
Tok.. Tok... Tok..
Terdengar suara ketukan pintu kamar yang membuatku terbangun. Mataku masih enggan untuk membuka, dengan malas aku berteriak dari dalam kamar.
" Siapa?"
Bukannya menjawab orang itu justru mengetuk lagi pintu kamarku.
Tok... Tok... Tok...
" Aishhh siapa sih?"
Aku terbangun dengan kesal sambil menggaruk-garuk kepala. Ku lihat jam di nakas masih pukul 6 pagi.
" Siapa sih bangunin pagi-pagi gini?"
Aku berjalan dengan malas ke arah pintu kamar dan membukanya.
" Siapa sih bangunin gue pagi....."
Kalimatku terhenti saat melihat wajah eomma yang tersenyum di balik pintu.
" Annyeong Aidan?" Ucapnya menyapaku.
" Eomma?" Panggilku setengah sadar. Aku mengucek mataku untuk memastikan apakah penglihatanku benar. Tapi sudah beberapa kali melakukannya, tetap saja wajah eomma yang terlihat di hadapanku.
" Kamu kenapa sih? Ini eomma loh."
" Ini beneran eomma? Aku bukan lagi mimpi kan?"
Eomma menghambur memelukku dan aku langsung menyambut pelukannya.
" Eomma kenapa baru kesini?"
" Maafin eomma sayang. Eomma harus memastikan Rama baik-baik aja di Indonesia. Dan eomma juga harus mastiin bahwa ayahnya engga memaksakan kehendaknya lagi."
" Aidan pikir eomma memilih untuk tinggal sama Rama."
Eomma menggelengkan kepalanya.
" Eomma kan udah janji sama kamu kalau eomma akan menebus waktu kebersamaan kita dulu yang sudah eomma sia-siakan."
Sejak kejadian di apartemen Cinta akhirnya aku dan eomma berbaikan. Begitupun antara aku dan Rama. Kami sepakat menganggap Rama sebagai bagian dari keluarga Kim agar dia merasa mempunyai keluarga yang utuh dan menyayanginya.
Tapi dua hari setelahnya, Rama ingin pulang ke Indonesia. Dia tidak ingin mengganggu waktu eomma dan keluargaku katanya. Padahal aku juga sudah menerimanya sebagai keluargaku. Dan hari itu eomma pamit pada kami untuk mengantar Rama dan menyelesaikan masalah Rama dan ayahnya. Dan setelah itu eomma janji akan kembali ke Korea.
Sebulan telah berlalu. Jessica dan Jona hyung pun sudah pulang ke Indonesia tapi eomma belum juga mengabari kapan akan kembali ke Korea. Aku sudah hampir merasa kecewa lagi. Jujur saja aku takut jika eomma memilih tinggal dengan Rama.
" Janji sama aku atau janji sama appa?" Godaku kemudian melepaskan pelukan eomma.
" Mmm.. Gimana yah?" Ucap eomma pura-pura berpikir.
" Tentu saja janji sama appa lah. Mana ada janji sama kamu." Tiba-tiba saja appa datang dan menghampiri kami kemudian menarik eomma ke sisinya. Tangan appa merangkul pinggang eomma dari samping.
Aku memperhatikan dengan seksama gerakan appa dan mulai kesal saat appa merangkul eomma seperti itu. Aku langsung menyempil di antara mereka berdua kemudian menggeser appa dengan menyikutnya.
" Eomma milikku appa." Ucapku merangkul manja eomma.
" Hei eomma milik appa tahu." Jawab appa meledekku seperti anak kecil.
" Enak aja, appa kan udah bukan suami eomma. Suami itu ada mantan tapi anak engga ada yang namanya mantan. Iya kan eomma?" Tanyaku manja.
Eomma tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
" Tuh eomma aja setuju. Jadi eomma milik Aidan bukan milik appa" Ucapku merasa menang dari appa.
" Hei Aidan, kamu itu udah umur 28 tahun loh, kamu juga udah punya pacar ngapain kamu masih manja-manja gitu sama eomma? Kamu mau di bilang anak mami?" Appa terdengar tidak mau kalah.
" Museun sanggwaniya ( *siapa peduli ) nyatanya Aidan emang anak eomma kan? Bilang aja appa iri."
" Udah-udah. Kalian ini kaya anak kecil aja. Ayo eomma udah siapin sarapan khas Indonesia loh. Kamu mandi dulu sana Aidan habis itu temuin eomma di bawah yah?" Ucap eomma.
" Iya sana kamu mandi. Appa juga mau dimandiin eomma." Ucap appa vulgar.
" Do Hyun!" Eomma kulihat melotot ke arah appa.
" Hei sajangnim anda mesum sekali." Ucapku meledek appa. Yang di ledek malah senyum-senyum tak jelas.
" Kamu pengen punya adik engga Aidan? Nanti appa sama eomma buatin." Ucap appa kembali menggoda eomma.
" DO HYUN. Jaga bicara kamu di depan anak." Ucap eomma mencubit pinggang appa.
__ADS_1
" Aw aw aw sakit Liana." Ucap appa meringis.
" Cubit yang kenceng eomma." Aku ikut mengompori eomma agar mencubit appa lebih kencang.
" Eomma mirip Cinta deh suka nyubit. Emang yah calon mertua sama calon mantu punya kesamaan." Kekehku geli.
" Tapi Cinta engga garang di ranjang kan Aidan?" Tanya appa vulgar yang langsung di hadiahi cubitan lagi oleh eomma.
" Kamu tuh ya Do Hyun. Ngajarin anak engga bener."
" Awwwww.. Ampun Liana ampun." Appa memohon untuk dilepaskan cubitannya dan akhirnya kulihat eomma melepaskan cubitannya itu.
Melihat appa sudah terbebas aku iseng memulai pembicaraan aneh lagi.
" Aidan engga tahu appa. Kita belum ngapa-ngapain. "
" Hah? Kamu hebat banget Aidan, 2 kali tidur bareng sama perempuan cantik tapi tidak terjadi apa-apa? Emang juniormu engga berdiri?" Ucap appa agak menjauhkan diri dari eomma. Mungkin appa takut di cubit lagi.
" Ya berdiri lah appa tapi Cinta nya engga mau."
" Syukurlah." Ucap eomma.
" Kenapa eomma bersyukur?" Tanyaku.
" Ya kalian hebat. Terutama Cinta yang menolak untuk *** pranikah. Itu hebat banget loh." Jawab eomma.
" Iya. Beda sama kita engga sih Liana?" Ucap appa yang membuat eomma bingung.
" Emang kita kenapa?"
" Ya itu. Setelah sekian lama engga ketemu sekalinya ketemu permainan kita panas sekali."
" MWO?" Aku dan eomma berekspresi sama. Kami berdua membulatkan mata terkejut dengan pernyataan appa. Bedanya eomma terkejut marah dan aku benar-benar terkejut tidak menyangka.
Appa melakukan kuda-kuda untuk jurus kaburnya jika eomma sewaktu-waktu kesal dan mencubitnya lagi. Aku tersenyum geli dan memiliki ide untuk menjahili appa, dan aku juga sudah memasang kuda-kuda jika saja ucapanku akan membuat eomma kesal.
" Sepanas apa emangnya appa?" Tanyaku pelan tapi eomma sudah menoleh padaku. Aku tersenyum menunjukkan gigi.
" Ah rasanya masih luar biasa dan eomma bisa memimpin permainan." Eomma menoleh cepat pada appa kemudian appa kabur sambil berteriak.
" Kamu coba sendiri saja sama Cinta, Aidan." Teriak appa sambil berlari karena eomma mengejarnya.
Aku tertawa melihat tingkah kedua orang tuaku. Rasanya aku benar-benar memiliki keluarga utuh. Andai saja ada Jona hyung pasti keluarga Kim sangat lengkap sekarang.
...***...
Aku mengambil cuti hari ini karena eomma mengajakku untuk menemaninya jalan-jalan. Tadinya Cinta ku ajak cuti juga tapi dia menolak karena memang ada proyek besar yang sedang tim humas pegang. Jika bukan karena eomma yang meminta aku pun tidak akan tega meninggalkan Cinta bekerja sendirian. Appa pun tidak bisa meninggalkan pekerjaannya untuk hari ini karena beliau ada meeting penting dengan dewan direksi. Jadilah aku dan eomma berdua saja berjalan berkeliling kota Seoul.
Awalnya kami berbelanja, menemani eomma yang ingin membeli beberapa pakaian. Kemudian kami berjalan-jalan santai di sekitar sungai Han.
" Eomma? Aidan bahagia sekarang eomma ada di samping Aidan. Aidan seperti mimpi bisa berjalan berdua dengan eomma. Aidan harap eomma bisa selalu ada di sisi Aidan."
Eomma berhenti dan menoleh ke arahku. Aku mengikuti eomma berhenti dan ikut menghadapkan diriku pada eomma.
Eomma memegangi kedua pipiku.
" Eomma akan menebus kesalahan eomma yang sudah tega meninggalkan kamu dengan terus berada di sisimu Aidan. "
Eomma memelukku erat.
" Eomma? Kenapa eomma engga kembali aja sama appa?" Tanyaku setelah eomma melepaskan pelukannya padaku.
" Kami sudah sama-sama tua untuk memulai pernikahan lagi Aidan. " Jawab eomma.
" Hei eomma engga kelihatan tua sama sekali loh. Eomma masih sangat cantik. Dan juga menurut appa permainan *** kalian juga masih hebat kan? hehehehe." Ucapku meledek eomma.
" Hei jaga bicara kamu. Appa mengajari kamu seperti ini?" Tanya eomma kesal.
" Engga eomma. Aidan lelaki normal lah. Aidan tahu bahkan tanpa perlu di ajari orang tua hehe." Ucapku nyengir kuda.
" Kamu tuh yah."
" Ya lagian kalian udah kembali berhubungan *** kenapa tidak kembali jadi suami istri aja?" Tanyaku penasaran.
" Banyak hal yang menjadi pertimbangan eomma, Aidan. Eomma memang mencintai appamu begitupun sebaliknya tapi eomma takut mengulangi kesalahan yang sama dengan menyakiti appamu."
" Lalu, maaf kalau Aidan terkesan vulgar tapi Aidan penasaran kenapa eomma mau berhubungan *** dengan appa tanpa ikatan pernikahan?" Tanyaku.
" Eomma menyetujui *** dengan appa disamping karena mencintai appa, eomma juga merasa bersalah pada appa."
" Aidan bingung deh. Kenapa eomma mengganti rasa bersalah eomma dengan ***?"
__ADS_1
" Appamu yang menginginkannya. Dan eomma tidak bisa menolak karena rasa bersalah itu, meskipun eomma...." Eomma menggantung kalimatnya dengan wajahnya yang memerah.
" Aidan tahu, meskipun eomma juga menikmatinya. Gitu kan?" Ledekku.
" Hisshh. Kenapa obrolannya jadi seperti ini sih?" Tanya eomma kesal.
Aku tersenyum geli dengan reaksi eomma. Entah eomma tidak menyadari atau memang terpancing dengan pertanyaanku sehingga eomma menceritakan alasan di balik hubungan sexnya dengan appa.
" Dan appa engga ngajakin eomma untuk balikan gitu?" Tanyaku.
" Sebetulnya appamu meminta eomma untuk kembali menjadi istrinya hanya eomma yang...."
" Ya udah terima aja lah eomma. Kenapa banyak berpikir?"
" Apa menurutmu seperti itu Aidan?"
" Tentu saja." Jawabku mantap.
" Kita bisa kembali menjadi keluarga yang utuh." Tambahku.
Eomma tersenyum tanpa menjawab apakah beliau setuju atau tidak untuk kembali bersama.
" Bagaimana dengan kamu? Kapan kamu akan menikahi Cinta?" Tanya eomma yang berhasil mengalihkan fokusku.
" Segera eomma. Aidan juga berencana ingin menemui ayah sama ibunya Cinta di Indonesia."
" Oh ya? Kapan?"
" Hehe belum di tentukan tanggalnya sih baru tahap rencana di otak Aidan."
" Hei, anak eomma kok begini? Kirain udah sat set sat set gitu loh."
" Aidan masih bingung eomma."
" Tentang?"
" Sejujurnya Aidan suka tinggal di Korea, selain itu Aidan juga bisa dan have fun mengikuti pekerjaan di perusahaan tapi sepertinya Aidan lebih suka menjalani profesi Aidan dulu di Indonesia sebagai pencipta lagu."
" Memang kamu pencipta lagu Aidan?" Tanya eomma.
" Iya eomma. Di Indo pada awal tahun ini di gemparkan dengan terungkapnya identitas pencipta lagu AK. Ya itu Aidan eomma."
" AK? Maaf meski eomma tinggal di Indonesia tapi eomma tidak mengikuti infotainment. Hehe."
" Yah. Eomma seharusnya tahu bahwa kedua putra kandung eomma ini bisa sukses dan banyak duit meski mandiri." Ujarku jumawa.
" Oh ya? Lalu Jonathan bekerja sebagai apa?"
" Eomma tahu oppa J?"
Eomma menggelengkan kepalanya.
" Ya ampun penyanyi, aktor multitalent oppa J masa engga tahu? "
" Bener, eomma engga tahu dunia entertainment. Emang oppa J itu siapa?"
" Oppa J itu Jona hyung eomma."
" Oh ya? Wah anak-anak eomma sukses semua dong." Ucap eomma bangga.
" Iya dong."
" Terus yang bikin kamu bingung apa?"
" Ya justru karena itu, Aidan bingung apa Cinta mau ikut Aidan tinggal di Indonesia sebagai istri dari pencipta lagu AK yang sampai saat ini banyak di gilai perempuan di Indonesia?"
" Heiii, narsis sekali anak eomma ini. Dari mana kamu tahu kamu di gilai perempuan Indo? Kamu sendiri kan di Korea." Ucap eomma yang pada awalnya mendesis seperti mengejekku yang terlalu narsis menurutnya.
" Aidan banyak baca medsos temen-temen Aidan di Indo lah dan juga menurut medsos official agensi Aidan di sana ternyata banyak yang masih menginginkan Aidan kembali."
" Oh gitu. Terus kamu sudah pernah mencoba bicara dengan Cinta mengenai ini?"
" Ya belum sih. Hehe."
" Kalau gitu kamu harusnya coba dulu baru kamu khawatirin apa yang menjadi jawaban Cinta."
Ah ternyata memiliki seorang ibu memang berbeda. Meski appa selama ini banyak memberi nasihat tapi nasihat ibu jauh lebih membuat tenang dalam hati. Dan pastinya aku lebih bisa jujur tentang semua yang kurasakan di banding kepada appa.
...___ bersambung ___...
...
__ADS_1
...