
Kim Do Hyun POV
" Aidan."
Aku memanggil putra ke duaku yang pergi dengan membawa Cinta bersamanya. Aku tidak bisa mengejarnya karena di sini ada Jona dan Jessica. Apalagi Liana, wanita yang merupakan ibu dari kedua putraku juga ada di sini.
" Maafkan Aidan, Liana. Sungguh bukan seperti itu tabiat aslinya." Ucapku meminta maaf atas sikap Aidan pada Liana.
Liana menggelengkan kepalanya pelan.
" Tidak apa-apa Do hyun. Memang aku yang salah."
" Eomma?" Panggil Jonathan yang ada di sebelahku. Dia menatap Liana dengan berkaca-kaca.
" Jonathan." Liana merentangkan kedua tangannya kemudian menghambur memeluk putra pertama kami. Liana bahkan menangis di pelukan Jonathan.
" Maafin eomma Jonathan. Eomma sudah berpikiran pendek dengan meninggalkan putra-putra eomma."
Kulihat Jonathan semakin mengeratkan pelukannya. Terdengar isakan dari mulut Jona.
" Aku tahu eomma pasti punya alasan untuk itu. Aku engga benci eomma sama sekali." Ucap Jonathan.
" Tidak Jona. Semestinya kamu benci saja eomma seperti Aidan. Kenyataannya eomma memang meninggalkan keluarga eomma demi laki-laki lain."
Aku menunduk mendengar penuturan Liana. Meski sudah lebih dari 20 tahun lalu ternyata hatiku masih terasa nyelekit jika mengingatnya.
...Flashback on...
Liana adalah satu-satunya wanita yang benar-benar membuatku jatuh cinta meski pada saat itu aku adalah seorang playboy yang suka bergonta-ganti pasangan. Petualanganku terhenti saat bertemu dengan Liana. Aku selalu penasaran dengan wanita yang selalu terlihat sedih duduk di tepi sungai Han. Bahkan suatu ketika dia ingin bunuh diri dengan lompat dari jembatan. Aku selalu mengikutinya jika tanpa sengaja melihat Liana. Biasanya ku ikuti sampai dia masuk ke sebuah komplek apartemen. Mungkin apartemen itu adalah tempat tinggalnya.
Tapi pada saat itu Liana tidak berjalan ke arah komplek apartemen yang biasa dia masuki. Dia malah berjalan ke arah jembatan kemudian dia menaiki jembatan itu. Sebelum sempat melompat, aku lebih dulu menariknya dan akhirnya dia pun jatuh memelukku. Dari situlah awal mula perkenalan kami, meski aku sudah hampir dua bulan lebih awal mengikutinya.
Setengah tahun saling mengenal akhirnya aku mencoba untuk melamar Liana meski aku tahu penyebabnya ingin bunuh diri karena dia di tinggal menikah oleh kekasihnya yang sudah lima tahun menjalin cinta. Dan kekasihnya itu bahkan menghilang tanpa jejak.
Dan entah kenapa aku menerima meski Liana menerima lamaranku dengan kondisi masih di bawah bayang-bayang mantan kekasihnya. Bahkan aku mengatakan tidak keberatan jika suatu saat kekasihnya kembali dan Liana ingin kembali padanya maka aku akan melepaskan dia.
Awal pernikahan kami baik-baik saja. Kami bahagia dan Liana juga memerankan peran sebagai istri dengan baik. Dia tidak pernah lagi terlihat sedih atau mengingat lagi mantan kekasihnya. Kehidupan kami bisa di bilang sangat sempurna apalagi setahun setelahnya lahir Jonathan Kim sebagai pelengkap kebahagiaan kami. Dan dua tahun setelahnya lahirlah Aidan Kim. Dan sampai saat itu pula kehidupan kami begitu bahagia. Sampai saat Aidan berumur lima tahun, Liana kembali menjadi sosok Liana seperti saat pertama aku mengenalnya. Dia terlihat sedih dan sering menyendiri. Bahkan terkadang tidak fokus dalam mengerjakan sesuatu. Bahkan pernah juga Liana membiarkan Aidan berenang tanpa dia ikut turun ke dalam kolam. Akhirnya Aidan hampir tenggelam jika saja aku tidak pulang pada saat itu.
Setelah hampir lebih dari dua bulan Liana terlihat berbeda akhirnya ku desak dia untuk menceritakan apa yang terjadi.
" Yeobo? Kamu ada masalah?" Tanyaku ketika melihat Liana duduk diam bersandar di sandaran tempat tidur.
" Engga." Jawabnya menarik senyum kecil.
Aku mendekatinya kemudian duduk di sisi ranjang tepat di sebelahnya. Ku belai pipinya dan ku selipkan anak rambut yang menutupi wajahnya ke belakang telinga.
Kupandangi wajahnya yang tak sedikitpun berkurang kecantikannya meski pernikahan kami sudah menginjak tahun ke sembilan. Aku masih mencintainya sama besar dengan pertama kali aku menyadari perasaan cintaku padanya hampir sepuluh tahun yang lalu.
Ku dekatkan wajahku dan pelan-pelan ku pandang intens bibirnya. Aku merindukan bercinta dengan Liana meski pagi tadi sebelum berangkat kerja kami sudah melakukannya.
Pelan tapi pasti ku dekatkan bibirku untuk mencium bibirnya. Tapi entah kenapa saat bibir kami sudah berjarak satu centi saja, Liana memalingkan wajahnya. Dia menolakku untuk pertama kalinya. Selama ini kapanpun aku meminta, dia selalu melayaniku sekalipun dalam keadaan menstruasi dia akan membantuku mencapai pelepasan meski hanya menggunakan tangan atau mulutnya.
" Kenapa sayang?" Tanyaku.
Liana meneteskan air matanya tanpa berani memandangku.
" Do hyun-a? Mari kita bercerai."
DAMN.
Bercerai? Bahkan dalam pikiranku tidak pernah terlintas kalimat perceraian. Aku mencintai Liana dan selama ini pernikahan kami pun baik-baik saja. Meski dua bulan terakhir Liana nampak berbeda, tapi tidak pernah terlintas dalam benakku bahwa Liana akan meminta cerai.
" Sayang, apa maksud kamu?" Tanyaku bingung.
" Aku ingin kamu menceraikanku Do Hyun."
" Tapi apa salahku? Kamu tidak bahagia menikah denganku?"
Liana menggelengkan kepalanya.
" Lihat aku Liana." Pintaku padanya.
Liana menghadapku hanya saja dia tidak melihat wajahku. Liana menunduk dan buliran bening jatuh di tanganku.
Aku memegangi pipi Liana dan mendongakkan wajahnya agar melihatku.
" Sayang kamu kenapa nangis?"
" Maafin aku Do hyun-a. Kamu engga salah. Kamu sangat baik padaku. Aku juga mencintai kamu dan anak-anak."
" Lalu kenapa kamu ingin bercerai?"
Liana diam tidak menjawab dan aku menariknya ke dalam pelukanku.
" Raditya kembali."
DEGH.
Raditya adalah mantan kekasih Liana yang pergi begitu saja karena menikahi orang lain. Dan saat ini dia hadir kembali dalam kehidupan Liana. Bahkan di dalam pernikahanku yang sudah bahagia ini. Aku tidak mengenalnya secara langsung hanya tahu ceritanya karena di awal perkenalan kami, Liana tidak ada hentinya menyebut nama Raditya.
" Aku masih mencintai Radit, Do hyun. Aku minta maaf. Tapi aku ingin kembali pada Radit."
Aku melepas pelukanku padanya.
" Lalu bagaimana denganku dan anak-anak Liana? Kamu tahu aku mencintaimu kan?"
" Tapi kamu tahu aku sangat mencintai Radit, bahkan kamu menerimaku dalam keadaan yang seperti itu." Ucapnya begitu menusukku meski yang di katakannya adalah fakta.
Aku dari awal memang berjanji akan menggantikan posisi Radit untuk mencintai Liana tapi aku juga berjanji bahwa jika Radit kembali, Liana bisa kembali padanya jika dia ingin. Bodohnya aku berjanji hal seperti itu. Dulu aku hanya berpikir bahwa seorang Raditya yang menghilang bagai di telan bumi pasti tidak akan kembali pada kehidupan Liana. Sekalipun dia kembali aku akan membuat Liana mencintaiku hingga tidak ada lagi tempat untuk laki-laki berengsek itu kembali pada Liana. Tapi nyatanya aku salah, hampir sepuluh tahun berlalu akhirnya kenyataan yang tak pernah kuprediksikan malah terjadi. Bahkan cintaku tidak cukup untuk membuat Liana tinggal di sisiku.
Mataku berkaca-kaca mendengar penyataan Liana.
" Aku tahu Liana. Tapi apa kamu tidak mencintaiku selama pernikahan kita? Meskipun hanya sedikit."
" Aku mencintaimu Do hyun tapi cintaku pada Radit ternyata jauh lebih besar meski kami tidak pernah bertemu sekian lama."
__ADS_1
" Aku mohon ceraikan aku Do hyun."
Akhirnya jatuh juga buliran bening yang sejak tadi sudah ku tahan.
" Lalu bagaimana dengan anak-anak? Kamu tidak memikirkan mereka Liana?"
" Maafkan aku tapi Radit tidak menerimaku dengan membawa anak. Jadi Jona dan Aidan ku titipkan padamu Do hyun."
" Setega itu kamu dengan anak-anak Liana?" Tanyaku kecewa dengan jawabannya.
" Aku tidak ingin kehilangan cintaku untuk ke dua kalinya Do hyun. Kamu tahu aku bahkan hampir bunuh diri karena Radit meninggalkanku."
" LALU BAGAIMANA DENGANKU LIANA? AKU MUNGKIN JUGA AKAN BUNUH DIRI JIKA KAMU MENINGGALKANKU SEPERTI INI." Kutinggikan suaraku yang bahkan dalam sembilan tahun pernikahan kami, aku tidak pernah sekalipun kasar padanya.
Liana hanya diam, kemudian aku pergi meninggalkannya sendirian di kamar.
Setengah tahun berlalu sejak Liana meminta bercerai. Dan selama itu pula Liana terang-terangan bertemu dengan Raditya. Liana bahkan mengabaikan Jonathan dan Aidan. Mereka selalu di titipkan pada assisten rumah tangga.
Aku tidak membenci Liana yang kembali pada Raditya tapi aku benci karena hubungan mereka mengorbankan kedua anak kami. Walaupun sejujurnya aku tidak rela Liana memilih Raditya di banding aku suaminya.
Suatu hari sebuah kejadian yang membuatku akhirnya menceraikan Liana.
" Halo Jona, Aidan?"
" Appaaaa?" Mereka berdua menghambur memelukku saat aku baru saja masuk ke dalam rumah.
" Kalian sedang apa?"
" Aidan lagi membuat lagu, appa mau dengar?" Ucap Aidan putra keduaku.
" Jona menyanyikan lagu buatan Aidan appa. Bagus sekali." Ucap Jona.
" Oh ya? Wah anak-anak appa memang hebat yah."
Tak lama terdengar suara mobil memasuki halaman rumah kami. Ternyata Liana bersama dengan Raditya.
" Eomma datang dengan ahjussi itu lagi appa." Celetuk Jonathan.
Aku menoleh cepat pada putraku.
" Ahjussi itu sering datang ke sini Jona?"
" Hampir setiap hari appa."
" Aidan tidak suka sama ahjussi itu. Dia tidak ramah. Aidan pernah di sentil waktu tidak sengaja menumpahkan air minum ke celana ahjussi itu."
Seketika aku benar-benar marah dengan Liana dan juga Raditya. Mereka berdua benar-benar sudah keterlaluan. Aku membiarkannya kembali pada Raditya bukan untuk ini. Aku memang mencintainya tapi kupikir anak-anak masih butuh kasih sayang seorang ibu. Tapi Liana bahkan rela mengabaikan putranya demi seorang laki-laki.
" Jona, tolong bawa Aidan ke kamar yah. Appa mau bicara dengan eomma dan ahjussi itu."
" Ne, appa."
Mereka berdua akhirnya pergi dari ruang tamu. Sementara Liana dan Do hyun berhenti di depan dan berciuman di hadapanku.
Liana dan Radit menoleh padaku. Ku berikan tatapan tajam pada mereka berdua. Liana kulihat terkejut karena memang tidak biasanya aku pulang cepat.
" Do hyun?"
Aku segera menarik kasar tangan istriku dari Raditya. Ku tarik hingga Liana berada di sebelahku.
BUGH.
Aku memukul keras Raditya.
" DO HYUN-A."
Liana berlari untuk membantu Raditya.
" Liana masuk ke dalam." Ucapku dingin.
" No, Do hyun. Kamu kenapa pukul Radit?" Teriak Liana padaku
" Kamu pikir kenapa aku pukul dia? SEHARUSNYA AKU SUDAH MEMBUNUHNYA."
" Masuk Liana. MASUK."
Liana tidak bergeming dengan bentakanku, dia masih mengurusi Radit yang sudut bibirnya terlihat berdarah akibat pukulanku.
" Kalau kamu tidak masuk maka... ( aku ragu mengatakannya ) Maka kamu ku ceraikan Liana. Dan jangan harap kamu bisa melihat anak-anak."
Liana menoleh cepat ke arahku.
" Bukankah aku memang memintamu menceraikanku Do Hyun?"
Aku malah terdiam dan menjadi menyesal mengatakan bahwa aku ingin menceraikan Liana.
" Baiklah..."
Aku mulai menggelengkan kepala.
" Tidak Liana. Aku.."
" Aku akan mengatakan pada pengacaraku untuk mempercepat proses perceraian kita."
" Apa? Kamu sudah..."
" Ya aku sudah mendaftarkan proses perceraian kita tapi aku masih memikirkan perasaanmu Do Hyun. Tapi dengan kejadian ini kamu sendiri yang menceraikanku, jadi mulai sekarang kita berpisah. Aku yang akan pergi dari rumah ini."
" Ayo Radit."
" Liana?" Kuhentikan kepergiannya tapi Liana menghempaskan tanganku begitu saja dan pergi bersama Raditya tanpa sekalipun menoleh padaku.
...Flashback end...
" Eomma minta maaf atas kesalahan eomma yang berpikiran pendek dulu."
__ADS_1
Liana melepaskan pelukan Jonathan.
" Ne, eomma. Jona memaafkan semua kesalahan eomma."
Liana menoleh ke arahku.
" Do hyun? Apa aku boleh memelukmu?" Tanya Liana padaku.
Aku menganggukkan kepala dan Liana memelukku erat.
" Maafin aku Do hyun. Aku menyesal meninggalkan keluargaku yang sempurna demi laki-laki yang bahkan tidak bisa menghargaiku sebagai istrinya."
" Kamu masih dengan Radit?"
Liana menggeleng dalam pelukanku.
" Aku sudah lama bercerai darinya. Bahkan pernikahanku hanya seumur jagung dengannya. Dan saat aku mencari kalian, aku bahkan tidak mendapatkan satu pun info tentang keberadaan kalian."
Liana melepaskan pelukannya dariku.
" Duduklah, makanlah bersama kami." Aku menoleh ke belakang dan ingat bahwa Aidan sudah pergi.
" Ah matta, Aidan pergi tapi ( mataku melihat Jessica ) tapi kenalin ini anak menantu kita. Ah ( aku berhenti sejenak karena mengingat sesuatu ) maksudnya menantuku dan juga kamu."
" Halo.... eomma?" Sapa Jessica agak canggung.
" Halo sayang, menantu eomma." Eomma memeluk Jessica.
" Namanya siapa nak?"
" Jessica, eomma."
" Nama yang cantik seperti wajahnya. Kamu orang Indonesia?"
" Iya eomma."
" Jessica ini anak temanku William."
" Ohh William. Akhirnya berjodoh dengan putra eomma yah?"
" Jessica sedang hamil eomma. Jonathan akan punya anak dan eomma akan jadi halmoni." Ucap Jonathan terlihat bersemangat.
" Oh ya? Wah selamat yah cantik. Semoga cucu eomma lahir dengan selamat."
Kami saling berbincang tentang apa saja. Cukup lama hingga beberapa saat Jessica terlihat kelelahan dan Jonathan menyadarinya.
" Eomma? Appa? Jessica sepertinya kelelahan, Jona dan Jessi sepertinya harus pulang duluan." Pamit Jonathan pada kami.
" Eomma ikut pulang ke rumah ayo." Ucap Jessica.
" Iya, lain kali eomma mampir ke rumah yah"
Setelah berpamitan Jona dan Jessi langsung pergi dari retoran. Dan saat ini tinggalah aku dan Liana berdua saja.
" Do hyun? Kamu sudah punya pasangan?" Tanyanya padaku.
Aku menggeleng pelan sambil mengaduk minuman dan menyeruputnya.
" Tidak. Aku tidak menikah lagi setelah perceraian kita."
" Maafin aku Do Hyun. Aku benar-benar sangat bodoh meninggalkan berlian demi sebongkah batu."
" Aku tidak ingin membahas masa lalu Liana. Bersyukur aku tidak bunuh diri karena kamu meninggalkanku. Anak-anak lah penyemangatku."
" Aku sangat menyesal Do Hyun."
" Mama?" Seseorang memanggil Liana dengan sebutan mama.
" Rama?" Liana menoleh pada pria yang berdiri di seberang meja kami.
" Mama kenapa di sini? Siapa laki-laki ini?" Cecar pria itu
Liana segera berdiri dan menghampiri pria yang di panggil Rama itu.
" Sayang? Ini mantan suami mama...."
" Papanya Aidan?" Potongnya yang kemudian di jawab anggukan kepala oleh Liana.
" Kenapa mama bisa dengan papanya Aidan? Mama mau kembali bersama..."
" Ssttt. Mama hanya bertemu saja dengan appa nya Aidan. Itu pun tidak sengaja."
Pria muda ini bahkan tidak menyapaku sama sekali.
" Ayo eomma, Rama bersedia kembali ke Indo."
Kulihat Liana terkejut tapi entah apa maksudnya.
" Benarkah?"
Anak itu menganggukkan kepalanya.
" **.. Tapi.. Mama... Maksud mama.. Tolong beri mama waktu untuk berpamitan dengan anak kandung mama ya."
Anak yang bernama Rama itu menoleh tajam padaku kemudian pergi meninggalkan Liana.
" Maaf Do Hyun, ini kartu namaku. Tolong hubungi aku ya. Aku masih ingin bertemu kamu dan anak-anak."
Liana tergesa-gesa memberikan kartu namanya padaku kemudian menyusul pria muda yang bernama Rama itu.
Aku memandangi punggungnya yang berlari kemudian menghilang di balik pintu. Melihatnya kembali tidak membuatku membencinya. Justru ada gelenyar aneh saat melihat Liana. Apakah aku jatuh cinta lagi pada eomma nya anak-anak?
Kim Do Hyun POV End
...___ bersambung ___...
__ADS_1