BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 6


__ADS_3

Aku terbangun dan mendapati diriku di tempat yang sangat asing. Aku mencoba duduk dan memegangi kepalaku yang terasa sakit sekali. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dan kudapati seseorang tengah tertidur di sofa.


Aku bangkit dari tempat tidur dan kuhampiri orang itu.


" Cinta?" Panggilku pelan. Bukan memanggil sih lebih tepatnya menebak.


" Ini rumahnya cinta apa gimana yah?" monolog ku sambil memegangi kepalaku yang masih terasa sakit.


Aku bergegas berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Rumah tipe studio ini ternyata memudahkanku untuk menemukan dapur. Ku ambil gelas yang tergeletak di atas kabinet kemudian membuka kulkas kecil di sebelahnya dan menuangkan segelas air dingin dari botol.


Glek, glek, glek..


Aku meneguk air sambil menengadahkan kepala. Dan aku meneguknya sampai habis.


" Ahhhh." Desahku yang merasa lega karena tenggorokanku sudah basah oleh air.


" AAAAAAAA." Aku berteriak kencang sambil terlonjak kaget saat tiba-tiba ku lihat Cinta sudah berdiri tepat di depanku dengan penampilan yang acak-acakan. Bahkan terlihat seperti kunti dengan mata yang setengah terpejam dan rambut yang tergerai acak-acakan. Ditambah lagi dia menggunakan baju tidur berwarna putih.


" CINTA LOE NGAPAIN DANDAN KAYA KUNTI GITU?" Teriakku spontan padanya.


Aku sampai beringsut duduk di atas kabinet dapur di belakangku sambil mengangkat kaki saking takutnya.


" Loe udah sadar?" Tanyanya lemas menahan kantuk kelihatannya.


" Denger teriakan loe kayanya sih udah sadar. Kita tukeran tempat tidur." Ucapnya yang kemudian ngeloyor pergi menuju ranjang dan menjatuhkan dirinya di situ. Kulihat dia langsung tertidur begitu tubuhnya menyentuh kasur.


Aku mendekatinya. Ku goyangkan tubuhnya karena aku ingin bertanya.


" Cinta? Ini rumah loe?"


" Hemm." Jawabnya malas.


" Loe yang bawa gue ke sini?"


" Hemm." Jawabnya lagi dengan singkat.


" Loe bawa gue sendirian?"


" Hemm." Dia menjawab seperti itu lagi.


" Kenapa loe engga...."


" YAK SHUT UP SEKIYA (* YAK DIAM BRENGSEK.)" Umpatnya keras padaku.


Gila ini cewe benar-benar menyeramkan. Aku sampai terdiam di bentak olehnya.


" Gue kan cuma..."

__ADS_1


Cinta langsung terbangun saat aku mulai bertanya lagi.


" AIDAN LOE BISA DIEM ENGGA? GUE BARU BISA MEREM GARA-GARA NGURUSIN MABOK LOE ITU TAHU."  Omelnya padaku lebih kepada berteriak.


" Ya sorry. "


Akhirnya aku meninggalkannya dan bertukar posisi tidur. Aku menuju sofa yang tadi sempat dipakai Cinta untuk tidur.


Saat baru merebahkan diriku di sofa tiba-tiba saja aku teringat kejadian saat mabuk tadi.


Aku langsung melongo kemudian menepuk dahiku sendiri.


" Wahh. Pantesan aja Cinta ngamuk sama gue. " Gumamku pelan sekali bahkan sampai tidak terdengar.


Aku langsung bangun dan menoleh pada Cinta yang terlihat tertidur pulas dengan posisi yang menurutku kurang nyaman. Aku menghampirinya kemudian membetulkan posisi tidurnya. Ku angkat pelan tubuh Cinta dan meletakkan kepalanya di bantal serta meluruskan kakinya yang tadi meringkuk dengan sangat hati-hati.


" Sorry Cinta and thank's buat bantuannya." Ucapku dengan sangat pelan karena takut membangunkan Cinta yang terlihat sangat lelap.


Kupandangi wajahnya yang terbilang cantik bahkan saat tidur. Tiba-tiba saja sesuatu di wajahnya menarik perhatianku. Aku mengambil tisu di meja depan kemudian kembali mendekati Cinta. Aku berjongkok di depannya sambil mengulum senyum, mengulurkan tanganku yang memegang tisu kemudian mengelap air liur yang ada di samping bibir sampai ke pipinya dengan pelan.


" Gila loh Cinta, gue baru kali ini ngelap iler orang chhhh ( menahan tawa )"


Seketika aku merasa dejavu dengan apa yang kulakukan.


Aku menyusuri wajah Jessica dengan tangan.


Begitulah pertama kali aku mengakui perasaanku pada Jessica. Aku mengakuinya saat dia tertidur. Pengecut kan?


Seketika aku langsung menarik tanganku dari wajah Cinta. Aku sadar selalu melihat Cinta sebagai Jessica. Akhirnya aku berdiri meninggalkan Cinta dan kembali ke sofa untuk melanjutkan tidur.


...***...


Pagi harinya aku terbangun saat alarmku berbunyi kencang. Aku mencari-cari ponselku untuk mematikan alarm itu. Aku meraba-raba ke samping tapi tidak ada nakas, aku langsung teringat bahwa aku saat ini bukan berada di rumah melainkan di apartemen Cinta.


Aku langsung bangun dari tidur mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan mencari ponselku yang masih berisik.


" Loe udah bangun?" Tanya Cinta yang kulihat sedang membawa panci entah berisi apa kemudian meletakkannya di meja makan.


" Loe liat Hp gue?" Tanyaku sambil menggaruk-garuk leher dan belakang kepala.


Dia mengambil ponselku dari nakas kemudian melemparkannya padaku. Beruntung aku berhasil menangkapnya.


" Pelan-pelan Cinta. Hp gue baru beli sebulan yang lalu kalau sampai rusak loe mau ganti?" Omelku padanya yang sering melemparkan barang kepadaku.


" Iya sorry."


" Buruan loe bangun, cuci muka kek, mandi kek, tuh iler loe kemana-mana." Suruhnya.

__ADS_1


Aku langsung menahan tawa begitu mendengar kata iler. Aku berdiri kemudian mendekatinya sambil mengulum senyum sementara dia memandangiku dengan tatapan bingung.


" Kenapa loe senyum-senyum? Loe masih mabok?" Tanyanya.


" Engga."


Aku mendekatinya, niatnya sih mau langsung ke kamar mandi tapi sebelumnya aku akan mengusilinya dulu. Aku mendekatinya kemudian membisikkan sesuatu pelan tepat di telinganya.


" Gue tidur engga ngiler Cinta, yang ada gue ngelap iler loe semalem."


Kulihat Cinta terkejut. Dia melotot kemudian menoleh cepat ke arahku. Sialnya aku lambat menghindar malah akhirnya kejadian kemarin terulang lagi. Pandangan kami saling bertemu dan itu membuat jantungku tiba-tiba berdetak tak karuan. Anehnya tidak satupun dari kami yang berusaha melepaskan tatapan kami ini. Entah aku ataupun Cinta sama-sama mematung menatap mata masing-masing.


Entah apa yang mendorongku, tapi tiba-tiba saja ada rasa ingin semakin mendekatinya. Otakku masih berperang antara diam atau mendekatinya saja?


Akhirnya kudekatkan lagi wajahku padanya. Aku mulai tertarik melihat bibirnya yang berwarna pink natural dan kurasa dia sudah menggunakan lipbalm karena bibirnya terlihat sedikit mengkilap. Cinta tidak mundur sama sekali bahkan ketika ku dekatkan bibirku pada bibirnya. Benarkah aku ingin menciumnya? Tapi bibirnya benar-benar membuatku gemas. Apalagi sekarang dia membuka sedikit bibirnya dan mulai memejamkan mata. Semakin ku dekatkan bibirku dan akhirnya tersentuhlah bibir pinknya oleh bibirku.


Awalnya aku hanya ingin mengecup tapi dengan posisi bibir Cinta yang membuka menantangku untuk melakukan lebih. Ku ***** bibir atas dan bawahnya bergantian. Cinta tidak membalas ciumanku sama sekali, dia malah berdiri kaku, kurasakan dari tubuhnya yang menegang saat aku memegangnya dengan kedua tanganku.


Kupindahnya tanganku menyentuh kedua pipinya. Kuberanikan diri memasukkan lidahku ke dalam mulutnya. Kususuri seluruh rongga mulutnya dan kucari lidahnya menggunakan lidahku.


Entah Cinta ini belum berpengalaman berciuman atau memang dia tidak mau meresponku? Cinta sama sekali tidak membalas ciumanku dan aku merasa seperti seseorang yang ingin memperkosa seorang wanita. Mencium brutal tanpa adanya balasan. Akhirnya ku lepaskan ciumanku padanya. Kulihat Cinta masih memejamkan matanya. Aku langsung ngeloyor pergi ke kamar mandi setelah sebelumnya aku mengucapkan kata maaf karena sudah berani menciumnya seintens tadi.


" Maafin gue Cinta."


Saat di kamar mandi, aku langsung menyesali diri sendiri yang bisa-bisanya mencium Cinta begitu saja.


" Ah michin namja Aidan (* ah cowo gila loe Aidan). Loe tadi ngapain sih?" Rutukku pelan takut terdengar oleh Cinta dari luar.


" Haduh gue harus gimana dong nanti? Isshhh gila banget sih loe Aidan sampai kepikiran cium Cinta segala. Gue mau jelasin apa nanti sama dia? Masa iya gue bilang gue masih mabok? Ahhhhhh." Aku frustasi sendiri karena situasi tadi.


Aku memutuskan untuk segera mandi karena tidak mungkin aku berlama-lama di dalam sini. Yang ada Cinta malah curiga kan?


Selesai mandi aku keluar dengan rasa canggung. Kulihat Cinta sudah duduk di kursi makan.


" Cepat makan sup pereda pengarnya!" Ucapnya dengan nada seperti biasa.


Aku tersenyum canggung. Aku berpikir, kenapa Cinta masih seperti biasa? Dia tidak ada rasa canggung sepertiku. Lalu ciuman tadi tidak berefek apapun padanya? Seharusnya aku senang kan karena Cinta tidak membahas ciuman tadi? Tapi kenapa aku malah merasa sedikit kecewa?


" Cepat, nanti kita telat ke kantor." Ucapnya sekali lagi yang akhirnya langsung ku turuti.


Aku memakan sup pereda pengar yang di buatkan Cinta. Aku memakannya pelan sambil sesekali melirik ke arah Cinta yang memang sama sekali tidak bergeming dari makannya. Melirik padaku pun tidak. Dia benar-benar seperti seorang Cinta yang ku kenal, dingin seperti kulkas. Ah apa aku sendirian saja yang merasa baper dengan ciuman tadi?


Sampai selesai makanpun, Cinta tidak membahas sedikitpun tentang ciuman kami. Jadi bukankah akan aneh jika aku tiba-tiba saja bertanya atau meminta maaf tentang ciuman tadi? Sementara Cinta sama sekali tidak membahasnya.


Akhirnya aku memutuskan untuk diam saja selagi Cinta tidak bertanya. Kami pun segera berangkat ke kantor setelah merampungkan sarapan.


...__ bersambung__...

__ADS_1


__ADS_2