
Aku mengekori Cinta berjalan kembali ke ruangan. Dia langsung duduk dan mengotak atik komputernya begitu kita sampai di ruang kerja. Aku pun mengikutinya duduk ke meja kerjaku yang baru.
Aku memperhatikannya yang sudah bisa berkonsentrasi penuh dengan pekerjaan. Memang sangat profesional si Cinta ini. Tak berapa lama Cinta berjalan ke arahku dan meletakkan sebuah berkas yang baru di ambilnya dari printer.
" Loe baca ini dan tolong bikin desainnya. Deadline nya besok. Gue akan bantuin loe meskipun harus lembur. Proyek ini lumayan besar jadi harus bisa dikerjakan tepat waktu. " Katanya.
Aku langsung menerima berkas itu dan mempelajarinya. Ah pekerjaan kantor lebih membuatku frustasi. Baru dua kali di kasih kerjaan selalu di deadline dalam satu hari. Pekerjaan ini presurenya lebih besar dari pada waktu gue ciptain lagu. Tapi mau tidak mau aku harus menerimanya kan? Tidak mungkin aku kembali ke Indonesia untuk menjadi sosok AK lagi. Memang aku sangat merindukan Indonesia, merindukan pekerjaan lamaku tapi sosok AK yang terkenal sudah membuatku tidak nyaman. Jika dibilang menyesal. Ada sedikit penyesalan kenapa aku memilih mengorbankan karirku. Tapi aku tidak menyesali pengorbananku untuk Jessica dan Jona hyung.
" Gimana? Bagian mana yang kira-kira rumit? Biar bagian itu gue yang kerjain." Suara Cinta menyadarkanku dari lamunan.
" Kayanya gue bisa kerjain semuanya, tapi gue agak kurang ngerti sama ini deh. Maksudnya gimana yah?"
Cinta langsung berjalan ke arahku dan berdiri di sampingku persis. Tangan kanannya bertumpu di meja sementara badannya sedikit condong ke bawah dan menghadapku. Aku memberitahunya bagian yang tidak kumengerti dan dia dengan sabar menjelaskan.
Tiba-tiba saja suara dari perutku membuat kami berdua terdiam.
Kruyuk kruyuk kruyuk...
Cinta menoleh ke arahku begitupun denganku yang menoleh cepat padanya sambil menahan malu.
" Hehe sorry, gue tipikal orang yang engga bisa nahan laper." Ucapku sambil nyengir.
Cinta kulihat mengulum senyum.
" Ya udah loe makan dulu aja gih. Biar gue yang kerjain ini duluan, nanti sisanya bisa loe sambung."
" Tapi loe juga belum makan kan Cinta?"
" Gue belum laper." Jawabnya kemudian menggeser laptopku agar mengarah padanya.
" Udah sana!" Usirnya sambil mencoba menggeser tubuhku juga agar berpindah dari kursi.
__ADS_1
Tiba-tiba terpikirkan olehku sesuatu. Aku langsung menutup laptop di depan Cinta dan langsung menariknya keluar.
" Ya Aidan? Loe mau bawa gue kemana?" Protes Cinta saat aku menggandeng tangan dan menariknya pergi dari meja kerjaku.
" Makan dulu baru di lanjut lagi nanti." Ucapku.
" Gue bilang gue engga laper." Ucap Cinta berusaha melepaskan diri. Terlebih saat aku membuka pintu, semua rekan kerja di tim humas melihat ke arahku dan Cinta. Entah kenapa aku tidak memperdulikan pandangan orang lain, tapi Cinta sepertinya merasa tidak nyaman, dia terus saja berusaha melepaskan diri dari gandenganku.
" AIDAN?" Bentaknya padaku, mungkin juga untuk menyadarkanku bahwa saat ini semua rekan sedang memperhatikan kami.
Aku menoleh kanan kiri, kulihat mereka menatap kami kemudian saling tatap satu sama lain. Aku tahu mereka pasti bersiap untuk bergunjing. Kulepaskan pegangan tanganku pada Cinta setelah melihat respon mereka.
Cinta langsung berbalik badan dan kembali ke ruangan dan aku mengekorinya kembali.
" Duh pasti gue kena semprot lagi nih." Gumamku pelan.
Meski seharusnya tahu akan kena semprot, tapi entah kenapa bukannya pergi malah aku mengikuti Cinta ke dalam. Istilahnya cari mati kan?
Saat tersadar aku sudah berada di dalam ruangan dan aku sudah tidak mungkin berbalik arah lagi untuk pergi.
Cinta menahan dan mendorongku dengan ekspresi marah.
" AIDAN? LOE NGAPAIN SIH SEHARIAN INI SKINSHIP SAMA GUE HAH? GUE RISIH TAHU ENGGA? LOE SUKA SAMA GUE?" Omelnya keras padaku yang langsung membuatku mencebik.
" Chhh ( mencebik ) Hei helloo? ( melambai-lambaikan tangan di depan wajah Cinta ) Gue suka sama loe? Gila aja apa? Cewe galak, dingin kaya kulkas 12 pintu modelan loe gini bukan selera gue. SORRY." Jawabku dengan menekankan kata terakhir agar semakin memperkuat alasan.
" Terus kenapa loe gandeng-gandeng tangan gue? Loe cium gue, loe..."
" Loe mulai bahas lagi ciuman tadi pagi?" Potongku atas kalimatnya. Jujur saja jika sudah membahas ciuman itu aku akan menjadi canggung dan merasa bersalah.
" Emang kenapa?" Tanya Cinta sengit. Entah kenapa seharian ini aku dan Cinta bertengkar terus.
__ADS_1
" Gue berhak dong tanya kenapa loe cium gue? Apalagi ciuman loe pagi tadi adalah ciuman pertama gue. Gue berhak marah dan mempertanyakan itu kan?" Sambungnya lagi.
" Tapi loe juga menikmati ciuman gue kan?" Balasku.
Aku dan Cinta sama-sama tidak menyadari bahwa kita dari tadi memperdebatkan ciuman seperti memperdebatkan pekerjaan. Suara kita begitu keras sampai mungkin orang di luar ruangan ini mendengarnya. Untung saja kita berdebat dengan bahasa Indonesia. Mungkin mereka tahunya kita berdebat masalah pekerjaan.
" Menikmati apa?" Tanyanya tak terima.
" Ya buktinya loe engga nolak meskipun loe engga bales ciuman gue."
" Ya gue engga bales karena itu ciuman pertama gue."
Aku dan Cinta masih terus memperdebatkan ciuman itu tanpa sadar. Bahkan suara kita berdua semakin lama semakin keras.
" Berarti kalau bukan ciuman pertama, loe bakal sambut ciuman gue kan?"
" Hah ( membuang napas kasar ) loe berharap banget gue bales ciuman loe. Sekalipun loe cium gue lagi gue juga engga akan..."
Tiba-tiba saja aku maju dan mencium bibirnya lagi. Michinnom Aidan. Hari ini kamu sama Cinta sudah berciuman tiga kali. Entah apa yang membuatku tiba-tiba ingin menciumnya lagi. Melihatnya marah-marah terus terang membuatku sangat gemas.
Cinta memberontak tapi aku tetap memaksanya untuk berciuman denganku. Ku tahan gerakan tubuhnya dan kulumat habis bibirnya. Aku masih belum tersadar bahwa aku sudah menciumnya sangat kasar. Saat aku sedikit lengah Cinta melepaskan pagutanku dan menarik napas.
" AIDAN HHH ( ngos-ngosan ) MICHINNOMHHH."
" Bales ciuman gue Cinta." Aku kembali menciumi bibirnya. ******* bibirnya atas dan bawah. Cinta yang awalnya memberontak akhirnya pasrah dengan perbuatanku. Aku mengendorkan kekuatanku. Ciuman yang awalnya memaksa kini berjalan begitu saja. Cinta juga sudah mulai menikmati *******-lumatanku pada bibirnya. Bahkan dia pun mulai ikut ******* bibirku atas dan bawah bergantian. Cinta mengalungkan lengannya pada leherku, Cinta juga menyambut lidahku yang mulai merangsek masuk ke dalam rongga mulutnya. Entah kenapa ciuman kami jadi panas.
Saat ciuman kami sedang panas-panasnya, tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka. Choi timjang dan beberapa rekan di belakangnya melihat adegan ciuman kami.
Cinta langsung melepaskan ciuman kami, dia langsung mundur menjauh dariku, begitupun denganku. Kami sama-sama salah tingkah.
" Maaf kami mengganggu. Kami pikir kalian bertengkar, ternyata kalian sedang "adu mulut". " Sindir Choi Timjang sambil mengulum senyum kemudian menutup kembali pintu ruangan.
__ADS_1
Aku dan Cinta sama-sama menyesali diri karena kepergok berciuman di depan tim humas. Gila sih ini pasti bakal jadi gosip yang menggemparkan di kantor. Dan kalau sampai appa tahu? Ahhhhh.. Aku merutuki diri sendiri, menyesal atas perbuatanku barusan yang seharusnya masih bisa kucegah.
...___ Bersambung___...