BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 27


__ADS_3

Kami bertiga sampai di lokasi syuting. Cinta pamit untuk menemui manager dari BTS.


" Sajangnim? Saya ijin menemui manager dari BTS dulu. Nanti saya akan persiapkan tempat untuk mereka bisa menemui anda."


" Oke." Jawab appa.


" Aidan? Kamu disini dulu temenin appa soalnya army pasti akan banyak banget di sekitar sini." Ujar Cinta kemudian lari tanpa menunggu jawaban dariku. Aku hanya bisa mengikutinya lewat pandangan mataku.


" Cinta cekatan sekali yah?" Ucap appa.


" Sangat. Profesional dan juga royal dan loyal pada perusahaan. Dia bahkan sering melewatkan waktu makannya sampai Aidan yang harus suapin dia. Aidan engga bisa bayangin gimana Cinta dulu sebelum Aidan masuk di perusahaan." Jawabku.


" Kamu beneran serius sama Cinta, Aidan? Cinta bukan pelampiasan atas cinta kamu sama Jessica kan?" Tanya appa yang membuatku harus menoleh padanya.


" Kenapa appa bilangnya gitu? Pertanyaan appa ini jangan sampai di dengar Jona hyung loh apalagi noona." Jawabku.


" Iya appa juga tahu kok Aidan. Appa cuma tanya apakah kamu sudah bisa move on dari Jessica? Karena menurut appa terlalu singkat jika kamu sudah menyukai orang lain terlepas dari Cinta adalah seseorang yang dulu kamu suka. Appa rasa kesetiaan anak appa ini engga sesedikit itu." Ujar appa.


" Jadi appa berharap Aidan masih mengharapkan noona gitu?" Tanyaku.


" Ya engga juga. Maksud appa, appa tidak ingin Cinta sakit hati jika tahu bahwa dia menjadi pelampiasan atas rasa cinta kamu untuk wanita lain. Masalahnya appa mulai menyayangi Cinta seperti anak appa sendiri."


" Aidan udah move on dari noona kok appa. Appa tenang aja. Aidan juga serius dan bener-bener jatuh cinta sama Cinta. Emang appa engga bisa menilai dari gerak gerik Aidan apa? Katanya appa bisa baca jika seseorang menyukai lawan jenisnya. Wah playboy bohong nih." Godaku pada appa.


" Hei boy. Kamu jangan menghina appa. Lagipula appa kan bilangnya appa tahu jika seorang cewe suka sama cowo bukan kebalikannya. Dan dari penilaian appa, Cinta itu beneran sayang sama kamu."


DEG.


Benarkah yang appa katakan? Ah tapi semalam bukannya Cinta dan Rama sudah resmi berpacaran? Aku bahkan melihat dengan mata kepalaku sendiri. Meskipun sebelumnya aku mabuk tapi pada saat Rama mengutarakan perasaannya pada Cinta, aku dalam keadaan sadar. Aku yakin mereka sudah berpacaran, apalagi Cinta bilang yang disukainya itu Rama bukan aku. Jadi tidak ada alasan Cinta menolak perasaan Rama kan? Lagipula semalam Cinta juga tidak berusaha mengejarku. Itu artinya dia memilih Rama kan? Tapi.... Tapi kenapa tadi Cinta mesra sekali kepadaku yah? Apa maksudnya? Dia bahkan berkali-kali mengecupku.


" Hei. kok malah bengong sih?" Ujar appa mengagetkanku.


Tak lama Cinta menelponku.


" Halo Aidan?"


" Ya."


" Loe bisa bawa sajangnim masuk engga? Lewat pintu belakang yang ada penjagaannya yah? Kalau dari depan terlalu banyak army di sana. Walaupun mereka tertib tapi gue takut appa kenapa-napa."


" Pintu belakang ada di sebelah mana?" Tanyaku.


" Loe lihat cofee truck engga? Loe masuk lewat situ aja. Ada pintu di sebelahnya."


" Oke."


Akhirnya aku membawa Appa sesuai instruksi yang di berikan Cinta.


...***...


Setelah bertemu dan berbincang sebentar dengan BTS, appa pamit pergi padaku dan juga Cinta. Sementara aku dan Cinta masih harus stay sampai syuting selesai.


" Appa harus pergi duluan ini loh. Maafin appa yah? Soalnya rapat kali ini ternyata tidak bisa di reschedule. Appa udah minta seseorang untuk mengantar mobil perusahaan ke sini kok." Ucap appa.


" Ne. Appa. Gwaenchana." Jawabku.


" Ne, gwaenchanseumnida sajangnim." Jawab Cinta tegas.


" Katanya mau agak kurang profesional hari ini. Kok masih panggil sajangnim?" Ucap Appa.


" Hehe. Iya maaf appa. Udah kebiasaan." Jawab Cinta.


Aku sangat suka interaksi Cinta dengan appa. Mereka berdua benar-benar sudah seperti anak dan ayah. Andai saja aku adalah pasangan Cinta yang sebenarnya pasti interaksi mereka benar-benar membuatku bahagia. Tapi jika keadaannya seperti sekarang ini. Aku bahkan tidak tega memberitahukan bahwa sebenarnya hubunganku dengan Cinta hanyalah sandiwara. Bagaimana perasaan appa ya kalau tahu kenyataan yang sebenarnya? Padahal tadi appa bilang appa sudah menyayangi Cinta seperti anaknya.


" Titip Aidan yah Cinta. Jangan sampai dia tebar pesona sama perempuan lain. Bilangin sama dia, appa engga mau nerima orang lain yang jadi mantu appa kecuali kamu." Ucap appa yang membuatku semakin merasa bersalah.


" Siap appa. Appa tenang aja." Jawab Cinta nampak enteng.


Appa pun akhirnya pergi meninggalkan kami berdua.


" Ayo Aidan, kita ke depan." Ucap Cinta menarik tanganku. Aku menahan diri di tempat.


" Cinta?" Panggilku.


" Hem?" Cinta menoleh ke arahku.

__ADS_1


" Kenapa loe ber..."


Cup.


Cinta mengecup bibirku lagi sekilas. Aku kembali mematung dengan perlakuannya.


" Gue udah bilang kan loe jangan tanya-tanya tentang sikap gue? Kita kerja dulu, nanti ada saatnya gue kasih tahu alasan gue." Ucap Cinta.


" Ayo!" Cinta menarikku ke tempat dimana BTS syuting.


Ternyata sudah lebih dari jam 7 syuting belum juga selesai. Matahari yang terlalu panas menjadi salah satu penyebab di tundanya syuting karena salah satu member memiliki alergi dengan panas matahari jika terpapar terlalu lama.


Kulihat Cinta sudah lelah. Beberapa kali dia menguap dan merentangkan tangannya ke atas. Menggelengkan kepala ke kanan kiri, melakukan gerakan senam ringan untuk mengurangi rasa pegal.


Aku mendekatinya dan kupijit lembut bahunya. Dia menoleh sekilas ke arahku kemudian tersenyum. Mungkin dia sedang memastikan siapa yang menyentuh bahunya.


" Loe cape?" Tanyaku.


Cinta mengangguk.


" Sedikit." Jawabnya.


Aku melepaskan pijitanku kemudian mengambil sebotol air dan memberikannya pada Cinta.


" Minum dulu nih. " Ujarku sambil menyodorkan botol yang sudah kubuka tutupnya. Cinta mengambil botol itu dan meneguk isinya hingga bersisa setengah.


" Apa kita makan dulu aja Cinta?" Tanyaku kemudian.


" Nanti aja. Sutradara bilang tinggal satu kali take lagi." Jawab Cinta.


Akhirnya aku pun ikut menunggu bersama Cinta sampai selesai syuting.


...***...


Sekitar pukul 9 malam syuting selesai. Kami berdua berpamitan dengan para kru dan juga member BTS. Kim Namjoon, leader Boy Group itu mengajak kami untuk minum bersama tapi aku memutuskan untuk menolak karena kulihat Cinta sudah sangat lelah. Untung saja mereka mengerti. Memang melihat Cinta saat ini, orang-orang pasti akan merasa kasihan.


Aku menghampiri Cinta setelah selesai berbincang dengan member BTS.


" Ayo kita makan. Loe dari tadi belum makan. Muka loe pucet banget." Ajakku pada Cinta.


Kami masuk ke restoran ayam goreng karena ini adalah resto terdekat dengan lokasi. Kami memesan satu paket ayam goreng beserta 2 gelas bir. Cinta makan dengan lahapnya, mungkin dia benar-benar lapar. Aku memandanginya kemudian menarik senyum kecil.


" Kenapa lihatin gue? Gue tetap cantik ya walaupun dengan mulut penuh?" Tanyanya dengan PD yang membuat aku jadi mengulum senyum.


" Kenapa engga mau jawab? Biasanya kan loe bawel banget godain gue." Ujarnya lagi dengan mulut penuh. Lucu sekali caranya mengunyah seperti hewan alpaca.


" Nanti takut dikecup lagi. Gue takut jadi baper." Jawabku sambil melihatnya mengunyah makanan.


" Baper baper aja. Biasanya kan loe yang suka bikin baper gue." Jawabnya.


" Emang loe baper sama gue? Loe kan manusia kulkas, kita ciuman aja engga ada pengaruhnya sama loe." Ucapku.


" Kata siapa engga ada pengaruhnya?" Tanyanya.


" Ya buktinya loe engga ada perasaan sama gue padahal kita udah beberapa kali berciuman." Ucapku.


" Ah udah engga perlu di bahas lagi. Kasian cowo loe kalau sampai tahu pacarnya pernah ciuman sama gue." Sambungku.


" Emang siapa cowo gue?" Tanya Cinta yang malah membuatku bingung.


" Ya.. Ya Rama kan?" Jawabku jadi tidak yakin.


" Kenapa loe bisa berpikir Rama cowo gue?" Tanya Cinta yang kemudian meletakkan tulang ayam di piring makannya. Dia berdiri kemudian pergi meninggalkanku untuk mencuci tangan dan bergosok gigi.


Pertanyaan Cinta jadi membuatku ragu. Apakah Cinta tidak menerima Rama sebagai pacarnya? Tapi mana mungkin, Cinta bilang dia suka sama Rama kan?


Kulihat Cinta sudah kembali dari toilet. Aku membersihkan tanganku dengan tisu dan cairan antiseptik karena kupikir aku hanya memakan satu ayam saja dan tanganku tidak terlalu kotor.


" Loe udah selesai makan?" Tanya Cinta.


Aku menganggukkan kepalaku.


" Ya udah ayo kita balikin mobil kantor dulu." Ujarnya mengambil tanganku dan menariknya.


Kami berdua berjalan kembali ke lokasi syuting untuk mengambil mobil. Tangan Cinta tak pernah lepas dari tanganku. Sebenarnya Cinta ini kenapa sih? Kenapa sikapnya jadi manis begini padaku? Jika aku tidak meyakinkan diri bahwa Cinta sudah jadi milik Rama, maka aku tidak akan bisa menahan diriku.

__ADS_1


...***...


Akhirnya kami berdua sampai kantor sekitar pukul 10.30 malam. Hari sudah sangat larut memang.


" Gue mau langsung pulang. Loe mau gue anter atau Rama jemput loe?" Tanyaku.


" Gue engga mau pulang." Jawabnya yang membuatku menoleh kepadanya.


" Kenapa gitu?" Tanyaku penasaran.


" Loe mau ikut gue ke atap gedung ini engga?" Tanya Cinta padaku.


" Gila aja sih loe malem-malem gini mau ngapain?" Protesku pada Cinta. Lama-lama bocah ini jadi aneh. Ada apa dengannya seharian ini?


Cinta keluar dari mobil kemudian berlari menghampiri pintu mobil di sebelahku. Dia membuka dan menarikku keluar.


" Ayo. Gue akan tunjukin sesuatu yang menarik di atas." Ucap Cinta.


" Kenapa sih loe Cinta? Loe tuh aneh tahu seharian ini." Jawabku tapi masih tetap mengikutinya.


Akhirnya kami benar-benar naik ke atap gedung STAR FOOD. Dari sini terlihat pemandangan kota yang cukup menakjubkan. Selama ini aku memang belum pernah naik ke atap gedung di malam hari.


" Gimana? Menakjubkan?" Tanya Cinta saat dia melihatku kagum dengan pemandangan dari atas sini.


Aku menganggukkan kepala.


" Loe sering ke atas waktu malem Cinta?"


" Iya dulu. Gue sering lembur sendiri di kantor. Dan gue naik ke sini sebelum pulang. Tapi akhir-akhir ini udah jarang sih." Ucap Cinta.


" Loe engga takut ke sini sendiri?" Tanyaku.


" Untuk apa takut?" Balasnya.


Aku berputar mengelilingi atap gedung milik appa. Bahkan aku yang anaknya pun belum pernah ke sini tapi orang lain justru mengetahui titik menakjubkan di gedung ini.


" Aidan?" Panggil Cinta sambil berlari ke arahku. Dia tiba-tiba saja menghambur ke dalam pelukanku. Aku terkejut sampai kedua tanganku membeku di udara. Aku bahkan tidak merespon pelukannya sementara Cinta semakin erat memelukku.


" Wae?" Tanyaku gugup.


" Gue pengen jujur sama loe Aidan." Ucap Cinta.


" Tentang?" Tanyaku penasaran.


" Loe engga mau bales pelukan gue dulu?" Tanyanya di dadaku.


" Gue... Gue..."


Cinta menengadahkan kepalanya menatap wajahku intens, aku jadi gugup karenanya.


" Gue apa?" Tanyanya tanpa canggung dengan posisi kami.


" Gue... Cinta.. Kalo.. Kalo loe kaya gini terus gue engga akan bisa nahan diri lagi." Jujurku padanya.


" Jadi kenapa masih di tahan?" Cinta malah semakin memancingku.


" Aidan?" Panggilnya tanpa sekalipun memindahkan pandangannya dari wajahku.


" Eoh." Jawabku masih gugup.


" Gue sepertinya suka sama loe."


Aku sangat terkejut mendengar pengakuan Cinta. Benarkah dia bilang menyukaiku? Sebelum aku sempat tersadar, sekali lagi cinta mengejutkanku. Dia berjinjit dan menyentuhkan bibirnya pada bibirku, sesekali dia memagut bibir bawah dan atasku bergantian. Aku masih membeku dengan ciumannya. Kemudian merasa tak mendapat respon dariku, Cinta melepaskan ciumannya dariku.


" Kasih gue kesempatan Aidan. Loe mau jadi pacar beneran gue?"


Mendengar pernyataan cinta dari wanita yang kusukai, aku langsung tersadar.


" Loe bi.. Bilang apa barusan?" Tanyaku memastikan.


" LOE MAU JADI PACAR GUE ENGGA?" Teriak Cinta lantang.


Mataku seketika berkaca-kaca mendengar pertanyaannya. Aku menatap matanya, senyumku seketika mengembang.


" Sure baby. Gue mau jadi pacar loe. I love you." Balasku kemudian mencium bibir Cinta dengan liar. Segala perasaan bahagia kucurahkan dalam ciuman kami. Aku melumati bibirnya sampai Cinta kulihat kehabisan napas. Lidahku mencari lidahnya kemudian kami saling menautkannya. Malam ini adalah malam pertamaku dan Cinta sebagai pasangan kekasih. Dan akhirnya malam ini juga menjadi malam bahagiaku dengan seorang wanita yang kusukai dan juga menyukaiku.

__ADS_1


...___ bersambung___...


__ADS_2