
Aku dan Cinta pergi ke restoran yang ada di sekitar gedung kantor. Kami memutuskan untuk makan naengmyeon. Bukan kami sih sebenarnya, lebih tepatnya aku. Kurasa cuaca panas seperti ini biasanya orang-orang korea akan makan naengmyeon. Entahlah lidahku sekarang sudah terbiasa dengan masakan Indonesia jadi kupikir inilah waktunya untuk menyinkronkan lidahku dengan tempat tinggalku sekarang. Lagipula aku pun punya darah Korea kan?
Pergi makan di jam kerja mungkin membuat Cinta kurang nyaman. Sedangkan aku? Aku sudah terbiasa dengan jam kerja yang suka-suka jadi buatku ini tidak apa-apa. Hehehe.
" Loe engga nyaman makan di jam kerja?"
Cinta menganggukkan kepalanya.
" Gue kan termasuk karyawan teladan."
Aku tertawa mendengar jawaban Cinta.
" Hahaha. Tenang aja sekarang julukan loe bakal bertambah setelah ini."
" Apa?" Tanyanya penasaran.
" Karyawan teladan pacarnya anak sajangnim. Hahahaha."
Cinta mencebik.
" Ch... Garing banget sih." Ujarnya.
" Udah engga usah terlalu engga enak. Siapa sih sekarang yang berani sama loe dan negur loe?" Candaku yang sebenarnya berusaha menenangkannya.
Aku membuka laptopku dan mulai mengerjakan desain baru sambil menunggu mie dingin pesananku datang.
" Kim sajangnim lah yang berani negur gue." Jawabnya.
" Ah iya betul juga ada bokap gue yah? Aaaahh... tapi gue rasa bokap gue engga akan negur calon menantunya lah. Apalagi calon menantunya engga salah apa-apa." Godaku.
" Sembarangan loe ngomong calon menantu." Protesnya.
" Hihihi." Aku tertawa geli melihat ekspresi Cinta.
" Gapapa dong? Sekarang pacar kali-kali aja besok beneran jadi calon mantunya bokap gue. Hahaha."
" Huuu ngarep banget loe." Ucapnya sambil melempar kertas yang sudah di remas olehnya.
" Duh pacar gue udahnya dingin kaya kulkas, galak juga lagi." Ledekku lagi sambil tertawa-tawa.
Cinta tambah geram dan malah melemparkan buku catatannya padaku.
BUKH.
" Aww, Galak banget sih chagiya." Aku masih meledeknya. Melihat ekspresi Cinta yang kesal malah semakin membuatku gemas.
" Chagiya, chagiya palamu itu." Omelnya.
Bibi pemilik resto datang mengantarkan pesanan dan akhirnya aku menghentikan candaanku pada Cinta.
Aku langsung mulai makan begitu pesananku sudah ada di depan mata. Tahu kan kalau seorang Aidan itu hobinya makan? Ah aku jadi ingat pertama kali makan dengan Jessi noona saat Jona hyung menyuruhku mengantar Jessi. Mungkin di situlah pertama kalinya aku mulai jatuh cinta dengan Jessi noona. Ya benar seharusnya aku membiasakan diri memanggil Jessica dengan embel-embel noona meskipun itu ada dalam bayanganku. Bahkan lebih baik seharusnya aku tidak perlu lagi memikirkan Jessica.
Kring.. Kring.. Kring...
__ADS_1
Ponselku berbunyi. Ku tengok layar ternyata Jessica yang menelpon. Aku terdiam, baru saja selesai memikirkannya, Jessica sudah menelponku. Untuk apa lagi sih? Aku tidak berniat mengangkatnya, kulanjutkan lagi suapanku.
" Hp bunyi mulu bukannya di angkat?" Ucap Cinta.
Aku diam tak menjawab. Kemudian Cinta mengintip layar ponselku yang memang kuletakkan di meja.
" Jessi noona? Dia Jessica yang selalu bikin loe engga fokus kan?" Tanyanya.
Aku menatap tajam Cinta dan itu membuat nyali Cinta menciut.
" Sorry kalau gue kesannya ikut campur." Ucapnya pelan.
Setelah panggilan pertama tak di angkat akhirnya kuputuskan untuk mengangkatnya di panggilan kedua.
" Halo noona?"
" Gue baik kok. Sangat baik malah. Kenapa? Loe udah kangen sama gue? Hahaha."
Cinta terlihat memperhatikanku. Dia tahu bahwa aku hanya berpura-pura. Entah sejauh apa yang sudah ku ceritakan padanya saat mabuk kemarin.
" MWO? Jinjja? (*APA? Benarkah?)"
Aku terkejut, bahkan sangat terkejut mendengar berita yang di sampaikan Jessica tapi aku harus berpura-pura exited.
" Woaaa. Chukkae (*selamat) noona, gue bentar lagi jadi samchon (*paman) nih."
" Iya iya, besok gue akan ke Indonesia sama pacar baru gue."
" Serius dong. Sekarang bahkan gue lagi makan sama mba pacar."
" Udah dulu ya, kerjaan gue deadline besok."
" Beneran."
" Oke. Sekali lagi selamat atas kehamilannya ya noona. Nanti gue akan telpon Jona hyung juga."
" Bye."
Aku menutup telepon dan seketika itu juga mood makanku hilang. Aku mendorong mangkuk mie menjauh dan aku menundukkan kepalaku.
" Loe baik-baik aja Aidan?"
Pertanyaan Cinta menyadarkanku bahwa ada seseorang yang sedang berada di dekatku sekarang.
Aku hanya tersenyum getir menjawab pertanyaan Cinta.
" Ahjumma? Soju hanbyeong juseyo (*bibi? tolong satu botol soju)." Ucapku meminta soju pada bibi pemilik resto.
" Aniyo ahjumma (* tidak bibi)." Cinta langsung meralat pesanan.
" Loe apa-apaan sih Aidan? Loe mau ngulangin kesalahan gue tadi siang? Ini masih jam kerja, loe engga boleh mabok. " Cinta mengingatkanku untuk tidak mabuk.
" Tapi gue pengen ngeluarin beban gue Cinta. Satu-satunya cara ya dengan gue minum."
__ADS_1
" Ada gue Aidan. Loe boleh curhatin semuanya sama gue."
" Tapi loe engga akan ngerti Cinta." Ucapku sambil menahan sesak.
Perlahan buliran air menggenang di pelupuk mataku.
" Ya... Ya makanya loe cerita biar gue ngerti." Ucapnya.
" Gue tahu perasaan ini salah. Tapi sampai detik ini gue engga bisa melupakan sedikitpun perasaan gue sama Jessica." Akhirnya aku menceritakannya juga pada Cinta.
" Jessica siapa loe?"
" Kakak ipar gue sekarang."
Cinta mulai mengerti arah pembicaraanku.
" Jadi loe mencintai kakak ipar loe?"
Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban.
" Ceritanya rumit. Awalnya dia dijodohin sama abang gue terus karena satu dan lain hal perjodohan mereka batal dan akhirnya gue yang dijodohin sama dia. Tapi dia engga bahagia sama gue, akhirnya gue memilih ngelepasin dia balik sama abang gue. Tapi perasaan gue udah terlalu dalem Cinta. Loe bisa engga bayangin gimana perasaan gue sekarang? Gue merasa terkhianati saat denger kabar kehamilannya barusan."
Aku menutupi mataku dengan tangan karena kurasa air mataku sudah mulai keluar dari tempat persembunyiannya.
" Gue boleh kasih saran engga?" Tanya Cinta.
Aku hanya menganggukkan kepalaku tanpa menurunkan tanganku dari mata dan wajah.
" Loe harus coba buka hati loe buat orang lain. Itu satu-satunya cara loe bisa move on. Obat patah hati paling mujarab adalah jatuh cinta lagi, Aidan." Ucapnya.
" Iya gue sangat tahu hal itu tapi praktek engga segampang teori."
" Loe bilang kaya gitu karena loe belum berusaha untuk melepas Jessica dari hidup loe. Entah karena belum siap atau loe emang sengaja untuk engga mau siap." Ujarnya yang membuatku jadi berpikir bahwa yang dikatakan Cinta memang ada benarnya.
Aku terdiam sejenak kemudian memikirkan sebuah ide yang menurutku aneh, tapi aku tetap ingin mencoba mengatakannya.
" Cinta?" Panggilku.
" Eum?" Jawabnya.
" Loe mau bantuin gue buat lupain Jessica engga?" Tanyaku.
" Gue akan coba bantu loe sebisa gue Aidan." Jawabnya.
" Maksud gue, gimana kalau kita pacaran beneran?" Tanyaku lebih kepada pernyataan cinta.
" Hah? Maksudnya?" Cinta masih bingung dengan pertanyaanku.
Aku berubah serius kemudian memegang tangannya.
" Cinta? Narang Sagwillae? (*Cinta? Maukah kamu jadi pacarku?)
...___ bersambung___...
__ADS_1
...Di terima engga yah kira-kira Aidannya? Masih suka sama ceritanya kan? Ikutin terus kelanjutannya yah. jangan lupa komen....