BUKAN CINTA IMPIAN

BUKAN CINTA IMPIAN
Chapter 36


__ADS_3

Aku dan Cinta sampai di apartemen. Ketika kami baru saja masuk ke dalam, bahkan pantatku pun baru saja terhempas di sofa, suara bel apartemen Cinta berbunyi.


Cinta yang tadinya sedang mengambilkan minum untukku terpaksa berbalik dan membukakan pintu.


" Rama?"


Kudengar Cinta menyebutkan nama Rama. Aku langsung menoleh ke arah pintu. Dan begitu terkejutnya aku saat Rama tiba-tiba saja menghambur ke dalam pelukan Cinta. Aku spontan berdiri dan menghampiri mereka.


Kulepaskan kasar pelukannya dari kekasihku.


" LOE APA-APAAN BERENGSEK?" Makiku sambil menarik kasar Rama sampai pelukannya terlepas dan tubuh Rama menghantam pintu apartemen.


" Aidan." Cinta memekik sambil menghalangiku yang sudah bersiap menghajar Rama yang telah terjatuh.


Kulihat Rama berdiri dan menatapku tajam, demikian juga denganku yang memberikan tatapan yang tak kalah tajamnya.


" Loe ngapain ada disini?" Tanya Rama padaku yang membuatku jadi mulai kesal lagi.


Aku tersenyum miring karena pertanyaannya.


" Kenapa loe disini? Engga kebalik pertanyaan itu? HARUSNYA GUE YANG TANYA NGAPAIN LOE DATENG KE RUMAH CEWE GUE HAH?" Teriakku padanya yang langsung di tenangkan oleh Cinta. Dia mengusap-usap dadaku.


" Sudah Aidan. Jangan berteriak, pintunya terbuka. Lebih baik masuk dulu ayo."


Cinta membawa kami berdua masuk. Meski tak suka dengan kehadiran Rama tapi aku tetap mendengarkan perkataan Cinta.


Rama duduk di sofa satu-satunya milik Cinta sementara aku dan Cinta berdiri di hadapannya.


" Loe ngapain kesini? Pakai acara peluk-peluk cewe gue segala lagi." Tanyaku kembali dengan nada kesal.


" Cinta adalah sahabat gue. Gue yang lebih dulu kenal dia daripada loe. Pelukan kaya gini udah biasa buat kita." Jawabannya malah membuatku semakin kesal.


" Sebelum Cinta jadi cewe gue mungkin pelukan itu biasa. Tapi setelah jadi cewe gue, gue engga akan membiarkan laki-laki lain menyentuh dia selain gue. Apalagi orang kaya loe."


" Orang kaya gue? Maksud loe apa hah?


" Iya orang kaya loe yang udah ngerebut eomma gue."


Rama berdiri dan menghampiriku. Dia menatapku tajam.


" Denger baik-baik ya AIDAN. Bukan gue yang ngerebut eomma loe, tapi eomma loe yang ninggalin loe." Ucapnya mengejek yang membuatku benar-benar muntab.


" DIA YANG NINGGALIN ANAK-ANAKNYA DEMI GUE DAN BOKAP GUE." Teriaknya padaku yang langsung kuhadiahkan pukulan keras di wajahnya.


BUGH.

__ADS_1


Rama terpental ke belakang. Dia menoleh ke arahku dan bersiap membalas pukulanku padanya.


Naas saat dia melayangkan tinjunya justru Cinta yang terkena pukulan Rama.


BUGH.


Cinta sampai menabrak tubuhku keras saking kuatnya pukulan Rama mengenai wajah Cinta.


Cinta sudah hampir merosot ke lantai jika saja aku tidak menahan tubuhnya.


" Sayang kamu gapapa?" Tanyaku cemas melihat ada sedikit darah di sudut bibirnya.


" Gapapa Aidan, ini cuma perih sedikit." Jawabnya.


Aku langsung menoleh cepat pada Rama yang sudah berjongkok di depan kami dan meminta maaf dengan wajahnya yang khawatir.


" Cinta maafin aku. Aku engga sengaja mukul kamu." Ujarnya sambil mengulurkan tangan, mencoba menyentuh tubuh Cinta. Kutepis kasar tangannya sebelum dia sempat menyentuh wanitaku.


" LOE ENGGA PERLU PEGANG-PEGANG BERENGSEK!" Bentakku marah.


" GARA-GARA LOE...."


" Aidan please udah." Potong Cinta atas kalimatku.


" Tapi sayang, dia juga udah pukul kamu." Jawabku.


" Maafin aku Cinta." Ucap Rama pada Cinta.


" Udah Rama gapapa. Ini cuma perih sedikit kok." Balas Cinta yang berusaha berdiri di bantu olehku.


Ku dudukkan Cinta di sofa sementara Rama kulihat pergi mencari sesuatu yang tak lama setelahnya kembali dengan menenteng kotak P3K. Aku langsung merebut kotak itu dari tangannya dan segera mengobati luka Cinta.


Setelah selesai mengolesi salep di sudut bibir Cinta, aku kembali teringat dengan Rama.


" Loe lebih baik pulang aja deh. Loe itu cuma bawa petaka buat gue dan orang-orang di sekitar gue." Ucapku nyelekit.


" Aidan? Aku mohon berhenti." Ucap Cinta menyuruhku untuk kesekian kalinya.


" Cinta? Maafin aku yah." Rama tak mengindahkan perkataanku malah terus meminta maaf pada Cinta.


" Udah aku bilang gapapa." Jawab Cinta.


Tiba-tiba saja Rama meneteskan air mata. Awalnya aku tidak melihat karena terlalu fokus pada Cinta, tapi Cinta yang lebih awal menyadarinya, dia melihat pada Rama intens dan merasa khawatir pada bocah itu sehingga mau tidak mau aku ikut menoleh padanya.


" Rama? Aku gapapa kok. Engga perlu sampai nangis...."

__ADS_1


" Maaf, aku minta maaf." Potong Rama dengan suara yang terdengar bergetar. Dia kemudian mengelap kedua sudut matanya kasar.


" Gue juga minta maaf sama loe Aidan."


Mendengar kata-katanya aku jadi fokus pada Rama bahkan melupakan kekesalanku tadi.


" Mungkin yang loe bilang bener, gue emang bawa petaka bagi semua orang. Buat Cinta, buat loe, keluarga loe bahkan mama Liana." Sambungnya dengan sekuat tenaga menahan air matanya.


" Rama?" Cinta mendekati Rama dan anehnya aku membiarkannya saja. Cinta berdiri tepat di depannya dan Rama malah menunduk dan merosot ke lantai, dia berlutut entah kepada siapa. Cinta menahan tubuh Rama agar berdiri. Aku yang semula ingin menahan Cinta untuk tidak membantu Rama pun mengurungkan niat saat mendengar permintaan maaf Rama sekali lagi untukku. Bahkan kini dia mulai terisak.


" Maafin gue Aidan. Maafin gue udah nahan eomma loe. Kalau loe jadi gue, loe mungkin juga akan melakukan hal yang sama."


" Maksud loe apa Rama?" Tanyaku yang bingung dengan apa yang Rama bicarakan.


" Sejak lahir gue di asuh baby sitter karena nyokap gue depresi akibat kelakuan bokap gue yang sering bawa perempuan ke rumah sampai akhirnya nyokap gue bunuh diri. Bokap gue juga engga pernah sekalipun perhatian. Baginya gue hanyalah aset sebagai penerus perusahaan yang memang pada dasarnya adalah milik keluarga nyokap gue. Gue tertekan berada di rumah itu sampai akhirnya menginjak usia 6 tahun datanglah mama Liana, satu-satunya wanita calon ibu tiri gue yang sangat lembut sampai gue nyaman bersama dia. Gue bahagia saat akhirnya mama Liana menikahi bokap gue dan resmi menjadi ibu buat gue. Saat itu gue benar-benar merasakan kasih sayang yang belum pernah gue rasain sejak lahir. Bahkan sampai akhirnya mereka berpisah pun, mama Liana sama sekali engga ninggalin gue. Di dunia ini cuma eomma loe dan Cinta yang tulus sayang sama gue. Dan jujur gue iri karena kedua orang itu adalah milik loe. "


Aku menatap iba setelah mendengar penjelasan Rama. Bahkan aku tidak lagi cemburu saat melihat Cinta membawa Rama dalam pelukannya. Aku tahu Cinta hanya sedang menenangkan sahabatnya itu.


" Bahkan aku mencintaimu Cinta tapi aku harus ikhlas kamu memilih Aidan. Tapi haruskah aku juga mengembalikan eomma nya Aidan? Lantas aku harus bersandar pada siapa?"


Cinta menepuk-nepuk lembut punggung Rama. Sementara hatiku terasa agak nyelekit mendengar curahan hatinya. Bocah ini bahkan tidak lebih baik dariku. Penderitaannya bahkan lebih dari penderitaanku yang di tinggalkan eomma. Setidaknya aku tumbuh dalam keluarga yang bahagia meski tidak lengkap. Sedangkan Rama hidupnya penuh tekanan.


Ting Tong....


Suara bel apartemen Cinta kembali berbunyi. Aku menoleh ke pintu dan segera berjalan untuk membukanya. Dan saat membuka pintu ternyata eomma dan appa yang berdiri di balik pintu ini.


" Eomma?" Panggilku tanpa sadar.


Mata eomma langsung tertuju pada Rama yang berada di pelukan Cinta. Eomma sudah hampir menghampirinya. Terlihat jelas bahwa eomma mengkhawatirkan putra tirinya itu tapi kali ini beliau lebih memilih mengalihkan pandangannya padaku. Eomma seperti meminta ijin untuk menenangkan Rama.


" Masuklah! Tenangkan dia, eom.. Eomma." Ucapku ragu untuk memanggilnya dengan sebutan eomma.


Eomma terkejut mendengar panggilanku. Bukankah itu berarti aku memaafkan eomma?


" Gomawo adeul." Ucapnya sambil memegangi kedua pipiku, matanya terlihat berkaca-kaca namun bibirnya menarik senyum. Aku melepaskan tangannya dari pipiku.


" Tenangkan dulu putramu Rama." Ujarku berbesar hati. Aku yakin Rama memang butuh eomma untuk menenangkannya.


Eomma menganggukkan kepala kemudian berlari mendekati Rama yang sudah melepaskan diri dari pelukan Cinta.


" Masuklah appa!" Ajakku pada appa yang menatapku intens seolah merasa bangga dengan kebesaran hatiku memaafkan eomma.


Appa menarik senyum kemudian memegang bahuku lembut.


" Kamu melakukan hal yang membuat appa bangga Aidan." Ucapnya yang kemudian langsung masuk ke dalam.

__ADS_1


...___ bersambung__...


__ADS_2