BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 20


__ADS_3

Sampai rumah, aku masuk begitu saja ke dalam dengan lemas tanpa menoleh kanan kiri. Tujuanku hanya satu yaitu kamar.


" Aidan?" Suara seseorang memanggilku ketika aku berjalan masuk.


Kutengok di ruang keluarga ada Cinta, Jessica, Jona hyung dan juga appa. Mereka sedang menonton film bersama.


Aku terpana sesaat melihat kebersamaan mereka. Terlihat pula raut wajah yang senang dari mereka, sementara aku? Jadi hanya aku sendirian yang merasa frustasi di sini?


Awalnya aku marah tapi melihat Cinta tersenyum dan berbaur dengan keluargaku, aku merasa lega. Aku menarik senyum dan segera menghampiri mereka. Lebih tepatnya menghampiri Cinta. Tujuanku ya hanya Cinta.


Aku mendorong sedikit Jessica agar aku bisa duduk di tengah-tengah antara Jessica dan Cinta.


" Ih apa sih loe geser-geser gue. Sempit tahu."


Jona hyung berdiri agar istrinya mendapatkan lebih banyak ruang untuk duduk.


" Loe tuh ya Aidan. Noona loe tuh lagi hamil, pelan sedikit kek." Ujar Jona hyung memarahiku.


" Iya maaf maaf noona. Maafin samchon (*paman) ya baby kim? ( berbicara dengan perut Jessica ) Lagian gue kesel sama dua wanita ini. Mereka janjian engga jawab telepon gue." Ujarku sebal sambil menunjuk Jessi dan Cinta.


" Loh emang kenapa?" Potong appa yang duduk di bawah sementara anak, menantu dan calon mantunya duduk di sofa. Memang kurang ajar anak-anak muda ini.


" Ini loh appa, tadi masa Aidan di peluk perempuan di lobby kantor. Di depan Cinta pula." Adu Jessica pada appa.


" Tukang ngadu banget sih loe noona."


" MWO? " Ucap appa terkejut dan menoleh padaku. Beliau menatapku dengan tatapan marah.


" Perempuan siapa? Kamu berani berkhianat sama calon mantu appa yang cantik ini Aidan?" Cecar appa.


" Engga.. Engga appa suer. Dia adik temen Aidan waktu kuliah dulu. Adiknya Reyhan. Aidan juga baru ketemu tadi siang." Protesku karena selalu di salahkan.


" Terus kenapa ada acara peluk-peluk? Apalagi di depan Cinta pula?" Sambung appa lagi.


" Kan bukan Aidan yang peluk appa. Aidan juga engga tahu kenapa Renata tiba-tiba dateng dan main peluk segala."


" Terus kenapa kamu engga menghindar?"


" Ya kali Aidan menghindar appa, Aidan aja engga tahu kalau Rena mau peluk Aidan."


" Loe tuh bisa banget ngelesnya Aidan. Bilang aja loe suka kan di peluk-peluk cewe. Cewenya kaya gimana sayang?" Tanya Jona hyung pada Jessica.


" Cantik, seksi gitu." Jawab Jessica.


" Hei kalian berdua jangan memperkeruh suasana yah? Nanti kesayangan gue tambah salah paham." Ujarku menyandarkan kepala di bahu Cinta dan memeluknya manja.


" Maafin aku ya sayang. Jangan dengerin mereka."


Kulihat Cinta risih dengan sikapku. Dia mencoba melepaskan diri dari pelukanku. Aku sampai lupa kalau aku bukan pacar aslinya Cinta tapi aku malah berani kontak fisik seperti ini.


" Maafin anak appa ya Cinta. Kamu berhak marah kok. Kalau mau pukul Aidan juga boleh kok. Appa ijinin." Ucap appa pada Cinta.


" Hei appa, Kok appa gitu?"


" Kenapa? Apa mau appa wakilkan memukul melampiaskan kekesalan kamu sama Aidan, Cinta?" Tanyanya pada Cinta tapi appa mengucapkannya dengan menatap ke arahku.


" Appa tolong yah jangan ajarin Cinta hal yang engga baik." Ucapku beringsut semakin menempel pada Cinta. Aku takut juga di ancam appa. Secara meskipun sudah tua, appa pemegang sabuk hitam taekwondo.


" Engga perlu appa. Cinta gapapa kok. Lagipula Aidan kan bilang tadi engga ada hubungan apa-apa sama perempuan itu. Dia juga bilang engga tahu menahu mengenai pelukan tadi." Ucap Cinta membantuku. Aku bersyukur Cinta membelaku. Lebih penting dari semua itu bahwa yang di katakannya tadi bisa di artikan bahwa dia mempercayaiku kan?


" Tuh appa, Cinta aja bisa ngerti. "


" Loe jangan terlalu baik Cinta, nanti loe di begoin sama Aidan." Ucap Jona hyung menggodaku.


" Hyung?" Protesku padanya.


" Bener tuh, kan kita engga tahu perempuan itu siapa? Masa iya baru ketemu terus peluk-peluk gitu." Ucap Jessica menimpali.


" Hei ada apa dengan keluarga ini? Kalian mau gue sama Cinta jadi berantem?" Protesku lagi dengan kesal.


" Udah sayang udah." Ucap Cinta sambil mengelus punggungku.


Aku terkejut sampai hampir jantungan dengan panggilan Cinta padaku. Terlebih dengan usapannya di punggungku. Aku menoleh cepat padanya dan dia menarik senyum kecil.

__ADS_1


" Udah. " Ucapnya pelan hampir tidak terdengar.


Aku mengulum senyum. Jika bukan di depan keluargaku, aku pasti sudah berjingkrak jingkrak saking girangnya.


Tapi yang jadi pertanyaan apakah Cinta mengucapkannya dari dalam hatinya atau hanya sekedar pendukung akting? Ah terserah. Yang penting dia memanggilku sayang.


Aku menatapnya sekilas untuk mengucapkan terima kasih kemudian menunduk salah tingkah.


Setelah perdebatan tadi akhirnya kami memutuskan untuk lanjut menonton film bersama.


Aku menyandarkan kepalaku di bahu Cinta dan dia tidak menolak. Ah nyaman sekali. Aku benar-benar sudah jatuh cinta denganmu Cinta Maharani.


Saat yang lain fokus pada film, aku malah fokus dengan perasaanku yang semakin menggebu-gebu pada Cinta.


Kulihat jari Cinta bermain dipahanya. Dia mengetuk-ngetuk jarinya itu. Sesekali di angkatnya dan di gigitnya jarinya sendiri. Mungkin dia ketakutan, karena kami memang menonton film horor.


Saat Cinta mengulanginya lagi mengangkat jarinya, aku spontan menghentikan tangannya. Ku pegang tangannya dengan kedua tanganku, kukecup cepat jemarinya sampai membuatnya terkejut kemudian menunduk ke arahku. Aku pun juga spontan mengangkat kepalaku dari bahunya dan ikut menatapnya. Kami berdua saling bertukar pandangan. Aku tersenyum ke arahnya dan berkata "Saranghae" tanpa mengeluarkan suara.


Cinta terpaku dengan wajahnya yang kurasa sangat terkejut. Dia tetap menatapku namun entah apa yang ada di pikirannya, dia seperti sedang melamun. Tak berapa lama dia melepaskan pegangan tanganku dan membuang pandangan ke arah layar TV. Dan saat ini kulihat ekspresinya kaku. Mungkinkah dia salah tingkah karena perlakuanku? Ah aku sangat berharap seperti itulah yang terjadi. Tapi sayangnya aku pun mulai khawatir jika besok atau paling cepat nanti saat aku dan Cinta hanya tinggal berdua, aku takut dia akan mencak-mencak karena kelakuanku yang sangat berani berkontak fisik dengannya.


Film pun selesai dan bibi pengurus rumah sudah memberitahukan bahwa makan malam sudah siap. Kami semua berjalan menuju ruang makan. Aku menggandeng tangan Cinta tapi dia melepaskannya begitu saja. Kucoba sekali lagi dan dia malah menghempaskan tanganku dengan kasar. Ah Cinta kurasa tidak mau berpegangan tangan lagi. Apa dia marah karena perlakuanku tadi? Aku menoleh ke arahnya dan Cinta hanya berekspresi datar. Ah ini pasti Cinta benar-benar kesal dengan perlakuanku tadi.


Sampai di tempat makan kami semua menyantap makanan dengan bercanda sesekali.


Ting.


Sebuah pesan masuk di ponselku.


* Kak Aidan?


Aku sempat melirik ponsel yang ku taruh di meja makan. Sebuah pesan masuk dengan nama Renata.


Aku segera mengambil ponsel dan membalas pesannya.


* Kenapa?


* Lagi ngapain?


* Lagi makan malam keluarga


* Apa?


* Mantan pacarku tiap hari menerorku. Aku udah engga suka sama dia tapi dia terus-terusan datang ke apartemenku.


* Terus?


* Kak Aidan bisa pura-pura jadi pacarku engga di depan dia aja? Biar dia tahu kalau aku udah engga suka sama dia.


* Kenapa harus gue?


* Aku di sini engga banyak kenal laki-laki kak. Dan kak Aidan satu-satunya laki-laki yang bisa aku percaya. Tolong yah? Sekali aja.


Aku meletakkan ponselku kemudian berpikir. Aku menoleh pada Cinta. Haruskah aku melakukannya?


Ting


Sekali lagi bunyi pesan masuk di ponsel.


* Tolong ya kak? Mantanku itu hampir kaya penguntit juga sih kak. Aku jadi takut sendiri.


" Loe lagi chat sama siapa Aidan?" Tanya Jessi.


" Oh ini...."


" Jangan-jangan perempuan gila yang tadi yah?" Potong Jessi sebelum aku sempat menjawabnya.


Aku tersenyum kikuk. Dan itu sudah cukup menjelaskan pada mereka bahwa aku membenarkan pertanyaan Jessica.


" Tuh tuh appa. Bener kan apa Jessi bilang. Mungkin perempuan itu ada hubungan sama Aidan."


" Engga ada, beneran. Dia cuma minta tolong."


Mereka semua melihat ke arahku dengan tatapan tidak percaya, hanya Cinta yang tidak bergeming dari apa yang dilakukannya. Dia tetap menyuap makanan tanpa menoleh ke arahku.

__ADS_1


" Tuh Cinta saja sampai tidak mau perduli lagi sama kamu Aidan." Ucap appa.


" Cinta? Aku beneran engga ada hubungan apa-apa sama Renata. Serius. Kalau engga percaya nih baca aja chat nya." Ujarku pada Cinta sambil menyerahkan ponselku padanya.


" Engga perlu. Kan tadi loe bilang engga ada hubungan apa-apa. Ya udah kenapa harus sampai ngecek chat segala kan?" Ujarnya datar.


" Tapi kamu kayanya marah."


" Engga kok biasa aja. Cuma lagi menikmati makan aja." Ucap Cinta datar kemudian tersenyum pada appa, Jessi dan hyung.


" Emang dia minta tolong apa?" Akhirnya Cinta bertanya juga padaku.


" Dia minta tolong aku untuk jadi pacar pura-puranya di depan mantan dia yang terus gangguin dia. Katanya dia merasa mantannya ngikutin dia kemana-mana kaya penguntit."


" Wah apalagi itu Aidan. Jangan mau. Kalau loe sampai nolongin, gue yang engga terima." Ucap Jessi nyerobot.


" Loe harus jaga perasaan Cinta, Aidan." Ucap hyung menasehati.


" Iya hyung. Gue juga belum kasih jawaban apa-apa kok. Dan gue juga engga ada niatan nolongin." Jawabku tapi dalam hati ada rasa kasihan pada Renata karena dia di Korea sendirian. Bayangkan seorang wanita asing sendirian di negara orang dan di kuntit oleh pria, meskipun pria itu mantan pacarnya pasti dia akan ketakutan juga kan?


" Bagus kalau gitu." Ujar Jessica.


Setelah merampungkan makan malam, Cinta pamit pulang dan aku juga pamit untuk mengantar pacarku ini.


Di perjalanan Cinta hanya diam saja. Tidak biasanya dia seperti ini. Padahal tadi aku sudah melakukan hal yang seharusnya membuat dia mencak-mencak tapi kenapa dia malah diam yah?


" Cinta?" Panggilku.


" Hem."


" Loe kenapa diem aja?"


" Gapapa. "


Ah wanita kalau sudah jawab gapapa, terserah itu alamat semua yang di katakan pria jadi salah.


" Gue ada salah sama loe?"


" Engga." Jawabnya.


Nah kan seharusnya dia bilang ada dong tapi kenapa malah jawab engga?


" Loe engga marah masalah Renata kan?"


" Kenapa harus marah? Sekalipun loe sama cewe itu ada hubungan, itu bukan urusan gue." Jawabnya dingin bahkan pandangannya tak pernah beralih dari kaca jendela di sebelahnya.


" Loe harus punya urusan tentang itu Cinta."


" Kenapa gitu?"


Aku menepikan mobilku cepat dan akhirnya Cinta menoleh ke arahku.


" Kenapa berhenti?" Tanyanya.


Aku melepas sabuk pengaman dan langsung menghadapnya.


" Cinta? Gue mau ngomong serius."


" Tinggal ngomong aja kenapa...."


Belum selesai kalimat Cinta, aku langsung meraih tangannya. Ku genggam erat tangannya dan meletakkannya di dadaku. Dia berusaha menariknya tapi aku mengeratkan pegangan tangannya di dadaku.


" Loe rasain detak jantung gue sekarang?" Tanyaku.


" Wae?" Tanyanya penasaran kenapa aku bertanya seperti itu.


" Detak jantung gue selalu seperti ini saat gue ada di deket loe. Gue serius Cinta, gue sepertinya jatuh cinta sama loe. Ah bukan sepertinya. Gue memang benar udah jatuh cinta sama loe Cinta Maharani."


Cinta terdiam memandangiku dengan ekspresi yang kulihat seperti terkejut. Kulanjutkan pernyataan cintaku yang belum sepenuhnya selesai.


" Cinta? Loe mau jadi pacar beneran gue?"


...___ bersambung___...

__ADS_1


...Akhirnya Aidan nembak juga dengan serius. Kira-kira Cinta bakal terima engga yah?...


__ADS_2