
" Do Hyun-a?"
" Liana?"
Semua orang menoleh ke arah wanita yang berdiri di seberang meja kami. Aku menatapnya tajam. Sekuat tenaga aku menutupi kembalinya wanita ini dari keluargaku, ternyata dia malah menampakkan dirinya sendiri.
Cinta menoleh ke arahku, aku tahu dia mengerti apa yang kurasakan sekarang.
" Tante? Untuk apa anda ke sini?" Ucapku yang membuat semua orang menoleh ke arahku.
" Aidan? Dia eomma kamu." Ucap appa memberitahuku padahal sesungguhnya aku sudah tahu bahwa wanita ini adalah eomma.
" Ah mungkin kamu tidak ingat dengan..." Sambung appa yang langsung kupotong.
" Dia memang bukan eomma, appa. Aidan engga punya eomma." Ucapku datar.
Cinta menyenggol lenganku pelan dan menggelengkan kepalanya. Aku tahu Cinta mengisyaratkan agar aku tidak berlaku seperti itu.
" Aidan? Kenapa kamu bicara seperti itu? Dia eomma kamu." Ucap appa.
" Loe udah ketemu sama eomma Aidan?" Tanya Jona hyung yang langsung membuat eomma menoleh ke arahnya.
" Kamu Jonathan Kim?" Tanya eomma.
Jona hyung menganggukkan kepalanya yang membuat eomma berjalan menghampirinya. Sebelum sempat melangkah, aku lebih dulu menghentikannya.
" Berhenti di situ Tante Liana." Ucapku dingin.
Eomma menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku.
" Jangan mendekati kami. Sebaiknya tante pergi dari sini!" Usirku dengan nada menekan dan dingin.
" Tapi Aidan? Eomma ingin memeluk...."
" JANGAN BERANI-BERANI MASUK LAGI DI KEHIDUPAN KAMI." Bentakku padanya yang membuat semua orang di ruangan ini menoleh pada meja kami.
Appa terkejut kemudia meminta maaf pada semua orang.
" Aidan jaga nada bicaramu." Tegur appa pelan.
Kulihat eomma hampir menangis. Kelopak matanya sudah penuh dengan buliran bening yang menggenang. Matanya berkaca-kaca dan jatuhlah beberapa tetes air dari netranya.
__ADS_1
" Liana?" Kulihat appa khawatir dengan eomma. Appa bahkan sampai bangun dari duduknya dan menghampiri eomma. Appa spontan mengusap air mata di pipi eomma.
Aku bukannya tidak khawatir dengan perasaan eomma tapi melihat appa yang masih perhatian pada eomma malah membuatku jengkel.
Aku ikut bangkit dari dudukku dan menghampiri eomma. Tapi bukan untuk menghapus air matanya yang jatuh akibat perkataanku melainkan untuk menepis tangan appa dari eomma.
" Untuk apa appa masih perhatian dengan tante Liana?"
Aku menepis kasar tangan appa agar melepaskan tangannya dari pipi eomma.
" Aidan? Kamu jangan keterlaluan." Tegur appa keras kali ini.
" Kenapa? Appa masih mau maafin wanita ini setelah dia ninggalin appa begitu aja dengan dua anak yang masih kecil? Dia bahkan engga pantes jadi seorang ibu."
PLAK.
Tamparan keras mendarat di pipiku. Appa menamparku setelah mendengar pertanyaan terakhirku barusan. Aku memegangi pipi dan menoleh cepat pada Appa. Kulihat semua orang menatap pada kami.
" Kenapa? Apa aku salah?"
Jona hyung menghampiri kami dan berusaha menenangkanku.
" Aidan?" Ucap hyung sambil memegang lenganku agar aku tidak melanjutkan sikapku.
" Maksud loe gimana?"
" WANITA INI ENGGA PANTES DI PANGGIL EOMMA."
" AIDAN JAGA BICARAMU." Bentak appa keras.
" Do Hyun-a? Jangan kasar dengan Aidan." Ucap eomma yang malah semakin membuatku marah.
Aku menoleh cepat pada eomma dan memberikan tatapan penuh kebencian.
" Tante engga perlu sok perhatian."
Aku langsung memegang tangan Cinta yang terlihat terkejut. Aku langsung menariknya untuk pergi meninggalkan restoran.
" Aidan."
Ku dengar appa dan Jona hyung memanggilku tapi aku tidak menghiraukannya sama sekali. Aku tetap berjalan pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
...***...
Cinta mengambil alih kemudi karena melihatku yang dalam keadaan kacau. Dia tidak membiarkanku menyetir. Cinta tidak berkomentar sepatah kata pun selama dalam perjalanan. Entah sudah berapa lama aku dan Cinta saling diam hingga tak lama Cinta menepikan mobilnya di Naksan Park, Jongno-gu, Seoul.
Cinta menoleh ke arahku.
" Kita tenangin diri di sini aja ya?" Ucapnya.
Aku mengangguk menyetujuinya. Aku memang tidak banyak tahu tempat-tempat di Korea dan beruntung Cinta banyak mengenalkanku dengan tempat-tempat indah di sini, meski saat ini kedatangan kami bukan untuk berkencan seperti rencana awal.
Aku dan Cinta turun dari mobil, berjalan ke atas menuju tempat tertinggi dari taman ini. Menurut Cinta kita bisa melihat pemandangan kota Seoul saat mencapai atas.
Kami menemukan sebuah bangku dan Cinta meminta untuk beristirahat disitu. Dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebotol minuman. Entah sejak kapan dia membeli minuman itu. Atau mungkin Cinta memang membawanya dari rumah.
Cinta meminum beberapa teguk air dari botol minum itu dan dia menawarkannya padaku. Aku mengambil dan ikut meneguknya sedikit kemudian mengembalikan botol itu padanya.
" Gimana? Suasana hatimu udah lebih baik?" Tanya Cinta sambil menaruh kembali botol minum ke dalam tasnya.
Aku menganggukkan kepala pelan. Mataku memandang jauh ke depan, menyapu semua pemandangan dalam jangkauan penglihatanku.
Aku menghela napas berat.
" Entah apa yang harusnya aku lakuin Cinta? Menurutmu apa aku salah berlaku seperti tadi?" Tanyaku tanpa menoleh pada wanita kesayanganku.
" Aku engga bisa membenarkan apa yang kamu lakukan tapi aku juga engga bisa menghakimi apa yang kamu lakukan tadi. Pada dasarnya rasa kecewa yang mendasari kamu untuk berbuat seperti tadi kan?"
Aku mengangguk membenarkan apa yang di katakan Cinta.
" Tapi coba kamu ada di posisi tante Liana? Seorang ibu yang setelah sekian lama tidak bertemu anaknya tapi saat ketemu justru sindiran dan bentakan yang dia terima. Apa kamu bakal sanggup menerimanya?"
Aku memikirkan apa yang Cinta katakan. Herannya setiap nasihat Cinta selalu bisa membuatku berpikir dengan tenang. Aku menundukkan kepala sambil memainkan jemariku sendiri.
" Kalau aku boleh tahu apa alasan Tante Liana meninggalkan kalian?"
Aku menggelengkan kepala pelan.
" Sejujurnya aku juga engga tahu alasan wanita itu ninggalin aku, hyung sama appa. Selain karena aku yang masih terlalu kecil untuk mengerti, appa juga tutup mulut tentang kepergian wanita itu dari kami, bahkan appa membuang semua barang-barang yang berhubungan dengan wanita itu. Termasuk hanya sekedar fotonya. Aku memiliki satu foto dan bisa mengenali Tante Liana karena hyung yang memberikanku satu foto yang katanya harus selalu kubawa kemanapun tanpa ketahuan appa. Mungkin karena aku masih terlalu kecil untuk bisa mengingat bagaimana wajah wanita itu jadi hyung mengalah memberikan satu-satunya foto yang di milikinya untuk kusimpan agar aku tidak melupakan wanita yang sudah melahirkanku."
" Sejujurnya aku merasa iri dan sangat ingin mendapatkan kasih sayang seorang eomma tapi ternyata meskipun Tuhan mengirim kembali eomma padaku ternyata belum tentu aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan. Nyatanya malah sesakit ini. Dia lebih memilih memikirkan perasaan anaknya yang lain padahal jelas-jelas aku ada di hadapannya, aku anak yang selama ini di tinggalkannya."
Cinta hanya diam mendengarkan ceritaku. Mungkin dia juga bingung harus menanggapi seperti apa kisah keluargaku yang bahkan tidak bisa di sebut utuh sejak dulu.
__ADS_1
...___ bersambung___...