BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 25


__ADS_3

Sesampainya di parkiran apartemen, aku menelpon Rama untuk meminta bantuan membawa Aidan ke dalam apartemenku.


" Kenapa Cinta?" Tanya Rama begitu sampai di parkiran basement apartemen.


" Aidan mabuk sampai engga sadar. Tolongin aku bawa ke unitku yah?" Pintaku padanya.


" Kenapa engga bawa ke rumahnya aja?" Tanya Rama kemudian membantuku memapah Aidan.


" Engga mungkin aku bawa ke sana Rama, yang ada nanti sandiwaraku sama Aidan kebongkar. Dia mabuk gara-gara aku...."


Ah aku hampir saja mengatakan semuanya. Untung saja aku berhenti sebelum semuanya dikatakan.


" Gara-gara aku apa?" Tanya Rama.


" Engga...  Aku.. Aku sama Aidan berantem aja salah paham." Jawabku.


Sampailah aku ke unitku. Dibaringkannya Aidan di tempat tidurku satu-satunya.


" Apa engga sebaiknya Aidan di unitku aja?" Tanya Rama.


" Gapapa udah, di sini aja. Dia kalau mabuk suka muntah, kadang mengacau juga nanti kamu jadi engga nyaman." Ujarku.


" Kamu sangat mengenal Aidan yah?" Tanya Rama seperti menyindir.


" Eoh? Oh.. Ya engga sih cuma karena pernah ngurusin dia mabuk aja." Jawabku agak gugup.


" Oh iya maaf aku jadi engga bawa makanan apa-apa. Kamu belum makan pasti yah?" Tanyaku mengalihkan perhatian Rama.


" Gapapa kok, aku juga udah makan tadi bikin ramyeon." Jawabnya.


Aku berjalan ke dapur dan meminum segelas air dingin.


" Cinta?" Panggil Rama yang tiba-tiba saja sudah ada di depanku.


" Uhuk.. Uhuk.. Uhuk..." Aku tersedak karena terkejut.


Rama membantuku menepuk bagian belakang leherku pelan.


" Hati-hati Cinta. Pelan-pelan minumnya."


" Hei.. Kamu.. Uhuk.. Kamu yang.. Uhuk.. Kamu yang ngagetin aku loh." Protesku masih sambil terbatuk-batuk.

__ADS_1


" Hehe. Maaf maaf." Ucapnya sambil membantuku menutup botol minum dan memasukkannya kembali ke kulkas.


" Aku pengen ngomong serius sama kamu Cinta. Bisa engga?" Tanya Rama padaku.


Aku mendadak menjadi khawatir sejak Rama mengatakan bahwa dia ingin bicara serius.


" Ngomong apa sih? Aku jadi deg-degan gini." Jawabku masih mencoba bercanda.


Rama tiba-tiba saja memegang kedua tanganku. Jantungku berdetak tidak karuan. Kenapa Rama melakukan hal seperti ini?


" Kamu tahu kenapa aku pergi ke Korea?" Tanyanya membuka pembicaraan yang katanya serius.


" Buat ketemu aku kan?" Ucapku bercanda. Kupikir memang dia ingin menemuiku. Tidak ada alasan khusus karena bagi orang-orang yang sultan seperti Rama, hal- hal seperti bolak balik Korea Indo bukanlah hal yg susah untuk di lakukan.


" Benar. Aku memang ke Korea untuk ketemu kamu tapi.. Lebih tepatnya aku ingin mengejar cintaku, aku engga mau kehilangan kamu lagi." ujarnya yang membuatku terkejut. Dia menyatakan perasaannya kah untukku? Apa Rama menyukaiku?


" Maksud kamu?" Ujarku kurang mengerti.


" Aku suka sama kamu Cinta. Ah bukan aku mencintai kamu Cinta."


DEGH.


Tadi siang Aidan menyatakan perasaannya dengan serius padaku dan kali ini Rama? Seseorang yang sudah ku sukai dari SMA juga ikut menyatakan perasaannya padaku? Bukankah harusnya aku suka dengan pernyataan cinta dari Rama? Bukankah artinya Rama juga mempunyai perasaan yang sama denganku? Tapi entah kenapa aku tidak merasa senang sama sekali.


" Kamu becanda Rama? Jangan ngeprank aku gitu dong." Aku masih berusaha positif thinking, jangan-jangan Rama hanya mengerjaiku. Dia kan suka seperti itu dulu. Aku melepaskan pegangan tangannya dan bersiap pergi tapi tiba-tiba saja Rama menarik lenganku dan membawaku ke dalam pelukannya. Aku terkejut sampai tidak tahu harus berbuat apa.


" Aku serius Cinta. Aku beneran suka sama kamu. Kalau engga buat apa aku jauh-jauh ke Korea buat cariin kamu? Setelah kamu pergi, aku baru menyadari perasaanku buat kamu. Kata ayah kamu pergi karena menghindariku kan? Kamu juga suka sama aku kan?" Cecar Rama.


Memang benar semua yang di katakan Rama. Aku memang menyukai dia sejak SMA bahkan sampai bangku kuliah. Dan selama itu juga aku selalu melihat Rama bergonta ganti pacar. Dia selalu memamerkan pacarnya padaku tanpa tahu bahwa aku terluka setiap kali dia melakukan hal itu. Dan saat ada kesempatan untukku bekerja di perusahaan asing, aku langsung saja mengambilnya tanpa banyak berpikir lagi. Kupikir aku akan bisa melupakan Rama jika aku tidak ada di sekitarnya. Tapi ternyata aku masih kesulitan dengan itu bahkan ketika aku telah menghapus kontak lamaku dan benar-benar menghilang dari kehidupan Rama. Untuk menetralisir perasaanku saat itu, aku memfokuskan diri hanya pada karir. Dan bersyukur saat ini karirku sangat bagus di STAR FOOD, tapi selama itu pula aku belum pernah berpacaran.


Dan saat ini saat hatiku mulai goyah dengan Aidan, Rama datang lagi membawa kalimat cinta yang dari dulu ku impikan. Mungkin kalau dulu aku akan langsung menerimanya. Tapi.. Aku bahkan tidak mengerti perasaanku padanya sekarang. Apakah aku masih menyukai Rama? Atau aku malah menyukai Aidan? Kenapa sulit sekali untuk mengatakan bahwa aku menerima perasaan Rama?


Rama melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahuku. Dia menatap mataku intens.


" Hai? Aku beneran suka sama kamu Cinta. Kamu mau jadi pacarku?"


Aku makin tidak bisa menjawab saat Rama benar-benar bertanya apakah aku mau jadi pacarnya.


Dan lebih membuat terkejut lagi saat tiba-tiba saja kulihat Aidan sudah berdiri di belakang Rama dengan mata yang berkaca-kaca.


" Aidan?" Panggilku yang kemudian melepaskan diri dari Rama dan mendekatinya.

__ADS_1


Aidan membuang pandangannya dariku.


" Aidan? Loe jangan salah paham." Ucapku tanpa sadar mengatakan itu. Aku memegang lengannya tapi Aidan langsung melepaskan diri dariku.


" Gue pulang dulu." Ucapnya dingin kemudian berjalan gontai meninggalkanku. Aku menangkapnya saat dia tiba-tiba saja limbung dan nyaris jatuh.


Saat sudah berdiri dia segera menepis lagi tanganku.


" Loe mau kemana Aidan?" Tanganku reflek mencegah Aidan pergi tapi sekali lagi Aidan menepis tanganku dan dia segera pergi meninggalkanku tanpa bisa ku cegah lagi.


Aku merosot ke lantai saat Aidan sudah menghilang di balik pintu. Mataku sudah mulai berkaca-kaca. Entah kenapa aku bodoh sekali tidak mengejar Aidan padahal aku ingin mengungkapkan semua hal yang kurasakan padanya meski aku belum tahu apakah perasaan ini adalah cinta.


Aku sampai lupa bahwa Rama ada di sini bersamaku. Kutahan sekuat tenaga agar tidak menangis.


Rama mendekatiku dan membantuku berdiri.


" Kamu menyukai Aidan?" Tanya Rama padaku.


Aku menggelengkan kepala bermaksud menjawab aku tidak tahu perasaanku sebenarnya pada Aidan. Tapi entah kenapa untuk berkata pada Rama pun bibirku tidak mampu mengucapkannya.


Melihat wajahku yang gelisah, Rama segera menarikku dalam pelukannya dan itu malah membuatku jadi terisak.


" Udah, udah. Kamu tenangin diri dulu." Ucap Rama sambil menepuk-nepuk punggungku lembut.


Setelah tenang, Rama membawaku duduk di sofa. Dia membawakan segelas air untukku.


" Minum dulu biar kamu lebih tenang." Ujar Rama yang langsung ku turuti tapi aku hanya meminum seteguk saja.


" Maaf Rama, kamu jadi ngeliat aku dalam keadaan kaya tadi. Kamu pasti juga khawatir kan?"


Rama hanya tersenyum.


" Mengenai perasaanmu tadi..."


Aku ragu untuk berterus terang dengan semua yang kurasakan sekarang.


" Kamu engga perlu jawab sekarang kalau kamu belum siap." Ucap Rama.


Akhirnya aku mengurungkan niatku untuk jujur pada Rama. Dan setelahnya Rama tetap mengurusiku tanpa banyak bertanya. Saat kusuruh dia kembali ke unitnya, dia bahkan bilang bahwa dia akan menungguku sampai tertidur baru dia akan kembali ke unitnya.


...___ bersambung___...

__ADS_1


__ADS_2