BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 24


__ADS_3

Cinta POV


Seharian ini aku tidak bersemangat kerja sama sekali. Setelah menelpon Aidan siang tadi, moodku jadi berantakan. Tidak biasanya aku seperti ini. Biasanya seburuk apapun moodku, aku masih bisa memiliki semangat kerja. Berkali-kali aku menoleh pada meja kerja Aidan namun justru rasa kecewa yang muncul saat mendapati meja kerjanya kosong.


Pun saat jam makan siang, biasanya anak itu bawel sekali mengajakku makan bahkan sampai menyuapiku jika aku terlalu fokus pada pekerjaanku. Sebentar-sebentar mendekatiku, menggombali bahkan sampai membuatku gugup. Ah kenapa aku merindukan keberadaan Aidan yah?


Sampai jam pulang kerja seperti ini bahkan satu pesan pun tidak ada dari Aidan. Berulang kali aku ingin mengirimkan pesan lebih dulu menanyakan keberadaannya karena aku ingin sekali menyusulnya, tapi gengsiku terlalu besar untuk bisa menepis keinginan itu. Sebenarnya bukan gengsi sih, lebih tepatnya aku tidak tahu jenis perasaan apa yang kurasakan pada Aidan ini. Suka kah? Atau hanya rasa nyaman karena aku sudah terbiasa bersama dia?


Ting.


Sebuah pesan masuk di ponselku. Aku segera membukanya berharap pesan itu dari Aidan tapi aku kecewa saat melihat nama yang tertera di layar adalah Rama. Seharusnya aku tidak kecewa kan? Karena ini pesan dari Rama, pria yang masih kusukai sampai sekarang. Tapi entah kenapa aku tetap kecewa. Ah mungkin karena aku memang sedang menunggu pesan Aidan dari siang jadi aku kecewa saat ada pesan yang masuk dan itu bukan dari orang yang kupikirkan.


* Cinta? Kamu pulang jam berapa? Aku gabut di apartemen.


* Ini lagi siap-siap pulang.


* Berapa lama perjalanannya?


* Sekitar 45 menit.


* Oke. Beliin aku makanan yah?


* Iya bawel.


* Thank you 😉


Aku bersiap-siap pulang. Ku bereskan meja kerja dan mematikan komputer. Aku berdiri dan mengambil tasku kemudian merapikan rokku yang agak terangkat sedikit karena duduk tadi.


Tok. Tok. Tok


" Siapa?" Tanyaku ketika mendengar ketukan pintu di jam pulang kerja seperti ini. Ah alamat lembur pasti ini.


Seseorang menyembul dari balik pintu.


" Ah sajangnim. Ada apa?" Ujarku terkejut karena ternyata sajangnim yang datang.


" Boleh saya masuk?"


" Tentu saja." Ujarku mempersilahkan beliau masuk.


" Jadi Aidan kemana Cinta? Appa tanya Jonathan sama Jessica, Aidan engga pulang ke rumah." Tanya sajangnim untuk kedua kalinya setelah tadi siang juga bertanya di mana keberadaan Aidan. Haruskah aku jujur bahwa aku tidak tahu keberadaannya dan hanya tahu bahwa dia pergi dengan Renata?


" Cinta juga kirim pesan belum di jawab sajangnim, eh appa." Jawabku bohong.


" Coba kamu telepon Aidan, Cinta." Perintah appa.


Aku terkejut mendengar permintaan appa. Bagaimana tidak, berarti ini artinya bahwa aku harus menghubunginya sekali lagi kan?


Aku mengambil ponsel dan dengan ragu menghubungi Aidan.


" Eoh? Ada apa lagi?" Ucapnya dingin di ujung sana.


" Appa nanyain kamu ada dimana?"

__ADS_1


Aku bahkan merubah panggilan loe menjadi kamu. Padahal biasanya meski di depan keluarganya aku akan tetap menggunakan kata "loe".


" Sekarang pakai aku kamu? Bukan loe gue lagi? Maksud loe apa sih? Loe mau mempermainkan hati gue hah?" Ucapan Aidan terdengar kasar sampai bahkan rasanya aku ingin menangis tapi ku tahan karena ada sajangnim di sini.


" Sini biar aku yang jawab aja." Kudengar suara perempuan di ujung sana, apa mungkin itu Renata?


" Halo kak Cinta? Ini Renata. Kak Aidan lagi sama aku, dia mabuk. Aku shareloc aja ya biar ka Cinta ke sini jemput kak Aidan."


" Oh iya, shareloc aja." Jawabku santai menyembunyikan kepanikan. Aku tidak mau sajangnim tahu bahwa Aidan sedang bersama Renata.


Kututup panggilan ini dan sajangnim bertanya padaku lagi tentang Aidan.


" Gimana? Dimana dia?"


" Aidan ketemu temennya appa, dia bilang Cinta boleh susul dia sekarang." Bohongku pada sajangnim


" Oh gitu. Syukurlah kalau dia bersama temannya, takutnya dia bertemu perempuan gila itu." Ucap appa.


Aku tersenyum pada sajangnim.


" Tidak appa. Cinta yakin Aidan beneran sayang sama Cinta." Jawabku.


" Iya dong harus. Appa tidak ingin menerima perempuan lain selain kamu sebagai menantu. Appa udah klop sama kamu, begitu juga dengan Jessi dan Jona. Apalagi cucu appa yang masih di dalam kandungan juga sepertinya menyukaimu." Jelas appa yang membuatku jadi merasa serba salah. Di sisi lain aku senang keluarga Aidan menerimaku tapi di sisi lain, aku sama Aidan bukan pasangan yang sesungguhnya.


" Ya udah kalau gitu Cinta susulin Aidan ya appa."


" Ya udah kalau gitu appa juga pamit karena masih ada satu pertemuan lagi dengan dewan direksi."


...***...


Aku segera melajukan mobilku ke tempat yang Renata kirimkan alamatnya. Aku tidak bisa berpikir jernih saat tahu Aidan mabuk. Apalagi Aidan mabuk dengan seorang wanita seperti Renata. Meski aku tidak mengenalnya tapi kesan pertamaku dengannya bukankah buruk? Dia datang dan memeluk seorang pria begitu saja. Meskipun mereka saling kenal tapi Aidan bilang bahwa mereka baru bertemu lagi setelah sekian tahun lamanya. Itupun menurut Aidan mereka tidak dekat hanya beberapa kali menyapa karena Renata adalah adik dari teman kuliahnya. Jika kalian jadi aku bukankah kalian akan menganggap Renata wanita yang kurang baik?


Dan membayangkan mereka berdua bersama apalagi dalam keadaan Aidan yang mabuk, pikiranku serta merta jadi kacau. Pertama kali menangani Aidan mabuk saja, dia berani menciumku. Aku tidak bisa membayangkan jika Aidan mabuk dan mencium bibir Renata.


" Engga. Engga. Pikiran loe ngawur banget sih Cinta." monologku yang kemudian menambah lagi kecepatan mobil.


Ting.


* Udah sampai mana Cinta?


Sebuah pesan masuk dari Rama. Aku hanya membukanya tanpa berani membalas. Aku sedang menyetir dan buru-buru. Ku sambungkan saja ke earphone dan aku pun menghubungi Rama.


" Rama? Kayanya aku pulang telat."


" Loh kok gitu emang kenapa?"


" Aku ada urusan mendadak yang sangat penting. Udah dulu ya, aku lagi nyetir soalnya."


Langsung kututup panggilan telepon tanpa menunggu dulu jawaban dari Rama. Kutambah lagi kecepatanku dan 5 menit kemudian aku sampai di tujuan.


Aku masuk ke sebuah bar di distrik yeongdeungpo tak jauh dari taman yeouido. Aku jadi berpikir apakah tadi Aidan pergi ke taman yeouido bersama Renata? Ah aku tidak mau memikirkannya.


Aku langsung mencari keberadaan Aidan. Begitu terkejutnya saat aku melihat Aidan bersandar pada Renata. Meski terlihat dari belakang aku sudah bisa memahaminya. Itu memang benar Aidan.

__ADS_1


Aidan mengalungkan lengannya di bahu Rena dan lebih membuatku terkejut saat Aidan bergerak mengendus pipi Rena. Kulihat Rena juga tidak berusaha melepaskan diri. Hatiku panas dan aku langsung menarik Aidan untuk menjauh.


" AIDAN?" Bentakku saat berhasil melepaskan pelukan Aidan pada Rena.


Kulihat Rena terkejut kemudian berdiri.


" Ah Kak Cinta udah dateng?" Rena kulihat gugup.


" Loe ngapain sama Aidan?" Tanyaku dengan nada meninggi.


" Aku engga ngapa-ngapain, Kak Aidan tiba-tiba peluk aku dan..."


" Dan loe engga berusaha buat menepis? Loe tahu Aidan mabok tapi loe malah ngebiarin dia nyentuh loe? Cewe macam apa loe? Loe seneng di sentuh-sentuh Aidan?" Labrakku padanya.


" Aku engga kaya gitu kok kak." Ucapnya memelas.


Aku segera menghampiri Aidan yang sepertinya sudah tidak sadarkan diri. Renata ingin membantu tapi aku menepis tangannya kasar.


" Jangan sentuh cowo gue!" Ucapku tegas padanya kemudian mengangkat tubuh Aidan untuk berdiri. Ku kalungkan tangannya di bahuku sebagai topangan Aidan supaya tidak terjatuh.


Kupapah Aidan dengan kekuatan penuh.


" Tapi Kak Aidan tadi udah cium bibir aku kak." Tiba-tiba saja Renata mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut. Ini adalah kejadian yang dari tadi ku takutkan.


Aku meletakkan Aidan kembali di bangku dan aku menghampiri Rena.


" Loe jangan terlalu ambil hati ciuman Aidan. Karena setiap dia mabuk dia pasti akan cium gue. Mungkin Aidan cuma ngebayangin wajah gue di diri loe." Ucapku dingin kemudian kembali ke Aidan.


" Tapi Kak Aidan bilang dia suka sama aku." Ucap Rena yang membuatku naik pitam.


Aku kembali menghampiri Renata.


" Loe denger apa engga hah? Saat mabuk Aidan pasti selalu cari gue, dia selalu cium gue dan bilang mencintai gue. Jadi loe engga usah kege'eran."


" Tapi kalian udah putus kan? Tadi Kak Aidan bilang gitu. Kalian cuma pacaran bohongan dan kak Cinta menolak kak Aidan kan makanya dia jadi frustasi kaya gini."


Aku terdiam sejenak, bahkan cerita kita pun kamu ceritakan pada Renata, Aidan? Batinku.


" Denger ya Rena? Gue sama Aidan saling jatuh cinta. Gue nolak dia bukan berarti gue engga mencintai dia. Gue punya alasan tersendiri. Dan setelah ini gue pastikan Aidan akan menjadi milik gue. Gue bahkan akan menikahi Aidan." Jawabku asal. Kubiarkan saja Renata panas dengan ucapanku.


Setelah mengatakan itu aku langsung membawa Aidan pergi dari wanita itu.


Aku meletakkan Aidan di bangku penumpang. Kupakaikan sabuk pengaman di badannya. Saat aku mengunci sabuk pengaman, Aidan tiba-tiba saja bergerak dan membuat bibirnya menempel sekilas di pipiku. Aku terkejut tapi kulihat dia masih tidak sadarkan diri. Kepalanya hanya bergerak ke sisi yang lain dan kebetulan tadi memang menyentuh pipiku. Tapi meski dilakukan dalam keadaan tidak sadar, ada gelenyar aneh yang tiba-tiba muncul di hatiku. Aku mengurungkan niatku untuk pergi dari hadapannya. Aku melihat bibirnya sekilas dan tanpa sadar aku mengecup lembut bibir merahnya.


Setelah mengecupnya sekilas aku tersadar.


" Cinta loe gila apa?" rutukku sambil memukul-mukul bibirku.


Untung saja Aidan sedang tidak sadar. Kalau tidak bisa malu aku.


Aku segera menutup pintu penumpang dan beralih ke bangku supir. Aku membawanya ke apartemenku. Tak lupa aku mengabari sajangnim bahwa Aidan berniat menginap di rumah temannya. Ah maafkan aku sajangnim karena aku harus berbohong pada anda.


...___ bersambung __...

__ADS_1


__ADS_2