BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 13


__ADS_3

Seperti biasa dalam perjalanan ke ruang humas, aku dan Cinta masih menjadi pusat perhatian. Tapi aku sudah mulai terbiasa dengan situasi ini. Aku mengikuti cara Cinta saja, melangkah tanpa menoleh lagi. Memasang ekspresi dingin yang membuat orang menjadi segan padaku. Memang bukan seperti diriku sih tapi ini cukup nyaman untuk menjaga jarak dari yang lain.


" Yak Aidan? Loe sengaja kan ngeledekin gue di depan sajangnim?"


Benar kan? Baru saja sampai di ruang kerja, Cinta sudah ngomel-ngomel padaku. Aku bukannya kesal malah senang dengan omelannya. Gila tidak sih aku?


" Gue engga ngeledek kok chagiya, gue cuma mau kasih tahu kalau appa gue bukan sebuah masalah kalau loe mau terima gue jadi pacar loe." Aku mengatakan itu sambil senyum-senyum sendiri.


" Tolong berhenti bercanda kaya gitu Aidan. Gue engga suka."


" Nanti juga...."


" AIDAN." Bentaknya memotong kalimatku.


" Iya iya maaf."


Aku langsung kembali ke mejaku dan menyelesaikan desain yang sejak makan tadi belum ada kemajuan karena banyak sekali gangguan.


Akhirnya setelah banyak bercanda, kami berdua menyelesaikan pekerjaan sampai lupa waktu. Jika bukan karena Timjangnim yang mengetuk pintu untuk berpamitan pulang, mungkin kami berdua tidak akan sadar jika hari sudah cukup larut. Bahkan timjangnim adalah orang terakhir yang keluar dari ruang humas selain aku dan Cinta.


" Kalian tidak pulang?" Tanya timjangnim.


" Eoh? Choi timjang. Saya mungkin akan lembur sampai larut sepertinya. Pekerjaannya lumayan menguras pikiran. Entahlah dengan Aidan." Ujar Cinta.


" Sepertinya sebentar lagi selesai timjangnim, tapi saya akan menemani Cinta sampai pekerjaannya selesai. " Jawabku.


" Woaaa. Kamu ternyata cowo bucin juga ya Aidan." Godanya padaku.


Aku langsung tersenyum.


" Menurut anda bisakah anda biasa saja dengan wanita secantik dia?" Ucapku pada timjangnim tapi mengedipkan sebelah mata pada Cinta.


Cinta melotot ke arahku dan aku benar-benar merasa gemas dengannya.


" Aaahhh gitu. Kalau begitu saya pulang duluan yah?"


Akhirnya tinggalah aku dan Cinta di kantor ini. Sepuluh menit kemudian pekerjaanku selesai dan aku menyerahkannya pada Cinta.


" Aaaaaaahhh ( mengulet sambil menutupi mulutku yang menguap ) akhirnyaaa."


Kulihat di ponsel jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Aku menggerakkan otot badanku karena merasa pegal.


" Cinta? Kerjaan loe masih banyak engga?"


" Lumayan, gue juga belom cek kerjaan loe juga kan? Kenapa? Loe mau pulang duluan?"


" Ah engga sih. Gue tungguin loe aja. Masa tega sih ninggalin pacar sendirian." Godaku lagi.


" Mulai deh mulai."

__ADS_1


" Hehe iya maaf cantik. Gue merem bentar ya? Gue belum pernah kerja sekeras ini sebelumnya, badan gue sampai pada sakit. Nanti kalau loe udah kelar, bangunin gue!" Ujarku yang kemudian memposisikan diri tidur di sofa. Tak berapa lama aku sudah masuk ke alam mimpi.


...****...


...Cinta POV...


Aku berkonsentrasi dengan pekerjaanku. Kulirik sekilas Aidan sudah pulas tertidur di sofa padahal belum lama dia berisik dan terus menggodaku. Belum ada lima menit kurasa. Aku memutuskan untuk membiarkannya dan kembali fokus menyelesaikan pekerjaanku.


Sekitar jam 10.45 malam, pekerjaanku sudah selesai. Aku menutup semua pekerjaanku dan merapikan meja. Kulihat Aidan masih tertidur lelap di sofa bahkan tanpa bergerak dari posisinya sama sekali. Kupandangi wajahnya yang seharian ini membuatku salah tingkah. Kalian bisa pikir lah mana mungkin ada wanita yang tidak salah tingkah dengan perlakuan Aidan yang sangat manis meskipun dalam balutan candaan.


Meski aku tidak memiliki rasa apapun pada Aidan sekarang tapi aku sendiri tidak bisa menjamin bahwa aku akan terus tidak menyukainya jika aku selalu berada di samping Aidan. Sekuat tenaga aku menyembunyikan kesalahtingkahanku padanya saat dia terus saja menggodaku dengan panggilan chagiya, cantik bahkan aku sempat tertegun saat dia menembakku tadi. Pun saat di ruangan sajangnim, dia membuatku hampir kehilangan detak jantungku karena candaannya.


Bisa kalian bayangkan, seorang pria yang mengatakan bahwa dia sudah menembak wanita tapi di tolak dan dia mengatakannya pada ayahnya di depan wanita itu? Dan ayahnya adalah direktur dimana wanita itu bekerja. Ya kali aja ada orang yang tidak ketar ketir dengan situasi seperti itu?


Tapi jujur saja aku berbohong jika aku tidak ada rasa apa-apa dengan bocah yang ada di depanku ini. Bisa saja aku menerimanya pada saat dia menembakku tadi tapi... Tentu saja aku harus siap dengan alasannya yang memacariku untuk move on dari wanita lain. Ah aku tidak mau mengambil resiko yang seperti itu. Lagipula aku juga belum tahu perasaan tidak nyaman apa yang kurasakan setiap aku ada di dekatnya. Sebuah perasaan suka kah? Atau aku hanya baper karena aku sudah berciuman dengannya sebanyak tiga kali hari ini.


Aku memegangi bibirku saat terpikirkan ciumanku dengan Aidan. Entah kenapa aku tidak merasa marah sama sekali padahal itu adalah ciuman pertamaku. Dan aku mengulum senyum ketika mengingat kekonyolanku saat mabuk yang memaksa Aidan untuk menciumku.


" Loe emang gila Cinta." Gumamku pelan sekali.


Tapi harus kuakui bahwa aku menikmati berciuman dengan Aidan.


" Ah mulai ngaco nih pikiran gue."


Aku langsung beranjak dari dudukku dan menghampiri Aidan untuk membangunkannya.


" Aidan?" Panggilku sambil menggoyangkan tubuhnya pelan.


" Loe mau pulang eng....."


Tiba-tiba Aidan menarik tanganku yang akhirnya membuatku terjatuh di dadanya. Aku lekas mencoba berdiri tapi Aidan malah memelukku dengan erat.


" Jangan kemana-mana. Biarin kaya gini sebentar aja." Ucapnya yang jujur saja kembali membuat jantungku berdegup kencang.


Sudah kubilang kan? Siapa wanita yang tidak terpengaruh jika perlakuan Aidan seperti ini?


" Noona? Kenapa loe hamil anak hyung? Gue merasa terkhianati noona. Gue tahu loe udah jadi istrinya tapi..."


Aku paham bahwa perlakuan Aidan kepadaku hanya manifestasi dari khayalan tentang Jessica. Bodohnya aku yang tetap baper meskipun sudah tahu.


" Gue Cinta, Aidan bukan Jessica." Gumamku dengan nada kecewa.


Kecewa? Untuk apa? Aku bukan siapa-siapanya Aidan kan? Tapi.... Tapi kenapa hatiku terasa sakit?


" Aidan?"


" Noona jangan..."


Cup.

__ADS_1


Aku menghentikan ucapannya dengan kecupanku. Aku bahkan tidak sadar sudah melakukannya.


Tak lama Aidan membuka mata, entah karena ciumanku atau yang lainnya.


" Cinta? Loe ngapain ada di depan gue gini?"


Pertanyaannya semakin menyadarkanku dan akhirnya aku mencoba bangun dari atas tubuhnya dengan salah tingkah. Aidan pun bangun kemudian duduk di sofa.


" Loe yang narik gue kesini padahal gue tadi cuma mau bangunin loe doang kok." Ucapku gugup.


Aku langsung berbalik arah bersiap pergi tapi tiba-tiba saja Aidan menarikku ke belakang dan aku jatuh terduduk di pangkuannya.


Aidan langsung memelukku erat begitu aku sudah berada dipangkuannya.


" Aidan apa-apaan sih? Lepasin gue." Ujarku mencoba melepaskan diri.


Aidan bukannya melepaskanku malah menciumi rambutku dari belakang dan berpindah ke telinga. Hembusan napasnya jelas terasa di bagian leherku, dan itu cukup membuatku merasa geli.


" Aidan lepasin." Protesku lagi sambil mencoba melepaskan tangannya yang memelukku.


" Kayanya ada seseorang yang cium gue pas lagi tidur." Bisiknya di telingaku.


" Ss...ssiapa emangnya?" Jawabku pura-pura tidak tahu.


" Cinta?" Panggilnya yang terdengar mesra di telingaku.


" Look at me." Perintahnya, dan anehnya aku mengikutinya tanpa protes.


Saat aku menoleh kepadanya, sekali lagi Aidan mencium bibirku. Aku terkejut tapi entah terbawa suasana atau bagaimana aku malah membiarkan begitu saja Aidan menciumiku lagi. Kulihat sekilas jam menunjukkan pukul 11 malam yang artinya satu hari ini kami sudah berciuman sebanyak empat kali.


Aidan melumati bibir atas dan bawahku bergantian. Merasa posisiku agak susah, Aidan melepaskan pagutannya sejenak dan membetulkan posisiku agar duduk menghadapnya. Dan anehnya aku seperti menyerahkan diri kepadanya. Aku seperti kerbau di cucuk hidungnya.


Aku membuka kakiku dan duduk di pangkuannya.


Aku dan Aidan kembali berciuman. Suasana kantor yang sepi malah semakin menambah intens ciuman kami.


Akal sehatku benar-benar hilang. Tapi aku sudah terlanjur candu dengan bibirnya. Entahlah mungkin karena aku yang terlambat tahu bahwa ciuman rasanya sememabukkan ini atau memang aku sudah jatuh cinta dengan Aidan?


Bahkan saat ini aku yang lebih aktif daripada Aidan. Aku mengikuti apa yang sudah Aidan ajarkan dalam ciuman kami sebelumnya. Aku melumati bibirnya dan kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya dan lidahnya langsung saja mengait lidahku. Suasana sepi menjadikan suara peraduan lidah kami terdengar erotis.


Tak berapa lama aku tersadar saat tiba-tiba saja Aidan menyentuh dadaku. Aku terkejut dan langsung melepaskan ciuman kami. Dan lebih tersadar lagi saat aku tahu bahwa posisiku sekarang benar-benar terlalu erotis. Aku menduduki Aidan?


Aku langsung turun dari pangkuannya dan mundur sembari menutup mulutku yang menganga karena terkejut.


...___ bersambung__...


...


...

__ADS_1


...Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya dengan mereka yah? Apakah setelah ciuman ke empat ini mereka jadian?...


__ADS_2