai meski pada saat itu appa lah yang menceraikan eomma. Maafin appa Aidan, Jonathan. Appa bersalah." Appa menunduk dan beberapa buliran bening jatuh ke lantai.


Jona hyung mendekati appa dan memeluknya.


" Appa maafin Jonathan dan Aidan."


Appa menggelengkan kepalanya.


" Tidak. Kalian tidak bersalah pada appa. Appa yang bersalah pada kalian."


Aku menatap mereka berdua dengan perasaan sakit. Appa dan hyung seperti ini karena eomma atau karena sikapku? Aku ingin masuk ke dalam pelukan mereka tapi.... Tapi mungkin akulah yang menjadi penyebab penderitaan appa.


Aku segera meninggalkan mereka sambil menahan agar tidak menangis.


" Aidan?"


Kudengar suara Jona hyung memanggilku tapi tak ku hiraukan sama sekali panggilannya.


" Biar Cinta yang bicara sama Aidan oppa."


Ku dengar samar-samar suara Cinta mengikutiku tapi aku benar-benar ingin sendiri sekarang. Aku masuk ke dalam kamar dan segera menutup pintu. Tapi sebelum pintu sempat tertutup, Cinta menahan pintu kamarku.


" Aidan, kita bicara sebentar ya?"


Aku tahu Cinta berusaha membujukku untuk lunak pada appa. Tapi bukannya tidak mau, semakin aku menceritakam unek-unekku, yang ada malah semakin memperburuk hubunganku dengan appa. Terus terang pemikiranku ternyata membuat semua orang menjadi terluka dan aku terbebani dengan itu. Mulai dari eomma, hyung dan ternyata pemikiranku paling menyakiti appa.


" Bicara apa lagi Cinta? Mereka semua engga ngerti apa yang aku rasain. Dan semakin aku mengungkapkannya malah semakin menyakiti semua orang. Aku butuh sendiri dulu Cinta."


" Aidan?" Cinta menghambur ke pelukanku.


" Aku mohon jangan seperti ini. Kamu bilang kamu bisa menceritakan semuanya sama aku kan? Kamu bilang aku bisa bikin kamu nyaman kan? " Cinta memeluk sambil mengelus lembut punggungku.


" Jadi ayo kita bicara dengan tenang Aidan. Aku engga bisa lihat kamu kaya gini. Hatiku ikut sakit Aidan." Ucapnya yang membuatku ikut terenyuh. Sungguh aku paling tidak bisa melihat Cinta mengkhawatirkanku seperti ini. Ku balas pelukannya dan kubenamkan wajahku di ceruk lehernya.


" Aku bingung harus gimana Cinta?" Suaraku mulai bergetar.


" Kita dengerin dulu apa yang mau appa sampaikan sama kita. Jadi kita bisa tahu apa yang harusnya kita lakukan Aidan. "


Yang di katakan Cinta memang benar tapi aku belum siap untuk kecewa lagi.


" Aku belum siap Cinta."


Cinta melepaskan pelukannya dan kedua telapak tangannya di tangkupkan pada kedua pipiku.


" Pelan-pelan ya? Aku nanti bilang sama appa kalau kamu butuh waktu untuk berpikir. Aku akan bantu kamu lewatin semua ini, em?"


Aku menatap Cinta intens dan menganggukkan kepala tanda setuju dengan semua perkataannya. Aku menarik wanitaku ini ke dalam pelukan.


" Makasih Cinta. Makasih kamu selalu jadi kekuatanku selama ini."


...***...


Kim Do Hyun POV


Sudah lebih dari setengah jam sejak Cinta mengejar Aidan. Aku memutuskan untuk menyusul mereka sedangkan Jonathan mengantar istrinya masuk ke kamar karena katanya Jessica mengalami kram perut. Mungkin Jessi ikut stress dengan permasalahan keluarga kami.


Aku sempat khawatir dengan menantuku dan calon bayinya itu tapi menurut Jonathan bahwa Jessi baik-baik saja. Memang terkadang Jessi suka mengalami kram perut ringan dan akan hilang setelah mengkonsumsi pil dari dokter kandungan. Jonathan bilang aku tidak perlu khawatir.


Akhirnya aku menyusul Aidan dan Cinta. Kucari mereka ke kamar Aidan di lantai dua. Dari jauh terlihat pintu kamar Aidan terbuka. Aku menghampirinya dan mendapati Cinta sedang duduk di ranjang dengan kepala Aidan yang berada di pangkuannya. Cinta mengusap-usap kepala Aidan seperti seorang ibu yang sedang menidurkan anaknya. Kulihat Aidan juga tertidur. Sungguh tidak salah Aidan memilih Cinta sebagai kekasihnya. Dia benar-benar bisa menenangkan hati Aidan yang bahkan aku appa nya sendiri tidak bisa melakukannya.


Cinta menoleh ke arahku.


" Appa?" Panggilnya dan aku langsung menaruh telunjukku di bibir, menyuruhnya untuk tidak berbicara terlalu keras. Cinta mengangguk kemudian memindahkan kepala Aidan dengan hati-hati ke atas bantal yang ada di sebelahnya. Cinta menyelimuti Aidan dan berjalan menghampiriku.


Aku mengajaknya untuk turun ke ruang tamu lagi.


" Bagaimana Aidan?" Tanyaku pada Cinta.


" Aidan sudah lebih tenang appa. Tapi dia bilang dia ingin minta waktu untuk bisa mendengar penjelasan appa."


" Syukurlah kalau Aidan sudah tenang. Terus terang appa bingung dengan keadaan ini Cinta. Dan sebelumnya appa minta maaf jika permasalahan keluarga ini jadi melibatkan kamu."


" Gapapa appa, Cinta senang jika bisa membantu keluarga ini. "


" Jadi kamu bisa ceritakan tidak kenapa Aidan seperti itu?"


Cinta kulihat menghela napas pelan.


" Aidan sebenarnya tidak membenci tante Liana awalnya. Hanya saja semalam pada saat Rama pergi meninggalkan kami, tante Liana malah mengejar Rama padahal Aidan jelas-jelas meminta tante Liana untuk tetap bersamanya. Mungkin Aidan hanya kecewa dengan perlakuan tante Liana."


Aku menghela napas berat. Aku sekarang memahami mengapa Aidan bersikap seperti itu. Dan aku juga agak kecewa mengapa Liana memilih mengejar anaknya yang lain di banding anaknya yang sudah 20 tahun lebih tidak pernah bertegur sapa.


Cinta kulihat menilik jam di tangannya. Aku tahu hari memang sudah lumayan larut. Sebaiknya kutawarkan untuk menginap saja.


" Cinta menginap saja di sini yah? Ada kamar kosong di sebelah kamar Aidan." Tawarku padanya.


" Ah engga appa. Cinta bisa pulang saja. Ini juga belum terlalu larut."


" Jangan sayang. Ini sudah terlalu malam untuk wanita pulang sendirian. Appa juga masih butuh bantuan kamu untuk menenangkan Aidan. Appa mohon menginap di sini saja yah?"


Cinta kulihat berpikir kemudian mengiyakan tawaranku.


" Baiklah kalau begitu appa, Cinta akan menginap."


" Makasih ya sayang. Kamu benar-benar sangat membantu appa." Kupegang bahu Cinta dan menepuknya sebentar.


Cinta mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


" Sama-sama appa."


" Ayo appa antar kamu ke kamar. Atau kamu mau tidur dengan Aidan saja?"


" Hah?" Cinta kulihat terkejut


"  Ttt.. Tidur dengan Aidan?"


Aku mengulum senyum melihat keterkejutan calon menantuku ini.


" Iya. Kenapa terkejut? Semalam juga kalian berdua tidur bersama kan?" Godaku padanya.


Cinta tersenyum kaku mendengarnya.


" Tidur bersama bukan berarti melakukan sesuatu yang aneh-aneh kan?" Tanyaku lagi yang semakin membuat canggung Cinta.


" Ii.. Iya appa."


" Ya udah kamu tidur dengan Aidan saja yah? Kamar yang kosong mungkin belum di bereskan oleh ART. Soalnya sudah lama juga tidak ada yang memakai."


Dan setelah mengantar Cinta ke kamar Aidan, aku langsung menuju ke ruang kerjaku di bawah.


Ku ambil kartu nama Liana dan menimbang apakah aku harus menghubunginya atau tidak. Ku bolak balik kartu nama itu kemudian ku buka laci dan mengambil satu-satunya fotoku dan Liana yang tersisa.


Kupandangi foto kebersamaan kami. Aku sedang mencium bibir Liana dengan background pantai. Saat itu Liana sedang mengandung Jonathan. Ku usap foto Liana kemudian menarik senyum.


" Kamu masih sangat cantik. Bahkan setelah 20 tahun lebih berlalu, aku masih jatuh cinta denganmu Liana."


Setelah berpikir keras akhirnya aku menghubungi Liana.


" Halo."


" Liana? Aku Do hyun."


" Do hyun-a."


Mendengar suaranya saja kembali membuatku gila. Aku merindukanmu Liana.


" Liana? Bisakah kita bertemu?"


" Sekarang?" Tanyanya.


" Jika kamu tidak keberatan aku ingin bertemu kamu sekarang."


" Baiklah. Bagaimana jika temui aku di hotel tempatku menginap saja?"


...***...


Aku segera memacu mobilku ke Signiel Hotel tempat dimana Liana menginap. Aku langsung menuju ke kamar hotelnya. Dia ternyata memesan presidential suite di hotel ini.


Liana membuka pintu saat aku mengabarinya bahwa aku sudah berada di depan kamarnya.


" Do hyun? Masuklah."


Aku memandangi wajahnya yang masih sama cantiknya dengan terakhir kali aku melihatnya.


Entah apa yang merasukiku sampai aku mendorongnya masuk kemudian mencium bibirnya dengan liar. Ku tutup pintu kamar dengan kakiku. Liana memberontak tapi aku tidak melepaskan ciumanku padanya.


Ku dorong Liana hingga punggungnya menyentuh tembok. Ku lepaskan ciumanku saat melihat Liana kehabisan napas.


" Do hyun-a, apa yang kamu lakukan?" Tanyanya terengah-engah.


" Aku merindukanmu Liana."


Ku dekatkan lagi wajahku tapi Liana memalingkan wajahnya. Aku akhirnya tersadar dan melepaskan kungkunganku pada tubuhnya.


" Maaf." Aku menunduk menyesal dengan perbuatanku.


Aku memalingkan tubuhku darinya tapi Liana malah memegang lenganku. Aku menoleh padanya.


" Do hyun? Apa kamu tidak membenciku?" Tanyanya.


Aku menggelengkan kepala.


" Aku tidak pernah membencimu Liana. Aku bahkan menyesal sudah menceraikanmu. Harusnya aku menahan diri sebentar lagi demi....."


Liana tiba-tiba saja mengecup bibirku. Aku terkejut dengan sikapnya.


" Aku ternyata mencintaimu Do Hyun. Aku salah mengartikan obsesiku dengan Raditya. Aku juga menyesal sudah meninggalkanmu dan anak-anak." Ucap Liana menatapku intens.


" Aku merindukanmu Do hyun." Ucap Liana yang kemudian menarik wajahku dengan kedua tangannya. Dia memagut bibirku kemudian kubalas pagutan bibirnya. Sungguh aku sangat merindukan Liana. Aku merindukan sentuhannya, merindukan tubuhnya.


Ciuman kami makin panas bahkan Liana membuka jas ku dan menyentuh dadaku kemudian menyusurinya dengan tangan. Aku tahu dia sedang terangsang. Dia selalu seperti itu jika menginginkan bercinta.


Aku melepaskan pagutanku dan menatap Liana intens.


" Apa kamu menginginkannya?" Tanyaku


Dia mengangguk.


" Bolehkah aku memintanya?"


Pertanyaannya malah membuat libidoku naik. Tanpa menjawabnya aku langsung menarik gaun Liana ke atas hingga yang tersisa hanya bra dan ****** ***** berendanya.


Ku pandangi dua gundukan kembar Liana yang masih tertutup bra. Ku ciumi belahan dadanya. Kulingkarkan tanganku pada tubuhnya dan kulepas kaitan bra nya. Kuturunkan tali bra yang ada di bahunya sehingga penutup p*yud*ra itu jatuh ke lantai.


Aku memandangi kedua bukit kembarnya yang masih terlihat kencang di umurnya yang sudah berkepala lima.


" Jangan menatap seperti itu Do hyun. Aku sudah tidak secantik dulu." ucap Liana menutupi dadanya.


" Tidak Liana. Tubuhmu masih sangat indah bahkan masih membuat juniorku langsung berdiri tegak." Jawabku menarik tangan Liana dari dadanya dan membawanya untuk memegang juniorku dari balik celana.


" Sudah sangat keras kan?" Tanyaku.


" Apa kamu merindukannya bermain di dalam milikmu?" Sambungku vulgar.


" Tentu." Jawabnya.


Aku langsung mengangkat Liana dan membaringkannya di kasur.

__ADS_1


( Dan terjadilah perbuatan yang sudah readers pikirkan 😁)


...___bersambung___...


__ADS_2