BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 23


__ADS_3

Pagi ini aku tetap memutuskan berangkat kerja meski dengan wajah yang penuh dengan memar karena kupikir akhir-akhir ini pekerjaan banyak sekali, aku tidak mungkin membiarkan Cinta bekerja sendirian. Aku memutuskan memakai topi dan masker untuk menutupi memar di wajahku.


Aku keluar kamar menuju ruang makan. Sejak ada Jona hyung dan noona, ritual sarapan menjadi penting. Bahkan aku akan kena omel jika tidak sarapan bersama.


" Aidan? Kamu katanya semalam di kantor polisi?" Tanya appa begitu aku sampai di ruang makan.


" Loe kenapa pakai topi sama masker?" Tanya Jona hyung yang membuat semuanya menoleh ke arahku.


Aku melepas topi dan maskerku. Semua orang terkejut melihatku.


" Loe kenapa babak belur gitu?" Tanya Jessica khawatir. Dia bahkan sampai berdiri dari duduknya.


" Keep calm noona. Sit down please." Ujarku yang kemudian di turutinya.


" Kamu kenapa Aidan?" Tanya appa.


" Loe masuk kantor polisi jangan-jangan gara-gara tawuran? Atau penganiayaan?" Jona hyung main asal tuduh.


" Hyung? Loe tahu gue bukan orang yang se anarkis itu." Protesku tak terima kemudian menarik kursi di sebelah kanan appa.


" Terus itu kenapa?" Tanya Appa sekali lagi.


" Semalem Aidan nolongin Renata appa."


" MWO? (*APA?)" Jessica terkejut kemudian menjadi marah.


" Loe kenapa nolongin dia? Loe kan janji engga akan nolongin dia. Jadi loe di kantor polisi gara-gara cewe gatel itu? Ahh mana semalem gue pasrahin loe sama Cinta lagi. Bego banget sih gue, Cinta pasti sakit hati." Omel Jessica dengan makanan di dalam mulutnya.


" Sttt. Jessi mulut penuh jangan ngomong nanti kesedak. Kasian cucu appa." Tegur Appa pada Jessi.


" Ah maaf appa. Soalnya Jessi kesel sama Aidan. Jessi juga jadi engga enak ke Cinta soalnya dia yang urusin semua urusan di kantor polisi." Jawab Jessica.


" Sabar sayang. Jangan kebanyakan ngomel nanti baby Kim kaget." Ucap Jona hyung mengusap perut Jessi dengan satu tangan dan tangan lainnya mengusap punggung Jessi.


" Gue bukannya engga mau nepatin janji noona. Tapi keadaan Rena emang mengharuskan gue nolongin dia. Dia hampir di perkosa sama mantannya itu. Untung gue memutuskan buat bantuin dia, kalo engga kan kasian dia."


" Diperkosa?" Tanya appa.


" Iya appa, itu makanya kenapa muka Aidan babak belur. Aidan sama pelaku terlibat baku hantam." Jawabku.


" Terus Cinta gimana?" Tanya Jessica yang entah kenapa selalu membela Cinta.


" Loe harusnya tanya keadaan gue kali noona bukannya tanya keadaan Cinta duluan." Protesku.


" Ya gue kan tahu loe engga kenapa napa,  kenapa harus gue tanyain lagi? Tapi Cinta? Dia pasti sakit hati sama loe kan?"


" Cinta engga sependek itu sih pikirannya. Dia mengerti keadaan. Gue juga udah minta maaf sama dia." Jawabku.


" Ah gue udah kangen sama Cinta. Entah kenapa gue suka banget lihat Cinta. Apa baby Kim suka sama calon aunty nya ya?" Tanya Jessi pada Jona hyung.


" Mungkin." Jawab Jona hyung kemudian menyuapi Jessi makan.


" Kalau gitu kamu berangkat sama Appa saja Aidan, jangan nyetir sendiri." Ucap Appa.


" Kenapa? Kan yg lebam cuma wajah, bukan tangan. Aidan masih bisa nyetir kok."


" Sudah engga usah membantah." Ucap appa.


Akhirnya aku menyerah dan berangkat bersama Appa.


...***...


Sesampainya di gedung Star Food aku keluar dari mobil bersama appa. Aku masih memakai masker dan topi untuk menutupi memar di wajahku.


" Selamat pagi Sajangnim." Noona resepsionis menyapa appa dan mengernyitkan dahinya padaku. Mungkin dia ingin menyapa tapi dia tidak mengenaliku karena wajahku tertutup masker.


" Ini Aidan." Ucap appa mengerti.


" Ah. Selamat pagi Aidan_ssi." Sapa noona resepsionis begitu tahu bahwa orang bermasker di sebelah appa adalah aku.


Aku membungkuk membalas salamnya.


" Selamat pagi noona."


Aku dan appa langsung berjalan menuju lift tapi noona resepsionis ternyata mengejar kami.


" Maaf Aidan_ssi, ada seseorang yang menunggu anda di ruang tunggu."


" Siapa?" Tanyaku penasaran.


" Namanya Renata."


Appa yang tadinya sudah bersiap melangkah ke dalam lift pun mengurungkan niatnya.


" Renata? Mana perempuan itu?" Tanya Appa terlihat antusias.


" Kenapa appa antusias gitu?" Tanyaku heran melihat appa.


" Appa mau tahu lah perempuan seperti apa yang kemarin kalian semua bicarakan. Ayo kita temui dia. Secantik apa sih?" Ajak appa.


" Udah deh appa engga usah ikut-ikutan." Protesku.


" Kenapa? Jangan-jangan kamu beneran ada hubungan sama perempuan itu ya?" Tuduh appa.


" Tuh tuh mulai deh nuduh-nuduh."


" Ya sudah kalau engga ada apa-apa harusnya boleh dong kalau appa ikut."


" Ya udah ayo." Akhirnya aku mengiyakannya saja.


Aku dan appa berjalan menemui Renata di ruang tunggu.


" Rena?" Panggilku.


" Kak Aidan?" Rena menoleh padaku tapi dia sempat bingung apakah aku benar adalah Aidan.


" Gue Aidan." Ucapku mematahkan kebingungannya.


" Oh iya."


Dia menatap ke arah appa.


" Di sebelah kakak siapa?"


" Saya Appanya Aidan." Appa memperkenalkan diri.


" Ah selamat pagi om." Sapa Rena membungkuk pada appa.


" Iya selamat pagi." Jawab appa datar.


" Kamu ada apa cari anak saya?" Tanya appa dengan nada tidak bersahabat. Tidak biasanya appa seperti ini pada orang lain. Apa mungkin appa kesal pada Renata masalah kemarin?


" Oh ini... Ini om, saya mau minta maaf dan berterima kasih atas bantuan kak Aidan semalam." Ucap Rena gugup.


" Oh begitu. Sekarang sudah kan? Lebih baik kamu segera pergi kerja saja." Ujar appa lebih seperti mengusir.


" Appa." Tegurku merasa tak enak pada Rena.


" Gapapa kok kak, Rena emang cuma mau bilang kaya gitu aja. Dan sekalian kasih ini." Rena memberikan sebuah paper bag padaku.


" Rena permisi dulu ya kak, om."


Rena akhirnya pergi meninggalkanku dan appa di iringi pandanganku yang terus mengikutinya. Sejujurnya aku kasihan karena appa terlalu ketus padahal dia tidak salah apa-apa.


" Diliatin saja terus." Sindir appa.


" Ya elah gitu aja langsung nyindir." Ucapku.


" Cantik sih, seksi juga. Pantes lah kalau kamu sebagai laki-laki terpesona sama dia. Tapi buat appa cantikan Cinta. Appa lebih suka kamu sama Cinta daripada sama dia."


" Ya ampun appa ngomong apa sih? Udah jelas lah Aidan juga pasti akan pilih cinta. Lagian Renata juga bukan siapa-siapa Aidan."


" Tapi dia suka sama kamu loh." Ujar appa.

__ADS_1


" Sok tahu banget."


" Eh appa tahu lah. Appa dulu waktu muda kan player. Banyak di sukai cewe dan banyak banget mantannya loh jadi appa tahu kalau seorang cewe lagi suka sama cowo. Ya menurut pandangan appa, Renata ini suka sama kamu."


" Halah, bilang player, banyak cewe, banyak yang suka tapi nyatanya di tinggalin juga sama eomma." Ujarku menyindir.


" Ah kamu nih malah bikin appa jadi melow." Ujar appa.


" Ya.. Ya deh maaf." Tutupku.


Dan setelah menyindir appa seperti tadi, aku malah jadi merindukan eomma. Sejujurnya aku sama sekali tidak mengingat wajah eomma. Mungkin karena aku baru berusia 6 tahun saat eomma pergi meninggalkan kami. Dan saat ini aku benar-benar merasa ingin sekali mendapatkan kasih sayang seorang eomma.


Aku dan appa segera menuju lift. Kami berpisah saat aku keluar di lantai empat dan appa masih melanjutkan perjalanan untuk sampai di ruangannya.


Aku masuk ke ruang humas. Beberapa rekan yang ada di ruangan tampak melihat ke arahku.


" Saya Aidan." Ujarku saat mereka memandang aneh dengan penampilanku.


" Oh selamat pagi Aidan_ssi." Ucap mereka hampir seperti paduan suara.


" Ya selamat pagi." Jawabku menjawab sapaan mereka kemudian masuk ke ruang kerja.


Cinta menoleh ke arahku saat aku baru saja membuka pintu.


" Siapa kamu?" Tanyanya.


" Aidan." Jawabku sambil melepas sebelah tali masker dan menunjukkan wajahku sebentar kemudian memakai lagi maskerku.


" Aidan kenapa loe berangkat kerja?" Ujar Cinta terlihat khawatir bahkan dia sampai berdiri dan menghampiriku.


" Emang harusnya gue engga berangkat kerja? Nanti loe kangen." Jawabku yang kemudian meletakkan tasku di meja kerja kemudian menghampiri meja Cinta.


" Emang lukanya udah engga sakit?" Tanyanya.


" Ya mana mungkin engga sakit. Emang gue super hero? Gue mah engga mau menunjukkan sisi yang suka bilang gapapa gapapa padahal aslinya ada apa apa. Hehe."


" Garing." Jawab Cinta mencebik.


" Loe harusnya istirahat aja di rumah beberapa hari." Sambung Cinta.


" Gue bukan tipikal yang manja sayang. Gue kalau engga kerja nanti kangen sama loe gimana?" Godaku.


" Sakit masih aja suka nggombal. Gue pukul luka loe baru tahu rasa."


" Jahat banget sih." Aku mencebik.


Ting.


Sebuah pesan kudengar dari ponsel Cinta. Dia langsung membuka pesannya dan senyum-seyum sendiri.


" Siapa?" Tanyaku penasaran.


" Kepo banget sih."


" Emang kenapa kalau gue kepo? Loe kan pacar gue walaupun cuma bohongan."


" Kalau bohongan namanya bukan pacar."


" Ya loe sendiri yang engga mau di ajakin pacaran beneran."


" Engga usah di bahas sih." Jawab Cinta dengan teganya.


Dia masih memainkan ponselnya bahkan saat ini malah tertawa-tawa.


Tak lama dia langsung mengangkat ponselnya dan meletakkannya di telinga.


" Eoh?"


Ah ternyata dia sedang menelpon seseorang. Tapi siapa yah?


" Kamu kocak banget sih Rama. Aku sampai engga bisa berhenti ketawa."


Wah wah si Rama ternyata yang membuat gadisku ini sampai tidak bisa menahan senyum. Apa sih yang dia kirim di chat? Ah aku jadi panas.


" Oke oke nanti di usahakan pulang cepet deh ya."


" Oke. Dah." Tutup Cinta yang membuatku panas. Kenapa Cinta selalu lembut yah saat berbicara dengan Rama? Kan aku jadi benar-benar cemburu.


Ah aku juga bisa membuat Cinta cemburu. Apa ku katakan saja ya kalau tadi Rena juga menemuiku? Aku ingin juga melihat reaksinya. Tapi... Kalau Cinta ternyata biasa saja bagaimana?


" Cinta?" Panggilku ingin mencoba mengutarakan rencanaku.


" Eoh?" Cinta menjawab tanpa menoleh ke arahku. Dia sibuk dengan ponselnya sambil sesekali tertawa kecil. Waahhh cantik sekali. Ah sempat-sempatnya aku terpana dengan kecantikannya.


" Tadi Renata dateng ke kantor."


Cinta langsung menurunkan ponselnya kemudian menoleh ke arahku. Respon awal sudah sesuai dengan keinginanku. Dia langsung mengubah fokusnya begitu mendengar nama Renata ku sebut. Coba kita lihat respon selanjutnya.


" Kenapa dia ke sini?" Tanyanya.


" Nyariin gue lah. Kangen mungkin."


Ekspresinya langsung berubah. Yang tadinya Cinta senyum-senyum sekarang ekspresi wajahnya menjadi datar.


" Oh." Jawab Cinta singkat kemudian mengalihkan pandangannya pada komputer.


Wah aku jadi tidak bisa menebak arti respon Cinta sebenarnya. Dia cemburu tidak sih? Apa aku saja yang terlalu berharap? Kan kemarin dia bilang dia tidak bisa membalas perasaanku. Ah tiba-tiba semangatku jadi hilang. Aku menunduk lesu dan kembali ke meja kerja.


" Luka loe udah di kasih salep belum?" Tanya Cinta tiba-tiba.


" Belum." Jawabku pendek.


Tiba-tiba Cinta membuka laci meja kerjanya kemudian berjalan ke arahku. Dia berdiri di hadapanku kemudian membuka maskerku.


" Jangan di tutup kelamaan nanti lukanya engga kering-kering." Ujarnya di depan wajahku yang membuatku gugup. Apalagi sekarang dia malah menarik daguku dan menundukkan kepalanya. Di periksanya wajahku kanan dan kiri kemudian melepaskan pegangannya dari daguku. Dia menoleh ke kotak kecil di meja yang tadi dibawanya. Dia mengambil kotak itu dan berjongkok di depanku.


Jantungku langsung berdegup tidak karuan. Ini kenapa sih Cinta pakai acara dekat sekali seperti ini?


Cinta mulai membersihkan luka-lukaku kemudian dengan telaten mengoleskan salep.


" Awww." Aku meringis saat lukaku tersenggol.


" Maaf. Tahan sebentar ya?" Ucapnya persis di depan wajahku. Aku jadi memperhatikan bibirnya.


" Loe harus sering bersihin dan olesin salep biar lukanya...."


Belum selesai kalimat Cinta, aku sudah menghentikan tangannya. Aku memegang tangan Cinta yang masih memegang cotton bud. Cinta otomatis melihat ke arahku. Aku menemukan tatapannya kemudian mengunci mata Cinta dalam tatapanku.


" Ww.. Wae?" Tanyanya gugup.


" Loe kenapa ngelakuin hal kaya gini?" Tanyaku tanpa melepaskan tatapanku padanya.


" Ngelakuin app.. Apa?" Tanyanya kikuk kemudian membuang pandangan ke bawah.


" Gue udah bilang kalau gue suka sama loe kan?" Tanyaku lagi.


" Angkat wajah loe Cinta, lihat gue." Sambungku saat Cinta tak kunjung menatapku lagi.


Akhirnya Cinta menurutiku. Dia kembali menatapku. Aku tidak pernah melepaskan pegangan tangannya di pipiku.


" Kenapa?" Tanyanya padaku.


" Loe beneran engga ada sama sekali perasaan apa-apa sama gue?" Sekali lagi aku mengungkapkan perasaanku.


Cinta hanya menatapku tanpa menjawab.


" Jawab gue Cinta." Paksaku padanya.


" Eoh. Gue.. Gue cuma menganggap ini semua hanya akting. Gue.. suka sama Rama bukan sama loe Aidan." Jawab Cinta.


DEGG.


Hatiku terasa nyelekit, sangat sakit. Meski sudah biasa di tolak tapi penolakannya kali ini benar-benar membuatku hancur. Bukan hanya karena Cinta menolakku tapi dia juga mengatakan bahwa Rama adalah pria yang di sukainya.

__ADS_1


Perlahan aku melepaskan tangannya dari pipiku. Kurasa mataku mulai berkaca-kaca. Aku segera membuang padanganku ke arah meja kerja. Aku membetulkan posisi dudukku kembali kepada pekerjaan.


" Aidan?" Panggilnya.


Aku tidak menghiraukan panggilannya.


" Maaf karena...."


" Jangan minta maaf Cinta. Karena yang seharusnya minta maaf adalah gue." Potongku dingin.


Cinta berdiri kemudian memegang lenganku, tapi aku segera menepisnya.


" Aidan? Jangan gini." Ujarnya.


Aku tidak berniat meresponnya. Tak kuat berlama-lama di dekatnya, aku segera memakai maskerku dan bersiap meninggalkannya.


" Loe mau kemana Aidan?" Tanyanya saat aku berdiri dari tempat dudukku.


" Bisa geser sedikit? Gue mau lewat." Ujarku datar tanpa berniat menjawab pertanyaan Cinta.


Cinta bergeser dan aku langsung melewatinya. Sebelum membuka pintu, aku menoleh sekali lagi padanya.


" Cinta?" Panggilku.


" Eoh." Jawabnya cepat.


" Kalau akting ini memang membebani loe, gue akan usahain secepatnya untuk kita putus. Gue akan segera bilang sama appa, Jona hyung dan juga noona."


" Maaf kalau selama ini gue bikin loe engga nyaman dan makasih loe bersedia bantu gue move on dari noona gue."


Setelah mengatakan itu aku langsung pergi meninggalkan Cinta di ruangan. Entah kemana tujuanku yang jelas aku tidak sanggup berada di dekat Cinta saat ini.


...***...


Aku melajukan mobilku tanpa tujuan yang jelas. Hanya berkeliling saja di jalanan dan ketika tersadar aku sudah berada di dekat taman Yeouido hangang. Dan akhirnya terdamparlah aku di sini di taman yeouido di tepi sungai Han. Di taman ini ada sedikit kenanganku dengan Cinta. Ah aku bahkan tidak banyak tahu daerah di Korea tapi kenapa semua tempat yang kudatangi ada kenangan dengan Cinta? Padahal aku pun belum lama berada di sini. Apa aku kembali saja sebagai AK? Agensi pun masih sering menghubungiku untuk memintaku kembali.


Aku memarkirkan mobilku dan menikmati taman yang cukup terkenal di Korea Selatan ini. Aku berjalan santai di tepi sungai. Kulihat banyak orang yang bertamasya di sini meskipun saat ini masih musim panas bahkan suhu hari ini mencapai 33° C.


Aku berhenti di rerumputan dan melepas jaketku kemudian menjadikannya alas untukku duduk. Kulihat beberapa anak kecil berlarian membawa balon. Aku turut tersenyum melihat mereka.


Tak lama aku berpikir mengenai pekerjaan. Ku kirim pesan pada Cinta bahwa hari ini aku ijin untuk tidak masuk saja seperti sarannya tadi pagi.


* Gue engga balik lagi ke kantor. Anggap aja gue ijin sakit hari ini.


Ku tekan tombol send dan ku letakkan lagi ponselku di saku.


" Ahhh rasanya belum lama gue ngerasain rasa sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan gini. Engga nyangka baru juga move on udah potek lagi aja hati." Monologku sambil memandangi langit. Tak lama ku buang pandanganku ke bawah kemudian mencabuti beberapa rumput kecil yang ada di sekitarku.


" Kak Aidan?" Terdengar suara orang memanggilku. Aku menoleh ke sumber suara.


" Rena?"


" Kakak ngapain di sini?" Ujarnya menghampiriku.


" Aku boleh duduk?" Rena meminta ijin padaku.


" Duduk aja." Jawabku.


" Kakak kenapa ada di sini? Emang kakak engga kerja?" Tanyanya sekali lagi.


" Loe sendiri?" Tanyaku balik tanpa berniat menjawab pertanyaan Rena.


" Aku dapet cuti sebagai bentuk simpati perusahaan atas apa yang menimpaku semalam." Jawabnya.


" Terus loe ngapain malah di sini?" Tanyaku.


" Kalau di rumah, aku jadi parno kak. Makanya aku pergi aja jalan-jalan. Kakak sendiri gimana?"


Aku tersenyum getir.


" Gapapa. Cuma mau menenangkan diri aja." Jawabku.


" Dari?"


Aku tersenyum saja tanpa menjawab pertanyaan Rena.


" Kita keliling aja mau?" Ajakku.


Rena menganggukkan kepalanya. Dan akhirnya aku dan Rena berjalan berdua di tepi sungai.


" Aku minta maaf ya kak, gara-gara nolongin aku semalem wajah kakak jadi penuh luka gitu." Ujar Rena membuka pembicaraan.


" Engga masalah. Engga usah terlalu dipikirin. Loe udah gue anggep adek gue kok." Jawabku.


" Emang loe di mana ketemu mantan loe yang bangsat itu?" Sambungku.


" Aku kenalan di media sosial kak dan pacaranpun di medsos. Terus saat dia ngajakin ketemuan ya aku mau aja karena pada saat itu aku sama dia udah pacaran cukup lama dan orangnya sepertinya baik tapi saat pertama ketemu dia udh berani kontak fisik sama aku. Jujur aja aku takut pada saat itu, sebenernya penampilanku aja yang seksi kaya gini tapi aku masih orang yang sama seperti terakhir kali kita ketemu kak. Aku masih cupu sama hal-hal kaya gitu. Di saat teman-teman kantor semua bercerita tentang hubungan *** dengan pasangan, aku cuma bisa minder karena aku belum pernah merasakannya." Jawabnya panjang lebar.


" Engga perlu minder justru menurut gue itu hal yang bagus. Pertahankan pemikiran loe itu. Biarin aja temen loe itu cerita tentang *** mereka tapi loe sendiri kan engga sama dengan mereka. Loe orang Indo yang tabu banget sama hal-hal kaya gitu. Apalagi loe di sini sendiri. Jangan bikin malu keluarga loe di Indo." Jawabku.


Rena menoleh padaku kemudian menganggukkan kepalanya.


" Makasih ya kak atas wejangannya. Dan maaf kemarin aku peluk-peluk kakak di depan pacar kakak. Soalnya...."


" Udah engga usah di bahas." Potongku dan Rena kulihat diam mengerti.


Kami sama-sama melanjutkan perjalanan menikmati keindahan sungai Han.


" Kakak mau es krim engga?" Tanya Rena.


" Loe mau? Biar gue beliin." Tawarku padanya, tapi kemudian ponselku berdering.


Kring..kring...


Kulihat di ponsel tertera nama Cinta. Aku ragu untuk mengangkatnya, tapi melihat Renata menatapku, aku langsung menyuruhnya membelikanku es krim.


" Loe bisa beliin es krimnya engga? Sekalian buat gue. " Ucapku sambil menyerahkan beberapa lembar won.


" Biar aku aja yang beliin." Jawabnya.


" Udah simpen aja duit loe. Pakai ini." Ujarku memaksa dan akhirnya Rena mengambil uangku dan pergi membeli es krim sedangkan aku mengangkat panggilan Cinta.


" Eoh." Jawabku membuka pembicaraan.


" Loe dimana?"


" Engga penting gue dimana." Jawabku ketus.


" Kak? Yang ini?" Teriak Renata dari Food truck.


" Yang mana aja." Jawabku sambil menjauhkan ponsel agar Cinta tidak mendengarnya. Tapi sepertinya aku salah, Cinta mendengar perkataanku tadi.


" Loe lagi sama siapa?" Tanyanya.


" Sama Renata." Jujurku.


" Renata?" Tanyanya meyakinkan diri.


" He'em." Jawabku singkat.


" Kenapa loe bisa sama Renata?"


" Emangnya kenapa? Emang gue engga boleh jalan sama Renata? Loe juga bukan siapa-siapa gue." Jawabku ketus.


" Oh gitu. Iya bener, gue emang bukan siapa-siapa loe tapi setidaknya hargai gue sebagai pacar pura-pura loe." Jawabnya tak kalah ketus. Dan mendengarnya, aku jadi merasa bersalah.


" Lagian gue telpon juga karena appa nanyain loe ke gue. Kalau loe emang engga suka gue tanya-tanya gue minta maaf. Dan juga kayanya gue udah ganggu waktu loe sama Renata. Gue juga minta maaf untuk hal itu." Sambung Cinta kemudian menutup sambungan teleponnya dan setelahnya aku menjadi menyesal sudah ketus pada Cinta.


POV singkat Cinta


Setelah kututup teleponku pada Aidan tak terasa hatiku terasa nyelekit. Ada rasa marah dan cemburu di dalam hati. Aku marah karena aku tidak bisa mengerti perasaanku sebenarnya pada Aidan. Yang kutahu aku nyaman di dekat Aidan tapi saat melihat Rama? Aku juga merasa aku masih sangat menyukainya. Itulah kenapa aku tidak bisa menjawab pernyataan Cinta Aidan. Dan aku menyesal kenapa aku harus mengatakan bahwa aku menyukai Rama di depan Aidan? Bahkan aku bilang aku tidak menyukainya. Kenapa aku tidak jujur saja bahwa aku tidak tahu perasaanku sebenarnya pada Aidan?


Selain itu aku juga kecewa kenapa Aidan sangat ketus padaku? Padahal biasanya dia selalu menggodaku. Apalagi saat aku menghubunginya ternyata dia bersama dengan Renata. Kenapa? Kenapa harus Renata? Jujur saja aku merasa kesal mendengar Aidan selalu menyebut nama Renata. Entahlah apa aku ini cemburu? Jika pun iya, apa hakku cemburu dengannya?

__ADS_1


Aku tidak punya hak. Aku bukan siapa-siapa Aidan.


...___ bersambung__...


__ADS_2