BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 12


__ADS_3

" Cinta? Narang sagwillae?"


Entah ide aneh macam apa yang tiba-tiba saja terlintas di otakku ini? Mendengar Cinta mengatakan bahwa jatuh cinta adalah obat paling mujarab untuk patah hati, ide seperti itu terlintas saja di pikiranku. Lagipula tidak banyak wanita di sekitarku selama ini. Dan bukankah Cinta adalah pilihan terbaik? Walaupun baru hitungan jari mengenalnya tapi aku sudah menciumnya dua kali. Aku sudah mengambil ciuman pertamanya juga. Dan satu hal lagi bahwa dia memang pacarku meski hanya di depan teman-teman kantor.


Cinta langsung menarik tangannya dariku.


" App..apa loe bilang?" Tanyanya gugup.


Aku malah jadi ikutan gugup sendiri. Aku mengusap-usap tengkukku untuk mengurangi rasa gugup.


" Iya, loe mau jadi pp..pacar beneran gue engga?" Tanyaku sekali lagi sambil terbata-bata.


" Haha ( tertawa tak lepas )"


" Kenapa loe malah ketawa?" Tanyaku yang merasa aneh dengan respon dari Cinta. Apakah orang yang belum pernah pacaran responnya akan seperti ini?


" Ya.. Ya maksud gue bilang untuk membuka hati buat cewe lain itu bukan gue juga cewenya." Jawabnya.


" Wae? " Tanyaku.


" Ya, kenapa harus gue?" Protesnya sengit.


" Emang loe engga pengen minta pertanggung jawaban gue apa?"


" Pertanggung jawaban apa?"


" Ya first kisseu loe itu."


" Ah udah udah jangan ngaco deh loe. Udah buruan lanjutin makan sama kerjaannya. Kita di deadline besok loh." Akhirnya Cinta mengakhiri aksi penembakan ini. Ahh aku di tolak mentah-mentah ternyata. Lagian emang ada-ada saja sih ide konyol yang terlintas di pikiranku.


" Ya udah deh."


Akhirnya aku menyerah juga kemudian mengambil laptop dan naengmyeon yang tadi sempat ku singkirkan.


Cinta juga kulihat melanjutkan makan dengan cuek. Memang yah si Cinta ini terbuat dari apa sih hatinya? Bisa-bisanya dia tidak canggung sama sekali padaku. Ya mungkin memang dia sama sekali tidak ada perasaan apa-apa padaku. Eh tapi dipikir-pikir bukankah aku juga tidak ada perasaan pada Cinta? Tapi kenapa aku sangat canggung jika terlibat skinship dengannya?


" Loe yakin engga nyesel Cinta?" Tanyaku di sela-sela makan.


" Nyesel kenapa?" Tanyanya.


" Gue anak sajangnim loh. Gue ganteng, multi talent, gue juga artis loh kalo di Indo."


" Ya terus?"


" Loe yakin engga mau jadi pacar gue beneran?"


Cinta menghela napas kemudian tertawa tak lepas.


" Hahahaha.. Loe ngelawak, becanda apa ngeledekin gue sih? Udah dong masih bahas hal kaya gini aja. Intinya gue belom pengen pacaran sekarang."


" Berarti ada kesempatan dong. Kasih tahu gue ya kalo loe udah pengen pacaran."


Cinta menatapku aneh. Ya memang aneh sih, aku tidak memiliki perasaan apa-apa pada wanita di depanku ini tapi aku malah memaksanya menjadi pacarku. Dipikir memakai logika juga terdengar aneh kan?


" Aidan?" Panggilnya yang terdengar serius.


" Eoh? Loe berubah pikiran?"


Cinta menggelengkan kepalanya.


" Bukan. Gue cuman mau kasih tahu kalau loe mau move on jangan buru-buru. Yang penting niat loe dulu untuk harus lepas dari dia. Untuk menjalin hubungan baru lebih baik jangan dulu. Ini bukan karena gue nolak loe atau gimana, tapi alangkah lebih baiknya loe harus lepas masa lalu loe dulu sebelum loe melangkah di cinta yang baru. Loe sendiri pernah rasain gimana rasanya menjalin hubungan sama orang yang belum selesai dengan masa lalunya kan? Ya itu berlaku juga untuk seseorang di masa depan loe."


Ah betul juga apa yang Cinta bilang.


" Tapi loe mau kasih gue kesempatan engga?"

__ADS_1


Cinta kulihat menghela napas lagi. Dia juga sepertinya gemas dengan kelakuanku.


" Ya maksud gue engga sama gue juga Aidan." Jawabnya geregetan.


" Hahaha nongdam nongdam (*bercanda bercanda). " Jawabku sambil tertawa padahal sebenarnya aku merasa kecewa. Bukan karena aku menyukainya tapi di tolak melainkan karena kenapa aku di tolak mentah-mentah oleh Cinta? Apa yang kurang dariku coba? Selama ini bahkan cewe-cewe selalu kelepek-kelepek denganku, dengan ketampananku. Terlebih kalau tahu pekerjaanku dan talentaku. Tapi si Cinta? Bahkan sudah dua kali ku cium tapi dia sama sekali tidak baper. Loh loh kenapa malah aku jadi memikirkan Cinta terus sih? Jangan sampai yah kalau aku yang jadi bucin sama Cinta? Bukan tidak mau tapi melihat respon Cinta yang seperti itu, aku tidak mungkin mencoba membuka hatiku untuk Cinta. Lebih baik aku cari wanita lain saja.


Akhirnya aku dan Cinta menyelesaikan makan sambil mengerjakan desain. Sudah seperempatnya selesai dan kulihat jam menunjukkan pukul 4 sore.


" Loe udah selesai makan kan? Kita balik ke kantor yuk." Ajak Cinta.


" Ne, chagiya." Godaku sambil mengulum senyum. Aku juga tidak menatapnya saat mengucapkan itu, aku tahu dia pasti akan mencak-mencak kalau kupanggil 'Chagiya'. Tapi menggodanya lumayan menyenangkan. Hehehehe.


Aku merapikan Laptopku, menyimpan file yang tadi kukerjakan sebelum menutupnya. Dan akhirnya aku dan Cinta kembali ke kantor.


...***...


Sampai di kantor beberapa orang terlihat memperhatikanku dan Cinta. Ah meski sudah melakukan langkah pencegahan tetap saja beritanya pasti sudah bocor. Haruskah kucari tahu siapa pelakunya?


" Aidan_ssi?"


Terdengar suara seseorang memanggilku. Aku menoleh dan mendapati Ahn biseo berjalan ke arahku.


" Ah Ahn biseo nim? Musseun il isseo?"


" Sajangnim mencari anda."


" Eoh? Saya?"


" Iya. Dengan Cinta juga."


" Saya juga?" Cinta terkejut karena bukan hanya aku yang di panggil tapi juga dia. Jelas saja kami berdua berpikir aneh dong. Apakah masalah ciuman itu bahkan sampai ke telinga Appa? Wah memang parah yah staff humas, sudah ku ancam tetap saja beritanya menyebar. Batinku.


" Ne."


Aku dan Cinta saling melempar pandangan seolah tahu pikiran masing-masing. Kami mengekori Ahn biseo menuju ruangan Appa dengan perasaan takut.


" Sajangnim? Aidan dan Cinta sudah ada di sini."


" Suruh mereka masuk."


Aku dan Cinta pun akhirnya masuk. Ku lihat appa menutup dokumen di hadapannya dan segera berdiri dari tempat duduknya. Appa berjalan ke arah sofa dan mempersilahkan kami berdua untuk duduk.


" Appa kenapa panggil kita berdua?" Tanyaku langsung tanpa basa basi.


" Kamu sewot sekali Aidan. Kamu tidak suka appa panggil ke sini?"


" Ya bukannya gitu appa. Appa butuh klarifikasi dari Aidan?" Tanyaku.


" Klarifikasi apa memangnya?" Tanya Appa dengan wajah bingung.


Wah, kenapa respon appa seperti itu? Jangan-jangan appa memang belum tahu.


" Oh... Eng... engga." Jawabku salting.


" Memang appa panggil kita berdua karena apa?" Sambungku cepat untuk mengalihkan perhatian appa.


" Appa cuma mau ucapin terima kasih dan selamat sama Cinta atas proyek iklannya dengan BTS. Dan appa mau ucapin terima kasih juga karena bersedia mentorin kamu di perusahaan."


" Ne, Sajangnim, anda tidak perlu sampai seperti ini. Saya memang melakukan sesuai kewajiban saya di kantor." Jawab Cinta merasa canggung.


Aku tahu dia takut kalau sampai berita pacaran bohongan kita ternyata sampai ke telinga sajangnimnya alias appa ku.


" Appa? " Panggilku.


" Ya."

__ADS_1


" Kalau Aidan punya pacar kira-kira appa akan terima engga?"


Cinta menoleh cepat ke arahku. Aku tahu dia pasti merasa khawatir dengan kata-kataku. Aku tahu dan aku hanya mengulum senyum. Menggoda Cinta memang menyenangkan. Aku bahkan jadi kecanduan menggodanya. Hehehe.


" Kenapa kamu senyum-senyum gitu Aidan? Kamu sudah punya pacar memangnya?" Tanya Appa yang jelas tambah membuat Cinta khawatir.


" Kalau loh appa kalau. Kalau Aidan punya pacar, appa engga akan interupsi seperti apa wajahnya atau latar belakangnya kan?" Ucapku sambil melirik pada Cinta.


" Kamu suka sama seseorang memangnya?" Tanya Appa menyelidik.


" Aidan nembak cewe tapi engga di terima. Hahaha."


Cinta salah tingkah karena celetukanku.


" Ah jinjja?" Tanya Appa tak percaya.


" Iya appa beneran."


" Siapa wanita itu? Siapa wanita yang bisa nolak anak appa ini? Secantik apa memangnya?"


Cecaran pertanyaan Appa semakin membuat Cinta merasa gugup. Dia bahkan kulihat meremas kemejanya sendiri. Aku benar-benar menahan untuk tidak tertawa.


" Ah kamu pasti bohongin appa kan?"


" Bener kok appa, Aidan serius. Cewe itu cantik banget tapi dingin kaya kulkas, agak galak juga."


Appa mengernyitkan dahi.


" Kok wanita seperti itu kamu suka? kamu pasti bohong kan? Kamu pasti sedang menggoda appa kan?"


" Engga appa, beneran deh. Justru itu yang bikin Aidan penasaran sama dia. Aslinya cewe itu care kok."


" Jadi appa akan setuju setuju aja kan dengan siapapun pacar Aidan nanti?" Tanyaku sekali lagi pada appa.


" Appa setuju saja siapapun pilihan kamu asal dia wanita baik-baik dan bukan milik seseorang."


Aku menoleh ke arah Cinta mengisyaratkan bahwa appa bukanlah persoalan jika dia mau menerimaku untuk jadi pacarnya. Entahlah kenapa aku jadi sangat berusaha membuat Cinta jadi milikku. Mungkinkah aku benar-benar menyukainya secepat ini?


" Oh iya appa, Aidan ada deadline kerjaan besok, mungkin Aidan lembur nanti malam dan...


" Ah matta. Kamu semalam tidak pulang, kemana?" Tanya appa yang langsung membuatku diam seketika.


Bagaimana aku harus menjawab ini? Aku tidak mungkin bilang kalau aku menginap di apartemen Cinta kan?


" Semalam ada makan malam tim sajangnim dan Aidan mabuk berat. Karena semua rekan juga mabuk dan saya sama sekali tidak tahu alamat anda, bahkan ketika saya menelpon Ahn biseo pun tidak di angkat, makanya saya memutuskan untuk memesankan hotel untuk Aidan."


Cinta tiba-tiba saja menjawab apa yang harusnya kujawab. Tapi syukurlah Cinta membantuku. Karena jujur saja tadinya aku bingung akan menjawab apa.


" Waaahh sekali lagi saya berterima kasih padamu Cinta. Aidan pasti sangat merepotkanmu yah?"


" Ah tidak sajangnim."


" Aidan? Kalau wanita yang kamu sukai seperti Cinta, appa pasti akan setuju. Hehehe."


Kali ini bahkan appa pun mendukungku meledek Cinta hahaha. Mukanya sudah sangat memerah kulihat.


" Maafkan saya ya Cinta. Saya hanya bercanda." Ucap Appa sambil tertawa.


" Ah, ne gwaenchanseumnida sajangnim." Ucap Cinta sambil tersenyum paksa.


Kurasa sudah cukup aku menggoda Cinta. Dia pasti akan mencak-mencak nanti di ruang kerja. Ah baru memikirkannya saja sudah membuatku senyum-senyum.


" Baiklah. Aidan sama Cinta mau lanjut kerja dulu appa. Kita permisi. Kajja Cinta."


Ucapku yang kemudian menggandeng tangan Cinta tanpa sadar. Dan Cinta langsung menarik tangannya dariku. Kulihat Appa juga memperhatikan tingkahku. Ah kalau appa peka pasti dia tahu keakrabanku dengan Cinta sekarang.

__ADS_1


...___bersambung____...


__ADS_2