
Renata tiba-tiba saja menghambur ke dalam pelukanku dan menyandarkan kepalanya di dadaku. Aku terpaku dengan apa yang dilakukan Renata. Aku menoleh ke samping terlihat Cinta terkejut dengan adegan pelukan yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku.
" Ren lepas Ren." Ujarku padanya sambil berusaha melepaskan diri. Tapi Renata malah menggelengkan kepala tanpa berniat melepaskan pelukannya, justru kurasakan pelukannya semakin erat dalam tubuhku.
" YAK, DANGSIN NUGUYA? (*YAK LOE SIAPA?)" Teriak Jessica keras.
Tiba-tiba saja Jessica menjambak rambut Renata dari belakang sehingga mau tidak mau Renata melepaskan pelukannya padaku karena kesakitan.
" Aa...aaaa... Apo (*sakit). Siapa yang jambak rambut gue?" Pekik Renata sambil memegangi rambut karena Jessi makin menarik ke bawah rambutnya.
" Noona, jangan di tarik lagi kasian." Ujarku pada Jessi karena melihat Renata meringis kesakitan.
" LOE KENAPA BELAIN DIA AIDAN? DIA SIAPA LOE HAH?" Jessica malah berteriak padaku tanpa melepaskan tangannya dari rambut Rena.
" Dia adik temen gue noona. Udah lepasin noona kasian. Malu juga di lihatin orang-orang." Ucapku karena melihat beberapa karyawan melihat aksi brutal Jessica. Bukan apa- apa, aku sudah di kenal para karyawan sebagai anak dari sajangnim dan beberapa di antara mereka juga mengenal Jessica sebagai menantunya appa.
Akhirnya Jessica melepaskan juga jambakannya. Sementara Renata langsung beringsut menempel di dekatku.
" Dia siapa sih kak?" Tanya Renata ketakutan.
" Dia kakak gue." Jawabku.
" Hah?" Kulihat Rena terkejut.
" Kenapa? Loe engga tahu kalau gue kakaknya Aidan? Loe siapanya adik gue hah?" Jessica kulihat ngegas.
" Sttt. Noona jangan kenceng-kenceng malu." Ucapku mencoba menghentikan teriakan Jessica yang cukup kencang.
" Loh? Kenapa malu? Harusnya cewe ini yang malu meluk-meluk pacar orang. Loe ngapain di situ? Minggir!" Ujar Jessica menyingkirkan Renata dari sebelahku kemudian menarik Cinta untuk menggantikan posisi Rena. Kulihat Cinta diam dengan ekspresi dingin.
" Nah ini baru bener." Ujar Jessica.
" Loe! ( Menunjuk Renata) Gue tanya sama loe, loe siapa dateng-dateng main peluk-peluk cowo orang hah?" Jessica bertanya pada Renata. Wajahnya benar-benar terlihat kesal.
" Kak Aidan?" Panggil Renata dengan wajah yang memelas, mungkin dia takut dengan Jessica.
" Udah noona udah. Gue udah bilang gue kenal sama dia. Dia adik temen gue." Jawabku mencoba memberikan pengertian tapi sepertinya Jessica salah sangka dengan jawabanku.
__ADS_1
" Loe belain dia mulu sih Aidan. Loe engga mau minta maaf sama Cinta? Loe udah nyakitin perasaan dia tahu." Jessica masih ngomel.
Tapi di pikir-pikir benar juga apa kata Jessica. Aku pasti sudah menyakiti perasaan Cinta meskipun pelukan tadi sama sekali bukan keinginanku.
" Ah iya, maafin aku ya sayang. Renata ini bukan siapa-siapaku kok. Dia adik dari temen kuliahku dulu. Aku juga baru ketemu tadi siang sama dia." Ucapku langsung meminta maaf pada Cinta. Tapi kulihat dia diam saja hanya sekali menarik senyum kecil itupun seperti terpaksa. Mungkinkah Cinta marah padaku?
" Kata Kak Aidan kakak engga punya pacar." Ucap Renata.
Aku langsung menoleh cepat padanya.
" Kata siapa? Gue... Gue perasaan bilang gue udah punya pacar." Protesku yang sebenarnya menutupi kenyataan dari Jessica. Aku takut pacaran pura-puraku dengan Cinta ketahuan oleh Jessica dan terlebih aku takut Cinta salah paham denganku.
" Kakak tadi bilang cuma teman kerja kan?" Protes Renata yang membuatku kesal. Aku mencoba menahannya karena tidak ingin terlihat bahwa aku berbohong.
Jessica menoleh padaku meminta penjelasan tapi aku malah menjadi kikuk sendiri.
Lama tak mendapat jawaban akhirnya Jessica menarik Cinta pergi.
" Sepertinya kalian berdua punya sesuatu yang harus di selesaikan. Lebih baik selesaikan sekarang juga sebelum loe jelasin sama gue dan Cinta. Ayo Cinta kita pergi. Awas kalau loe berani macem-macem sama Cinta ya Aidan." Ancam Jessica padaku kemudian membawa Cinta pergi.
" Loe selesaiin dulu masalah loe sama cewe engga tahu malu ini. Biar Cinta gue bawa dulu buat menenangkan diri." Ucap Jessica tegas padaku.
Aku melihat Cinta dan berusaha memegang tangannya tapi dia langsung menepis tanganku.
" Cinta? Ini bener-bener bukan seperti yang kamu pikirin. Aku beneran engga ada hubungan apa-apa sama Rena. Aku juga engga tahu kenapa Rena tiba-tiba peluk aku gitu."
" Eonni bener Aidan. Selesaikan dulu urusan loe sama dia." Ucapnya tenang namun aku menangkap kemarahan dalam nada bicaranya.
Aku akhirnya menyerah dan menatap kepergian mereka berdua dengan sedih.
" Kak?" Panggil Renata.
Aku langsung menoleh ke arahnya kemudian menghela napas.
" Loe kenapa sih tadi pakai meluk gue segala?" Tanyaku yang kurang terima dengan pelukannya tadi.
" Aku kan cuma iseng aja kak." Jawab Renata yang membuatku tak habis pikir.
__ADS_1
" Iseng? Iseng loe bilang?" Aku geregetan sendiri dengan Renata tapi aku tidak mungkin marah dengannya, apalagi melihat ekspresi Renata yang terlihat merasa bersalah.
" Lagian aku engga tahu kalau kakak lagi sama noona dan yeochinnya (* pacar ) kak Aidan juga. Lagian kakak kan juga engga bilang kalau kakak punya pacar."
" Oke kalau itu gue salah karena engga ngaku. Tapi itu engga bisa jadi alesan loe peluk gue kan? Loe kan juga bukan siapa-siapa gue Ren." Protesku.
" Iya maaf kak." Jawab Renata menunduk.
" Ya udah gue mau..."
Saat aku ingin beranjak pergi, Renata memegang tanganku.
" Kak Aidan mau kemana?"
" Mau nyusul pacar gue lah. Kita udah selesai kan? Gue harap loe engga berperilaku seperti tadi lagi."
" Tapi kita masih bisa ketemu kan kak?" Ucapnya tanpa melepaskan pegangan tangannya dariku.
Aku hanya mengangguk menjawabnya.
" Tolong lepasin tangan gue, gue engga mau orang-orang di sini menganggap gue mengkhianati pacar gue. Ini akan bikin salah paham Ren." Ucapku keberatan dengan sikapnya.
Akhirnya Rena melepaskan pegangan tangannya dan akupun langsung pergi meninggalkannya.
Aku bergegas ke parkiran dan segera menelpon Cinta mencari tahu keberadaannya. Ku lakukan beberapa kali panggilan tapi sepertinya Cinta tidak menghiraukannya. Akhirnya kuputuskan untuk menelpon Jessica tapi tetap juga dia tidak mengangkatnya meskipun sudah beberapa kali kulakukan panggilan itu.
" Ini kenapa sih dua cewe ini sekongkol engga mau jawab telepon gue?" Ujarku frustasi.
Aku benar-benar takut Cinta salah paham denganku. Aku sampai lupa kalau aku dan Cinta hanya pacaran pura-pura tapi kenapa Cinta seperti marah begini? Apa ini hanya akal-akalannya saja karena Jessica ada di dekatnya makanya Cinta melanjutkan aktingnya supaya lebih terasa nyata bahwa dia memang tersakiti olehku?
" Arrgghhh." Aku memukul setir mobil keras kemudian menghantuk-hantukkan dahiku di situ.
" Mianhae (* maafkan aku ) Cinta." Gumamku sendiri padahal tidak ada yang akan bisa mendengar permintaan maafku itu.
Ku coba beberapa kali lagi tapi tetap saja mereka berdua tidak menghiraukan panggilan teleponku. Akhirnya kuputuskan untuk pulang ke rumah saja.
...__ bersambung___...
__ADS_1