
Pagi hari aku terbangun di tempat tidur Cinta. Semalam kami tidur bersama. Jangan berpikir kotor yah? Tidur bersama dalam arti yang sesungguhnya, bukan dalam tanda kutip.
" Selamat pagi sayang." Ucap Cinta berjalan dari dapur kemudian membuka tirai. Aku sampai menutup kembali mataku karena sinar matahari yang masuk dari jendela yang terlalu menyilaukan. Cinta berjalan kembali ke dapur. Dia bahkan belum selesai dengan masakannya.
Aku bangun kemudian duduk dikasur sambil menunggu nyawaku terkumpul.
" Ayo bangun kita sarapan." Ajak Cinta.
" Hemm." Aku menjawab singkat karena masih mengantuk.
" Jam berapa sekarang?" Tanyaku dengan suara malas.
" Jam 8." Jawab Cinta masih sambil berkutat dengan peralatan dapur.
" Kamu tuh banguninnya kepagian sayang. Ini kan weekend."
Cinta kulihat menghentikan aktifitasnya kemudian bibirnya manyun. Dia melipat kedua tangannya di dada.
" Ya udah berarti kita engga jadi ngedate." Ucapnya dengan nada kesal.
Seketika aku tersadar dan langsung bangun dari tempat tidur.
" Eh eh eh. Jangan. Jadi dong. Bentar aku mandi dulu."
Aku bergegas ke kamar mandi namun sebelumnya ku kecup bibir Cinta yang sangat menggemaskan itu.
CUP.
Kemudian aku kabur masuk ke kamar mandi sebelum Cinta memukulku dengan spatula yang di pegangnya.
" AIDAN? RESE."
" Saranghae cantik." Ucapku dari dalam kamar mandi.
...***...
Aku dan Cinta akan melakukan kencan pertama. Baru juga sampai di parkiran apartemen, ponselku berdering.
Kring... Kring...
Kulihat di layar ponsel tertera nama Jona hyung. Ku angkat panggilan itu.
" YA AIDAN, LOE KENAPA ENGGA BALIK? LOE KEMANA?"
Suara teriakan perempuan terdengar di ujung telepon sana. Aku sampai menjauhkan ponsel dari telingaku. Ini sudah pasti suara Jessica.
" YA NOONA, KENAPA TERIAK-TERIAK SIH?" Aku balik berteriak.
" Loe kemana pakai acara engga pulang?"
" Gue..."
" Loe nginep di rumah Cinta kan?"
" Kok loe tahu?"
" Wah jinjja. Denger kan appa, sayang.. Dia pasti nginep di rumah Cinta."
Aku dan Cinta sama-sama terkejut mendengar Jessica yang ternyata menelpon dengan sepengetahuan appa.
" Aidan? Kamu nginep di tempat Cinta?" Terdengar suara appa menggantikan suara Jessica.
Cinta sampai melongo karena memang aku tadi mengaktifkan loud speaker.
" Ii.. Iya appa."
" Oh ya syukurlah appa pikir kemana." Ucap appa yang kupikir akan marah ternyata responnya hanya seperti itu.
" Appa kok engga di omelin sih?" Terdengar suara Jessica yang bicara.
" Hei noona jangan jadi kompor yah!" Ucapku.
" Ya lagian loe juga udah berani nginep-nginep di rumah perempuan." Ucap Jessica.
" Hei gue cuma sekedar nginep doang loh, kita engga ngapa-ngapain." Balasku sengit.
" Loe nyindir gue?" Jessica merasa tersinggung.
" Ya bukannya gitu. Ah udah ngomong sama perempuan pasti salah mulu deh."
" Aidan?"
Suara seseorang memanggilku, aku menoleh ke sumber suara dan mendapati eomma berdiri tak jauh dariku dan Cinta.
Aku mematung melihatnya. Bahkan ekspresiku berubah dingin.
" Eomma?" Panggilku tanpa sadar.
" Apa? Eomma?" Suara Jessi masih terdengar jelas di telepon.
" Loe ngaco Aidan? Apa baru bangun?" Sambung Jessi lagi yang langsung ku tutup panggilannya. Aku tidak mau keluargaku sampai tahu bahwa eomma kembali dan mendapati jika eomma tidak ada keinginan untuk meminta maaf atas kesalahannya meninggalkan kami.
" Aidan? Eomma...."
Eomma berjalan ke arahku seperti ingin memeluk tapi aku spontan melangkah mundur.
" Jangan mendekat.... Tante Liana.." Ucapku yang awalnya ragu.
Eomma menghentikan langkahnya, merasa terkejut dengan panggilanku padanya yang berubah menjadi Tante.
" Tante?" Tanyanya memastikan.
" Iya.. tante. Kenapa? Bukankah memang seperti itu seharusnya? Seperti yang anak tante bilang bahwa aku bukanlah anak tante." Ucapku.
" Aidan?" Cinta menegurku pelan dan aku menoleh padanya. Dia menggelengkan kepalanya pelan bermaksud agar aku tidak memperlakukan eomma seperti itu. Tapi sayangnya rasa kecewaku pada wanita yang kupanggil eomma itu ternyata membuatku bersikukuh dengan apa yang kulakukan.
" Kamu lihat sendiri seperti apa Tante Liana melepaskan tanganku saat aku berusaha mencegahnya pergi kan?" Ujarku pada Cinta yang sesungguhnya adalah sindiran terhadap eomma.
Aku menarik tangan Cinta dan membawanya masuk ke mobil membiarkan eomma mematung sendirian. Saat aku berjalan ke pintu supir, eomma menghentikanku.
__ADS_1
" Aidan? Eomma minta maaf."
Aku menepis tangannya tapi sekali lagi eomma memegang tanganku.
" Eomma tahu eomma salah tapi eomma tidak bisa..."
" Berhenti memberikan alasan Tante Liana. Perlakuan anda sudah menjelaskan semuanya. Memang dari awal aku tidak memiliki seorang ibu." Ujarku menepis kasar tangannya dan masuk ke dalam mobil kemudian bergegas pergi meninggalkan eomma seorang diri di parkiran.
Sepanjang perjalanan moodku buruk. Meski aku kecewa tapi aku tetap memikirkan perasaan eomma yang pasti akan sakit menerima perlakuan kasarku tadi. Aku diam sampai akhirnya suara teriakan Cinta mengejutkanku.
" STOP AIDAN."
Aku spontan mengerem karena melihat orang-orang mulai menyebrang. Untung saja aku tidak menabrak apapun.
" Aidan? Biar aku aja yang nyetir."
Aku masih tidak fokus dan Cinta membuka pintu mobil kemudian berlari ke arah pintu di sebelahku. Dia membuka pintu dan menyuruhku pindah ke bangku yang tadi di tempatinya. Aku menurut saja. Aku segera berpindah ke bangku di sebelah.
" Kamu kenapa sih?" Tanya Cinta terdengar kesal sementara aku malah terdiam.
" Kamu mikirin perkataanmu tadi? Kamu nyesel udah berlaku seperti itu sama tante Liana?" Tanya Cinta seperti tahu apa yang kupikirkan.
Aku menunduk tidak bisa menjawab pertanyaannya karena memang itulah yang sedang kurasakan.
" Aku engga nyesel. " Jawabku pelan. Aku tidak bisa jujur pada Cinta karena memang aku sangat kecewa dengan sikap eomma semalam.
" Terus kenapa kamu hilang fokus gitu?" Tanyanya.
" Engga, aku cuma mikirin tentang appa dan Jona hyung." Jawabku yang tidak sepenuhnya berbohong.
" Kenapa memangnya?" Tanya Cinta sesekali menoleh ke arahku kemudian fokus pada jalanan.
" Bagaimana perasaan mereka kalau tahu eomma muncul kembali tapi tidak berniat kembali pada kami? Apalagi tahu bahwa eomma lebih memilih anaknya yang lain di banding anak yang sudah bertahun-tahun di tinggalkannya. Apalagi hyung kemarin sempet ngeliat eomma. Dan dia pun sama berharapnya sama aku untuk bisa bertemu dan kembali bersama eomma. Entah apa yang akan di rasakan hyung kalau tahu eomma seperti semalam?"
Cinta diam mendengar penjelasanku.
" Jadi selanjutnya gimana? Apa kita harus membicarakan tentang tante Liana pada mereka?" Tanya Cinta.
Aku menggelengkan kepala pelan.
" Sebaiknya mereka engga perlu tahu Cinta. Aku engga mau mereka terluka kaya aku."
" Tapi cepat atau lambat mereka akan tahu Aidan. Tante Liana udah ketemu kamu, beliau tahu tempat tinggalku dan juga beliau tahu kalau aku adalah pacar kamu. Dan lagi aku mengenal tante Liana. Jadi aku rasa hanya tinggal menunggu waktu kalian semua bertemu dengan Tante Liana. " Ucap Cinta panjang lebar.
Aku memikirkan penjelasan Cinta. Ada benarnya juga apa yang di katakan Cinta barusan. Tapi...
" Tapi kayanya untuk sementara kita biarin gini dulu aja. Kita engga usah bilang apa-apa dulu sama appa dan juga hyung. Aku minta tolong kamu untuk rahasiain ini dari appa dan Jona hyung ya?"
Cinta menghela napas kemudian mengangguk mengerti.
" Aku juga engga mau fokusku sama kamu jadi kebagi. " Ucapku menoleh pada Cinta dengan senyum menggoda. Tapi sepertinya yang di goda sedang fokus dengan jalanan. Aku memandangi wajah Cinta yang bahkan dari samping terlihat cantik.
Cinta menyadari tatapanku. Dia menoleh padaku.
" Wae?" Tanyanya kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke depan.
" Geunnyang. Cuma lagi mikir, kenapa aku tergila-gila sama cewe kulkas kaya kamu? Pendek pula." Aku sengaja mengisenginya.
CUP.
Aku mengecup pipinya sekilas. Cinta langsung menoleh padaku.
" YA ( membentak ) iseng banget sih? Aku lagi nyetir loh ini."
Mendengar Cinta ngomel-ngomel aku malah senang.
" Baru pipi, nanti ini yah" Ucapku menunjuk bibir.
" Huu maunya."
" Ya mau dong. Abis bibir kamu ada manis-manisnya. Candu banget. Oke?"
" Engga. Engga ada cium-cium." Jawabnya.
" Kalau kamu engga mau nanti tinggal bilang aja sama appa."
Cinta spontan menoleh ke arahku bingung.
" Loh kenapa bilang ke appa? Emang apa hubungannya?"
" Ya karyawan kesayangannya engga mau cium anak kesayangannya." Ucapku yang membuat Cinta tertawa terbahak-bahak.
" Hahahaha, ada gitu orang yang..."
CUP.
Aku mencium cepat bibirnya.
Cinta yang sadar langsung memukulku.
" Aw. Sakit sayang."
" Biarin. Lagian main cium-cium aja. Udah tahu aku lagi nyetir."
" Ya udah nanti kalau udah engga nyetir kita ciuman ya?" Godaku.
" Hei tuan muda? Anda mesum sekali."
" Biarin dong. Ah aku jadi pengen cepet nikah sama kamu." Ucapku sambil mendesah dan menyandarkan kepalaku di bangku.
" Wae? Kapjagi? Ah aku tahu pasti pikiranmu mesum kan?" Tebak Cinta.
" Hehe. Tahu aja kamu. Aku jadi keingetan tadi malem, kamu agresif banget baby."
" Hei tolong yah jangan di bahas." Balas Cinta dengan wajahnya yang terlihat memerah. Dia pasti malu.
" Iya iya maaf."
Kring... Kring..
__ADS_1
Ponselku kembali berdering, kali ini nama Jessi noona tertera di layar. Aku melihat ke layar tanpa berniat mengangkat panggilannya. Aku takut dia tanya macam-macam mengingat tadi dia sempat mendengar aku memanggil eomma.
" Aidan, kenapa engga di angkat?" Tanya Cinta yang melihatku hanya melihat layar saja tanpa berniat mengangkat telepon.
Aku menoleh padanya.
" Aku takut."
" Takut kenapa?"
" Tadi noona sempet denger aku manggil eomma kan?"
" Tapi tadi kan noona pikir itu cuma becanda. Angkat aja, takutnya penting."
Panggilan telepon selesai sebelum aku sempat mengangkatnya. Aku menghela napas lega. Tapi ternyata kelegaan ini hanya sesaat. Tak lama kemudian ponselku kembali berdering dengan nama yang sama tertera di ponsel.
" Angkat aja sayang, barangkali penting." Ucap Cinta meyakinkanku.
Akhirnya ku angkat juga panggilan itu.
" Hallo."
" YA AIDAN, KENAPA ENGGA LANGSUNG DI ANGKAT SIH? LOE DARI MANA?"
Huft. Lengkingan suara Jessica memekakkan telinga. Aku langsung menjauhkan ponselku sejak selesai kata pertama yang di ucapkan oleh noonaku itu.
" Astaga. Noona loe teriak-teriak mulu deh."
" Ya sorry. Lagian loe darimana aja sih engga langsung angkat telepon?" Tanyanya.
" Loe bisa engga sih noona jangan gangguin gue? Gue lagi ngedate sama Cinta. Lagian orang lagi ciuman di gangguin suara telepon, ogah amat gue ngangkat, nanggung."
Cinta menoleh cepat padaku. Dia melotot seakan marah dengan alasan yang ku buat. Aku hanya tersenyum geli dengan ekspresi yang di tunjukkan Cinta.
" Woi woi woi. Gila loe ngomong gitu. Alesan yang lain kek. Engga ada malu-malunya banget sama kakak ipar." Ucap Jessi di ujung telepon sana.
" Ngapain malu? Loe juga engga ada malu-malunya sama gue. Loe malah lebih parah." Balasku.
" Hei gue engga pernah gitu yah."
" Helloo. Loe lupa waktu gue mau berangkat ke Korea kalian habis ngapain? Loe bilang gue engga boleh telepon kalian kalau kalian lagi indehoy kan?"
Cinta menoleh ke arahku lagi. Kali ini mungkin dia bingung dengan percakapan antara aku dan Jessi yang terkesan vulgar.
" Hei hei hei. Udah udah jangan di bahas. Itu masa lalu." Ujarnya menyerah.
" Huuu. Giliran di bales kicep. Lagian kenapa sih nelponin mulu?" Tanyaku kesal.
" Appa ngajakin makan siang bareng di luar." Ucap Jessica.
" Ya elah, engga bisa banget sih gue ngedate dengan tenang sama Cinta."
" Hei ini appa yang minta yah? Sekalian gue juga udah mau balik ke indo."
" Lah loe udah mau balik ke Indo noona? Kenapa cepet banget sih?"
" Hei, gue udah hampir sebulan yah di sini. Kim juga bentar lagi udah mulai comeback."
" Ambil cuti lamaan dikit kek." Jawabku.
" Ya udah loe balik aja ke Indo. Studio loe di agensi kan masih nganggur."
" Hei, gue udah punya Cinta di sini."
" Cinta kan orang Indo, loe bawa aja balik ke Indo, dia pasti mau kok. Asal loe nikahin dia dulu haha."
" Ah udah deh cape ngobrol sama loe noona. Loe kirimin aja alamat restonya nanti gue sama Cinta ngusahain dateng, tapi gue engga janji yah?"
" Hei loe harus dateng dong, baby gue kangen sama aunty Cinta."
" Ah loe pake alesan keponakan gue sih. Ya udah nanti dateng deh. Udah ya, bye." Aku langsung menutup telepon.
Ku ceritakan semua yang tadi kubicarakan dengan Jessica di telepon kepada Cinta. Cinta langsung mengiyakan tanpa sedikitpun terlihat keberatan.
...***...
Siang hari, aku dan Cinta pergi ke tempat makan yang alamatnya di kirimkan oleh Jessica.
Karena undangan makan ini, Aku dan Cinta akhirnya hanya menghabiskan setengah hari di Seoul's time square, berjalan-jalan saja tanpa tujuan jelas.
Dan tepat pukul 12 siang, aku dan Cinta sampai di Jungsik Seoul Restaurant di Cheongdam-dong, Gangnam.
Kami langsung masuk saja dan pelayan mengarahkan kami ke meja yang sudah di pesan appa.
" Aidan?" Panggil Jessica setelah melihatku dan Cinta.
Kulihat mereka sudah memesan berbagai macam makanan. Aku dan Cinta menghampiri mereka dan langsung duduk di tempat yang di sediakan setelah sebelumnya Cinta menyapa appa dan kakak-kakakku.
" Eonni udah mau pulang ke Indo?" Tanya Cinta pada Jessica.
" He'em Cinta, ayok kamu ikut aja, biar baby Kim engga kangen sama aunty nya." Ucap Jessi.
" Heii, jangan dong nanti appa kehilangan karyawan terbaik appa, udah gitu nanti appa kehilangan calon mantu appa yang cantik ini." Goda appa pada Cinta.
" Apalagi Aidan appa, nanti Aidan kehilangan calon istri Aidan dong." Jawabku ikut-ikutan.
" Apa sih kalian? Lihat tuh Cintanya jadi salting gitu." Balas Jona Hyung.
Semua orang menatap ke arah Cinta, dan benar Cinta memang jadi salah tingkah.
Selang berapa lama setelah puas bercanda akhirnya kami semua menyantap makanan yang sudah tersaji di meja.
" Do Hyun-a?"
Suara wanita memanggil nama appa. Appa langsung menoleh, begitu juga dengan kami semua.
" Liana?"
Semua orang terkejut melihat seorang wanita yang berdiri di seberang meja kami.
__ADS_1
...____ bersambung____...