BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 15


__ADS_3

Aku kembali ke ruang humas dengan wajah yang kurasa di hiasi dengan senyuman setelah kurang lebih 15 menit aku berada di ruang kontrol CCTV. Dari ruang kontrol tadi aku sudah senyum-senyum sendiri dan saat ku buka pintu ruang kerja, aku menahan senyumku sebisa mungkin. Tapi sayangnya Cinta sudah menangkap gelagatku yang aneh.


" Loe kenapa senyum-senyum gitu? Gue jadi curiga."


Aku mengirimi sebuah video padanya.


" Loe emang patut curiga, buka pesan yang gue kirim, gue yakin loe pasti bakal berpikir ulang buat bantu gue." Ucapku masih sambil menahan senyum penuh kemenangan.


Cinta melakukan apa yang kusuruh. Dia segera mengambil ponselnya dan membuka pesanku.


Cinta membelalakkan mata begitu melihat ponselnya dan mulutnya kulihat terbuka. Aku yakin dia pasti shock dengan pesanku.


Aku langsung berjalan ke arah sofa dengan santai dan mendudukkan diriku di sana.


" YAK MICHIN SEKIYA (* YAK BAJINGAN GILA ). APA MAKSUDNYA INI?" Cinta berteriak protes padaku.


Mau tahu kenapa Cinta sampai berteriak marah? Aku mengiriminya video rekaman cctv ketika kami berciuman. Tapi tenang saja setelah aku menyalin rekaman itu, bagian kami berciuman sudah di hapus dari server. Dan tidak lupa pula aku mengancam petugas yang berjaga agar tidak membocorkan apapun mengenai ini. Tentu saja sekarang aku merasa sangat buruk karena aku harus menjadi seseorang yang suka menggunakan kekuasaan untuk mengancam orang lain. Tapi biarlah karena aku sudah tidak punya pilihan lain.


Cinta berdiri dan menghampiriku dengan marah. Dia berkacak pinggang di depanku.


" Ini maksudnya apa Aidan?"


" Ya kalau loe engga mau bantuin gue, gue akan sebarin video ciuman kita." Ancamku dengan santainya.


" AIDAN." Bentaknya.


" Sorry Cinta, gue engga punya pilihan lain. "


" Jadi loe ngancem gue dengan cara ini?"


" Loe boleh menganggapnya seperti itu."


" Kampungan tahu engga."


" Gapapa loe mau bilang apapun gue terima tapi please loe mau ya jadi pacar bohongan gue nanti siang?" Ucapku masih mencoba menawar.


" Haha." Cinta tertawa kesal.


" Jangan mimpi loe. Sekali gue bilang engga..."


" Loe yakin engga akan nyesel kalau gue publish video ini?" Ancamku sekali lagi.


" YAK AIDAN." Bentaknya.


" Maaf Cinta tapi gue bener-bener butuh bantuan loe." Ucapku mengiba.

__ADS_1


Kulihat Cinta mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.


" Aaarrgghhhh." Teriaknya kencang sampai tiba-tiba saja timjangnim mengetuk pintu dan masuk.


"Cinta? Kamu kenapa teriak gitu?" Tanya Timjangnim menyembulkan kepalanya ke dalam.


Aku langsung berdiri dan Cinta langsung merapikan rambutnya yang tadi di acak-acak olehnya sendiri.


" Ah tidak apa-apa timjangnim. Saya.. Saya hanya frustasi dengan Aidan karena dia belum juga mengerti dengan pekerjaan yang di ajarkan." Ucap Cinta beralasan.


" Oh gitu. Saya pikir kalian berantem."


Cinta hanya senyum-senyum terpaksa gitu.


" Tidak timjangnim. Oh iya saya sudah kirim email sesuai yang anda minta tadi. Silahkan anda cek." Jawab Cinta mengalihkan pembicaraan.


" Oke kalau gitu." Ucap timjangnim yang kemudian pergi dari ruangan kami.


Setelah Choi timjang pergi, Cinta menoleh cepat ke arahku dengan tatapan tajamnya. Aku sampai takut melihatnya. Ku coba untuk menarik senyumku semanis mungkin.


" Gimana? Mau yah?" Tanyaku takut-takut.


Cinta tidak menjawab hanya menghentakkan kasar kakinya kemudian kembali duduk ke kursinya.


" Cinta?" Panggilku sekali lagi dengan manja karena penasaran dengan jawabannya.


" Ya udah, siang ini kan?" Akhirnya Cinta pun menyerah.


" Yessss." Aku menarik tanganku ke bawah melakukan selebrasi untuk keberhasilanku membujuk Cinta agar mau menjadi pacarku. Ah pacar pura-puraku maksudnya.


" Gomawo (* makasih ) cantik. I love you." Lanjutku sambil cengar-cengir.


Biarlah meskipun ku ucapkan i love you, saranghae, aku cinta kamu sebanyak apapun, perkataan seperti itu jelas tidak akan pernah berpengaruh untuk Cinta. Kita berciuman saja dia sama sekali tidak baper apalagi hanya sekedar kata-kata Cinta. Buktinya kemarin aku tembak berkali-kali saja di tolaknya dengan cepat. Cinta memang pilihan terbaik. Jika aku bertemu perempuan lain mungkin saat ini dia akan dengan sukarela menjadi pacarku dan jujur saja justru hal seperti ini malah akan membebaniku. Dan beruntung aku bertemu Cinta yang tidak gampang baper.


" Ya udah sana loe kerjain kerjaan loe. Jangan mentang-mentang anak bos loe mau di perlakukan istimewa." Ujarnya menyuruhku untuk melanjutkan pekerjaan.


" Siap chagiya." Jawabku tegas sambil melakukan gerakan hormat kemudian melaksanakan perintahnya.


...***...


Aku mengerjakan pekerjaanku dengan sepenuh hati. Entah kenapa sejak Cinta menyetujui permintaanku untuk menjadi pacar pura-puranya, aku merasa sangat senang, sangat bahagia. Entah karena lega atau karena sesuatu hal yang lain. Yang jelas moodku berubah bagus setelah itu. Bahkan pekerjaan yang awalnya malas-malasan kukerjakan akhirnya selesai dalam waktu singkat.


Aku mengulet, menegakkan badan dan merentangkan tanganku ke atas. Meski pegal tapi aku seperti tidak merasa lelah. Kulihat jam tangan dan menyadari bahwa sebentar lagi jam makan siang tiba dan itu artinya aku harus segera bersiap-siap.


Kring... Kring...

__ADS_1


Ponselku berbunyi dan kulihat nama Jona hyung di layar.


" Eoh hyung?" Sapaku membuka pembicaraan.


" Gue sama Jessi udah sampai kantor." Ucap Jona hyung di ujung telepon sana.


Seketika aku gugup mendengar perkataan Jona hyung. Entahlah mungkin aku takut bertemu dengan Jessica.


" Eoh? Loe mau ke ruangan gue?" Tanyaku.


" Gue ketemu appa dulu aja."


" Oke deh. Nanti kita ketemu langsung di tempat makan aja hyung. Loe kirimin gue alamatnya aja soalnya gue masih nungguin cewe gue selesaiin kerjaan dulu."


Cinta langsung menoleh padaku begitu aku menyebut kata "cewe gue".


Aku langsung menutup telepon dari hyung.


" Ayo Cinta siap-siap. Abang gue udah di kantor." Ajakku pada Cinta.


" Gue deg-degan Aidan." Jawabnya sambil memegangi dada.


Aku mengulum senyum mendengar jawaban Cinta. Ku goda dia agar suasana hatinya bisa lebih santai.


" Ya iyalah kalau engga deg-degan berarti loe udah mati dong. Hahaha"


" Hissh." Desisnya kesal mendengar candaanku.


" Tapi loe janji kan masalah sajangnim semuanya loe yang akan handle?" Tanya Cinta memastikan janjiku tadi.


" Iya Cinta." Jawabku meyakinkannya.


" Oh iya satu hal lagi yang harus loe inget Cinta. Bilang aja kita udah pernah kenal sebelumnya. Loe dulu kuliah di UI kan?"


Cinta menganggukkan kepalanya.


" Bilang aja kita pernah hang out bareng. Loe temennya temen gue, kita juga pernah komunikasi dan lumayan deket tapi lost contact saat loe milih kerja ke Korea." Ucapku menjabarkan pada Cinta rencana yang sudah ku susun tadi.


" Emang masuk akal?" Tanya Cinta.


" Masuk lah. Sekarang daripada aneh kita udah pacaran padahal baru ketemu beberapa hari." Ucapku.


" Iya sih."


" Ya udah ayo, hyung udah kirim alamatnya." Ajakku kemudian menarik tangan Cinta untuk segera menuju ke lokasi yang di kirimkan Jona hyung.

__ADS_1


...___ bersambung___...


__ADS_2