BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 22


__ADS_3

Cinta POV


" Cinta? Gue ijin ke tempat Rena."


Loh? Loh? Kenapa Aidan pergi ke tempat Rena? Kan tadi dia sudah janji tidak akan menolong Rena. Ih kok aku jadi kesal sih?


" Cinta?" Panggil Rama membuyarkan lamunanku.


" Eoh? Iya." Ucapku kemudian duduk di sebelah Rama.


" Kamu beneran cuma pacaran bohongan sama laki-laki tadi?" Tanya Rama.


" Eh... Iya beneran kok. Emang kenapa kamu nanya?" Tanyaku.


" Engga. Kayaknya hubungan kalian dekat sekali. Kamu juga terlihat dekat dengan papanya."


" Oh itu... Ah udah deh engga usah bahas itu yah. Mending kita bahas kamu aja, kenapa kamu bisa ada di Korea?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.


" Nyusulin sahabatku lah ke sini. Sepi di Indo engga ada kamu. Aku sampai mati-matian belajar bahasa Korea loh. Kamu tahu kan gimana lemotnya aku dalam belajar?" Jawabnya yang membuat aku mengulum senyum. Ya secara dari dulu aku menyukai Rama dan sekarang dia bilang dia datang untuk menyusulku? Ah aku jadi merasa tersanjung.


" Terus kamu di Korea rencananya ngapain? Kamu tinggal di mana sekarang?"


" Aku belum tahu mau ngapain hehehe."


" Loh kok bisa?" Tanyaku. Mau heran tapi dia Rama. Rama adalah anak orang yang sangat kaya. Keluarganya memiliki perusahaan tambang di Kalimantan. Tapi entah kenapa saat SMA, dia malah sekolah di sekolah yang sama denganku padahal di SMA ku dulu termasuk SMA yang biasa. Tidak elit tapi cukup berkualitas dalam segi pendidikan.


Dulu Rama sering di pasangkan kelompok denganku makanya aku jadi dekat dengannya. Meskipun tidak pintar tapi dia sangat ramah, kalau bukan karena dekat dengannya aku juga tidak tahu kalau dia anak orang kaya.


" Ya bisa. Hehe. Aku juga tinggal di unit sebelah loh."


" Hah?" Aku terkejut mendengarnya.


" Unit sebelah?" Tanyaku memastikan.


" Iya. Unit sebelahmu persis. Aku beli unit itu biar bisa deket sama kamu."


Bayangkan saja bagaimana aku tidak merasa tersanjung? Bahkan dia membeli unit apartemen di sebelahku. Dan alasannya hanya karena biar bisa dekat denganku. Dari dulu Rama selalu membuatku baper tapi entah kenapa kita hanya sebatas teman saja tidak pernah lebih. Mungkin hanya aku saja yang menyukainya sedangkan dia hanya menganggapku teman biasa.


Kring.. Kring...


Ponselku berdering dan kulihat di layar nama Jessi eonni. Ah kenapa malam-malam begini noonanya Aidan masih juga menelpon sih?


" Ne eonni?" Jawabku mengangkat panggilannya.


" Aidan?" Ah aku lupa Aidan pergi menemui Renata. Apa aku harus bilang?


" Tadi langsung pulang setelah mengantarku." Aku tutupi saja lah. Kasian juga Aidan nanti kena marah.


" APA?" Aku langsung terlonjak begitu ku dengar suara Jona oppa dan Jessi eonni mengatakan kantor polisi.


" Aidan di kantor polisi eonni?" Tanyaku khawatir.


" Ya udah aku susulin ke sana."


Aku langsung menutup telepon.


" Rama? Maaf tapi aku harus ke kantor polisi sekarang "


" Kenapa?" Tanya Rama khawatir.


" Aidan ada di kantor polisi."


" Ya udah aku anterin."

__ADS_1


Aku menerima tawaran Rama untuk mengantarku. Di dalam mobil aku terus menggigiti kuku karena khawatir. Entah kenapa aku khawatir sekali dengan Aidan yah?


Ku ambil ponselku dan mencoba menghubungi Aidan tapi tidak juga di angkat. Dan hal itu malah membuatku semakin khawatir.


Loe kenapa sih bisa sampai di kantor polisi? Katanya loe kan cuma mau bantuin Rena. Apa yang loe lakuin di tempat Rena? Batinku bertanya-tanya alasan Aidan ada di kantor polisi.


Sesampainya di kantor polisi, aku langsung berlari ke dalam. Aku melihat Aidan ada di depan salah satu anggota polisi yang berpakaian biasa. Di sebelahnya duduk pula seorang lelaki dan ada juga Renata yang berdiri di sebelah Aidan.


" Aidan?" Panggilku menghampirinya.


Dia menoleh padaku dan kulihat ada beberapa luka di wajahnya. Aku langsung khawatir.


" Aidan? Loe kenapa?" Aku menghampirinya dan menyapu wajahnya dengan pandanganku. Aku ingin memastikan bahwa benar yang kulihat adalah luka. Dia pun akhirnya berdiri menghadapku.


" Aidan? Wajah loe kenapa luka-luka gini?" Aku memegangi wajahnya dengan kedua tangan.


Aku langsung membuka tas yang memang tak pernah absen selalu ada kotak P3K kecil di dalamnya.


" Ayo kita obatin dulu lukanya." Aku menarik tangan Aidan tapi dia malah menahannya.


" Nanti dulu Cinta. Gue lagi di interogasi."


" Maaf nona. Saudara Aidan sedang di mintai keterangan." Ucap polisi yang ku bilang tidak memakai seragam itu.


Akhirnya aku menyerah dan membiarkan Aidan di mintai keterangannya dulu.


Rama masuk dan menghampiriku. Aidan sempat menoleh ke belakang dan memasang wajah kesal saat melihat Rama. Aku tahu Aidan tidak menyukai Rama.


Aku melihat Renata yang terus menempel pada Aidan. Jujur saja itu membuatku gerah. Aku kurang suka dengannya.


Setelah selesai memberi keterangan. Aidan berdiri menghadapku lagi. Tangan Renata mengamit lengan Aidan. Entah Aidan tidak menyadarinya atau memang dia sengaja membiarkan Renata menggandeng lengannya?


Aku memandangi terus tangan Renata yang tak kunjung dilepas.


" Eh maaf kak." Renata melepaskan gandengannya dari tangan Aidan.


" Aku cuma ketakutan aja tadi." Sambungnya lagi dengan nada manja yang membuatku mual.


Aku menarik Aidan ke sampingku dan dia menurut saja. Kulihat Aidan senyum-senyum sendiri. Aku tahu pasti dia senang aku mengatakan dia pacarku di depan Renata. Tentu saja aku harus melanjutkan aktingku di depan Renata kan?


" Apa yang terjadi Aidan? Kenapa loe bisa babak belur gitu?" Tanyaku pada Aidan tapi pandanganku masih menatap kesal pada Rena.


Aidan menjelaskan bahwa mantan pacar Renata melakukan aksi penguntitan yang berlebihan sampai membuat Rena ketakutan. Dia bahkan hampir memperkosa Rena jika saja tadi Aidan tidak cepat datang.


Oh jadi ini alasan Aidan langsung pergi tadi. Ah aku lega karena Aidan benar-benar hanya ingin menolong Renata tanpa ada maksud lain.


" Kamu tahu darimana aku di sini?" Tanya Aidan yang mengganti panggilannya menjadi aku kamu. Aku tahu dia sedang akting sekarang.


" Dari Jessi eonni dan Jonna oppa." Jawabku.


" Mereka khawatirin loe. Tadinya mereka mau ke sini tapi gue cegah. Gue suruh mereka untuk engga panik, dan engga perlu menyusul ke sini karena kasian kalau sampai eonni kesini, dia kan lagi hamil. " Jawabku.


" Ayo kita obatin dulu lukanya di mobil" Ajakku sambil menarik tangan Aidan. Aku sampai tidak sadar kalau ada Rama. Aku berhenti sejenak.


" Ah iya Rama? Ayo. " Ajakku juga pada Rama.


Sementara kami bertiga berjalan, ternyata Rena mengekori kami sampai keluar.


" Loe ngapain ngikutin kita?" Tanyaku ketus pada Rena.


" Kita kesini dengan mobil polisi Cinta. Aku engga mungkin ninggalin dia atau suruh dia pulang naik taksi sendiri kan?" Ujar Aidan yang membuatku kurang suka meski perkataannya memang benar.


" Ya udah biar sekalian di anterin aja nanti." Ujarku akhirnya memperbolehkan Renata ikut. Karena kasian juga mungkin dia trauma dengan kejadian tadi.

__ADS_1


Aku menggandeng Aidan dan membawanya ke mobil di bangku penumpang.


" Rama? Aku di belakang sama Aidan yah sekalian mau ngobatin lukanya." Ijinku pada Rama.


Rama menganggukkan kepala setuju dan Rena pun duduk di bangku sebelah Rama.


" Loe kasih tahu alamat loe sama Rama, Ren." Ujarku yang kemudian diturutinya.


Setelahnya aku tidak fokus dengan mereka berdua. Fokusku hanya mengobati luka di wajah Aidan.


" Loe pergi bikin khawatir, tahu-tahu gue di kabarin loe ada di kantor polisi. Terus sekarang wajah loe babak belur gini. Loe bikin gue jantungan tahu engga?" Aku mengomelinya sambil membersihkan lukanya dengan alkohol dan cotton bud.


" Aww." Aidan meringis saat aku menyapukan obat di lukanya.


" Pelan-pelan sayang, perih tahu."


Meski sudah sering di panggil sayang tapi aku tetap merasa ada serangan aneh di jantungku.


" Iya maaf."


" Aku yang harusnya minta maaf udah bikin kamu khawatir." Ujarnya.


Jujur saja aku berbohong jika tidak memiliki perasaan pada pria di depanku sekarang ini. Siapa yang tidak tersentuh dengan pria yang selalu memperlakukanmu dengan manis? Terlebih akhir-akhir ini aku dan Aidan sering berkontak fisik. Aku berbohong jika bilang aku sama sekali tidak menyukainya. Tapi masalahnya di sini terlalu rumit. Selain aku takut di jadikan pelampiasan, banyak alasan lain yang mendasariku untuk tidak menerimanya saat tadi Aidan menyatakan perasaannya padaku. Salah satunya adalah kehadiran Rama, pria yang sudah lama kusukai.


Aidan menyandarkan kepalanya di bahuku setelah selesai kuobati. Entah kenapa aku selalu tidak bisa menolak apapun yang Aidan lakukan. Aku membiarkannya bersandar dengan nyaman di bahuku.


Tak berapa lama kami sampai di apartemen Renata. Kami semua keluar dari mobil.


" Terima kasih atas bantuannya pacarnya kak Aidan." Ucap Renata padaku.


" Namanya Cinta." Ralat Aidan.


" Ah iya. Terima kasih Kak Cinta." Ralat Rena sekali lagi.


Aku hanya menganggukkan kepala.


" Tapi kak? Aku masih takut sendirian di rumah." Ujar Renata pada Aidan dengan nada manjanya yang membuatku kesal.


" Udah engga usah takut, mantan loe kan udah di tangkap polisi. Gue yakin dia engga akan lolos semudah itu mengingat banyak bukti rekaman cctv yang menangkap tingkah anehnya." Ucap Aidan menenangkan Rena dan entah kenapa aku tidak rela Aidan bersikap manis pada perempuan lain. Apa aku cemburu? Ah bukan kali. Aku yakin aku hanya kurang menyukai Renata saja. Tapi apa bedanya yah? Ah entahlah kenapa juga aku memikirkan hal itu.


" Ya udah loe masuk gih. Tutup pintu dan besok segera ganti sandi apartemen loe. Loe engga usah pikirin hal ini lagi. " Ujar Aidan lagi.


Akhirnya Renata pun masuk ke apartemennya meski beberapa kali kulihat dia selalu menoleh pada Aidan.


" Ayo gue anter pulang Cinta! " Ucap Aidan padaku setelah Renata sudah tidak terlihat.


" Biar sama gue aja. Sekarang gue tinggal di sebelah Cinta." Ucap Rama.


" Hah?" Kulihat Aidan terkejut dengan pernyataan Rama.


" Kalian tetanggaan?" Tanya Aidan padaku.


" Iya." Jawabku singkat.


" Sejak kapan?"


" Gue juga baru tahu. Ya udah loe pulang aja gih." Ujarku lebih seperti mengusir padahal sebenarnya tidak.


" Kok loe ngusir gue?" protes Aidan.


" Ya engga gitu Aidan. Ini tuh udah larut. Lagian keluarga loe semua pasti khawatir apalagi eonni." Jelasku.


Akhirnya Aidan menyerah dan membiarkanku pulang bersama Rama.

__ADS_1


...___bersambung___...


__ADS_2