BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 29


__ADS_3

Pukul enam sore, aku mengirimkan email pada Cinta kemudian membereskan meja kerja bersiap untuk pulang. Eh lebih tepatnya bersiap untuk ngedate.


" Sayang, aku udah kirim desain terbaru yang di minta Choi timjang tadi siang. Cek email ya."


" Eoh? Oke." Jawab Cinta masih fokus pada komputernya.


" Kamu belum selesai kerjaannya?" Tanyaku penasaran karena Cinta belum juga bersiap-siap dan masih asyik dengan pekerjaan.


" Iya nih, timjangnim kasih kerjaan tambahan. Kayanya kita gagal ngedate malem ini deh."


" Hah?" Aku terkejut mendengar jawaban Cinta.


" Maaf ya soalnya ini urgent dan karena besok weekend jadi bener-bener harus selesai malem ini. Besok Choi timjang akan bawa materi ini untuk rapat karena rekan kita meminta rapat santai saat weekend."


" Yah gagal dong first date kita." Ucapku kecewa.


Cinta menoleh ke arahku.


" Maaf ya, jangan manyun gitu." Cinta meminta maaf padaku.


" Janji deh besok kita jalan yah?" Cinta membujukku.


Terbalik memang. Bukankah seharusnya aku yang membujuk? Aku yang berbuat salah, aku yang mengajak kencan tapi malah aku yang ngambek.


" Aku mau maafin kalau aku boleh nginep di apartemen kamu." Ucapku.


" HAH? Kamu bilang apa?" Cinta terkejut mendengar kata-kataku.


" Aku mau nginep di apartemen kamu." Jawabku mengulang.


" Jangan ngaco deh kamu. Ngapain kamu nginep-nginep di apartemenku?"


" Loh emang kenapa? Kamu kan pacarku, gapapa dong. Lagian aku juga pernah nginep di sana kan?"


" Engga engga engga. Jangan ngaco deh kamu. Meskipun kamu pernah nginep tapi itu kan karena kamu mabuk. Lagian kamu kan punya rumah nanti appa ngomelin aku lagi kalau tahu kamu nginep di tempatku. Lagipula kasurku cuma satu, kamu mau tidur dimana?" Jawab Cinta panjang lebar.


" Ya kita berbagi tempat tidur lah."


" Huuuuuu enak aja." Jawabnya melemparkan kertas yang sudah di remasnya.


" Lagian aku selalu engga tenang karena Rama sebelahan apartemen sama kamu. Dia kan suka sama kamu. Dan kamu juga dulu suka sama dia. Aku takut perasaan kamu balik lagi sama Rama karena keseringan ketemu."


" Ya ampun Aidan, jadi kamu cemburu?"


" Iya lah. Emang aku harusnya engga cemburu?" Tanyaku tidak terima.


" Ya bukan gitu. Lagian Rama itu sahabatku. Aku udah kenal dia sejak SMA." Jawab Cinta.


" Tapi kan kamu bilang kamu suka sama dia."


" Iya dulu. Sekarang kan sukanya sama kamu."


" Engga usah gombal."


" Loh kok gombal?"


Kalau di pikir-pikir jadi terbalik kan? Biasanya perempuan yang suka ngambek tapi kali ini malah aku yang ngambek, Cinta yang bujukin. Hahaha.


" Lah iya kan?"


" Ya udah kalau kamu engga mau di sukain sama aku, aku suka sama orang lain aja."


" Eh eh eh kok gitu?"


" Ya lagian kamu tuh kenapa sih? punya pikiran yang engga engga aja."


Aku beranjak dari dudukku dan pindah ke sofa. Kulipat kedua tangan di dada kemudian menyandarkan punggungku di sandaran sofa. Aku memanyunkan bibir karena moodku yang berubah buruk.


" Jangan manyun gitu. Jelek tahu, nanti aku cium baru tahu rasa."


Mendengar ledekan Cinta, aku malah semakin memanyunkan bibirku.


" Udah jangan ngambek gitu ah. Aku kerjain ini dulu biar cepet kelar." Cinta mengakhiri pembicaraan kami dan kembali fokus pada pekerjaannya.


Aku mencebik pada Cinta. Tak lama ku ambil ponsel dan mencoba mengalihkan rasa kesalku pada game.


Baru juga membuka menu pada ponsel kulihat ada sebuah pesan masuk dari Jona hyung.


Kubuka pesannya dan aku terkejut dengan apa yang dikirimkan kakak kandungku itu.


* Aidan? Gue kayanya lihat eomma deh. Eomma bukan sih? Apa gue salah?


Aku memperhatikan foto yang dikirimkan oleh Jona hyung. Meski aku tidak ingat bagaimana wajah eomma tapi aku masih memiliki foto yang hampir setiap hari selalu ku sempatkan untuk kulihat. Dan wajah yang ada di foto yang dikirim Jona hyung sama persis dengan foto yang yang selalu ada di dompetku. Ku buka dompet untuk memastikannya. Kujajarkan foto dari Jona hyung dan foto di dalam dompetku. Ini benar eomma. Wajahnya sama persis hanya bedanya foto dari Jona hyung wajahnya terlihat lebih berumur tapi masih cantik.


* Loe lihat dimana hyung? Loe temuin eomma engga?


* Menurut loe itu eomma kan? Gue ragu.


* Iya hyung. Itu pasti eomma. Tolong tahan hyung, gue pengen ketemu eomma.


* Dia udah pergi.


* Kenapa engga ditahan sih?


* Gue ragu tadinya makanya gue chat loe tapi loe engga bales-bales. Begitu loe bales iya ternyata eomma udah pergi.


* Loe liat dimana? Bukannya eomma di Indo. Loe bilang sama appa engga?


* Entahlah. Gue engga bilang appa. Kalau bisa jangan bilang dulu soalnya kita juga engga pasti kalau itu eomma.


" AIDAN?" Bentak Cinta mengagetkanku.


Aku langsung menoleh padanya.


" Loe chat sama siapa sih sampai di panggil engga jawab?"


" Eoh? Oh ini... Ini.."


" Jangan-jangan Renata." Tuduh Cinta


" Hish kamu tuh. Ini Jona hyung tahu." Jawabku.


" Oh kirain nenek sihir itu."


" Kenapa? Kalau Renata kamu mau pukul aku gitu?"


" Iya." Jawabnya ketus.


" Udah ayo buruan pulang, aku udah selesai. Kamu mau pulang apa engga?" Sambung Cinta.


" Mau lah. Tapi aku boleh ya nginep di apartemen kamu." Bujukku sekali lagi.


" ENGGA." Jawab Cinta tegas kemudian berjalan meninggalkanku.


" Hisshh tungguin aku sayang." Ucapku kembali ke meja kerja untuk mengambil tas dan segera berlari menyusul Cinta.

__ADS_1


...***...


Sampai di parkir apartemen Cinta, aku membuka sabun pengaman.


" Kamu mau kemana lepas sabuk pengaman?" Tanya Cinta padaku begitu melihatku melepas sabuk pengamanku.


" Mau ikut masuk lah. Ini kan masih jam sembilan. Kenapa emangnya? Kamu engga mau aku ikut masuk? Jangan-jangan..."


" Jangan-jangan apa? Engga usah mikir yang aneh-aneh."


" Ya lagian nanyanya gitu kaya engga suka banget aku main ke apartemen." Ucapku memanyunkan bibir.


Cinta gemas denganku. Dia mencubit sebelah pipiku.


" Aaa... Aaa...aww.. sakit Cinta." Ujarku meringis tapi Cinta tidak melepaskan cubitannya hanya menurunkan sedikit kekuatan cubitannya.


" Bukan engga suka sayangku. Aku tadi cuma takut kamu nginep disini aja. Aku engga mau appa jadi salah paham sama aku. Dikiranya aku suka masukin laki-laki ke rumah." Jawab Cinta yang sepertinya gemas denganku. Dan secara tiba-tiba Cinta mengubah cubitannya menjadi kecupan. CUP.


Aku mengulum senyum setelah Cinta mengecupku. Bahkan rasa kesalku tadi menguap begitu saja.


" Ngapain senyum-senyum gitu?" Tanya Cinta.


Aku menoleh padanya.


" Kamu tuh emang biasanya seagresif ini atau karena pacarmu ini adalah seorang Aidan yang ganteng?" Godaku padanya.


Dia malah mencubit lenganku.


" Aw. Sakit sayang. Lepasin." Aku mengaduh karena cubitan Cinta yang tak kunjung dilepas.


" Kalo engga dilepas nanti aku cium loh." Ancamku pada Cinta.


Cinta langsung melepaskan cubitannya dan keluar dari mobil. Aku mengusap-usap bekas cubitannya kemudian ikut keluar dari mobil dan berlari menyusul Cinta.


Kami berdua naik lift yang kebetulan langsung terbuka saat Cinta menekan tombol panah ke atas. Cinta hampir menutup pintu lift jika aku tidak bergegas menahannya.


" Hei kamu bener-bener yah?" Protesku yang membuat Cinta mengulum senyum.


Aku mencubit pelan pinggangnya sementara Cinta bergeser menjauh. Kucubit lagi dan Cinta bergeser sampai akhirnya dia terpojok.


" Hayo engga ada langkah lagi kan? Bisa dong kita kissing di lift? Hehehe" Tawarku konyol yang sebenarnya hanya bercanda.


Ting.


Ternyata keadaan berpihak pada Cinta. Lift berhenti di lantai apartemen Cinta.


" Udah sampai." Ucap Cinta yang kemudian kabur dariku dengan cara berlari melalui bawah tanganku yang tadi menghadangnya. Aku langsung lari mengejar Cinta keluar.


" Awas kamu yah." Ujarku sambil berlari untuk menangkap Cinta tapi langkahku tiba-tiba harus berhenti saat Cinta berdiri terdiam di depan unit apartemennya.


" Tante?" Ucap Cinta pada seseorang yang berdiri di depan unit apartemen Rama.


" Hei.. Cinta kan?" Tanya orang itu.


Begitu terkejutnya aku saat melihat orang yang berdiri di hadapan Cinta sekarang. Aku sampai terdiam mematung saat orang itu menoleh ke arahku kemudian menundukkan kepalanya memberi salam.


" Eom.. Eomma?" Panggilku sangat pelan.


Cinta menoleh cepat padaku.


" Aidan? Loe ngomong apa tadi?" Tanya Cinta.


Aku langsung tersadar mendengar pertanyaan Cinta, bahkan wanita yang sangat mirip eomma itu juga memperhatikanku.


" Ah engga, engga." Jawabku membuang pandangan dari wanita dihadapan Cinta.


Tante? Cinta kenal dengan wanita yang wajahnya persis seperti eomma? Ini eomma atau bukan? Apa dia bukan eomma?


Wanita itu mengalihkan pandangannya dariku.


" Eh iya ini tante nyusulin Rama yang kabur dari rumah. Tante sampai cari Rama kemana-mana engga tahunya dia ke Korea dan tante dapet info katanya tinggal disini."


Wanita ini ibunya Rama jadi dia tidak mungkin eommaku kan?


" Memang Rama kabur kenapa?"


" Biasa bertengkar dengan papanya." Ucap wanita itu.


" Tapi ini benar apartemen Rama kan? " Tanya wanita itu.


" Iya bener kok tante. Emang kenapa?" Jawab Cinta.


" Tante ketuk dan memencet bel berulang kali tapi tidak ada jawaban yah?"


Aku selalu memperhatikan wanita yang mirip dengan eomma itu. Sejujurnya aku ingin bertanya apa benar dia adalah eomma. Tapi setelah tahu bahwa wanita ini adalah ibunya Rama, aku jadi sangsi dengan perasaanku. Lagipula aku tidak mungkin menanyakannya di depan Cinta kan?


" Masa sih? Dari kemarin Rama engga pernah keluar kecuali sama Cinta. Rama kan engga tahu daerah di sini tante. Coba aku ketuk." Cinta menawarkan diri mengetuk pintu Rama.


Tok.. Tok..Tok..


" Rama?" Panggil Cinta berulang kali tapi tidak kunjung ada jawaban.


" Tante engga coba telpon?" Tanya Cinta.


" Dia engga mau angkat."


" Coba Cinta yang telponin deh."


Cinta menelpon Rama dan kelihatannya Rama merespon panggilan Cinta.


" Rama? Kamu dimana?"


Kenapa aku cemburu yah mendengar Cinta " ber aku kamu " dengan Rama yang katanya hanya sahabat.


" Kenapa engga mau bukain pintu, ini loh mama kamu...."


Kalimat Cinta terhenti.


" Di matiin tante. Katanya dia engga mau nemuin tante."


Kulihat wanita itu kecewa.


" Kalau gitu tante tunggu di apartemen Cinta aja sampai Rama mau nemuin tante." Cinta menawarkan bantuan.


" Terus temanmu bagaimana?" Ucap wanita itu menunjukku.


" Oh itu, dia pacarku tante." Ucap Cinta memperkenalkanku sebagai pacarnya. Aku membungkuk memberi salam.


" Oh maaf, tante pikir Rama kesini untuk mencari kamu karena dia bilang dia mencintai kamu." Ucap wanita itu.


Aku kurang suka dengan apa yang wanita itu bicarakan dengan Cinta.


" Maaf tante tapi Cinta sekarang pacar saya." Tegurku.


" Oh iya maaf nak... ( menoleh pada Cinta) siapa namanya?" Tanya wanita itu pada Cinta.

__ADS_1


"  Namanya Aidan Kim." Jawab Cinta.


Wanita itu menoleh cepat padaku.


" Aidan Kim?" Tanyanya memastikan namaku. Wajahnya terkejut saat melihatku.


" Apa kamu...."


JEGREK.


Terdengar suara pintu terbuka. Wanita itu tidak melanjutkan kata-katanya dan aku jadi penasaran. Apakah dia eommaku? Kenapa dia terkejut mendengar namaku?


Kami semua menoleh ke arah pintu yang di baliknya muncul Rama. Hanya aku saja yang tidak menoleh ke arah Rama. Aku hanya fokus melihat wanita yang ku duga adalah eomma meski tahu dia adalah ibunya Rama.


" Rama?" Ucap Cinta dan wanita itu hampir bersamaan.


" Buat apa mama ke sini? Aku engga akan pulang sekalipun mama yang minta." Ucap Rama pada wanita itu.


Jelas sekali bahwa Rama memanggilnya mama. Jadi dia memang mamanya Rama bukan eommaku. Ah entahlah, aku bahkan tidak ingat wajah eommaku sendiri, bagaimana aku bisa yakin bahwa dia adalah eommaku? Mungkin aku saja yang terlalu berharap bertemu lagi dengan eomma saat Jona hyung mengirimiku foto wanita yang mirip eomma.


" Sebaiknya Cinta masuk dulu ke dalam ya tante. Dan Rama jangan biarin orang tua nunggu di luar. Sekarang cuaca sudah mulai dingin." Ucap Cinta berpesan pada Rama.


" Tante, Cinta masuk dulu yah? Ayo Aidan!" Cinta pamit pada ibunya Rama dan menarik tanganku agar mengikutinya masuk.


...***...


Di dalam apartemen Cinta, aku hanya diam sambil memikirkan pertanyaan yang dari tadi selalu muncul di otakku. Benarkah dia bukan eomma? Tapi wajahnya sangat mirip dengan eomma.


" Kamu kenapa sih bengong terus?" Tanya Cinta sambil membawa sebotol air dingin dan duduk di sebelahku.


" Ah engga kok." Jawabku agak kaku.


" Jangan bohong deh. Kamu tuh terlalu kalem sekarang, engga kaya biasanya." Ucap Cinta.


Aku merebut botol minum yang dipegang Cinta.


" Hei balikin, aku haus banget." Cinta mengulurkan tangannya berniat mengambil botol yang kubawa menjauh dari jangkauannya. Aku membuka tutup botol itu dan meneguknya sambil membelakangi Cinta.


" Aidan? Aku haus." Protesnya.


Aku langsung berbalik arah dan menempelkan bibirku pada bibir Cinta. Kukeluarkan lidahku untuk membuka mulutnya sementara mulutku masih menyimpan sedikit air yang tadi kuminum.


Setelah mulut Cinta terbuka aku memindahkan air yang kusimpan di mulutku ke dalam mulutnya kemudian setelah berhasil aku melepaskan bibirnya.


" Udah minum kan? Hehe." Ucapku sambil tersenyum menunjukkan gigiku.


" Hish jorok tahu." Protes Cinta kemudian mengambil botol yang ku pegang dan meminum sisa air yang ada di dalamnya.


" Jorok apanya sih? Biasanya malah ludah kan yang di minum?" Ledekku.


" Hish." Cinta memukul lenganku keras kemudian berdiri.


Aku langsung menariknya sampai Cinta jatuh terduduk di pangkuanku.


" Kamu mau kemana sih? Engga betah banget di deket aku." Ucapku kemudian memeluknya dari belakang.


" Lepasin Aidan. Posisi gini bikin salah paham tahu." Ujar Cinta yang membuatku tertawa.


" Salah paham gimana?" Tanyaku sambil mengulum senyum.


" Ya salah paham." Jawabnya sambil mencoba melepaskan diri.


" Cepet lepasin." Sambungnya yang tak kuhiraukan.


" Pertanyaannya siapa yang salah paham sayang? Kita kan cuma berdua."


" Ya makhluk-makhluk yang lain kaya semut dan nyamuk." Jawab Cinta konyol masih sambil mencoba membuka pelukanku di perutnya.


" Hahaha. Kamu lucu. Kalaupun mereka salah paham harusnya begini."


Aku mengangkat tubuh Cinta supaya berdiri dan akupun ikut berdiri. Sebelum Cinta sempat kabur, aku membalikkan tubuhnya menghadapku kemudian kuangkat lagi tubuhnya dan kuhempaskan tubuhku ke sofa. Jadilah Cinta terjatuh di pelukanku.


Cinta mencoba berdiri tapi kutahan sampai Cinta duduk di atas pangkuanku.


" Nah kalau begini makhluk-makhluk yang kamu sebutin tadi patut salah paham. " Ujarku sambil menahan tubuhnya agar tidak beranjak dari atasku.


Cinta menyerah untuk memberontak dan akhirnya pasrah menatapku.


" Terus mau apa setelah ini?" Tanya Cinta seperti menantang.


" Kamu maunya gimana?" Tanyaku balik.


Dan tanpa kuduga Cinta tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke depanku kemudian dengan cepat mengecup bibirku sekilas.


Setelah mengecup dia tersenyum nakal padaku.


" Jadi maunya ini?" Tanyaku yang kemudian membalas ciuman Cinta tanpa mendengar jawabannya.


Kami berciuman sangat bergairah. Kulumati bibirnya atas dan bawah sampai terdengar suara yang menurutku terdengar erotis. Aku melepaskan pagutanku sekejap saat merasa Cinta kehabisan napas.


Aku kembali menciuminya dengan liar. Kumasukkan lidahku dalam mulutnya kemudian menautkan lidahnya denganku. Bahkan tanganku mulai nakal menggerayangi punggung Cinta dari balik kemeja.


Kulepaskan ciumanku dan beralih ke belakang telinganya. Kususuri lehernya dari belakang ke depan. Cinta menengadahkan kepalanya memberiku akses menciumi leher depannya.


" Mmmmhhh." Cinta mendesah dan aku semakin bergairah mendengarnya.


Tok.. Tok.. Tok...


Suara ketukan pintu menyadarkan kita berdua. Aku melepaskan ciumanku di lehernya dan Cintapun sama. Dia tersadar dan bangun dari pangkuanku. Kulihat sekilas ada bekas merah di lehernya yang membuatku mengulum senyum.


Cinta bergegas untuk membuka pintu, sementara aku yang tersadar mengejarnya dengan cepat.


" Sayang benerin dulu bajunya. Itu juga aku ninggalin bekas merah di leher."


Cinta berhenti saat mendengar perkataanku. Dia mengecek penampilannya dan berlari mengambil cermin yang ada di meja kemudian melihat lehernya.


" Hish Aidan." Ucapnya kesal.


" Hehe. Maaf." Ucapku sambil cengengesan.


" Ya udah tolong bukain pintunya dulu. Aku mau benerin baju sama nempelin plester buat nutupin ini." Tunjuknya ke arah leher. Dia juga terlihat masih kesal.


Sementara Cinta masuk ke kamar mandi, aku bergegas membuka pintu dan aku terkejut mendapati ibunya Rama yang berada di balik pintu itu.


" Aidan Kim?" Panggilnya dengan menyebut lengkap namaku. Pandangannya sayu dan itu membuatku khawatir.


" Kamu Aidan Kim putra Kim Do Hyun?" Tanyanya yang membuatku terkejut.


" Ddd..dari mana tante tahu nama appa ku?" Tanyaku terbata-bata. Aku terkejut dengan pertanyaan keduanya ini.


Wanita itu memegang kedua pipiku kemudian matanya berkaca-kaca memandangiku.


" Ttt.. Tante kenapa?" Tanyaku yang malah jadi ketakutan dengannya.


" Aidan putraku."

__ADS_1


...___ bersambung___...


__ADS_2