BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 44 ( End )


__ADS_3

Sebulan kemudian tibalah hari pernikahanku dengan Cinta. Sejak pagi aku sudah gugup memikirkan bagaimana nanti jika aku melakukan kesalahan di acara pernikahanku sendiri? Aku bahkan sampai tidak ingat bahwa aku belum sarapan dan bahkan belum minum seteguk air pun.


Aku menghampiri Cinta di ruangannya. Memang pernikahan kami tidak mengusung adat tertentu. Bersyukur ayah dan ibu bukan tipikal orang tua yang terlalu tradisional dan harus mengikuti adat dalam melaksanakan pernikahan jadi konsep pernikahanku kali ini seperti rata-rata pernikahan di Korea.


" Hai calon istriku?" Sapaku saat membuka pintu ruangan khusus pengantin wanita.


" Aidan?" Panggil Cinta dengan senyumnya yang mengembang.


Aku menghampirinya kemudian duduk di sampingnya. Aku menatap wajahnya intens.


" Kamu ngeliatinnya gitu banget sih?" Ucap Cinta yang kulihat wajahnya jadi memerah.


" Kamu cantik banget deh sayang."


" Mulai deh gombal." Jawab Cinta yang membuatku gemas.


Tak lama pintu ruangan di ketuk dari luar dan muncullah Jona hyung dan juga Jessi noona dari balik pintu itu.


" Hei hei hei, kalian belum resmi jadi suami istri udah berduaan aja." Noona menggoda kami begitu masuk ke ruangan.


" Loe tuh selalu merusak suasana romantis gue sama Cinta deh noona." Protesku.


" Dih apa sih? Lagian loe ngapain di sini?" Tanya noona padaku.


" Ya nemuin calon istri gue lah. Emang apa lagi?" Balasku.


" Udah sana loe keluar! Gue mau foto sama mempelai wanitanya aja." Usir noona padaku.


" Loe di cariin sama appa, Aidan." Ucap Jona hyung yang membuatku tak jadi melakukan protes pada noona.


" Kenapa emangnya?" Tanyaku penasaran.


" Entahlah. Loe samperin dulu aja gih!" Sambung Jona hyung.


Dan akhirnya aku pun pergi dari ruangan Cinta.


...***...


Satu minggu kemudian.


Acara pernikahanku dan Cinta berjalan dengan lancar. Seminggu setelah pernikahan, kami kembali ke Korea untuk mengurus pekerjaan yang sudah terbengkalai sekaligus untuk melakukan serah terima pekerjaan dengan pegawai yang menggantikan posisi kami, terutama posisi Cinta yang memang sangat berpengaruh di perusahaan.


Cinta memutuskan untuk mengikutiku tinggal di Indonesia sesuai dengan kesepakatan kami sebelum menikah. Aku juga sudah mengurus masalah kembalinya AK ke agensi sebelum pernikahan kami.


Beruntung awak media belum mengendus comeback ku di Indonesia sampai saat ini. Kalau tidak bisa-bisa pernikahanku kemarin di liput seperti pernikahan seleb-seleb Indonesia pada umumnya. Membayangkannya saja aku sudah tidak sanggup, bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi?


" Selamat pagi semuanya." Cinta menyapa seluruh tim begitu kami sampai di depan pintu divisi humas.


Mereka semua menoleh ke arah kami.


" Wah pengantin baru sudah datang." Choi timjang yang pertama kali menyapa kami. Dia berjalan menghampiri kami dan mengulurkan tangannya.


" Selamat atas pernikahan kalian berdua Cinta dan Aidan-ssi." Choi Timjang memberikan ucapan selamat pada kami berdua.


" Terima kasih Choi timjang." Jawab Cinta.


" Kalian berdua ke sini dalam rangka apa?" Tanya Choi timjang.


" Kami ke sini untuk berpamitan pada tim humas. Apa berita resign saya sudah di terima timjangnim?" Tanya Cinta.


" Oh iya, saya dan tim humas sudah menerima kabar itu. Sangat di sayangkan orang sehebat kamu harus berhenti dari pekerjaan ini ya Cinta. Tapi tak apalah, Aidan pasti bisa membuat kamu lebih berkembang di luaran sana. Begitu kan Aidan?" Tanya Choi timjang.


" Ne, Choi timjang." Jawabku tegas.


" Saya berterima kasih atas semua pelajaran yang sudah anda berikan untuk saya timjangnim. Dan saya juga sekalian pamit karena saya rencananya ingin kembali pada pekerjaan lama saya di Indonesia."


" Ah ne saya sudah dengar semuanya. Semoga kalian berdua di luar sana mendapatkan kesuksesan yah."


" Terima kasih timjangnim."


Setelah berpamitan pada tim humas, kami langsung memutuskan pulang ke rumah.


...***...


Sesampainya di rumah ku pikir ada eomma karena eomma bilang beliau akan datang ke rumah tapi ternyata belum ada siapa-siapa.


Kami berdua masuk ke kamar untuk beristirahat dan menghangatkan diri karena cuaca di luar tadi lumayan dingin.


" Sayang? Sini!" Aku merebahkan diriku di kasur dan merentangkan tanganku agar Cinta bisa menjadikan lenganku bantal untuknya.


Cinta menurut kemudian merebahkan dirinya di sampingku. Aku langsung memeluknya begitu Cinta sudah berada di atas lenganku.


" Kenapa peluk-peluk? Hmm?" Tanya Cinta padaku.


Aku bukannya menjawab malah membenamkan kepalaku ke dalam ceruk lehernya.


" Udah seminggu kita selalu sibuk ngurusin ini itu sampai belum ngerasain namanya malam pertama sayang." Ucapku yang kemudian menciumi lehernya dan bergerak ke pipi.


" Ish ini tuh masih siang Aidan, nanti eomma kan katanya mau dateng." Tolak Cinta.


" Belum dateng juga kan sayang?" Protesku.


Aku langsung menindih Cinta dan menghadapkan wajahku di depannya.


Kulihat Cinta gugup.


" Nnn...nanti aja yah?" Ucapnya terbata-bata saat melihat pandangan mataku yang berubah buas.

__ADS_1


" Aku udah engga bisa nahan diri lagi sayang."


Kulepaskan kancing kemeja Cinta satu persatu tapi Cinta menahannya saat aku ingin melepaskan kemejanya itu dari tubuhnya.


" Kenapa?" Tanyaku.


" A..aku gg..gugup." Jawabnya.


Aku tersenyum menatap wajahnya yang menjawabku begitu polos. Ku ambil tangannya dan kuletakkan di dadaku.


" Kamu pikir aku engga gugup? Ini juga pertama kalinya buat aku sayang. Meskipun aku sering bercanda mesum tapi aku beneran belum pernah ngelakuin hal kaya gini." Ucapku.


" Gimana? Lebih hebat dari detakan jantung kamu kan?" Sambungku.


Tiba-tiba saja Cinta mengecup bibirku cepat yang membuatku terkejut.


CUP.


" Hei istriku sudah siap kayanya."


Cinta menganggukkan kepalanya dan akhirnya aku membalas kecupan cinta tadi berulang-ulang.


CUP.


CUP.


CUP.


Akhirnya ku perdalam ciuman kami. Bergantian kulumat bibir atas dan bawahnya dan kurasakan Cinta membalas permainanku. Kuselesaikan membuka kemejanya yang masih setengah terbuka.


Setelah kemejanya terlepas, terlihatlah pundak Cinta yang telanjang yang semakin membuatku bergairah. Saat ingin melanjutkan permainan terdengar ketukan pintu dari luar.


Tok.. Tok.. Tok..


" Aidan? Cinta? Kalian di dalam?"


Terdengar suara eomma memanggil. Mau tidak mau kami harus menghentikan aktifitas kami dan Cinta langsung memakai kembali pakaianannya.


" Ya eomma, kami di dalam." Jawabku.


" Eomma mengganggu kalian?" Tanya eomma seperti mengerti.


Setelah memakai pakainnya Cinta langsung mendorongku dan membuka pintu.


" Ah engga eomma, kami cuma lagi istirahat aja karena baru sampai." Jawab Cinta.


" Kalau mau bohong rapihin dulu rambutnya dong Cinta, rambutmu berantakan gitu." suara seorang pria terdengar.


" Rama?" Panggil Cinta yang membuatku jadi menghampiri mereka.


" Hei Rama?" Panggilku


" Pagi tadi. Sorry ya gangguin aktifitas pengantin baru. Hehe." Jawabnya.


" Sebenernya sih mengganggu tapi ya udah lah toh tadi belum sempet ngapa-ngapain juga hahaha." Jawabku asal yang membuat Rama dan eomma tertawa.


" Sorry yah gue engga bisa dateng di acara pernikahan kalian." Ucapnya.


" Never mind." Jawabku.


" Ya udah ayo kita turun, di bawah ada istrinya Rama juga." Ucap eomma.


" Hah? Istri?" Aku dan Cinta sama-sama terkejut dengan pernyataan eomma.


" Iya. Hari di mana kalian menikah, gue juga menikah di hari itu secara mendadak." Jawab Rama enteng.


" Siapa istri kamu Rama?" Tanya Cinta.


" Selyn, mantanku pas kuliah dulu Cinta. Di antara perjodohan yang ayahku atur akhirnya aku memilih untuk menikah saja dengan Selyn. Lagipula aku pernah mencintainya jadi lebih gampang untuk mencintainya lagi di banding dengan wanita yang baru. Dan selyn ternyata masih mencintaiku. Jadi Selyn adalah pilihan terbaik dari semua wanita yang ayah pilihkan."


" Jadi ayahmu masih menjodohkan kamu?" Tanya Cinta terlihat khawatir.


" Iya , tapi gapapa sih aku juga udah nerima takdirku yang mungkin emang kaya gini. Mungkin Selyn juga jodoh yang udah di kasih Tuhan buat aku." Jawab Rama yang terdengar menyedihkan.


" Semoga loe bahagia sama pernikahan loe ya Rama?" Ucapku tulus.


" Iya thank's Aidan. Gue juga berdoa buat kebahagiaan loe dan juga Cinta." Jawab Rama.


" Ya udah ayo kita turun, kasian itu Selyn nunggu sendirian di bawah." Ucap eomma.


Kami akhirnya turun dan berkenalan dengan istrinya Rama. Dan tak lama appa juga pulang ke rumah.


" Appa tumben bisa pulang cepet?" Tanyaku saat melihat appa masuk ke dalam rumah.


" Ya kalian kan besok udah mau pindah ke Indo masa appa engga bisa sempetin waktu untuk sekedar makan siang?" Jawab appa.


" Alah bilang aja kangen sama eomma kan?" Godaku.


" Ya itu juga sih. Hehe." ucap appa yang kemudian bergabung dengan kami.


" Eh ada Rama juga. Apa kabar boy?" Sapaa appa yang kemudian memeluk Rama.


" Kabar baik appa. Appa sendiri gimana?" Tanya Rama.


" Appa baik dan lebih baik lagi kalau mama kamu mau kembali jadi istrinya appa." Ucap appa yang masih terus berusaha membuat eomma kembali padanya.


Terus terang aku salut dengan cinta appa pada eomma. Meski sudah di khianati bahkan di tinggalkan selama 20 tahun lebih tapi cintanya pada eomma tidak pernah padam. Bahkan sampai saat ini appa juga masih terus berusaha membuat eomma kembali menjadi istrinya lagi.

__ADS_1


" Hehe, emang mama kenapa engga mau nerima appa lagi ma?" Tanya Rama pada eomma.


" Udah ah jangan bahas mama, mendingan kamu kenalin istri kamu sama appa." Ucap eomma seperti tidak ingin membahas masalah percintaannya. Eomma selalu mengalihkan pembicaraan atau tetap diam saat appa melontarkan pertanyaan ingin menikahi eomma kembali.


" Oh iya, appa ini istriku Selyn."


" Kamu udah menikah?" Tanya appa terlihat terkejut.


" Iya appa. Hari pernikahan kami bahkan sama dengan pernikahan Aidan dan Cinta." Jawab Rama.


" Oh ya? Kok bisa gitu?"


" Panjang appa ceritanya. Tapi yang jelas saat ini Rama sudah cukup bahagia dengan pernikahan Rama dengan Selyn."


" Syukurlah kalau begitu. Semoga kalian langgeng dan selalu bahagia yah?" Appa mendoakan Rama dan Selyn.


" Oh iya kenalin Selyn, ini appanya Aidan." Rama memperkenalkan appa sebagai appaku.


" Saya Kim Do hyun. Appanya Aidan juga appa nya Rama." Ucap appa yang meralat ucapan Rama dan mengakuinya sebagai anak.


Kami semua menatap bangga dengan appa demikian juga Rama yang menoleh terharu dengan perkataan appa.


" Saya Selyn, appa." Selyn menyambut uluran tangan appa.


Setelah berkenalan dan berbasa basi sedikit, kami semua akhirnya makan siang bersama.


...***...


Dua bulan kemudian aku dan Cinta sudah kembali ke Indonesia. Kami menempati apartemenku yang lama. Aku juga sudah kembali menjalankan aktifitasku di agensi.


Dan sore ini aku baru sampai di apartemen setelah menyelesaikan sebuah lagu baru untuk trainee boy group yang akan segera debut.


" Sayang?" Panggilku saat masuk ke dalam apartemen dan tidak mendapati Cinta di dalam.


" Huek... Huek.." Kudengar suara Cinta yang muntah-muntah dari dalam kamar mandi.


Aku mengetuk pintu kamar mandi.


" Sayang kamu di dalem?" Tanyaku.


" Iya." Teriaknya dari dalam kamar mandi dan tak lama terdengar lagi suara.


" Huek.. Huekk..."


" Kamu kenapa sayang?" Tanyaku khawatir.


Cinta membuka pintu kamar mandi dengan wajahnya yang pucat.


" Ya ampun sayang kamu kenapa?" Aku langsung memapah Cinta yang benar-benar terlihat lemas.


Aku membawanya duduk di sofa.


" Kamu kenapa? Kamu sakit? Kenapa kamu engga hubungin aku kalau kamu sakit? Dari kapan?" Cecarku.


Cinta menggelengkan kepalanya.


" Aku engga sakit Aidan."


" Terus kenapa kamu muntah-muntah?"


Dia menyodorkan sebuah alat padaku. Yang kutahu alat ini adalah testpack. Dan alat itu menunjukkan dua garis.


" Ini apa maksudnya?" Tanyaku bingung.


" Kamu akan segera jadi appa, sayang." Ucapnya.


" HAH? JINJJA? ( benarkah?)" Aku menoleh cepat pada Cinta dengan terkejut.


Cinta menganggukkan kepalanya.


" Ini beneran sayang? Kamu beneran hamil? Aku bakal jadi appa?" Tanyaku memastikannya sekali lagi.


" Iya Aidan. Kamu akan segera menjadi appa."


" Woah... Woah.. Woah.." Aku bersorak bahkan sampai melompat saking senangnya.


" Terima kasih sayang." Aku langsung membawa Cinta ke dalam pelukanku kemudian aku berlutut dan mengusap perut Cinta yang masih rata.


" Baby? Terima kasih sudah hadir dirahim eomma. Baby baik-baik di dalam sana yah, secepatnya kita akan ketemu." Aku mencium perut Cinta setelah mengajak ngobrol calon anak kami.


Cinta tersenyum ke arahku. Sungguh aku berterima kasih atas kehadirannya dalam hidupku.


Dan inilah kisahku dengan Cinta. Meski pada awalnya hubungan kami hanya sebatas untuk menutupi rasa cintaku pada Jessica tapi saat ini kami sudah bahagia dengan pernikahan kami dan bahkan kebahagiaan itu bertambah dengan hadirnya benih cinta kami di dalam rahim Cinta.


Meski Cinta " Bukan Cinta Impian" ku pada awalnya. Tapi Cinta menjadi Cinta terakhirku. Mudah-mudahan saja.


Meski jalan tidak selalu mulus tapi aku harap kekuatan Cinta kami bisa melaluinya.


...___ TAMAT___...


...


...


...Terima kasih kepada para pembaca yang sudah mengikuti cerita " Bukan Cinta Impian " Sampai akhir. Author berharap kalian menyukai dan enjoy dengan ceritanya....


...Author nantinya akan berusaha untuk menulis karya-karya yang lebih baik lagi. Ke depannya semoga kalian menikmati karya-karya Author dan selalu mendukungnya....

__ADS_1


...Sampai bertemu di tulisan Author yang lain ya. Terima kasih....


__ADS_2