
Aku menghentikan mobilku di taman yeouido hangang. Tidak ada alasan tertentu aku menuju ke sini. Aku hampir tidak mengenal daerah di korea meskipun aku lahir di negara ini. Sungai Han adalah satu-satunya tempat yang terpikirkan olehku.
Aku memarkirkan mobilku. Kulihat Cinta masih tidur lelap di bangku sebelah. Ku lepaskan sabuk pengamannya agar dia tidak merasa sesak. Kupandangi wajahnya yang terlihat sangat manis. Mataku langsung tertuju pada bibir pink nya yang beberapa saat lalu mengecup bibirku. Aku tersenyum simpul saat mengingat kejadian itu.
" Cinta, Cinta. Bisa-bisanya loe bikin kaget gue kaya tadi. Kalau bukan karena loe mabok, gue pasti udah salah paham sama kelakuan loe." Ucapku padanya meski tahu Cinta tidak akan meresponku karena dia masih tertidur lelap.
Kring.. Kring.. Kriing..
Sudah kelima kalinya ponsel Cinta berdering. Tadinya kubiarkan saja tapi lama kelamaan aku mulai memikirkan bagaimana jika telepon ini penting dan berkaitan dengan pekerjaan? Akhirnya ku beranikan diri mengambil ponsel Cinta di saku celana sebelah kanannya. Namun untuk mengambilnya aku harus melewati tubuhnya.
Tangan kananku berpegangan pada sandaran bangku Cinta dan tangan kiriku melewati tubuhnya untuk mengambil ponsel. Posisi tubuhku mau tidak mau menghadap Cinta. Tiba-tiba saja Cinta bergerak dan mulai menggeliat. Dan kejadian tak terduga terjadi lagi. Tiba-tiba saja aku tertegun saat tak sengaja bibir Cinta menempel pada pipiku saat dia menggerakkan badannya tadi. Kami berdua seperti di "pause" dalam posisi bibir Cinta menyentuh pipiku. Dan saat tersadar, Cinta mendorongku keras sampai badanku menabrak dashboard mobil.
BUGH.
" Ahhh." Pekikku.
" AIDAN? MWOHAE? (*APA YANG KAU LAKUKAN?)" Teriaknya.
Aku menyelamatkan diriku sendiri tanpa bantuan Cinta. Aku langsung mengembalikan diriku ke tempat duduk sambil menegakkan bahuku. Rasanya punggungku nyeri karena menabrak dashboard mobil tadi. Sesekali kupegangi punggung sambil meringis.
" Gila Cinta dorongan loe kuat banget." Omelku.
" Lagian loe ngapain di depan gue kaya tadi? Loe mau mesum ke gue?" Omel balik Cinta padaku.
" Hey mulut loe tolong di jaga yah. Gue mau ngambil hp loe di kantong soalnya bunyi mulu udah lebih dari lima kali." Jawabku tak terima.
" Lagian posisi loe bikin orang salah paham." Ujar Cinta sambil meraba-raba kantongnya untuk mengambil ponsel.
Dia mengecek layar ponselnya.
" Timjangnim nelpon gue berkali-kali ada apa yah?" Gumamnya yang seketika itu juga membuatku teringat pesan timjangnim tadi yang memang mencari Cinta.
" Ah matta? (*oh iya) Choi Timjang tadi emang nyariin loe ke ruangan." Ujarku jujur padanya.
" Oh ya? Kenapa loe engga bilang?" Protesnya.
" Gimana mau bilang? Loe kabur kemana aja gue engga tahu. Terus tahu-tahu loe dateng dan narik gue ke atap terus tiba-tiba cium gue.. Ups." Aku langsung menutup mulutku karena keceplosan.
Cinta menoleh cepat padaku.
" Apa loe bilang? Gue cium loe? Hahahaha engga salah? Bukannya loe yang cium gue tadi pa....gi."
Cinta sempat menjeda kata terakhirnya kemudian memasang ekspresi terkejut dan langsung menutup mulutnya. Mungkin dia baru ingat kejadian di atap tadi.
__ADS_1
" Kenapa? Loe baru inget kalau loe mabok terus cium gue di atap?" Sindirku.
Cinta langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela. Mungkinkah dia malu?
Kring... Kring.. Kring...
Kembali ponselnya berdering dan tiba-tiba Cinta menjatuhkan ponselnya. Mungkin karena gugup dan salah tingkah atas pertanyaanku tentang kejadian di atap tadi.
Aku segera membantu mengambilkan ponselnya di bawah dan malah tanpa sengaja tangan kita bersentuhan saat mengambil ponsel bersamaan. Aku langsung menarik tanganku karena salting begitu juga dengannya. Tak lama, dengan gerakan cepat Cinta mengambil ponselnya kemudian mengangkat telepon yang kulihat dari choi timjang.
" Yeoboseyo timjangnim."
" Ah ne. Saya sedang di luar dengan Aidan masih mengurusi masalah iklan dengan BTS. " Jawab Cinta berbohong.
" Ne, besok paling lambat sudah bisa di laporkan pada anda timjangnim."
" Ne, algeseumnida. (* Ya saya mengerti.)"
Cinta menutup panggilan teleponnya.
" Loe bohong sama timjangnim?" Ledekku padanya.
" Ya terus gue harus bilang gue pergi sama loe ke..." Cinta melihat ke sekeliling.
Aku hanya menganggukkan kepala mendengar pertanyaannya.
" Bisa-bisanya loe bawa gue ke sini?" Protesnya padaku.
Aku spontan langsung merasa kesal.
" Hei. Terus menurut loe gue harus bawa loe ke mana? Apartemen loe yang sandinya aja gue engga tahu? Atau bawa loe ke hotel? Engga etis dong. "
" Ya kenapa loe harus bawa gue?"
" Wah... Wahhhhh ( menahan kesal ) Bukannya terima kasih udah gue selametin dari resiko kena SP, loe malah kebanyakan protes." Jawabku tidak terima.
" Iya iya maaf. Makasih." Ujarnya terpaksa.
Aku mencebik mendengar permintaan maafnya yang sangat- sangat terpaksa menurutku. Tapi biarlah aku tidak mempermasalahkan apapun mengenai dia yang sudah merepotkanku. Anggap saja bayaran atas tindakan muntahku semalam dan penebusan dosa atas tragedi pencurian first kissnya tadi pagi.
" BTW, kenapa loe mabok di jam kerja? Loe tertekan atas ciuman gue tadi pagi?" Tanyaku tanpa tedeng aling-aling.
Cinta kulihat salah tingkah. Dia mengusap-usap bagian belakang lehernya terus-terusan.
__ADS_1
" Loe engga bisa sedikit basa basi apa?" Jawabnya.
Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaannya barusan.
" Gue susah basa basi. Dan gue juga penasaran kenapa saat loe mabok dan cium gue, loe bilang loe pengen pastiin perasaan loe sama gue setelah ciuman kita? Emang loe punya perasaan sama gue?"
Cinta terlihat tertawa mencebik padaku.
" Ha.. Ha.. " Cinta terlihat berpikir sejenak setelah tertawa tak lepas padaku.
" Sekarang gue tanya sama loe, apa motivasi loe tiba-tiba cium gue? Kayanya kebalik deh, loe yang punya perasaan sama gue, bukan gue yang punya perasaan sama loe."
Jawabannya bukanlah jawaban yang ingin kutahu tapi jawabannya telak membungkamku. Aku memang tidak tahu alasan kenapa tiba-tiba saja aku ingin mencium bibirnya. Tidak mungkin dong jika hanya terbawa suasana? Kesannya aku terlalu berengsek jadi cowo.
" Yaaa... " Aku masih berpikir keras menemukan jawabannya.
" Loe bukan nganggep gue Jessica kan?"
Aku langsung terkejut saat Cinta menyebut nama Jessica. Aku menoleh cepat padanya.
" Loe tahu dari mana nama Jessica? Udah sejauh apa loe tahu tentang gue dan Jessica?" Tanyaku dingin padanya.
Kulihat Cinta seperti takut melihatku. Aku memang sedikit memasang wajah marah. Ah bukan sedikit sih, aku memang tidak suka dengan pertanyaan Cinta padaku tentang Jessica. Setahuku aku tidak menceritakan apa-apa tentangku dan Jessica pada orang lain.
" Gue.. Gue.."
" DARIMANA?" Bentakku saat Cinta menjawab dengan tergagap.
" KENAPA LOE TERIAKIN GUE HAH? GUE TAHU DARI MULUT LOE SENDIRI WAKTU LOE MABOK. TERUS ITU SALAH GUE KALAU GUE DENGERIN LOE NGOCEH HAH?" Cinta kulihat marah sekali denganku.
Mendengarnya membentakku, aku langsung merasa bersalah karena sudah membentaknya tadi.
" Sorry." Ujarku meminta maaf dengan suara yang agak pelan.
Cinta tidak menjawab, hanya membuang kasar pandangannya keluar jendela.
Kami sama-sama tidak bicara setelah berselisih tadi. Kulihat jam sudah menunjukkan lebih dari jam makan siang berarti kurang lebih aku dan Jessica sudah meninggalkan kantor 3 jam lebih.
Cinta juga mengecek jam tangannya kemudian dia mengajakku kembali ke kantor dengan nadanya yang dingin. Entahlah dia masih kesal padaku mungkin.
" Kita balik ke kantor, banyak kerjaan yang udah terbengkalai." Ujarnya.
" Ah? Ya." Jawabku singkat yang langsung membawa mobil melaju meninggalkan Taman Yeouido yang tidak sempat kunikmati.
__ADS_1
___ bersambung ___