BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 42


__ADS_3

Pukul empat sore kami sudah sampai di rumah lagi. Lebih cepat dari dugaan awalku yang berpikir akan menghabiskan malam di jalan Malioboro yang terkenal itu. Entah apa yang akan ayah bicarakan dengan kami. Mudah-mudahan ini bukan berkaitan dengan lamaran Fandi yang kemarin ayah bicarakan. Jujur saja aku sendiri jadi merasa khawatir meskipun aku yakin seyakin-yakinnya bahwa Cinta pasti akan lebih memilihku di banding pria teman kecilnya yang bahkan sudah tidak dikenalinya lagi. Selain itu restu ibu juga sudah kudapatkan. Tinggal restu ayah saja yang sebenarnya aku merasa ayah sudah 70% menyetujui hubunganku dengan Cinta hanya saja terhalang oleh janji beliau pada Fandi.


Ayah mengumpulkan kami semua di ruang tamu.


" Ayah ada apa toh sebenarnya sampai menyuruh kita semua pulang padahal kita seru-seruannya aja belum mulai?" Ibu membuka pembicaraan dengan bertanya maksud dari ayah mengumpulkan kami semua.


" Ayah mau buat pengakuan." Ucap ayah datar yang membuat kita semua saling bertukar pandangan.


Ibu terlihat gelisah mendengar kata "pengakuan" dari suaminya itu. Kulihat Cinta juga memandangi ayah dengan tatapan bingung. Aku yang sudah merasa bahwa ayah akan mengatakan sesuatu tentang lamaran Fandi juga ikut-ikutan gelisah.


" Maaf yah, apa ini ada hubungannya dengan pembicaraan kita kemarin?" Aku langsung bertanya pada ayah tentang yang kurasakan sejak tadi.


Cinta dan ibu menoleh padaku serentak.


" Pembicaraan apa Aidan? Kemarin aku tanya kamu katanya ayah engga ada ngomong apa-apa yang aneh. Tapi..."


Cinta langsung mencecarku dengan pertanyaan. Aku sudah menduga hal itu sebelum kuberanikan diri bertanya pada ayah barusan.


" Maaf Cinta tapi lebih baik ayah aja yang menjelaskan semuanya. Karena sejujurnya ini juga nyakitin hati aku." Jawabku.


" Iki sakjane piye toh yah? ( ini sebenarnya gimana sih? ) Ada apa sebenarnya?" Tanya ibu yang sudah sangat bingung dengan pembicaraan kami.


" Begini... Sebenarnya ayah cuma mau jujur sama kalian semua." Ucap ayah yang membuat kami bertiga langsung fokus pada apa yang akan ayah katakan.


" Kemarin ayah ajak Aidan keluar dan membicarakan hal ini. Ada yang ayah tutupi dari ibu dan juga Cinta sebenarnya." Sambung ayah.


" Apa yang ayah tutupi dari ibu?" Ibu memotong cepat pembicaraan ayah.


" Tolong ibu tenang dulu. Biar ayah cerita dulu ya?" Ucap ayah yang langsung di turuti ibu dengan diam memperhatikan apa yang akan ayah ceritakan.


" Sebelumnya ayah minta maaf karena merencanakan kebohongan ini."


Ayah menjeda kalimatnya.


" Sejujurnya tiga bulan yang lalu sejak nak Fandi mulai sering datang ke sini, anak itu mengungkapkan keinginannya untuk menikahi Cinta. Nak Fandi sudah melamar Cinta pada ayah."


Meski sudah tahu apa yang akan ayah ceritakan tapi ternyata mendengarnya sekali lagi masih membuat hatiku dongkol.


Ibu dan Cinta kulihat terkejut dengan pernyataan ayah barusan.


" APA? LAMARAN?" Ibu meninggikan suara saking terkejutnya dengan kata lamaran.


" Lamaran apa toh yah? Kenapa ayah ndak pernah cerita sama ibu?" Sambung ibu terlihat agak kesal.


" Ayah juga engga cerita apa-apa sama Cinta. Ini lamaran apa maksudnya yah?" Cinta juga ikut bicara.


" Ya lamaran, Nak Fandi melamar kamu untuk jadi istrinya." Ucap ayah santai.


" Ibu? Cinta? Tolong tenang dulu." Ucapku meminta ibu dan Cinta untuk tenang dan mendengarkan penjelasan ayah dulu tapi sepertinya Cinta salah paham. Dia menoleh sengit padaku.


" Kamu tahu hal ini tapi kamu engga mau bilang sama aku Aidan? Ini hal penting loh. Aku di lamar laki-laki lain tapi kamu bisa-bisanya nyembunyiin hal kaya gini? Kamu malah sekongkol sama ayah buat nyembunyiin hal besar kaya gini dari aku? Kamu bener-bener engga ngertiin perasaan aku atau gimana?" Cinta menyalahkanku.


" Sayang kamu tenang dulu, maksudku..."


" Maksud kamu apa? Aku salah paham gitu?" Potong Cinta yang tak memberikan kesempatan padaku untuk menjelaskannya.

__ADS_1


Aku diam tidak menjawab. Menurutku lebih baik aku tetap diam sampai emosi Cinta mereda.


" Kenapa kamu malah diem Aidan? Kamu itu...."


" Aku apa? Aku diem aja itu menurut kamu aku engga cemburu gitu?" Potongku cepat yang sudah tidak bisa diam saja sesuai pemikiran awalku. Ternyata aku diam malah membuat Cinta semakin kesal.


" Kamu pikir aku biasa aja sejak tahu kamu di lamar sama orang lain? Emang kamu pikir aku engga sakit? Aku sakit, aku cemburu Cinta." Sambungku.


Aku bahkan membalas kata-kata Cinta di depan orang tuanya.


" Sudah.. Sudah.. Jangan berantem gitu." Ayah langsung melerai kami.


" Bagaimana kalian mau menikah kalau baru ayah kasih cobaan kaya gini aja kalian udah adu mulut." Ucap ayah yang membuat kami berdua menoleh padanya. Eh bertiga dengan ibu juga ternyata.


Kami semua mempertanyakan maksud perkataan ayah.


" Maksud ayah apa?" Cinta mewakili pertanyaan dariku dan juga ibu.


" Makanya dengerin dulu ayah bicara. Jangan memotong kalimat ayah. " Ucap ayah.


Kami semua mengikuti permintaan ayah untuk mendengarkan ceritanya tanpa menyela kalimat beliau.


" Jadi lamaran Fandi memang benar adanya. Dan sejak itu Fandi rutin datang ke rumah meskipun hanya sekedar menemani ayah minum kopi atau kadang mengajak ayah fitness. Jujur saja ayah suka sama kepribadiannya Fandi. Selain dia juga anak dari keluarga baik-baik, dia juga menyukai Cinta sejak masih sekolah katanya. Dan ayah yang tidak pernah mendengar kalau anak ayah sudah punya pacar di umurnya yang sudah 28 tahun ini pasti merasa khawatir dengan hal itu kan? Jadi jika ada laki-laki baik yang melamar putri ayah bukankah ayah seharusnya menerimanya?"


" Jadi ayah terima lamaran Fandi?" Tanya ibu cepat.


Ayah diam sejenak. Ayah tidak menjawab pertanyaan ibu malah menoleh pada Cinta.


" Kalau ayah terima lamaran Fandi kira-kira Cinta mau gimana sama ayah?" Tanya Ayah pada Cinta.


" Menurut ayah Cinta akan gimana sama ayah? YA COBA AYAH PIKIRIN AJA CINTA AKAN GIMANA?" Cinta berdiri kemudian berteriak marah pada ayahnya.


Aku memegangi lengan Cinta untuk menenangkannya.


" Jangan neriakin ayah kaya gitu sayang." Ucapku.


Cinta sama sekali tidak menoleh padaku. Dia masih menatap ayahnya tajam.


" Cinta engga mau nikah sama Fandi yah. Tolong jangan bilang kalau ayah terima lamaran Fandi." Ucap Cinta dengan suaranya yang bergetar.


Aku menunduk mendengar penuturan Cinta. Ayah masih terdiam seperti tidak ingin menjelaskan.


" Cinta?" Panggilku pelan yang tidak di gubris olehnya.


" Tentang hal yang kamu tanyakan sama aku kemarin. Ayah bilang sama aku kalau ayah udah terlanjur menerima lamaran Fandi. Itulah sebabnya aku engga bisa kasih tahu kamu kemarin karena aku juga masih tidak percaya dengan kenyataan itu." Ujarku mencoba tegar mengatakannya.


Cinta akhirnya menoleh ke arahku dengan terkejut kemudian mengalihkan cepat pandangannya pada ayah mencari kebenarannya.


" Apa seperti itu yah kenyataannya?" Ibu mendahului Cinta bertanya pada ayah.


" Justru ini tujuan ayah ingin bicara dengan kalian semua. Ayah ingin membuat pengakuan." Jawab ayah.


" Jadi bener yah? Ayah udah nerima lamaran Fandi?" Tanya Cinta dengan tatapan tajamnya.


Merasa tak mendapat jawaban dari ayah, Cinta menoleh cepat padaku.

__ADS_1


" Kamu juga Aidan, kenapa kamu engga bilang kalau kamu tahu ayah nerima lamaran Fandi hah?" Cinta melakukan protes keras padaku. Aku tahu dia hanya melampiaskan kekesalannya pada ayah tapi entah kenapa aku juga jadi terpancing kesal.


" Ya terus aku harus gimana Cinta? Aku udah bilang aku juga sakit dengernya. Aku juga udah bilang sama ayah kalau aku engga akan pernah mundur meskipun ayah udah nerima lamaran laki-laki itu."


Cinta tiba-tiba saja menangis keras mendengar jawabanku. Aku langsung khawatir melihatnya. Aku berdiri hendak memeluknya tapi kulihat ibu mendahuluiku berdiri kemudian memeluk Cinta yang menangis sesenggukan. Seharusnya aku yang memeluknya tapi otakku ternyata masih bisa berpikir jernih bahwa aku harus menahan diri untuk tidak berkontak fisik selama di rumah orang tua Cinta.


" Kenapa ayah jahat sama Cinta bu? Cinta kan udah bilang Cinta udah jatuh cinta sama Aidan. Cinta maunya nikah sama Aidan bukan sama Fandi bu." Cinta menangis di pelukan ibunya.


" Iya nduk iya. Ibu juga engga setuju sama sikap ayah. Ibu juga mendukung kamu dengan Aidan nduk." Ibu menenangkan Cinta meskipun kulihat netra beliau juga mulai berkaca-kaca.


" Kalian bertiga bisa dengarkan ayah dulu sampai selesai ndak?"


Tiba-tiba ayah menyela kami. Aku tidak tahu apa yang selanjutnya akan di ucapkan ayah. Setahuku ayah sudah mengatakan semuanya.


" Perlu di rungokke piye meneh toh yah? ( perlu di dengarkan bagaimana lagi yah?) Cinta ini anak semata wayangnya kita yah, kenapa ayah ndak bisa mengabulkan kebahagiaan anak sendiri? Ibu ndak setuju kalau sampai Cinta ndak bahagia. Ibu ndak setuju Cinta menikah dengan Fandi." Ibu protes keras pada ayah. Terdengar dari nada bicaranya yang menekan.


" Mulane ibu rongokke ayah ndisik loh. ( makanya ibu dengarkan ayah dulu loh )" Ucap ayah yang entah kenapa beliau terlihat santai bahkan sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.


" Ya silakan ibu dengarkan apa yang akan ayah katakan. Tapi kalau ayah bilang mau menikahkan Cinta dengan Fandi, ibu akan ikut Cinta ke Korea saja."


" Loh loh loh kenapa gitu bu? Lagian siapa yang bilang sih kalau Cinta harus menikah dengan Fandi?"


" Lah barusan Aidan bilang ayah sudah menerima lamaran Fandi."


" Justru ayah mau minta maaf sama Aidan. Ayah sudah bohong sama dia."


Aku menoleh cepat pada ayah.


" Maksud ayah gimana?" Tanyaku merasa bingung dengan permintaan maaf ayah.


Cinta dan ibu melepaskan pelukan mereka dan menoleh pada ayah untuk mendengarkan kelanjutan penjelasannya.


" Lamaran Fandi memang benar adanya tapi untuk menerima lamaran anak itu ayah memang sengaja berbohong sama nak Aidan. Sebenarnya ayah ndak nerima lamarannya, tapi ayah juga ndak menolak mentah-mentah. Intinya Fandi juga tahu bahwa Cinta sudah punya calon suami. Ayah sudah memberitahukan semuanya sama nak Fandi. Tapi anak itu bilang hanya ingin akrab saja dengan Cinta. Masa ayah harus menolak?" Jelas ayah detail.


" Maksud ayah gimana? Cinta engga ngerti." Ucap Cinta.


" Ya intinya ayah minta maaf sama Aidan karena sudah membohongi dia tentang lamaran Fandi. Ayah cuma mau lihat keseriusan Aidan sama kamu nduk. Dan ayah merasa nak Aidan sangat serius sama kamu." Jawab ayah pada Cinta.


" Jadi maksud ayah, sekarang ayah merestui hubungan kami atau gimana?" Tanya Cinta yang tidak di jawab ayah malah beliau menoleh padaku.


" Nak Aidan?" Panggil ayah padaku.


" Ya yah." jawabku cepat.


" Kapan kamu akan bawa orang tua kamu ke sini untuk melamar anak ayah secara resmi?" Tanya ayah yang membuatku menutup mulut saking terkejutnya. Mataku juga terasa mulai berkaca-kaca.


" Jadi ayah merestui hubungan saya dengan Cinta?" Tanyaku memastikan sekali lagi.


Ayah menganggukkan kepalanya dan aku langsung berdiri menghampiri ayah dan berlutut sambil mencium tangan ayah takzim.


" Makasih yah, Aidan akan segera bawa orang tua Aidan ke sini untuk melamar Cinta. Saya sangat mencintai anak ayah, Cinta Maharani. Makasih ayah udah merestui hubungan kita." Ucapku terharu.


...___ bersambung___...


...Yeee akhirnya hubungan Cinta dan Aidan udah dapet restu dari ayahnya Cinta. Jangan bosen ngikutin cerita cinta mereka yang sebentar lagi masuk babak terakhir yaaa. jangan lupa juga buat vote, like dan follow authornya biar makin semangat nulis...

__ADS_1


__ADS_2